Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Aku akan mengantarmu


__ADS_3

Sementara itu, Zafer yang dari tadi hanya diam saja dan menatap Tsamara ketika diketahui tengah memberikan sebuah kode melalui gerakan mata, sama sekali tidak berniat untuk menuruti perintah tersebut.


Tentu saja Zafer sudah menduga jika sang ibu pasti akan merasa curiga padanya dan tidak mungkin mempercayai semua kebohongan, sehingga memilih untuk mengendikkan bahu ketika mengalihkan pandangan dari Tsamara kepada wanita paruh baya dengan tatapan mengintimidasi tersebut.


"Terserah apa yang Mama pikirkan karena aku tahu jika mengatakan apapun tidak akan dipercayai." Kemudian berbalik badan untuk meninggalkan dua wanita berbeda generasi tersebut. Niatnya adalah ingin mandi lagi untuk kedua kali di kamar tamu yang menjadi tempat tidur semalam.


"Tunggu!"


Saat tidak merasa puas dengan jawaban dari putra dan menantu karena merasa jika mereka tengah berbohong, Erina buru-buru berlari mengikuti putranya keluar dari kamar tanpa memperdulikan menantunya.


Berpikir bahwa Tsamara tidak akan pernah mau berbicara jujur karena merasa malu, sehingga memilih untuk mencari tahu melalui putranya. Apalagi semalam sudah membicarakan mengenai hal yang sangat menggangu pikiran putranya tersebut.


Zafer yang masih terus berjalan menuruni anak tangga karena buru-buru. Ia harus mandi lagi sebelum berangkat, merasa risi saat sang ibu terus mendesak dengan mengekor di belakang.


"Zafer, cepat katakan pada Mama dengan jujur. Tenang saja, ini akan menjadi rahasia kita karena tidak akan mengatakan pada Rayya." Meskipun merasa sangat yakin dengan pikirannya, tetapi tidak puas jika Zafer belum mengungkapkan semua secara langsung.


Apalagi tidak ada harapan jika bertanya pada Tsamara, sehingga masih terus menunggu jawaban putranya ketika sudah berniat untuk membuka pintu kamar.


Zafer yang memegang kenop pintu dan masih melihat sang ibu tidak pergi dari tadi, kini merasa harus berbicara jujur agar wanita paruh baya tersebut berhenti menganggu.


"Baiklah, aku akan mengatakannya. Bahwa apa yang Mama pikirkan benar. Aku baru saja memberikan pelajaran pada menantu kesayangan Mana karena tadi menyulut amarahku. Lain kali, ia pasti tidak akan berani lagi melawan atau pun membantahku!"


"Sekarang aku mau mandi karena harus segera berangkat ke kantor. Jadi, jangan terus menempel padaku seperti ini, Ma." Tanpa menunggu tanggapan dari sang ibu yang kini telah berubah berbinar wajah, Zafer membuka pintu dan berjalan masuk ke dalam kamar.


Sementara itu, wajah Erina yang berubah berbinar karena saat ini tidak bisa lagi berkata-kata atas kebahagiaan yang dirasakan begitu mendengar jawaban putranya.

__ADS_1


Bahkan merasa bingung harus berekspresi apa saat mengetahui jika hubungan antara Tsamara dan Zafer mengalami perkembangan pesat yang tidak pernah diduga.


Ia saat ini hanya bisa mengungkapkan puji syukur pada Tuhan.


"Terima kasih, Tuhan. Kini hubungan mereka telah mulai sedikit berkembang dan aku berharap jika selamanya Zafer dan Tsamara tetap bersama. Aku sangat yakin jika Tsamara akan membawa pengaruh yang baik untuk putraku."


"Sepertinya aku tidak bisa mengungkapkan kebahagiaan ini pada Tsamara dan berpura-pura saja tidak tahu apa yang telah terjadi di antara mereka." Erina yang terlihat sangat berbinar, kini berjalan menemui kepala pelayan karena mengetahui apa yang harus dilakukan.


Tidak ingin membuat Tsamara merasa kebingungan dan malu padanya, kini menyuruh kepala pelayan untuk membantu menantu perempuan kesayangan membersihkan diri dan menyuruh untuk menemani turun nanti untuk sarapan.


Kemudian kembali memeriksa apakah sarapan sudah siap di meja makan.


Sementara itu, beberapa saat lalu, Tsamara merasa sangat kebingungan sekaligus khawatir jika sampai Zafer menceritakan semua yang terjadi hari ini pada ibu mertua.


