
Zafer baru saja menutup pintu ruangan kamar dan bersiul saat berjalan menuruni anak tangga. Tadi sempat melirik sekilas ke arah pintu ruangan kamar yang ditempati Rayya dan masih belum ada suara yang terdengar dari luar.
Zafer berpikir bahwa Rayya masih tidur karena efek kehamilan dan ingin bermalas-malasan di kamar. Tidak ingin suasana hati berubah menjadi buruk jika bertengkar lagi dengan wanita yang mungkin masih belum memaafkan dan marah tersebut, jadi memilih berangkat ke kantor lebih awal.
Ia baru saja menuruni anak tangga terakhir dan melihat orang tuanya tengah berbicara dengan salah satu pelayan.
"Antarkan sarapan untuk nyonya Rayya karena dari tadi belum keluar dari kamar." Erina beberapa saat lalu baru saja turun dan bertanya pada pelayan mengenai Rayya.
Begitu selesai berbicara dengan pelayan, menoleh ke arah kanan dan melihat putranya.
"Aku berangkat dulu ke kantor, Pa, Ma." Zafer melambaikan tangan pada orang tua tanpa menunggu respon.
Adam Dirgantara menyipitkan mata karena merasa heran dengan sikap putranya hari ini seperti sangat bersemangat dan senang.
"Apa hari ini ia salah makan?" tanya Adam yang masih menatap kepergian dari putranya.
Respon tersebut tentu saja sangat berbeda dengan yang ditunjukkan oleh sang istri terlihat sangat tenang. Malah tersenyum melihat putranya yang baru saja menghilang di balik pintu.
"Ini adalah kabar baik karena sepertinya hubungan Zafer dengan Tsamara mengalami perkembangan. Aku tadi belum sempat menceritakan apa yang kulihat karena kamu terlihat kelaparan dan ingin segera sarapan."
Kemudian Erina mulai menceritakan apa yang tadi dilihat di dalam kamar dan seperti yang dipikirkan saat ini, sang suami berekspresi sama sepertinya.
Adam Dirgantara tersenyum lebar dengan menampilkan deretan gigi yang rapi. Meskipun wajah seperti tidak percaya dengan kabar baik yang baru saja disampaikan oleh sang istri.
"Jika memang perubahan sikapnya karena Tsamara, aku benar-benar merasa sangat senang karena ada perkembangan baik dari hubungan mereka. Meskipun sayangnya, semua ini terjadi setelah Zafer menikah dengan Rayya."
__ADS_1
Erina baru saja mendaratkan tubuh di kursi yang ada di ruangan makan dan langsung menyiapkan menu oatmeal untuk sang suami sambil berbicara mengenai pendapatnya setelah melihat interaksi antara Tsamara dan Zafer.
"Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri, kan? Kita harus yakin bahwa Tsamara bisa merubah sikap Zafer menjadi lebih baik suatu saat nanti. Jika memang Tsamara harus pergi dari rumah ini dan menikah dengan pria lain yang lebih baik dari putra kita, berharap sebelum itu terjadi, telah menyadari kesalahan dan menjadi pria yang baik."
Saat menikmati menu menu sarapan pagi, Adam sangat setuju dengan apa yang baru saja diungkapkan oleh wanita di sebelah kiri tersebut.
"Kita serahkan saja semuanya pada Tuhan dan berdoa agar putra kita bisa segera berubah menjadi lebih baik. Tadi terlihat Kenzo seperti sangat senang. Sepertinya ancamanku kemarin berhasil membuatnya patuh dan tidak berani lagi berbuat jahat pada Tsamara."
Saat Adam baru saja menutup mulut, selalu beralih menyuapkan satu sendok oatmeal ke dalam mulut dan mengunyah makanan. Mendengar suara dari salah satu pelayan yang baru saja datang menghampiri di ruang makan.
Merasa sangat aneh karena ritual makan sudah terganggu oleh pelayan, Erina saat ini menoleh ke arah pria yang biasanya sibuk merawat tanaman di halaman rumah, sehingga tidak jadi menikmati makanan.
