
Zafer merasa malas untuk bertemu Rayya karena berpikir jika sang istri belum sembuh dari marah. Jadi, hari ini berniat untuk langsung berangkat ke kantor tanpa menemui istri sirinya tersebut.
"Mood istriku sedang tidak baik dan aku tidak ingin mengganggu ataupun memantik amarah dari wanita yang saat ini mengalami perubahan hormon karena efek kehamilan." Kemudian memilih untuk berjalan ke arah meja rias.
Di mana di sana ada semua peralatan seperti Pomade, parfum, sisir dan beberapa alat lain. Bahkan ada milik Tsamara berada di sana. Namun, tidak sebanyak yang dimiliki olehnya.
"Baiklah kalau begitu. Sepertinya gen itu menurun dariku karena aku pun sekarang juga malas menemui Rayya. Mungkin butuh waktu untuk bersikap normal setelah perkataan tidak sopan dari istrimu." Kemudian Erina berjalan keluar menuju ke arah pintu setelah tersenyum pada sang menantu.
Jika anak dan ibu tersebut sama-sama tidak ingin bertemu dengan Rayya, tetapi hal berbeda dirasakan oleh Tsamara.
Tsamara ingin sekali menemui Rayya dan berbicara secara baik-baik, agar tidak mengkhawatirkan kehadiran di sini. Bahwa selamanya tidak akan pernah merebut Zafer dari tangan Rayya karena memang tujuan utama menikah hanya ingin menghormati sebuah bentuk pertanggungjawaban dari Adam Dirgantara.
Namun, masih merasa ragu untuk melakukan itu karena khawatir jika wanita luar biasa yang dianggap sangat kekanakan tersebut tidak akan pernah mau menerima saran apapun.
Apalagi saat tadi mertuanya menceritakan kejadian ketika menasihati dan malah mendapatkan sindiran. Tsamara saat ini memilih untuk menatap ke arah sosok pria yang sedang sibuk dengan menata rambut.
'Bahkan tuan Zafer yang merupakan suami malah seolah ingin menghindar. Seharusnya berbicara baik-baik pada istri, atau merayu agar tidak marah lagi. Namun, yang terjadi malah menghindar. Cinta macam apa itu.'
Tsamara menatap Zafer sambil menikmati bubur dan merasa terkejut dengan suara bariton pria yang saat ini memunggunginya.
"Apa kamu sangat terpesona pada bagian belakang tubuhku? Hingga tidak berkedip menatap?" Zafer yang sibuk memakai Pomade, sekilas melihat Tsamara dari cermin menatap tanpa berkedip.
Kemudian setelah selesai, berbalik badan untuk mengejek wanita yang saat ini tengah menyiapkan satu sendok makanan ke dalam mulut.
Hingga sama sekali tidak ada suara jawaban atas ejekan yang baru saja diungkapkan pada wanita yang akhirnya menaruh mangkok ke atas meja.
Seolah menegaskan bahwa wanita itu langsung tidak berselera makan akibat diejek olehnya.
"Sepertinya Anda terlalu percaya diri secara berlebihan, Tuan Zafer!" Tsamara meraih air putih dan meneguk secara perlahan, sehingga tenggorokan yang tadi terasa tidak nyaman kini kembali seperti semula.
"Apa aku tidak boleh percaya diri saat semua wanita selalu memujaku?" Zafer saat ini masih menatap dari kejauhan.
'Kecuali aku,' gumam Tsamara yang saat ini sama sekali tidak melanjutkan perkataan karena berpikir sikap pria yang berdiri cukup jauh tersebut sangat lebay.
Seolah berpikir menjadi pria paling tampan di dunia. Padahal menurut Tsamara, tidak setampan Rey yang masih muda.
Bahkan Tsamara dulu sangat memuja pria yang sempat menjadi suami selama satu tahun. Meskipun sekarang hanya tersisa kebencian semata setelah penghianatan yang dilakukan oleh Rey.
