
Tsamara tidak pernah tega melihat sang suami yang kini telah berubah menjadi seorang pria lemah dan suka menangis, sehingga langsung memeluk erat tubuh yang kini kurus karena sebulan terakhir ini tidak pernah nafsu makan.
Ia khawatir jika sang suami akan berakhir sakit jika terus menerus seperti itu, sehingga berusaha untuk menyadarkan bahwa semua yang terjadi sudah menjadi takdir dari keluarga Dirgantara.
"Ini semua sudah menjadi takdir, Suamiku. Jodoh, mati, rezeki sudah ada yang mengaturnya dan kita hanya bisa menjalaninya. Jangan terpuruk selamanya karena papa dan mama akan bersedih di atas sana. Mereka sudah tenang karena keinginan terkabul saat mempunyai harapan bisa sehidup semati."
"Perlahan, nanti kamu pasti akan bisa melupakan semuanya. Kita sekarang hanya bisa mengirimkan doa pada orang tua agar tenang di surga sana. Lebih baik kita tidur sekarang karena ini sudah larut." Tsamara membenamkan wajah dan memejamkan mata.
Namun, beberapa detik kemudian, mendengar suara bariton dari sang suami dan seketika membulatkan mata.
"Besok kita pergi ke New York karena aku sudah mengurus untuk pengobatanmu agar bisa segera kembali berjalan." Awalnya Zafer ingin merahasiakan hal itu dengan memberikan kejutan.
Namun, malah diri sendiri yang menerima kejutan luar biasa mengenai fakta perihal kejahatan Rayya dan juga Raymond. Ia sadar bahwa semua yang hari ini dikatakan oleh sang istri benar.
Bahwa orang tuanya sudah bahagia di surga sana. Ia sekarang ingin fokus bertaubat dan memenuhi harapan orang tua yang menginginkannya menjadi seorang pria bertanggungjawab.
"Aku akan memenuhi harapan papa dan mama, agar mereka tersenyum dari surga sana, Sayang. Terima kasih karena sudah menjadi malaikat tak bersayap dalam kehidupanku. Maafkan aku atas semua keburukanku padamu."
Tsamara kini langsung menghambur memeluk erat sang suami karena merasa sangat terharu pada apa yang dikatakan oleh pria yang sudah menyadari kesalahan.
Ia yang sama sekali tidak pernah menyangka jika sang suami tetap ingin membawanya berobat ke luar negeri, kini tidak menolak niat baik tersebut karena sebenarnya juga ingin berjalan lagi.
"Aku sudah memaafkanmu sebelum kamu minta maaf. Baiklah, Sayang. Aku sudah berjanji akan patuh padamu, bukan? Jadi, tidak akan keberatan. Berarti aku harus berkemas sekarang."
Tsamara hendak bangkit, tapi ditahan oleh tangan dengan buku-buku kuat tersebut.
"Biar aku saja yang berkemas. Kamu tidur saja. Setelah kamu tertidur, baru aku akan berkemas." Zafer yang tadinya tersenyum dengan jawaban Tsamara kini mengeratkan pelukan.
"Sayang, terima kasih karena mau menerimaku sebagai suamimu. Meskipun aku sudah banyak menyakitimu."
"Aku mencintaimu," sahut Tsamara yang tidak ingin menanggapi permintaan terima kasih sang suami karena terdengar menyayat hati.
Hingga beberapa saat kemudian, Tsamara terlelap dalam alam bawah sadar dengan memeluk pinggang kokoh sang suami.
***
Satu tahun kemudian...
__ADS_1
Sosok wanita dengan mengenakan gaun panjang syar'i berwarna merah dan hijab senada tengah menggendong putra kesayangan dan di sebelah ada sosok pria tampan yang sangat dicintai.
Hari ini adalah kepulangan Tsamara dari New York setelah menjalani pengobatan selama satu tahun dan bahkan selama ini menetap di sana dengan dua orang pengawal dan dua pelayan.
Sementara Zafer datang setiap dua minggu sekali karena memang harus mengurus perusahaan.
Setelah perjuangan luar biasa dari Tsamara saat menjalani terapi, akhirnya bisa kembali berjalan lagi seperti dulu dan merasa sangat bahagia serta bersyukur atas semua kebaikan yang kini didapatkan.
Kini, Zafer mendorong troli berisi koper-koper milik Tsamara dan Keanu. "Sayang, apa kamu tidak lelah menggendong Keanu yang sudah besar? Biarkan putraku berjalan sendiri."
Tsamara yang seolah merindukan momen-momen menggendong Keanu, seperti tengah mengetes kekuatan kaki yang sudah dinyatakan normal. Namun, lama-kelamaan merasa lelah dan memilih untuk menuruti perintah sang suami.
"Aku sekarang sudah tidak kuat terlalu lama menggendong putraku." Tsamara kemudian menurunkan putranya yang sudah terlihat lebih gemuk.
Zafer hanya terkekeh geli melihat ekspresi wajah memerah sang istri yang kelelahan. Kemudian berbisik di dekat daun telinga wanita itu.
"Kalau begitu, sudah saatnya kita membuat adik untuk Keanu agar kamu bisa menggendong bayi lagi. Bagaimana? Lagipula aku sudah menahan diri untuk tidak menghamilimu karena selalu memakai pengaman."
"Aku dulu tidak tega kamu hamil saat masih belum bisa berjalan, tapi sekarang ingin segera menghamilimu."
