
"Aku adalah seorang pria tampan dengan tubuh ideal dan menjadi idaman para wanita." Zafer mencoba untuk menghibur kekesalan yang dirasakan dengan cara memuji diri sendiri dan berharap tidak merasa insecure di depan wanita yang cacat.
Bahkan saat ini Zafer terlihat beberapa kali mengusap dada karena merasa sangat kesal ketika membayangkan bahwa Tsamara menolak dan tidak ingin bercinta dengannya dengan cara berbohong.
Tidak mengungkapkan secara langsung karena berpikir bahwa seorang istri akan berdosa jika menolak keinginan suami, itulah yang diketahui Zafer menjadi alasan Tsamara memilih untuk mengarang sebuah cerita demi bisa menolaknya.
Karena tidak ingin terus dikuasai oleh kekesalan karena memikirkan kebohongan Tsamara, Zafer berjalan keluar dari ruangan ganti dan berjalan menuju ke meja rias untuk memakai Pomade dan parfum.
Tanpa menatap ke arah Tsamara yang berada di sebelah kiri ranjang dan tidak lagi membuka suara karena sama sekali tidak ditanggapi.
Hanya ada keheningan di antara mereka dan suasana terasa canggung ketika pasangan suami istri sama-sama saling menutup mulut rapat rapat. Seolah keduanya tidak Ingin berkomunikasi.
Tsamara yang melihat perubahan sikap Zafer hari ini, berpikir bahwa semua itu karena semalam mengatakan hal yang selama ini disembunyikan.
'Sepertinya Zafer merasa jijik padaku setelah aku menceritakan penyakit yang sempat kuderita di masa lalu. Syukurlah, aku sekarang tidak akan khawatir lagi karena suami tidak akan pernah meminta padaku,' gumam Tsamara di dalam hati dan tersadar begitu mendengar suara dering telpon yang berada di genggaman.
Tidak membuang waktu, Tsamara langsung menggeser tombol hijau dan terdengar suara dari orang kepercayaannya setelah mengucapkan salam.
"Nyonya Tsamara, ada sesuatu hal yang ingin saya katakan hari ini."
"Iya, katakan saja!" jawab Tsamara yang merasa mendapatkan firasat buruk ketika mendengar suara orang kepercayaannya seperti sedang gugup.
Hening selama beberapa saat dan setelah Tsamara menunggu dengan sabar karena ingin memberikan ketenangan pada wanita di seberang telepon agar tidak gugup dan berbicara dengan tenang.
"Jadi, semalam kami sudah menyiapkan semua dan berniat memasak pada pagi hari karena pesanan akan dikirimkan siang hari untuk makan siang, tapi hari ini terjadi sesuatu hal yang tidak pernah dipikirkan."
Tsamara sebenarnya merasa bahwa orang kepercayaannya tersebut terlalu bertele-tele dan tidak langsung pada poin yang ingin diungkapkan, tapi masih berusaha untuk bersabar dan mendengarkan.
'Sebenarnya apa yang terjadi? Tidak biasanya terdengar gugup seperti ini ketika menjelaskan sesuatu. Aku yakin ada sesuatu hal yang buruk,' gumam Tsamara dengan perasaan berdebar-debat karena berpikir ada kejadian yang tidak diharapkan.
Hingga mulai mengerti dan saat ini ikut merasa bingung harus melakukan apa.
"Jadi, pukul empat pagi tadi, kami baru saja tiba di sini dan merasa sangat terkejut ketika semua persiapan yang dilakukan dihancurkan. Sepertinya ada pencuri yang membobol rumah dan berniat untuk merampok. Mereka menghancurkan semua persediaan makanan yang kemarin sudah dipersiapkan agar hari ini bisa dimasak."
__ADS_1
"Apa?" teriak Tsamara yang sangat terkejut dengan hal yang tidak pernah terjadi selama ini. "Bagaimana bisa itu terjadi? Padahal di sana hanyalah kontrakan biasa yang bahkan di dalamnya tidak ada barang berharga. Bagaimana pencuri memilih untuk merampok? Apakah ada barang yang hilang?"
Tsamara merasa jika ada sesuatu hal yang tidak beres dan berpikir bahwa saat ini perlu melihat secara langsung kontrakan yang selama ini menjadi tempat produksi.
"Tidak ada yang hilang, Nyonya karena TV dan kulkas masih ada. Mereka hanya menghancurkan semua yang ada di dapur. Mungkin merasa marah karena tidak ada sesuatu berharga yang bisa dicuri."
Merasa bahwa hal yang terjadi sangat aneh, tetapi karena tidak sempat untuk memikirkan hal itu, Tsamara saat ini berbicara singkat.
"Aku akan ke sana sekarang untuk melihatnya secara langsung!"
"Baik, Nyonya Tsamara," sahut wanita di seberang telpon.
Tsamara kemudian menutup panggilan telpon dan menatap ke arah putranya yang masih tertidur. 'Aku harus membangunkan putraku karena tidak mungkin meninggalkan di sini sendirian karena pasti saat terbangun nanti akan menangis dan mencariku.'
Saat Tsamara menggerakkan kursi roda mendekati panjang putranya yang berada di sebelah kanan, dihentikan oleh pria yang ternyata sudah berada di belakang.
