Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Pertanyaan Zafer


__ADS_3

Tidak ingin melihat Tsamara semakin bersedih, Erina saat ini langsung memeluk erat tubuh menantunya tersebut dan beberapa kali mengusap punggung di balik hijab.


"Tentu saja. Bukankah itu sudah berkali-kali dikatakan papamu? Jadi, jangan berpikir macam-macam lagi. Mulai besok, kamu harus bersemangat saat menjalankan terapi, agar bisa segera berjalan dan menjadi Tsamara yang kuat."


"Apapun keputusanmu, kami langsung setuju tanpa ragu karena tahu bahwa itu adalah yang terbaik untukmu." Erina saat ini masih belum melepaskan pelukan karena Tsamara menangis tersedu-sedu.


Sementara itu, sosok pria paruh baya yang masih memangku sambil bercanda dengan anak laki-laki tersebut, sedikit menoleh ke belakang untuk melihat interaksi dua wanita berbeda generasi yang malah tengah bersedih di hari paling membahagiakan.


"Seharusnya ini menjadi hari paling membahagiakan, tapi kenapa kalian malah menangis? Bahkan selalu saja membahas hal yang sama. Hapus air mata dan perbaiki riasan agar tidak terlihat seperti wanita yang mengalami kesedihan."


Sengaja Adam Dirgantara berbicara tegas karena ingin menghentikan ibu mertua dan menantunya tersebut agar tidak melanjutkan tangisan dengan suara yang menyayat hati di dalam mobil.


Apalagi sebentar lagi tiba restoran yang dituju. Berharap hari ini hanya kebahagiaan yang dirasakan karena merayakan anniversary pernikahan, sehingga berharap menantunya tidak membuat sang istri bersedih dan merusak kejutan yang akan diberikan.


Hari ini, Adam Dirgantara ingin memberikan hadiah spesial untuk sang istri karena memesan langsung dari toko perhiasan terkenal.


Sebuah kalung berlian didesain khusus sesuai dengan gambar sang istri yang memiliki hobi dengan perhiasan. Bukan hanya itu saja karena ia menjadikan hobi sang istri dengan cara membuka toko perhiasan dengan aneka jenis desain yang selama ini digambar pada buku.


Bahkan ia mencuri buku itu tanpa sepengetahuan sang istri dan memberikan pada hari anniversary agar mendesain sesuai dengan gambar.


Merasa sangat yakin jika hari ini sang istri akan merasa bahagia, sehingga tidak ingin Tsamara mengacaukan semua dengan kesedihan ketika membahas masalah kelangsungan hubungan rumah tangga putranya.


'Aku harap hari ini istriku merasa bahagia mendapatkan kejutan yang sudah lama kusiapkan semenjak setengah tahun yang lalu tanpa ada seorang pun yang mengetahui.'


Adam bahkan memberikan nama sang istri pada toko perhiasan tersebut, yaitu 'Erina Jewelry' dan berharap akan menjadi surganya para wanita yang suka dengan perhiasan.


Tsamara yang menyadari kesalahan dengan melepaskan pelukan rumah tua. "Maaf, Ma. Aku tidak seharusnya menangis seperti ini di hari paling membahagiakan."


"Tidak apa-apa karena setelah berbicara dan mengungkapkan semua yang kurasakan, sehingga saat ini merasa sangat lega dan tidak lagi khawatir." Erina membuka tas dan mengambil alat make up untuk melaksanakan perintah sang suami yang menyuruh untuk merapikan riasan.


Apalagi tadi sempat meneteskan air mata dan membuat penampilan berantakan. "Rapikan riasanmu, Sayang, agar terlihat lebih cantik dan tidak sembab seperti itu." Kemudian memakai bedak tipis pada wajah.


Tsamara menganggukkan kepala dan hanya mengambil tisu serta untuk menghapus air mata karena memang tidak memakai riasan tebal seperti kebanyakan para wanita.


Melihat menantunya hanya melakukan itu saja, Erina seketika memberikan alat make up miliknya. "Sepertinya kamu tidak membawa bedak dan lipstik, ya?" Erina kini ingin merubah pemikiran mengenai semua warna gelap yang disukai.

