Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Kegundahan Zafer


__ADS_3

Pria paruh baya yang merupakan tuan rumah itu, refleks langsung bangkit dari posisinya yang dari tadi juga bersimpuh di depan menantu. Tentu saja merasa sangat murka pada putranya yang sama sekali tidak menanggapi permohonan dari sang istri.


Ia kini telah berdiri, menghampiri putra tunggalnya yang selalu membuat masalah. Dengan mengangkat tangan, ia hendak memukul wajah putranya untuk kesekian kalinya. Namun, tangannya hanya menggantung di udara.


"Anak kurang ajar!"


Tsamara yang mengetahui bahwa mertuanya akan memukuli lagi sang suami hanya karena dirinya, makin merasa sangat bersalah dan membuatnya refleks langsung berteriak, "Papa, berhenti!"


Tsamara buru-buru mengarahkan kursi roda untuk mendekati mertuanya. Bahkan ia kini sudah memegangi tangan sebelahnya, untuk menghentikan aksi ayah yang menghukum putra tersebut, sehingga tidak jadi memukul wajah sang suami.


"Aku tidak ingin menjadi penyebab hubungan buruk antara orang tua dan putranya karena tidak mau suamiku semakin membenciku."


Dengan berhenti sesaat, Tsamara mengambil napas teratur sebelum mengeluarkan keputusannya. "Baiklah. Aku akan tetap menjadi istri tuan Zafer selama ia tidak menceraikanku."


Kemudian Tsamara beralih menatap ke sang suami yang hanya menatap datar ke arahnya. "Maaf."


Zafer merasa sangat marah, tetapi hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun karena tidak berhasil membuat wanita yang sama sekali tidak pernah disukainya itu pergi atas dasar kemauannya sendiri.


Berbanding terbalik dengan perasaan haru dan bahagia pasangan suami istri yang langsung mengungkapkan rasa terima kasihnya dan memeluk Tsamara.


"Terima kasih, Sayang. Mama sangat bahagia karena kamu akan tetap menjadi menantuku."


Tsamara hanya menganggukkan kepala saat mendengar kalimat terakhir yang sangat menghiba dari seorang ibu. "Aku yang justru harus berterima kasih pada Mama dan Papa karena mau menerima wanita miskin dan penuh dosa ini sebagai menantu."


'Meskipun aku merasa bersalah karena ditakdirkan masuk ke dalam kehidupan seorang tuan muda sepertinya,' jerit batin Tsamara yang saat ini tengah meratapi nasibnya yang menikah dengan seorang tuan muda kejam dan tidak punya hati seperti Zafer.


"Sekalian saja kamu ceramah di sini, aku akan mendengarkan. Bukankah ilmu agamamu sangat tinggi dan bisa menasehati semua orang yang memiliki tingkatan rendah dalam hal agama?" sindir Zafer yang mencoba untuk mengimbangi perkataan dari kedua orang tuanya.

__ADS_1


Hingga suara teriakan dari sang ayah, menggema dan membuat gendang telinganya berdenyut.


"Jaga bicaramu, Zafer!" teriak Adam Dirgantara seraya menatap tajam wajah putranya.


Kalimat pedas dari pria yang menikahinya itu bagaikan sebuah tombak tajam yang menghunus tepat di jantungnya dan berhasil membuat luka menganga di sana.


Tentu saja ia hanya bisa berkeluh kesah di dalam hati dan menggantungkan hidupnya pada sang pencipta alam semesta yang sanggup membolak-balikkan hati manusia.


'Ya Tuhan, ini baru beberapa bulan menjalani pernikahan ini. Bagaimana mungkin bisa bertahan sampai akhir. Kuserahkan saja semuanya kepada-Mu.'


Lamunan Tsamara seketika buyar saat mendengar suara kesakitan dari pria dengan postur tinggi tegap yang tengah meringis kesakitan. Ia bisa melihat mertuanya tengah menjewer telinga Zafer dengan wajah penuh kemurkaan.


Tentu saja ia tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya menyaksikan seorang ibu memberikan sebuah hukuman pada putra yang berada di jalan salah.


"Dasar anak nakal, jika kamu masih kecil, Mama akan menguncimu di gudang dan tidak akan memberimu makan seharian!" ucap wanita paruh baya yang sudah menarik daun telinga putranya.