Melihat Tsamara hanya diam saja, semakin membuat Zafer merasa penasaran tentang tanggapan wanita itu mengenai dirinya. Kini, Zafer kembali melangkah mendekati Tsamara karena ini menanyakan satu hal yang dari kemarin ingin diketahui jawabannya.
__ADS_1
"Aku ingin kamu jawab jujur pertanyaanku!"
Tsamara yang baru saja meletakkan gelas di atas meja, kini menyipitkan mata karena ingin tahu apa yang ingin ditanyakan lihat dengan tatapan tajam mengintimidasi tersebut.
"Tentang?"
Zafer menuju ke arah diri sendiri. "Aku dan mantan suamimu yang bernama Rey Bagaskara itu, mana di antara kami yang menurutmu lebih tampan?"
Saat Zafer menatap intens wanita di kursi roda tersebut, sambil menunggu jawaban, mengetahui bahwa Tsamara terlihat seperti kebingungan menjawab.
"Seperti yang kukatakan tadi, kamu harus jujur sebagai seorang wanita. Bukan pada posisi mantan istri Rey ataupun istriku."
"Istriku?" Ada kegetiran defensive yang mewakili perasaan Tsamara saat kalimat terakhir yang lolos dari bibir Zafer seolah hanyalah sebuah status kepalsuan.
"Ya, bukankah kau adalah istriku karena aku sudah menandatangani buku nikah dan mengucapkan kalimat di depan pemuka agama yang dulu menikahkan kita. Jika bukan disebut sebagai istri, lalu apa?" Zafer menyipitkan mata karena merasa heran dengan tanggapan Tsamara saat ini.
Seolah tidak menyukai apapun yang berhubungan dengan kata istri dan pernikahan. Ataupun mengenai hal yang berhubungan dengannya sebagai suami.
Tsamara saat ini hanya mengendikkan bahu karena tidak tahu harus berkomentar apa. Bahkan merasa sangat malas untuk menjawab pertanyaan yang dianggap tidak penting dari Zafer.
"Sebenarnya apa yang ingin Anda cari tahu? Bukankah itu adalah pertanyaan seorang remaja yang cemburu saat mengetahui kekasih memiliki mantan?"
"Apa sangat susah untuk menjawab pertanyaan mudah ini? Ataukah kamu tidak bisa menjawab karena masih mencintai mantan suamimu?" Zafer kembali mencerca berbagai macam pertanyaan, untuk mencari tahu apa yang saat ini dirasakan oleh Tsamara pada Rey.
Hingga Tsamara yang saat ini masih bersikap sangat tenang karena berpikir bahwa Zafer sedang menginterogasi untuk mencari tahu sesuatu. Namun, karena tidak ingin membuat pria itu marah, akhirnya memilih untuk menjawab dengan jujur.
"Rey."
"Apa?" Zafer mengerjapkan mata dan memasang telinga karena ingin memastikan bahwa apa yang baru saja didengar benar.
"Aku harus berbicara jujur sebagai seorang wanita, bukan? Ini sudah sangat jujur dan tidak memposisikan diriku sebagai mantan istri Rey dan juga istri sah Zafer Dirgantara.
Kemudian ia menjelaskan tentang semua hal yang dimiliki oleh Rey, sehingga dulu sangat mencintai pria itu.
"Rey adalah pria yang masih muda, tampan, body sixpack, kulit putih bersih dan halus, sangat memanjakan wanita dengan memberikan apapun yang diinginkan, pintar merayu dan mengambil hati wanita, lalu ...."
Tsamara tidak melanjutkan perkataan karena poin terakhir yang membuatnya memuja Rey adalah pria itu sangat kuat ketika bercinta.
"Lalu? Kenapa tidak dilanjutkan? Apa yang sedang kamu sembunyikan? Sepertinya Rey adalah sosok pria sempurna di matamu." Zafer semakin penasaran dengan kalimat terakhir yang tidak diungkapkan tersebut.
