
Tanpa menoleh lagi ke arah belakang karena khawatir jika ia nanti tidak bisa meninggalkan sang kekasih saat merasa tidak tega.
'Maafkan aku, Sayang karena melakukan semua ini juga demi dirimu. Jika aku tidak mendapatkan harta warisan dari orang tuaku, mana mungkin kau akan bertahan bersamaku,' gumam Zafer di dalam hati dengan penuh penyesalan.
Sebenarnya Zafer mengetahui bahwa selama ini Rayya sangat menyukai kemewahan. Jadi, ia takut jika tidak mendapatkan sepeser pun harta dari orang tuanya, wanita itu akan pergi darinya.
Beberapa saat kemudian, Zafer sudah masuk ke dalam mobil dan melajukan kendaraan roda empat tersebut membelah kemacetan ibu kota.
Selama mengemudi dan menatap ke arah jalanan yang dilalui, berbagai macam pertanyaan masih memenuhi otaknya karena merasa penasaran dengan apa yang ingin dibahas oleh orang tuanya.
"Papa menyuruhku pulang ke mana? Aku bahkan tadi tidak sempat bertanya. Apakah aku harus pulang ke rumah utama? Ataukah tempat tinggalku bersama wanita tidak berguna itu?"
Zafer masih berpikir tentang jawaban dari pertanyaannya sendiri. Beberapa saat kemudian, ia memilih mengemudikan mobil menuju ke rumah yang selama ini menjadi tempat tinggalnya bersama Tsamara.
"Lebih baik aku memeriksa apakah wanita cacat itu sudah pergi dari rumah. Baru pulang ke rumah utama setelah memastikan hal itu."
Sementara itu di apartemen, Rayya langsung melemparkan botol minuman beralkohol yang hendak dituangkan ke dalam gelas begitu sang kekasih pergi meninggalkannya.
Bahkan saat ini, seketika bunyi pecahan kaca beradu dengan kerasnya lantai memenuhi ruangan tengah apartemennya. Bahkan ia menjerit histeris dan berteriak untuk meluapkan perasaannya.
"Kenapa selalu seperti ini? Aku tidak pernah tenang saat berduaan dengan Zafer. Kalau bukan wanita cacat itu yang mengganggu, orang tua Zafer pun melakukannya. Sial!"
Rayya menatap nanar ke arah botol minuman yang sudah bernasib nahas dan tercerai berai di atas lantai.
"Botol itu seolah mewakili perasaanku saat ini yang hancur karena selalu ditinggalkan ketika menginginkan bersama dengan Zafer. Kenapa aku tidak merasa tenang setelah ia mengatakan bahwa wanita itu setuju untuk bercerai?"
"Aku takut jika orang tua Zafer tidak merestui hubungan kami meskipun telah mengetahui bahwa telah hamil. Jika itu sampai terjadi, apa yang harus kulakukan? Ayahku bisa membunuhku jika mengetahui aku hamil sebelum menikah."
__ADS_1
Rayya mengingat ancaman dari sang ayah yang selalu terngiang di telinga.
Kau boleh bercinta dengan pria manapun sesukamu karena ayah tahu seperti apa gaya berpacaran pasangan zaman sekarang, tapi jangan sampai hamil. Jika itu terjadi, ayah akan menghabisimu karena membuat malu keluarga.
"Apakah aku harus menggugurkan janin ini jika sampai tidak diterima menjadi menantu keluarga Dirgantara?" Rayya yang merasa sangat frustasi, mengempaskan tangan untuk memukul sofa beberapa kali.
Ia yang saat ini beralih mengusap perutnya yang datar, kini merasa ragu dan juga bingung dengan nasibnya.
"Aku sangat bodoh karena tidak mengingat masa subur, sehingga saat Zafer melakukannya tanpa pengaman, berhasil tumbuh di sini."
Mungkin jika Zafer masih berada di sampingnya saat ini, Rayya tidak akan mengkonsumsi minuman beralkohol yang tadi dibeli.
Berbeda dengan saat ia hanya diam apartemen sendirian, sehingga memilih untuk meluapkan apa yang dirasakan dengan cara itu.
Rayya membuka botol yang lain karena tadi hanya membanting satu saja dan masih tersisa tiga minuman beralkohol. Kemudian langsung meneguknya tanpa menuangkan ke dalam gelas.
