
Saat ini Zafer merasa sangat miris karena berpikir bahwa sang ayah terlalu mencampuri urusan pribadi. Padahal sebenarnya orang tua tidak berhak untuk ikut campur dalam masalah rumah tangga anak karena itu hanya akan menimbulkan hal buruk.
Namun, merasa bahwa selama ini menjadi boneka sang ayah, sehingga Zafer merasa miris dan tertawa terbahak-bahak.
Menganggap bahwa sebagai seorang suami yang sah, baik secara hukum maupun agama, Zafer berhak melakukan apapun pada Tsamara. Namun, lagi-lagi harus menelan pil pahit kekecewaan ketika mendapatkan ancaman bersifat privasi yang harusnya tidak boleh dicampuri oleh orang lain, sekalipun orang tua sendiri.
"Apakah Papa berpikir bahwa aku tertarik pada Tsamara?" tanya Zafer setelah puas tertawa mengungkapkan kekesalan yang dirasakan saat ini.
"Hanya kamu sendiri yang bisa menjawab karena yang mengetahui hatimu bukanlah Papa, tapi ingatlah satu hal, orang tua selalu tahu apa yang ada di pikiran anak karena sudah bertahun-tahun merawat dan hidup bersama. Jadi, aku mengetahui apa yang saat ini ada di otakmu itu!"
Tanpa berniat untuk mendengar tanggapan dari putranya, Adam Dirgantara berjalan keluar setelah membuka pintu.
Sementara itu, Zafer saat ini masih berdiri diam membisu di tempat karena merasa sangat tertampar dengan apa yang baru saja dikatakan oleh sang ayah.
Hingga Zafer pun mengacak frustasi rambut untuk meluapkan kekesalan hari ini. "Sial! Bahkan aku sama sekali tidak menunjukkan apapun pada papa, tapi kenapa seolah seperti membaca pikiranku bahwa akan berbuat jahat pada Tsamara dengan memaksanya melayaniku."
'Berengsek! Aku bahkan baru berencana dan gagal melaksanakan begitu mendapatkan ancaman dari papa '
Puas meluapkan kekesalan karena tidak bisa melaksanakan apa yang tadi dipikirkan setelah mendapatkan ide brilian untuk membalas dendam pada Tsamara karena telah membohonginya, Zafer memilih meredam emosi dengan cara mandi di bawah guyuran air dingin
Berharap emosi yang saat ini meluap di dada, bisa segera sirna dan tidak lagi meluap-luap seperti bola api yang akan meledak kapan saja.
Bahkan selama berada di dalam kamar mandi yang penuh keheningan tersebut, ia beberapa kali mengumpat karena merasa kesal pada sang ayah dan juga wanita yang ingin dihancurkan.
"Apakah aku benar-benar gagal untuk membalas dendam pada Tsamara yang telah membohongiku demi bisa menolakku?" Zafer yang saat ini terdiam dengan tubuh yang sudah basah oleh air dingin yang menusuk kulit.
__ADS_1
Seolah sedang mencari ide lain yang pastinya tidak membuat sang ayah mengeluarkan ancaman seperti beberapa saat lalu. "Sialnya, aku tidak memiliki sebuah ide di kepala saat ini."
"Sepertinya harus menenangkan pikiran dulu agar bisa mendapatkan sebuah ide untuk membalas dendam pada Tsamara karena menolakku."
Zafer saat ini beralih memikirkan Rayya yang akan diajak ke luar kota karena tidak mungkin wanita yang sudah hamil benihnya tersebut ditinggalkan di sini selama satu bulan.
"Apakah Rayya nanti tidak akan menyusahkanku ketika berada di luar kota? Karena aku akan disibukkan dengan pekerjaan, pasti tidak terlalu memperhatikan Rayya yang sedang hamil. Sepertinya aku perlu membawa satu orang pelayan untuk melayaninya."
"Jika tidak, aku yang akan dipusingkan dan bertambah stres. Apa hari ini ia akan menginterogasiku mengenai alasan tidur di kamar tamu? Aku harus mencari alasan yang tepat untuk menghilangkan kecurigaan Rayya, tapi kira-kira apa?"