Tsamara yang mengerti dengan keinginan sang suami, sama sekali tidak keberatan dan tersenyum simpul. "Baiklah. Sekarang aku sudah bisa berjalan dan bersedia hamil benihmu."
"Terima kasih, Sayang. I love you." Zafer refleks langsung memeluk erat pinggang ramping sang istri.
***
Sepuluh bulan setelah keputusan Tsamara untuk memberikan keturunan pada Zafer, kini berubah manis dan hari ini telah melahirkan seorang anak laki-laki.
Semenjak putranya dilahirkan, Zafer tidak pernah pulang terlambat karena selalu bersemangat berada di rumah dan menatap bayi mungil yang berhasil membuat rasa lelah efek bekerja seolah hilang seketika hanya dengan menggendong putranya.
Bahkan saat ini tengah sibuk menggantikan pampers putranya dan tidak pernah jijik melakukan itu. Justru merasa sangat senang saat bisa membantu sang istri.
"Putra tampan Daddy kelak jadi anak laki-laki yang patuh pada orang tua, ya. Jangan seperti Daddy yang dulu sangat keras kepala dan susah diatur."
Sementara itu, Tidak yang saat ini hanya berbaring di ranjang karena efek lelah saat setiap hari sang putra selalu mengajak begadang.
Niatnya adalah ingin tidur awal, agar nanti bisa menjaga putranya, tapi melihat interaksi antara ayah dan anak itu, ia benar-benar sangat terharu.
__ADS_1
"Putra kita pasti akan menjadi anak laki-laki yang bisa membanggakan orang tua. Untuk itu, kita perlu menanamkan ilmu agama yang baik agar mempunyai pondasi kuat sebagai benteng pertahanan dari hal-hal buruk."
Kemudian ia mengungkapkan mengenai rencana untuk memasukkan putranya di sekolah yang lebih mengedepankan ilmu agama daripada sekedar prestasi yang hanyalah tak lebih dari sebuah angka.
"Aku ingin putra-putra kita nanti menuntut ilmu di pondok pesantren. Agar setelah kita meninggal, anak-anak kita selalu mendoakan karena yang bisa menolong orang yang sudah meninggal hanyalah amal kebaikan, ilmu yang bermanfaat dan doa anak-anak Sholeh Sholihah. Bagaimana menurutmu, Sayang?"
Zafer yang baru selesai memakaikan pampers pada bayinya, kini beralih menatap ke arah sang istri, sangat mendukung dengan apapun keputusan wanita seperti bidadari surga itu.
"Tentu saja aku akan setuju, Sayang. Mengenai putra-putra kita, aku sangat percaya bahwa kamu bisa mendidik mereka menjadi anak laki-laki yang membanggakan orang tua. Aku sama sekali tidak keberatan jika mereka menuntut ilmu di pondok pesantren."
"Aku tidak ingin putra-putra kita terpengaruh dengan kehidupan yang penuh dengan banyak godaan di dunia. Apalagi zaman sekarang ini banyak pergaulan bebas yang hanya menjerumuskan ke lingkaran dosa. Aku tidak ingin anak-anakku sepertiku yang penuh dosa."
Zafer membenarkan perkataan sang istri bahwa memberikan pondasi agama untuk anak sangatlah penting karena berkaca dari dirinya dulu yang terjerumus pada lingkaran dosa.
Refleks Tsamara kini bangkit dari ranjang dan mencium gemas pipi putih dengan rahang tegas itu. "Terima kasih sudah mau percaya dan mendukungku, Sayang."
"Aku harap kita akan selalu seperti ini. Hidup bahagia selamanya dan pastinya orang tua kita yang bertemu di surga sana akan tersenyum melihat kita sekarang hidup bahagia."
"Ini semua berkat kamu hadir dalam hidupku, Sayang. Jika tidak ada kamu, mungkin aku selamanya terjerat dalam gelimang dosa. Tuhan memberikan hidayah padaku melalui bidadari sepertimu." Zafer kini memeluk erat sang istri untuk mengungkapkan perasaan.
Tsamara yang kini tersenyum, membalas pelukan erat sang suami. "Kita sudah ditakdirkan bersama, meskipun harus melalui melewati banyak prahara dalam kehidupan. Aku bahagia bisa menjadi istrimu dan sangat mencintaimu."
"Aku juga sangat mencintaimu, Tsamara Asyila. Aku berjanji akan menjadi suami dan ayah yang baik untuk anak-anak kita." Zafer melepaskan pelukan dan mencium kening Tsamara—wanita yang dianggap adalah bidadari surga karena telah mengeluarkannya dari jerat dosa.
'Papa, mama, sekarang aku telah bahagia dan semua ini berkat kalian karena telah membawa bidadari surga ini untuk menemaniku menjalani kehidupan yang berat ini.'
'Terima kasih, Tuhan karena telah membuatku menyadari kesalahan dan dosa yang kulakukan. Lindungi kami agar bisa selalu hidup bahagia karena semua yang terjadi di dunia ini sudah menjadi kuasa-Mu dan manusia akan menjalani semuanya dengan ikhlas dan berusaha untuk berubah lebih baik.'
END...
Terima kasih pada semua pembacaku tersayang atas seluruh dukungannya pada Novel Hasrat Terlarang ini.
Alhamdulillah bisa menyelesaikan novel ini dengan akhir bahagia antara Zafer dan Tsamara.
Jangan khawatir, Author punya karya baru yang lebih menarik dan jangan lupa dimasukkan ke daftar bacaan. Terima kasih 🙏
__ADS_1