Tentu saja berharap wanita yang memakai hijab itu mau berbicara pada ibunya agar melepaskan tangan dari telinga yang saat ini terasa sangat panas.


Belum sempat Tsamara membuka suara untuk menghentikan hukuman, suara dari mertua sudah menggema memenuhi ruangan kamar.


Adam Dirgantara yang dari tadi hanya diam dan membiarkan sang istri memberikan sebuah hukuman pada putranya yang berbuat sangat keterlaluan, bisa melihat tatapan tajam dari Zafer saat memandang Tsamara, sehingga ia mengerti akan niat dari putranya yang memohon bantuan dari menantu kesayangannya.


"Tsamara, jangan pernah menuruti perintah dari suamimu yang salah. Aku tahu kalau surga istri ada pada restu suami dan mengharuskan istri mengikuti perintah suami. Akan tetapi, kamu harus melihat dulu bagaimana suamimu dan perintahnya itu."


"Apakah membawa ke jalan kebaikan atau sebaliknya. Kamu mengerti itu, kan?" Adam Dirgantara kali ini berbicara dengan sangat tegas untuk memberikan sebuah ultimatum, agar menantunya itu bisa bersikap tegas saat putranya melakukan sebuah kesalahan.


Akhirnya Tsamara tidak jadi memohon pada mertuanya agar menghentikan hukuman, sehingga ia hanya mengangguk perlahan untuk menjawab perintah dari pria paruh baya dengan badan tegap tersebut.

__ADS_1


"Iya. Aku mengerti itu dan akan selalu mengingat pesan Papa. Aku memutuskan akan tetap berada di sini selama suamiku tidak menceraikanku."


"Syukurlah. Akhirnya kamu menyetujui permintaan kami, Sayang." Erina melepaskan tangannya yang berada di daun telinga putranya dan langsung memeluk sang menantu idaman.


Sementara itu, Tsamara hanya tersenyum tipis saat mertuanya terlihat sangat menyayanginya seperti putri kandung sendiri.


'Aku akan mencoba bertahan di sini. Namun, jika suamiku mengeluarkan talaknya, aku akan segera pergi dan tidak akan pernah kembali," lirih Tsamara yang melirik sekilas ke arah Zafer saat mengusap telinga merah efek dijewer oleh sang ibu.


Zafer yang saat ini ber-sitatap dengan manik bening Tsamara, semakin merasa kesal pada sosok wanita yang baru beberapa hari dinikahinya tersebut.


'Lihat saja, kamu nanti. Sebentar lagi, orang tuaku yang akan mengusirmu, wanita munafik!' gumam Zafer yang masih meringis menahan sakit pada daun telinga.


Setelah puas mengungkapkan puji syukur dan rasa terima kasihnya pada sang menantu yang merupakan wanita salihah dan menjadi idaman setiap laki-laki itu, pasangan suami istri yang tak lain adalah Adam dan Erina merasa sangat lega karena bisa membuat putra mereka tak berkutik.


Tentu saja sebelumnya, Adam Dirgantara sudah memberikan sebuah ultimatum keras pada Zafer, yaitu jika sampai sekali lagi Tsamara mempunyai niat untuk meninggalkan rumah, yang akan bertanggungjawab adalah putranya.


Salah satu tanggungjawabnya adalah Zafer pun harus pergi dari rumah dan tidak akan mendapatkan harta sepeser pun karena Adam Dirgantara akan menyumbangkan semua hartanya ke panti asuhan.


Zafer yang saat ini sudah mengempaskan tubuhnya di atas ranjang, masih terus terngiang tentang ancaman dari sang ayah


Jika sampai Tsamara melangkah keluar dari rumah ini, kamu pun harus angkat kaki dan papa akan menyumbangkan semua harta kekayaan keluarga ke yayasan amal.


Dari pada Papa memberikan harta padamu dan hanya digunakan di jalan penuh kesesatan dan membuatku menderita saat meninggal nanti.


"Astaga, Papa benar-benar sudah gila karena lebih memilih tidak memperdulikan putranya sendiri!" Zafer bisa mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.


Menandakan bahwa sosok wanita yang sama sekali tidak disukainya itu tengah bersembunyi di dalam kamar mandi untuk menghindarinya.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2