
Tentu saja amarah Rayya seketika meledak begitu mendengar jawaban yang sangat santai lolos dari bibir pria di hadapannya tersebut. Bahkan wajah memerah seolah mewakili bahwa saat ini dikuasai oleh amarah begitu mengetahui jika pria yang dicintai memilih untuk tidur bersama wanita lain selain dirinya.
Padahal selama ini sang suami sangat membenci wanita yang menurutnya tidak berguna itu karena tidak bisa berbuat apapun selain duduk di kursi roda.
"Apa kamu bilang? Ingin tidur bersama wanita cacat yang tidak berguna itu? Apakah kamu berpikir aku akan membiarkannya? Sepertinya kamu tidak mengenalku dengan baik, Zafer."
Rayya merasa sangat murka karena perbuatan dari pria yang saat ini seolah berbicara tanpa memikirkan perasaan.
Padahal saat ini, merasa jantungnya bagai dihunus tombak tajam saat mengetahui jika sang suami memilih wanita lain selain dirinya. Tidak pernah ada di pikiran Rayya situasi seperti ini.
Bahwa pria yang selama ini memuja dan mencintainya malah berakhir dekat dengan wanita yang sangat dibenci. Apalagi saat ini berpikir jika Zafer memiliki ketertarikan pada Tsamara karena penasaran dan ingin ketagihan setelah bercinta dengan wanita cacat.
Deru napas memburu seolah mewakili bahwa saat ini dikuasai oleh kemurkaan dan ingin meluapkan pada siapapun, termasuk sosok pria yang berdiri menjulang dengan wajah datar.
Ingin sekali Rayya menampar wajah pria itu agar sadar dan kembali seperti dulu yang sangat memujanya. Namun, masih berusaha untuk menahan diri karena saat ini yang ada di otak adalah wanita bernama Tsamara tersebut merayu Zafer karena ingin balas dendam.
Apalagi dulu ketika Zafer baru pertama kali menikahi Tsamara, datang ke rumah dan bercinta tanpa memperdulikan wanita yang baru saja dinikahi tersebut.
Seperti merasa mendapatkan balas dendam dari Tsamara, Rayya merasa tidak terima dan ingin memberikan pelajaran.
Jadi, ingin membalas dendam pada wanita itu karena berpikir bahwa Zafer sebenarnya tidak bersalah karena tertipu dengan kelicikan seorang Tsamara yang selama ini berpura-pura menjadi wanita lemah.
"Apa yang akan kamu lakukan, Rayya?" Zafer ingin mengetahui maksud kalimat ambigu dari Rayya. Jadi, berpikir bisa menghentikan kegilaan sang istri.
Ia memang sudah mengetahui bahwa wanita yang telah mengandung benihnya tersebut memiliki watak sangat kasar dan keras saat marah.
__ADS_1
Jika dulu Zafer selalu berusaha untuk menenangkan sang kekasih dengan merayu, tetapi karena merasa sangat lelah ketika Rayya selalu saja merasa curiga dan menuduh berbuat macam-macam pada Tsamara, sehingga malas untuk menanggapi.
Jadi, memilih untuk menghindar sementara waktu demi mencari ketenangan. Apalagi satu hari otak sudah diforsir dengan pekerjaan dan ingin beristirahat dengan tenang ketika di rumah, tapi sepertinya tidak bisa melakukan itu begitu melihat wajah Rayya yang mengingatkan pada ulah mertua hari ini.
Sementara itu, Rayya tidak ingin menanggapi pertanyaan dari Zafer karena bergerak melangkahkan kaki menuju ke arah ruangan kamar yang dihuni oleh wanita sangat dibenci karena telah merubah sang suami.
'Aku akan menghabisi wanita cacat itu. Selama ini, aku diam saja karena berpikir bersikap baik di depan mertua dan juga Zafer. Namun, Sepertinya itu malah membuatku terlihat lemah dan semakin diinjak-injak oleh semua orang yang ada di rumah ini.'
'Sialan! Aku sebenarnya sudah muak dengan semua ini, tapi harus menunggu sampai tiba saatnya orang tua Zafer dan juga wanita itu lenyap dari dunia ini.'
