
Suasana rumah keluarga Dirgantara sudah dipenuhi oleh sana keluarga dan juga orang-orang yang ingin mengucapkan bela sungkawa atas kematian pasangan suami istri yang meninggal karena kecelakaan tepat di hari ulang tahun pernikahan.
Suasana yang istana keluarga Dirgantara dipenuhi oleh isak tangis oleh semua yang merasa sangat kehilangan pasangan suami istri yang dikenal merupakan orang-orang baik.
Bahkan seperti tidak ada cela di antara pasangan suami istri yang tetap terlihat romantis meskipun usia sudah tidak lagi muda. Apalagi sering memberikan sumbangan pada acara apapun ataupun yayasan yang menaungi anak-anak yatim piatu dan juga para wanita tua dan miskin.
Banyak doa yang dipanjatkan oleh semua orang yang pernah merasakan kebaikan dari pasangan suami istri yang telah menghadap Ilahi tersebut.
Hingga ada banyak orang yang ikut ke pemakaman hanya demi bisa melihat prosesi terakhir saat pasangan suami istri tersebut dimakamkan di liang lahat.
Zafer yang dari tadi tidak bisa menahan bulir kesedihan dari bola mata karena benar-benar kehilangan orang tua. Hingga berusaha kuat ketika turun ke dalam tanah yang sudah digali untuk memakamkan orang tua.
Berusaha untuk tidak mengeluarkan air mata karena jika menetes mengenai jenazah orang tua, akan menjadi beban berat bagi mereka. Dengan menguatkan perasaan, Zafer sudah membantu proses terakhir orang tuanya yang mulai dimakamkan.
Bahkan saat ini bola mata semua orang berkaca-kaca karena tidak bisa menahan kesedihan saat kehilangan. Termasuk Tsamara yang saat ini masih duduk di kursi roda di bagian paling depan bersama putranya dan di sebelah kiri terlihat Rayya memakai kacamata hitam.
Seolah ingin menunjukkan bahwa tidak ingin ada orang yang melihat kesedihan di mata. Tsamara sudah tidak memperdulikan wajahnya yang sembab karena dari tadi tidak berhenti mengeluarkan air mata.
Bahkan sudah memeluk erat putranya agar tidak menangis tersedu-sedu melihat kepergian mertua yang sangat menyayangi Keanu sebagai cucu kandung sendiri.
'Papa, Mama, semoga kalian tenang di surga.' Tsamara bahkan masih menggenggam erat tasbih di tangan sambil berdoa tanpa henti untuk mengiringi kepergian mertua agar tenang di alam yang berbeda.
'Berikan aku kekuatan untuk menemani tuan Zafer yang tidak menginginkanku dan membenciku karena berpikir bahwa akulah yang menjadi penyebab kalian meninggal.'
'Meskipun tuan Zafer mungkin akan mengusirku dan menceraikan setelah kejadian ini, tidak akan mau menerima atau menandatangani.'
'Aku akan bertahan dan berusaha untuk memenuhi harapan kalian yang ingin tuan Zafer berubah menjadi seorang pria yang lebih baik dari sekarang.'
Tsamara masih tidak mengalihkan perhatian dari Zafer yang melaksanakan prosesi terakhir untuk pemakaman orang tua.
Meski di dalam hati dilanda kekhawatiran jika nanti pulang ke rumah, akan langsung diusir oleh pria itu dan juga Rayya yang memang tidak pernah menyukainya.
__ADS_1
Hal yang sebenarnya dari dulu sangat diharapkan adalah segera terbebas dari kuasa keluarga Dirgantara, tapi setelah hari ini, merasa yakin tidak akan pernah meninggalkan pria yang mungkin akan semakin bertambah marah karena ia tidak bisa menjadi seorang istri yang baik.
Tsamara saat ini tengah memikirkan bagaimana caranya bisa bertahan di rumah yang bahkan suami tidak menerimanya. Namun, masih tetap akan berusaha demi melaksanakan janji untuk mertua yang sudah dianggap seperti orang tua kandung sendiri.
'Tuhan, kuatkan aku untuk bertahan di rumah keluarga Dirgantara. Aku tidak boleh lemah ketika Rayya nanti mungkin menginjak harga diriku. Setelah aku merasa yakin bahwa tuan Zafer menjadi seorang pria yang seperti diharapkan oleh orang tua, pasti akan pergi dan membuat papa dan mama tersenyum dari surga sana karena keberhasilanku.'
Satu jam kemudian, prosesi pemakaman telah berakhir dan semua orang mulai kembali ke kediaman masing-masing. Hingga saat ini terlihat hanya ada tiga orang dewasa yang masih berada di hadapan dua pemakaman tersebut.
Zafer, Rayya dan Tsamara yang masih memangku putranya, belum berniat beranjak dari sana karena seperti tidak rela untuk meninggalkan orang tua mereka yang sudah meninggal.
Bahkan saat ini terlihat Zafer masih berjongkok di hadapan pemakaman sang ayah yang di sebelahnya adalah tempat peristirahatan terakhir sang ibu.
Zafer saat ini tengah sibuk mengusap tanah yang masih basah dengan dihiasi bunga mawar di atasnya. "Papa, mama, bagaimana aku bisa pergi meninggalkan kalian sendiri di sini."