Selama beberapa menit mencari sebuah alasan yang tepat untuk berbohong pada Rayya karena mengetahui bahwa wanita itu tidak akan berhenti bertanya jika belum dijawab.
"Sepertinya aku akan mengatakan bahwa Tsamara mengusirku dari ruangan kamar karena dingin padaku."
"Sepertinya aku jawab saja seperti biasa, terserah mau percaya atau tidak dengan kebohonganku. Aku saat ini benar-benar pusing dengan berbagai masalah yang menimpa selama beberapa hari ini."
Setelah memutuskan apa yang ingin dikatakan pada Rayya, Zafer kini sudah selesai membersihkan diri dan berjalan keluar dengan menggunakan jubah handuk.
Karena di kamar tamu tidak ada pakaian, jadi keluar dan langsung berjalan menuju ke arah anak tangga. Ia masuk ke dalam ruangan kamar untuk pergi ke ruang ganti karena ingin memakai pakaian kerja.
Dilihatnya sosok wanita yang saat ini seperti biasa sedang duduk di kursi roda tengah memainkan ponsel dan terkejut ketika melihatnya masuk.
"Kamu sudah bangun dan mandi?" tanya Tsamara yang merasa terkejut begitu pintu tiba-tiba terbuka tanpa ada yang mengetuk pintu.
Tadi setelah berbicara dengan ibu mertua dan mengatakan hari siang ini diajak untuk pergi membeli hadiah ulang tahun, Tsamara tengah memberikan tugas pada para pekerja karena hari ini mendapatkan pesanan tiba-tiba dan cukup banyak di perusahaan yang tak lain adalah milik mantan suami.
__ADS_1
Tsamara awalnya tidak tahu karena memang beberapa hari ini tidak pergi ke kontrakan yang digunakan sebagai tempat produksi, tetapi mendapatkan kabar dari salah satu orang yang dipercayai mengurus semua.
Bahwa perusahaan mantan suami yang tersebut memesan catering untuk acara ulang tahun perusahaan dan sudah menerima uang muka cukup besar.
Awalnya Tsamara ingin menyuruh pegawainya mengembalikan uang dan menolak, tetapi karena sudah terlambat ketika uang itu digunakan untuk belanja semua kebutuhan.
Jadi, terpaksa harus menerima dan tidak bisa menolak pesanan dari perusahaan mantan suami. Tsamara mengetahui bahwa ada Rey di balik semua ini. Namun, menganggap tidak akan ada masalah yang terjadi.
Berpikir bahwa untuk ke depannya, akan menyuruh orang kepercayaannya tidak menerima pesanan dari perusahaan mantan suami.
Apalagi ia sangat berharap tidak akan pernah berhubungan dengan pria itu lagi dalam hal apapun. Meskipun mengetahui bahwa tetap akan bertemu mantan suami setelah hasil tes DNA dan putusan hakim keluar.
Sementara itu, Zafer hanya menatap datar Tsamara dan sama sekali tidak berniat untuk menjawab, sehingga berlalu pergi meninggalkan wanita itu menuju ke ruangan ganti.
'Kenapa saat melihat Tsamara yang semalam membohongiku, rasanya ingin sekali langsung menyerangnya tanpa ampun dan membuatnya meneriakkan namaku. Pasti akan mengatakan bahwa aku jauh lebih kuat daripada Rey.'
'Meskipun lebih tua dari mantan suami Tsamara yang sangat dibanggakan itu, tapi sangat yakin bahwa akulah yang lebih hebat di atas ranjang.'
'Seandainya aku bisa memberikan hukuman pada wanita sialan itu sekarang,' sarkas Zafer yang saat ini masih berkacak pinggang di depan lemari kaca berukuran raksasa yang di dalamnya berisi berbagai jenis pakaian mulai dari jas, kemeja pakaian santai dan resmi.
"Rasanya hari ini mood berubah baik buruk begitu melihat wanita sialan itu!" umpat Zafer sambil meraih kemeja berwarna putih dan jas hitam.
"Nasib baik aku disuruh berangkat awal oleh papa, jadi tidak akan melihat wanita itu seharian," ucap Zafer yang saat ini menatap penampilan di cermin besar yang ada di hadapan.
To be continued...
__ADS_1