Saat kalimat terakhir disadari hanyalah mengungkapkan sebuah kebodohan, Tsamara yang tertawa miris, kini mendengar suara ketukan pintu dan beberapa saat kemudian melihat wanita paruh baya masuk ke dalam kamar dan berjalan mendekat.


"Selamat pagi, Nyonya Tsamara. Saya datang untuk membantu Anda mandi dan nyonya Erina menyuruh turun untuk sarapan setelah selesai." Kemudian mendorong kursi roda untuk didekatkan pada sofa.


Sementara itu, Tsamara saat ini seolah langsung mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang beberapa saat lalu ada di pikiran ketika merasa khawatir mengenai Zafer.


Tsamara saat ini hanya mengangguk lemah dan tidak bisa berkata apapun ketika menyadari bahwa ibu mertua sekarang telah mengetahui apa yang barusan dilakukan oleh Zafer padanya.


Bahkan embusan napas kasar mewakili perasaan Tsamara saat ini yang sudah dibantu untuk pindah ke kursi roda. Bahkan beberapa kali mengumpat di dalam hati untuk melampiaskan semua keluh kesah yang dirasakan akibat perbuatan dari pria yang baru saja menyalurkan gairah karena marah padanya.


'Zafer sudah seenaknya melakukan apapun padaku dan membuatku seperti wanita bodoh di depan mama karena perkataanku tidak sebanding dengan perbuatan. Apa yang harus kulakukan sekarang untuk menghadapi mertua?'

__ADS_1


Tsamara yang saat ini sudah berada di dalam kamar mandi dengan dibantu oleh wanita paruh baya tersebut, kini segera membersihkan diri dari sisa-sisa perbuatan pria yang telah menyemburkan cairan kenikmatan pada rahimnya dan berharap tidak akan hamil.


'Semoga pria itu hanya sekali melakukannya dan tidak akan tumbuh janin di dalam rahimku karena harus segera pergi dari sini setelah nanti bisa berjalan. Hari ini adalah hari pertama aku melakukan terapi, tapi kenapa ada banyak hal yang terjadi.'


Tsamara refleks menepuk jidat begitu menyadari bahwa beberapa saat lalu orang kepercayaannya memberikan kabar mengenai perbuatan jahat di rumah kontrakan yang menghancurkan semua persiapan untuk catering di perusahaan Rey.


"Aku sampai lupa harus segera pergi ke kontrakan untuk mengecek apa yang terjadi." Tsamara buru-buru menyelesaikan mandi dan berniat untuk tidak memandikan putranya yang masih tertidur lelap karena akan banyak membuang waktu.


Setelah selesai, ia langsung berpakaian karena tadi sudah menyuruh pelayan untuk menyiapkan. Begitu selesai, langsung mengarahkan kursi roda keluar dari kamar mandi dan melihat kepala pelayan masih duduk di sofa menunggu.


"Tolong bantu aku untuk menggendong putraku karena akan mengajaknya pergi. Ada hal baru yang terjadi di kontrakan dan harus mengeceknya sendiri, jadi tidak akan sempat sarapan."


Kemudian Tsamara menyisir rambut dan langsung memakai penutup kepala tanpa memperdulikan jika masih basah.


"Anda harus sarapan meskipun sedikit, Nyonya. Saya akan menyiapkan di kotak makan dan Anda bisa makan di mobil selama dalam perjalanan menuju ke kontrakan," ucap wanita paruh baya yang saat ini melaksanakan perintah dengan menggendong anak laki-laki yang masih meringkuk di atas ranjang.


Tsamara yang sama sekali tidak berselera makan, hanya menggelengkan kepala karena buru-buru. "Aku akan sarapan nanti di kontrakan bersama dengan para pekerja. Jadi, tidak perlu menyiapkan untukku karena aku pun belum lapar dan tidak berselera."


Akhirnya wanita paruh baya tersebut tidak ingin berdebat dan menuruti apapun yang dikatakan oleh majikan. Kemudian mereka berjalan menuju ke arah lift untuk membawa ke lantai satu.


"Apakah Mama ada di lantai satu? Aku ingin berpamitan." Saat Tsamara sudah keluar dari dalam lift, di saat bersamaan melihat pria yang baru saja keluar dari ruangan kamar. dan membuatnya menelan saliva dengan kasar begitu mendengar perkataan Zafer.


"Aku akan mengantarmu pergi ke kontrakan," ucap Zafer yang kebetulan melihat Tsamara keluar dari dalam lift dan langsung mendorong kursi roda menuju ke arah pintu utama.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2