
Rayya yang menoleh ke arah belakang, saat ini menyipitkan mata begitu melihat seorang pria berdiri di sana dan tersenyum simpul.
"Kamu mengenalku?"
Sementara itu, sosok pria yang tak lain adalah Raymond Abrisam dan tak lain adalah teman masa kecil Rayya, kini hanya menatap datar karena merasa kesal saat wanita di hadapannya sama sekali tidak mengingat.
Sebenarnya tadi ia mengejar pengemudi mobil berwarna merah yang dianggap sangat ugal-ugalan ketika mengemudi dan bisa membahayakan nyawa orang lain.
Hingga mengikuti sampai di Mall dan begitu menyadari jika ternyata yang mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi adalah teman masa kecilnya, merasa sangat senang dan berpikir bahwa hari ini takdir berpihak padanya.
Bisa bertemu dengan wanita yang sampai sekarang dicintainya dan memegang janji akan menikahinya, sungguh membuatnya merasa senang.
Hingga beberapa saat kemudian, memilih untuk mengikuti dari belakang dan menyapa di depan lift. Namun, kini seperti menjadi seorang pria terbuang yang tidak diingat, membuat Raymond Abrisam memilih untuk pergi setelah berbohong.
"Maaf, salah orang."
Sementara itu, Rayya yang dari tadi tengah berusaha untuk mengingat sosok pria yang menyapa, berpikir merupakan salah satu pemuja rahasia yang sering melihatnya di Club malam dulu saat sering ke sana.
Namun, saat merasa seperti wajah pria itu tidak asing, berusaha keras untuk mengingat. Hingga saat mengingat sesuatu, pria itu pergidan seketika berlari mengejar.
"Raymond Abrisam?" Rayya kini menepuk pundak pria yang kini masih memunggunginya. "Benar, aku mengingatmu sekarang."
Raymond yang tadinya kesal pada Rayya karena sama sekali tidak mengingatnya, seketika tersenyum simpul setelah sahabat kecilnya tersebut menyebut namanya.
Kemudian berbalik badan dan mengukir senyuman. "Akhirnya kita bisa bertemu sekarang." Mengulurkan tangan dan menunggu sambutan dari sosok wanita yang membuatnya ingin menaklukkan.
Karena menolaknya ketika hendak dilamar. Padahal selama ini memegang janji yang diucapkan saat kecil dulu, tapi malah wanita yang berdiri di hadapannya tersebut mengkhianati janji di masa kecil.
__ADS_1
Rayya yang seketika tersenyum, kini menjabat tangan sahabat kecilnya tersebut. "Aku benar-benar sangat terkejut bisa bertemu kamu di sini, Raymond."
Bahkan mood buruk Rayya seketika berubah baik begitu bisa bertemu dengan sahabat kecilnya yang bahkan ingin melamarnya.
Saat ini, Rayya mengamati penampilan Raymond yang terlihat sangat rapi mengenakan kemeja berwarna putih dengan lengan dilipat sampai siku.
Bahkan mengetahui jika semua yang melekat di tubuh pria itu adalah barang-barang mahal dan menegaskan jika sahabatnya itu punya banyak uang. Ia kini mengingat kejadian saat menolak lamaran melalui sang ayah.
"Raymond, maafkan aku."
Sementara itu, Raymond hanya diam karena mengerti arah pembicaraan wanita itu. "Aku tidak butuh kata maafmu."
Kemudian berpura-pura menampilkan wajah masam dan datar. "Apa kamu tahu kesalahanmu?"
Rayya kini menelan saliva dengan kasar ketika mendapatkan tatapan tajam mengintimidasi dari Raymond. "Iya, tentu saja aku tahu. Bahwa kesalahanku adalah mengingkari janji kita di masa kecil dan menolak lamaran keluargamu."
Raymond kini bisa melihat jika wajah Rayya terlihat muram dari pertama melihat turun dari mobil. Merasa sangat penasaran, kini ia mengubah keseriusan yang melanda menjadi lebih santai.
Rayya kini mengerjapkan mata karena sama sekali tidak pernah berpikir jika Raymond mengetahui ia mengemudi dengan kecepatan tinggi. "Jadi, kamu mengikutiku tadi? Apa pertemuan kita bukanlah sebuah kebetulan?"
Saat tiba-tiba merasa pusing karena memang tidak kuat berdiri lama, Rayya memijat pelipis. "Sial!"
"Sepertinya kamu pusing karena efek kehamilanmu," ucap Raymond yang saat ini langsung menggandeng pergelangan tangan Rayya untuk berjalan menuju salah satu stand kuliner.
"Duduklah!" Menarik kursi agar Rayya segera beristirahat.
Rayya yang saat ini langsung mendaratkan tubuh di kursi, kini masih memijat pelipis dan meneguk air mineral yang sudah dibukakan oleh pria yang sudah lama tidak ia temui.
__ADS_1
"Terima kasih."
Raymond saat ini hanya menganggukkan kepala dan tersenyum sambil mengamati Rayya yang terlihat seperti sedang memendam masalah.
"Sepertinya ada masalah dengan rumah tanggamu karena bisa mengemudi dengan kecepatan tinggi. Seolah sama sekali tidak takut jika terjadi kecelakaan dan membahayakan nyawamu. Apalagi masalahnya jika bukan karena suamimu."
Rayya seketika tersedak minuman dan berusaha menormalkan diri agar tenggorokan tidak terasa panas.
"Sepertinya kamu sangat pantas untuk menjadi seorang peramal. Aku tahu jika kamu sudah pernah bertemu dengan suamiku."
"Ya, suamimu sangat arogan dan kasar. Aku bahkan tidak percaya jika kamu bisa menyukai pria seperti itu." Sengaja Raymond berbicara sesuai dengan apa yang dipikirkan tanpa merasa ragu.
Rayya saat ini hanya tersenyum masam karena menyadari bahwa apa yang dikatakan oleh dia itu memang benar. "Ya, kamu benar. Suamiku sangat arogan dan kasar, serta tidak punya perasaan."
"Lebih baik ceritakan padaku masalahmu, siapa tahu aku bisa membantu. Bukankah aku tetap sahabatmu?" Raymond saat ini merasa mendapatkan peluang untuk masuk ke dalam hati Rayya saat sedang terluka karena ulah suami.
Rayya yang memang membutuhkan teman berbicara karena benar-benar sangat frustasi menghadapi Zafer yang sudah berubah karena Tsamara, sehingga tanpa ragu menceritakan semua yang terjadi dalam rumah tangganya
Namun, tidak menceritakan mengenai rencananya melenyapkan orang tua Zafer.
Raymond saat ini mengerti dengan penyebab wajah Rayya terlihat sangat murung. Hingga menjawab dengan spontanitas untuk menanggapi cerita itu.
"Kalau begitu, balas saja dengan melakukan hal yang sama. Contohnya berselingkuh denganku."
Seketika Rayya mengerjakan mata begitu mendapatkan tawaran dari Raymond, tetapi merasa tertarik karena saat ini sedang dikuasai oleh amarah ketika memikirkan Zafer berselingkuh dengan Tsamara di belakangnya.
"Jadi, kamu mengajakku berselingkuh saat mengetahui bahwa aku tengah hamil?"
__ADS_1
"Aku tidak perduli dengan itu karena sampai sekarang hanya mencintaimu," ucap Raymond yang kini menjawab dengan singkat sambil menatap intens wajah Rayya yang sangat shock mendengar tawarannya.
To be continued...