"Ini salah ayahmu dan kakekmu. Jadi, jangan salahkan aku." Rayya berbicara pada janin yang saat ini berada di rahimnya sambil meneguk minuman keras tersebut.
Bukan hanya satu teguk ia minum, tetapi jika dihitung dengan benar, mungkin sudah lima kali ia melakukannya dan membuatnya mabuk. Beberapa saat kemudian, Rayya yang merasa kepalanya pusing, kini sudah tidak kuat lagi menopang beban tubuhnya dan terhempas ke atas sofa.
"Zafer, aku sangat mencintaimu. Kamu harus menikahiku. Jika tidak, ayah akan mencekik leherku hingga mati." Rayya beberapa kali meracau karena efek mabuk.
"Ayahku bahkan lebih mementingkan bisnis yang menghasilkan keuntungan untuknya dari pada putrinya sendiri, sedangkan wanita yang melahirkanku tidak mempedulikan apapun yang berhubungan denganku."
Rayya saat ini berkaca-kaca ketika mengingat tentang sang ibu yang lebih mementingkan karir keartisan dibandingkan membesarkannya.
"Ibuku mungkin tidak mengingat bahwa ia pernah melahirkan seorang putri, sehingga tidak pernah menghubungiku untuk sekedar menanyakan kabar. Apakah aku sudah makan atau belum?"
__ADS_1
"Apakah aku masih bernapas atau tidak? Mungkin ia sama sekali tidak perduli." Rayya kembali meracau saat berada di bawah pengaruh alkohol dengan posisi telentang di atas sofa.
Kemudian ia kembali mengusap perutnya. "Anakku, apa kamu menginginkan lahir di dunia yang sangat kejam ini? Bagaimana jika hanya penderitaan yang kamu dapatkan?"
"Kamu mungkin akan mengatakan lebih baik tidak dilahirkan di dunia ini jika hanya untuk merasakan penderitaan sepertiku. Kenapa mereka menghadirkan aku di dunia ini jika menyuruhku untuk hidup sendiri tanpa kasih sayang?"
Saat ini, Rayya merasa sangat frustasi dan juga bersedih ketika mengingat masa-masa pahit ia harus melakukan semuanya sendiri karena perceraian orang tuanya.
Memiliki seorang ayah yang selalu sibuk kerja, sedangkan sang ibu memilih untuk fokus dalam dunia keartisan, menurutnya seperti tidak mempunyai orang tua.
Jadi, selama ini, ia memilih untuk mencari kasih sayang dari para pria. "Hanya Zafer pria yang mencintaiku dengan tulus. Aku tidak akan pernah melepaskannya."
"Apapun yang terjadi, Zafer harus menjadi milikku. Meskipun aku harus melakukan segala cara, termasuk membunuh orang tuanya karena yang kuinginkan hanyalah Zafer, bukan ibu dan ayahnya."
Rayya yang berbicara sambil memejamkan mata, kini sibuk meracau dan mengatakan semua hal yang selama ini dipendam di dalam hati.
Ia bahkan sibuk mengumpat orang tua Zafer dan mempunyai pikiran untuk membayar orang menghabisi mereka.
Saat Rayya bisa diam beberapa saat karena merasakan sesuatu di perutnya, refleks ia membuka mata dan seketika bangkit dari posisi berbaring.
Ia pun berlari ke arah kamar mandi karena merasa perutnya seperti diaduk-aduk dan harus dikeluarkan. Kemudian memuntahkannya di closet.
Hingga ia merasakan tubuhnya sangat lemas dan tidak bisa bangkit berdiri hingga rasa pusing semakin mendera kepalanya.
"Kepalaku."
Rayya masih memegang kepalanya yang terasa semakin berdenyut. "Kenapa semuanya terlihat seperti berputar? Apa yang terjadi? Apakah ruangan ini bergerak sendiri? Ataukah sekarang sedang gempa?"
__ADS_1
Saat Rayya semakin meracau tidak jelas karena mabuk, beberapa saat kemudian, pandangannya semakin kabur dan ia pun kehilangan kesadaran dengan posisi terbaring di lantai kamar mandi yang dingin.
To be continued...