__ADS_1


"Pakai ini, agar tidak terlihat pucat. Meskipun aku tahu berbeda karena jelas terlihat dari warna lipstikmu, tapi sekali-kali memakai warna cerah bukanlah sebuah kesalahan, bukan?"


Sebenarnya Tsamara tidak suka dengan warna lipstik merah menyala ibu mertua, tetapi karena ingin menghormati perintah wanita yang sangat disayangi seperti itu sendiri, sehingga menganggukkan kepala dan menerima alat make up tersebut.


Kemudian mulai mengaplikasikan pada bagian-bagian tertentu yang perlu dirias. Meskipun di dalam hati sangat tidak cocok dengan warna lipstik yang sangat mencolok tersebut dan membuat bibirnya seperti baru saja makan saus tomat.


"Padahal aku tadi sudah memakai sangat tipis, tapi kenapa terlihat sangat merah seperti ini?" lirih Tsamara yang mengambil tisu dan berniat untuk menipiskan warna dengan cara membersihkan.


"Memang itu warnanya merah, jadi seperti itulah hasilnya, tapi kamu terlihat cantik, Tsamara. Jangan dihapus karena kita sudah sampai di restoran," ucap Erina yang kini menatap ke arah restaurant mewah begitu mobil berbelok dan memilih tempat parkir yang kosong.


Merasa tidak punya pilihan lain, akhirnya Tsamara terpaksa menuruti perintah dari ibu mertua dan mengembalikan alat make up tersebut karena suara putranya sudah memanggil begitu membuka pintu mobil.


Anak laki-laki yang sangat disayangi tersebut terlihat sangat senang begitu turun dari mobil.


Sementara itu, ia melihat sopir sudah membawakan kursi roda. Tadi memang Zafer yang menggendong saat masuk ke dalam mobil karena tidak mungkin pria lain melakukan.


Meskipun bisa melihat bahwa wajah Rayya terlihat masam saat Zafer melakukan hal itu. Jika biasanya Tsamara selalu meminta bantuan para wanita saat beranjak keluar dari mobil, tapi hari ini karena ada Zafer, jadi ayah mertua langsung menyuruh.


Seperti saat ini, tengah menunggu Zafer menggendong dan membantu duduk di kursi roda. 'Mulai besok, aku akan bersemangat untuk menjalankan terapi karena saat menyusahkan banyak orang seperti ini, membuatku seperti seorang wanita tidak berguna saja.'


Saat Tsamara baru saja selesai bergumam sendiri di dalam hati, kini mendengar suara bariton Zafer.


Sementara itu, Rayya berniat untuk membantah, tetapi gagal melakukan saat sudah digandeng masuk ke dalam restoran.


"Ayo, kita pesan makanan untuk Zafer."


Rayya saat ini hanya diam tanpa membuka mulut karena merasa sangat dongkol dan marah atas perkataan tiba-tiba dari Zafer yang terlihat jelas sedang mengusir agar bisa berbicara berdua dengan Tsamara.


Tentu saja Rayya merasa sangat curiga dengan apa yang akan dibicarakan oleh Zafer karena tadi selama di dalam mobil tidak mengatakan apapun.


'Sialan! Apa yang sebenarnya ingin dibicarakan Zafer dengan wanita cacat itu? Kenapa tadi tidak mengatakan apapun padaku?' gumam Rayya yang benar-benar merasa tidak rela jika Zafer hanya berdua dengan Tsamara.


Bahkan Adam Dirgantara yang tidak membiarkan Keanu berjalan karena dari tadi asyik menggendong anak berusia 6 tahun tersebut. Langsung memberikan kode pada sang istri agar segera mengajak Rayya masuk ke dalam restoran dan ia berjalan mengekor di belakang dua wanita itu.


'Sepertinya Zafer tidak kuat menjaga jarak dengan Tsamara karena berusaha keras selama seminggu ini hanya demi menghindar. Namun, ternyata Tsamara yang menang karena masih terlihat sangat santai dan tidak kebingungan seperti putraku. Karma memang tidak pernah salah sasaran dan mengincar Zafer.'

__ADS_1


Saat Adam Dirgantara sibuk memikirkan apa yang dilakukan putranya pada Tsamara, sedangkan di sisi lain, terlihat Zafer yang baru saja membungkuk untuk mengangkat tubuh Tsamara ke atas lengan kekarnya dan memindahkan ke kursi roda.