"Tunggu! Kenapa kamu terlihat seperti sangat panik seperti ini? Apakah terjadi sesuatu?" tanya Zafer yang sebenarnya dari tadi menguping pembicaraan Tsamara dengan orang di seberang telpon.
Meskipun tidak menatap ke arah sosok wanita di kursi roda tersebut karena asyik memakai pomade dan menyisir rambut. Hingga berpikir bahwa terjadi sesuatu hal yang buruk pada Tsamara, sehingga merasa sangat penasaran dan ingin bertanya.
Meskipun sebenarnya di dalam hati merasa berdebar-debar karena mencium ada sesuatu hal yang tidak beres.
Sementara itu, Zafer yang saat ini terlihat membulatkan mata, berpindah ke arah depan wanita itu. "Apakah selama ini sering mengalami pencurian di daerah itu?"
Zafer merasa sangat penasaran dengan apa yang baru saja disampaikan oleh Tsamara dan membuatnya sangat terkejut karena tidak pernah menyangka jika kontrakan jelek itu menjadi sasaran oleh para pencuri, sehingga bertanya hal itu.
Sementara itu, Tsamara hanya menggelengkan kepala karena mengetahui bahwa Ini baru pertama kali terjadi di area itu.
"Ini baru pertama kali. Aku akan membangunkan Keanu karena ingin mengajaknya ke sana untuk melihat secara langsung perbuatan para pencuri yang menghancurkan dapur. Sepertinya mereka marah tidak ada yang bisa dirampok."
Tsamara merasa heran dengan tanggapan Zafer saat ini karena malah tertawa terbahak ketika mendapatkan musibah.
Zafer merasa sangat konyol karena berpikir bahwa para pencuri itu sangat bodoh ketika memilih untuk merampok di kontrakan yang jelek.
__ADS_1
"Kenapa ada pencuri bodoh yang berniat untuk merampok kontrakan jelekmu itu. Seharusnya mereka tahu bahwa di dalam rumah tidak ada apapun yang bisa dicuri. Bahkan bisa ditebak dari luar hanya dengan menatap rumah tanpa membuka pintu."
"Lebih baik kamu di rumah saja dan tidak perlu melihat ulah para perampok bodoh itu. Biar aku hubungi polisi untuk mengurus." Zafer saat ini merebut ponsel yang ada di tangan Tsamara dan berniat menghubungi kontak polisi.
Namun, tidak bisa melakukan begitu mendengar suara Tsamara yang seperti tidak ingin melibatkan polisi dari masalah ini.
"Tidak! Aku tidak ingin ada banyak polisi yang datang ke kontrakanku karena itu akan menimbulkan tanggapan buruk ketika ada garis polisi di tempat usahaku. Aku ingin mengeceknya secara langsung dan baru memutuskan apa yang sebaiknya dilakukan."
Tsamara bertambah semakin kesal karena sama sekali tidak meminta bantuan pada pria di hadapannya tersebut, tetapi ingin melibatkan diri, sehingga berbicara untuk menyadarkan Zafer.
"Tolong jangan ikut campur dengan masalahku karena aku tidak pernah ikut campur dengan masalahmu!"
Kemudian langsung merebut ponsel dari tangan Zafer dan mengarahkan kursi roda menuju ke dekat putranya karena ingin membangunkan dan mengajak pergi ke kontrakan.
Sementara itu, Zafer yang tadinya berniat untuk menghubungi polisi, tetapi mendapatkan ancaman dari Tsamara dan membuatnya merasa seperti bukan apa-apa bagi wanita tersebut, sehingga terlihat mengepalkan tangan kanan.
Bahkan dengan wajah memerah diliputi oleh kemurkaan ketika Tsamara berbicara dengan sangat berani dan sinis untuk melarangnya.
Zafer berusaha untuk menahan diri dan saat ini menanggapi dengan bertepuk tangan sambil tertawa terbahak-bahak.
"Wah ... sekarang kamu benar-benar menjadi seorang wanita yang sangat berani. Sebenarnya apa yang membuatmu berubah menjadi berani, Tsamara? Padahal dulu saat pertama kali kamu datang, hanya bersimbah air mata dan tidak pernah menjawab ataupun menyela perkataanku."
"Apakah sekarang kamu merasa berkuasa setelah orang tuaku lebih menyukaimu daripada aku dan Rayya?"
Sementara itu, Tsamara yang saat ini berusaha untuk membangunkan putranya dengan cara mengusap lembut punggung dan membuka suara, "Putraku, bangun. Ayo, ikut Mama."
Namun, suara bernada tegas dari Zafer membuat Tsamara menoleh ke belakang dan melihat wajah pria itu memerah dan menandakan bahwa sedang dikuasai oleh amarah.
"Kamu bisa berpikir apapun sesuka hati karena aku tidak akan pernah membantah ataupun membela diri. Jadi, tuduh saja aku sepuasmu!"
Kemudian kembali beralih menatap ke arah putranya dan melanjutkan untuk membangunkan karena biasanya memang selalu dengan lembut melakukannya.
Namun, Tsamara merasa sangat terkejut ketika tiba-tiba kursi roda diputar dan bertambah membulatkan mata ketika tiba-tiba Zafer mendekat dan membungkam bibirnya sambil merangkum wajahnya untuk mengunci posisinya.
__ADS_1
To be continued...