"Jika bisa, aku ingin selalu menemani agar kalian tidak merasa kesepian di sana. Apa yang harus kulakukan sekarang tanpa kalian?" lirih Zafer dengan suara menyayat hati dan terdiam sambil merapal doa untuk mengiringi kepergian orang tua.
Sementara itu, Rayya yang saat ini berdiri di belakang Zafer, merasa sangat lelah dan juga bosan karena dari tadi tidak kunjung selesai acara pemakaman.
Mungkin juga termasuk kebencian karena berpikir bahwa ia hanya beralasan dan tidak bisa mengerti perasaan seorang suami yang sedang sedih karena kehilangan orang tua.
Rayya yang tidak kuat berdiri lama, kini memilih untuk berjongkok seperti yang dilakukan oleh Zafer sambil memegangi kepala yang terasa pusing.
Beberapa kali mengeluh dan mengumpat di dalam hati karena saat ini tubuhnya tidak bisa diajak kompromi. Bahkan perutnya serasa mual, tapi tidak bisa muntah.
'Aku ingin sekali berbaring di atas ranjang yang empuk dan beristirahat karena benar-benar sangat lemas setelah hari ini banyak terkuras tenaga. Seharusnya aku tadi tidak ikut ke pemakaman jika mengetahui akan berakhir seperti ini.'
Rayya sebenarnya tidak berniat untuk ikut ke pemakaman, tapi khawatir jika Zafer berpikir bahwa ia adalah seorang istri yang egois karena tidak memperdulikan kematian mertuanya, sehingga terpaksa berpura-pura untuk peduli pada semua hal dan berakhir lemas di pemakaman seperti sekarang.
Berharap Zafer segera mengajaknya pulang setelah melihat keadaannya yang tidak baik-baik saja. Namun, dari tadi Zafer tidak menoleh ke belakang dan masih diam di sebelah pusara orang tua.
Sementara itu, Tsamara yang dari tadi sibuk berdoa dengan tasbih di tangan, bisa melihat apa yang terjadi pada Rayya. Sebagai seorang wanita yang pernah hamil dua kali, tentu saja mengetahui bahwa saat ini tidak baik-baik saja.
__ADS_1
Karena merasa tidak tega, ia menepuk pundak Rayya dan berbicara lirih karena tidak ingin mengganggu ketenangan Zafer yang sedang fokus untuk orang tua.
"Apa sebaiknya kamu pulang terlebih dulu dengan diantarkan supir? Kamu pasti sangat lelah dan tidak baik-baik saja karena wajahmu sangat pucat."
Rayya saat ini menoleh ke arah sebelah kanan, di mana sosok wanita yang duduk di kursi roda tersebut membuatnya semakin bertambah kesal.
Karena seperti tengah memanfaatkan situasi untuk berduaan dengan Zafer yang memang belum berniat untuk pulang ke rumah.
'Wanita cacat ini mulai berencana licik untuk mendekati Zafer karena mungkin merasa khawatir saat sudah tidak ada mertua yang melindungi. Jadi, mencuci otak Zafer agar membelanya.'
'Apa ia saat ini berpikir bahwa aku adalah seorang wanita yang bodoh dan bisa ditipu olehnya? Aku mengusirmu dari rumah setelah acara tujuh hari selesai karena tidak mungkin melakukan sekarang.'
'Pasti selama satu minggu ini akan ada banyak sama saudara yang berdatangan dan menanyakan kehadiranmu karena merupakan istri sah Zafer. Jadi, aku harus bersabar hingga semua acara selesai dan langsung mengusirmu saat itu juga.'
Tsamara yang baru saja mengungkapkan niat baik karena merasa iba pada Rayya, saat ini sudah terbiasa melihat respon dari wanita itu yang seperti tidak bersahabat dan menampilkan wajah.
Seolah tidak setuju dengan sarannya agar pulang terlebih dahulu dengan diantarkan supir, sehingga memilih untuk kembali melanjutkan doa dengan tasbih di tangan tanpa menunggu jawaban wanita yang seperti sangat membencinya tersebut.
Rayya hanya mengarahkan tatapan tajam penuh kebencian pada Tsamara tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Apalagi akan bertahan dan tidak akan meninggalkan Zafer dan Tsamara berduaan meskipun hanya di pemakaman.
Berpikir jika membiarkan hal itu, akan terjadi ikatan batin antara dua orang yang mungkin menjadi ancaman untuk Rayya ke depannya jika sampai Zafer merasa nyaman bersama Tsamara yang mungkin akan berusaha untuk menghibur.
'Aku tidak akan membiarkan kalian berduaan di pemakaman untuk saling menguatkan dan menghibur diri,' gumam Rayya yang saat ini baru saja sibuk mengumpat di dalam hati.
Hingga di saat bersamaan semakin bertambah kesal atas perkataan dari Zafer yang baru saja menoleh ke arahnya.
"Pulanglah terlebih dahulu bersama supir. Aku di sini dulu untuk mendoakan orang tuaku. Mereka pasti akan sangat bersedih ketika aku buru-buru pergi dari sini." Zafer yang tadi berdoa, mendengar suara Tsamara yang berbicara pada Rayya, sehingga menoleh ke belakang.
Begitu melihat wajah pucat Rayya pada posisi berjongkok sepertinya, membuatnya merasa bersalah dan tidak ingin wanita itu berakhir buruk dengan kondisi kehamilan yang terganggu. Tentu saja akan merasa bersalah pada Rayya dan juga calon anak-anaknya di rahim wanita itu.
__ADS_1
To be continued...