"Tuan dan Nyonya, ada tamu yang baru saja datang dan mencari nyonya Tsamara." Pria yang masih membawa gunting tanaman itu berbicara setelah sebelumnya membungkuk hormat untuk memberikan salam pada majikan.
Adam dan Erina saling menatap karena merasa aneh ketika ada orang yang datang pagi-pagi sekali dan mencari menantu yang sedang sakit.
Saat ini, ada satu nama yang ditebak dan berharap bukan orang itu yang datang. Namun, tidak bisa menyembunyikan rasa penasaran dan menoleh ke arah sang suami.
"Apakah yang mencari Tsamara adalah seorang pria bernama Rey?" Kemudian kembali beralih menatap ke arah pelayan yang belum menjawab pertanyaan.
Pria paruh baya yang sudah bekerja selama satu tahun di rumah keluarga tersebut, refleks menganggukkan kepala karena tadi sibuk mengingat siapa nama pria itu.
"Tadi saya mengingat-ngingat dan sekarang baru ingat setelah nyonya menyebutkan."
Adam seketika bangkit berdiri dan berniat berjalan keluar dari ruang makan untuk menemui pria yang dianggap tidak tahu malu karena pagi-pagi sekali mengacau dengan mengganggu ritual sarapan pagi.
__ADS_1
"Apa mau pria itu sebenarnya? Apakah tidak tahu bahwa ini masih terlalu pagi untuk bertamu? Sepertinya mantan suami Tsamara memang tidak tahu malu karena datang dengan tidak memikirkan waktu yang pantas."
Erina melakukan hal sama dengan berjalan mengekor di belakang pria yang sibuk mengumpat tersebut. Sebenarnya saat ini juga ingin marah, tapi berpikir jika melakukan itu, akan berakibat pada sang suami yang mungkin tidak bisa mengendalikan amarah pada Rey Bagaskara.
Namun, saat tiba di dekat anak tangga, melihat Rayya yang terlihat seperti baru bangun tidur.
"Selamat pagi, Pa, Ma," sapa Rayya yang baru saja bangun dan berniat untuk meminta sarapan pagi dengan menu salad.
Tadi merasa terganggu dengan kedatangan salah satu pelayan yang ternyata membawakan menu sarapan pagi, tetapi sama sekali tidak cocok dan merasa mual melihat makanan yang diantarkan.
Jadi, menyuruh pelayan untuk membawa kembali makanan dan ingin yang lain. Namun, melihat orang tua Zafer yang saat ini seolah terburu-buru karena hanya tersenyum sekilas menanggapi sapaan darinya, merasa penasaran dan memilih untuk mengikuti.
'Memangnya mereka mau ke mana? Kenapa aku merasa ada sesuatu hal yang terjadi?' gumam Rayya saat berjalan mengekor di belakang sosok pria dan wanita paruh baya tersebut.
Hingga Rayya seketika berjengit kaget mendengar suara teriakan dari ayah mertua, seperti sangat murka.
"Ada apa kamu datang kemari pagi-pagi seperti ini? Bukankah kemarin aku sudah mengatakan kita bertemu di pengadilan?" sarkas Adam yang saat ini mengarahkan tatapan tajam pada pria yang dianggap tidak tahu malu tersebut.
Erina hanya diam dan ingin mendengar alasan apa yang akan diungkapkan oleh pria muda yang merupakan mantan suami Tsamara dan dianggap sebagai musuh karena berpikir akan menjadi saingan dari Zafer.
'Aku benar-benar merasa heran dengan pria ini. Apakah saat ini sedang merencanakan sesuatu yang buruk pada Tsamara?' gumam Erina saat ini mendengar jawaban pria dengan memakai setelan jas berwarna hitam yang menandakan akan pergi bekerja ke kantor.
Sementara itu, Rayya baru saja melihat siapa yang datang dan seketika tersenyum simpul. 'Sepertinya Rey saat ini akan melaksanakan rencana yang tidak ingin dikatakan padaku kemarin.'
'Semoga semuanya berjalan lancar dan berhasil mengeluarkan wanita cacat itu dari sini,' gumam Rayya yang masih ingin berada di sana, agar mengetahui apa yang ingin dilakukan Rey.
__ADS_1
To be continued....