Namun, ketika melihat Tsamara hendak kabur darinya dengan cara menekan tombol otomatis agar kursi roda berjalan masuk ke dalam restoran tanpa dirinya, sehingga saat ini langsung mengarahkan tangan menahan pegangan kursi roda.


Tsamara benar-benar merasa sangat tidak nyaman ketika bersama dengan Zafer hanya berdua dan pastinya membuat Rayya berpikir macam-macam. Sebagai seorang wanita yang berstatus sebagai istri, sangat mengerti apa yang saat ini dirasakan oleh Rayya saat ini.


Jadi, berpikir untuk menghindar, tapi tidak bisa melakukan karena perbuatan Zafer dan langsung berdiri menjulang di hadapan dengan mengarahkan tatapan tajam mengintimidasi.


"Apa yang kamu lakukan sebenarnya? Kamu tidak boleh seperti ini saat berada di hadapan istrimu. Saat ini, pasti ia pasti merasa bersedih dan berpikir macam-macam padaku. Aku sama sekali tidak berniat untuk merebutmu, tapi jika kamu seperti ini, Rayya akan berpikir aku menggodamu."


Zafer paling tidak suka jika Tidak selalu menyebut nama Rayya untuk menghindar darinya, sehingga hari ini ingin mengancam agar berubah.


Sebenarnya beberapa saat lalu ketika mengemudi, sibuk memikirkan keinginan untuk bertanya pada Tsamara mengenai perasaan wanita itu ketika akan berangkat besok.


Namun, tidak bisa menahan diri dan memilih melakukan hal sesuka hati tanpa memikirkan apapun, termasuk Rayya.


Zafer merasa bahwa perbuatannya tidak salah karena ia ingin berbicara berdua dengan istri sah. Apalagi sudah bertanggung jawab pada Rayya dengan menikahi dan pastinya janin di dalam rahim wanita itu sudah memiliki status sebagai anak-anaknya.


Kini, ia sedikit membungkuk untuk bisa menatap dengan jelas wajah wanita di hadapannya. "Aku bebas berbuat apapun pada para istriku. Bahkan kamu sama sekali tidak perduli ketika aku melakukan apapun pada Rayya, bukan?"


"Jadi, seharusnya Rayya juga berbuat demikian saat aku melakukan apapun denganmu karena juga merupakan istriku. Aku tidak akan bisa tenang sebelum menanyakan hal ini padamu!"


Bahkan Zafer berbicara tanpa mengalihkan perhatian sedikit pun pada wanita yang dianggap pada datar tersebut.


Tsamara saat ini menghembuskan napas kasar, seolah mewakili bahwa apa yang dilakukan oleh Zafer sangat tidak berperasaan pada seorang wanita. Namun, karena tidak punya pilihan lain dan ingin segera mengakhiri momen ini, sehingga memilih untuk membiarkan pria itu bertanya.


Apalagi merasa sangat tidak nyaman dengan tatapan para pengunjung yang baru datang dan juga akan pulang. Seolah mereka menjadi tontonan gratis dan dianggap tengah bertengkar sebagai pasangan.


"Baiklah. Apa yang ingin kamu tanyakan padaku?"


"Apakah kamu telah membuang pakaian yang kubelikan? Ataukah merasa jijik untuk memakai pakaian itu? Lalu, apakah tidak ada perasaan apapun yang kamu rasakan ketika kita sudah beberapa kali bercinta?" Zafer merasa tidak cukup untuk mengungkapkan pertanyaan pada Tsamara.


Namun, karena tidak mungkin bisa berbicara lama pada saat hari penting orang tua, sehingga hanya menanyakan beberapa poin utama saja dan berharap yang terakhir dijawab oleh Tsamara sesuai dengan perasaan yang sebenarnya.


'Tsamara saat ini sangat membutuhkan jawabanmu karena selama ini tersiksa dengan apa yang kurasakan padamu, Tsamara,' gumam Zafer yang saat ini berbicara dengan mengunci tatapan pada iris kecoklatan sosok wanita yang masih terlihat sangat tenang.

__ADS_1


Bahkan Zafer berpikir bahwa Tsamara adalah seorang wanita yang tidak punya perasaan karena sangat datar dan dingin.


To be continued....


__ADS_2