__ADS_1
Tsamara hanya menggelengkan kepala karena tidak berniat untuk mengatakan hal Vulgar pada Zafer. "Lupakan saja karena itu bukanlah hal penting yang perlu kamu ketahui. Aku sudah menjawab pertanyaanmu dengan jujur."
"Apakah sekarang kamu sadar bahwa bukanlah pria paling tampan di dunia?" Tsamara berniat untuk membangunkan putranya yang tertidur pulas karena sudah waktunya sarapan.
Namun, Zafer seketika membungkuk dan menghalangi niat Tsamara untuk mengarahkan kursi roda ke dekat ranjang.
"Aku tidak akan puas saat kamu belum melanjutkan perkataanmu tadi. "Lalu apa? Apakah pria yang telah membuangmu itu sangat sempurna di matamu?" Saat ini, wajah Zafer tepat berada di hadapan Tsamara dan hanya berjarak beberapa centi.
Merasa posisi yang terlalu dekat dan membuat Tsamara tidak nyaman, sehingga mengalihkan pandangan agar tidak bersitatap dengan pria dengan iris berkilat dan tajam tersebut.
"Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, Tuan Zafer. Aku hanya menyebutkan apa yang kuketahui. Mengenai kalimat terakhir tadi tidak perlu kamu ketahui karena itu berhubungan dengan masalah keintiman antara suami dan istri. Atau kamu mungkin bisa menebak ke mana arah pembicaraanku."
Refleks Zafer tersenyum menyeringai dan mendekatkan wajah pada daun telinga Tsamara. "Apakah kamu ingin mengatakan bahwa Rey sangat kuat di atas ranjang ketika bercinta denganmu?"
"Karena sudah tahu, jadi menyingkirlah dari hadapanku sekarang!" Tsamara berpikir bahwa pria itu segera keluar dari ruangan untuk berangkat ke kantor.
Namun, merasa sangat terkejut saat Zafer berbicara hal yang jauh lebih vulgar.
"Sepertinya aku perlu membuktikan kebenaran perkataanmu itu!" Zafer berbicara dengan tersenyum smirk.
"Apa maksudmu?" tanya Tsamara yang saat ini seolah ingin menghilangkan pikiran buruk.
"Kamu harus merasakan kekuatanku di atas ranjang, baru bisa berkomentar mengenai mana di antara kami yang lebih hebat. Sepertinya malam ini, aku harus membuktikan segala pujian untuk mantan suamimu itu."
Setelah mengatakan hal itu, Zafer berjalan menuju ke arah pintu keluar tanpa menunggu tanggapan dari wanita yang tadi dilihat membulatkan mata.
"Bersiaplah untuk malam ini!" Melambaikan tangan tanpa menoleh ke arah belakang dan membuka pintu, lalu berjalan keluar.
Sementara Tsamara saat ini menelan saliva dengan kasar dan degup jantung berdebar sangat kencang melebihi batas normal ketika mengetahui kemana arah pembicaraan dari pria yang sudah menghilang di balik pintu.
"Apakah pria itu sudah gila? Hingga berbicara seperti itu? Bukankah ia sangat mencintai Rayya? Apakah ingin mengkhianati wanita yang dicintai hanya karena ingin membuktikan lebih kuat dari Rey? Ini tidak boleh terjadi!"
Tsamara saat ini mencari ide untuk menghentikan kegilaan Zafer yang gampang dikuasai oleh emosi. Bahkan berpikir bahwa pria itu seperti orang yang labil dan gampang di ombang-ambingkan.
Embusan napas kasar menghiasi ruangan kamar tersebut. Tsamara masih merasa kebingungan apa yang akan dilakukan malam ini jika sampai pria itu benar-benar melaksanakan hal yang tadi disebutkan.
"Apa yang harus kulakukan malam ini untuk menghentikan kegilaan pria itu?"
To be continued...
__ADS_1