Rayya bahkan tidak memperdulikan suara teriakan dari Zafer saat bertanya karena terus berjalan dan mengumpat di dalam hati.
"Rayya, kamu mau ke mana?" teriak Zafer ketika melihat punggung belakang wanita sudah berjalan menuju ke arah ruangan kamar yang ditempati oleh Tsamara.
Hal yang saat ini terpikirkan olehnya adalah Rayya akan menyakiti Tsamara karena dikuasai oleh amarah, sehingga segera mengejar agar tidak terjadi perang dunia di rumah.
"Rayya, tunggu!" Zafer berlari untuk menghentikan Rayya yang sudah membuka knop pintu.
Di saat bersamaan, pintu terbuka dan Rayya langsung berjalan masuk ke dalam tanpa memperdulikan larangan Zafer.
Saat Zafer juga melakukan hal sama, yaitu masuk ke ruangan kamar dan menahan pergelangan tangan kiri Rayya agar tidak menyerang Tsamara secara brutal karena sedang dikuasai oleh emosi.
Namun, saat memegang pergelangan tangan kanan, baru menyadari jika ternyata sang ibu berada di dalam kamar tengah duduk di tepi ranjang dan mengompres dahi wanita yang saat ini terbaring di atas ranjang, tak lain adalah Tsamara.
"Ada apa sebenarnya kalian ribut malam-malam begini?" teriak Erina yang bangkit dari ranjang dan menatap tajam ke arah dua orang di hadapannya.
__ADS_1
Sebenarnya beberapa saat lalu mendengar suara bising dari luar, tetapi karena sedang sibuk mengompres Tsamara yang demam, mengurungkan niat dan akan memarahi saat selesai.
Baru selesai mengompres Tsamara dengan air hangat, kembali mendengar suara teriakan Zafer dan di saat bersamaan pintu terbuka.
Begitu menoleh ke arah pintu dan melihat ada Rayya yang berjalan masuk dan disusul oleh putranya, ia saat ini tidak bisa menahan amarah yang memuncak karena perbuatan dari pasangan suami istri tersebut.
"Apa kalian mau diusir dari rumah ini? Jika memang benar, lebih baik segera pergi dari sini karena hanya akan membuat keributan di sini! Nasib baik papamu tadi pergi bersama Keanu untuk membeli makanan."
Kemudian melirik sekilas ke arah ranjang, di mana di sana menampilkan Tsamara yang masih memejamkan mata karena tadi merasa pusing dan tiba-tiba demam tinggi.
Erina mengetahui hal itu karena mengantarkan makanan ke kamar. Saat membangunkan Tsamara yang masih tidur, ternyata tubuh menantunya tersebut sangat panas.
Kemudian langsung mengambil peralatan untuk mengompres.
Namun, wanita itu mengatakan baik-baik saja, seolah menyembunyikan yang dirasakan sebenarnya pada mereka karena tidak ingin merepotkan.
Akhirnya Erina menyuapi Tsamara dengan posisi berbaring, agar bisa segera minum obat. Namun, Tsamara hanya makan satu sendok karena mengeluhkan tenggorokan yang sakit dan terasa pahit.
Merasa sangat khawatir dan tidak tenang akan keadaan Tsamara, Erina menyuruh sang suami untuk membeli sup. Berharap menantu kesayangan bisa makan dan perut tidak kosong.
Hingga suara pertengkaran antara Rayya dan Zafer memusingkan kepalanya Meskipun sedikit lega karena tidak ada sang suami yang melihat pertengkaran mereka.
"Kalian mungkin akan langsung diusir oleh papa jika melihat pertengkaran hari ini. Apalagi ini sudah malam dan harusnya beristirahat dengan tenang. Lanjutkan pertengkaran di halaman rumah yang luas, jangan di dalam rumah karena membuat para penghuni terganggu."
"Tsamara butuh ketenangan untuk beristirahat." Erina mengibaskan tangan sebagai tanda pengusiran pada putra dan menantu tersebut agar tidak bising di dalam kamar yang dihuni oleh Tsamara.
__ADS_1
To be continued...