Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Pertengkaran


__ADS_3

Satu jam kemudian, Zafer telah menyelesaikan semua pekerjaan hari ini dan bernapas lega. "Akhirnya!"


Kemudian ia menghubungi asisten pribadi untuk menyingkirkan semua dokumen yang membuatnya sangat mual begitu menyelesaikan semua.


Saat Zafer bersiap untuk pulang, mendengar suara ketukan pintu dan pria yang tadi dihubungi terlihat masuk ke dalam.


"Sudah selesai, Tuan Zafer. Anda benar-benar sangat luar biasa," seru pria yang menggunakan setelan tiga potong berwarna hitam tersebut sambil langsung mengemasi tumpukan dokumen di atas meja untuk dibawa.


Sementara itu, Zafer saat ini hanya tersenyum masam dengan pujian yang dianggap sangat menyebalkan.


"Apa papa yang menyuruhmu untuk menyiksaku hari ini?"


Sementara itu, asisten pribadi yang sudah bekerja di perusahaan itu selama lima tahun lebih, memilih untuk menasehati demi menyadarkan pria yang merupakan putra dari bosnya tersebut.


"Tuan Adam Dirgantara tidak berangkat hari ini, jadi banyak pekerjaan yang akhirnya diserahkan kepada Anda. Sepertinya itu karena usia tuan Adam yang sudah tidak lagi muda dan mungkin sebentar lagi akan memilih untuk pensiun, lalu menyerahkan kursi kepemimpinan kepada Anda, Tuan Zafer."


"Saat Anda sudah menjadi presiden utama menggantikan tuan Adam, hal seperti ini akan sering terjadi. Pekerjaan menumpuk dan harus pulang malam merupakan hal biasa. Jadi, tadi ayah Anda mengatakan bahwa ini merupakan sebuah latihan."


"Latihan sebagai calon CEO perusahaan ini?" tanya Zafer yang merasa sangat senang mendengar perkataan dari asisten pribadi sang ayah.


Ia bahkan sudah membayangkan akan menjadi presiden direktur perusahaan dan pastinya menguasai semua harta keluarganya.


'Rasanya aku sudah tidak sabar menunggu hal itu terjadi. Saat papa pensiun dan tidak lagi mengurusi masalah perusahaan karena menyerahkan padaku, aku bisa melakukan apapun sesuka hati tanpa khawatir mendapatkan ancaman,' gumam Zafer yang saat ini merasa bersemangat.


Sampai pada akhirnya, Zafer menyadari bahwa terlalu lama mengulur waktu untuk pulang. Padahal tadi sudah tidak sabar untuk segera menemui Tsamara.


"Baiklah. Sekarang, kamu urus semuanya. Aku mau pulang!"

__ADS_1


"Iya, Tuan Zafer. Hati-hati di jalan," ujar sang asisten yang saat ini langsung membungkuk hormat untuk mengucapkan salam perpisahan.


Tanpa berniat untuk membuka suara karena hanya menganggukkan kepala ketika menanggapi, Zafer ini sudah melangkahkan melangkahkan kaki panjang menuju ke arah lift dan beberapa saat kemudian sudah tiba di parkiran.


Begitu masuk ke dalam mobil, ia sudah duduk di balik kemudi dan fokus melihat jalanan.


Saat pikiran dipenuhi oleh berbagai macam pertanyaan mengenai Tsamara, Zafer segera melajukan kendaraan dengan kecepatan tinggi. Berharap segera tiba di rumah karena ingin mengetahui alasan wanita itu menonaktifkan ponsel.


Melupakan Rayya yang menghubungi dan kebingungan karena tidak berkomunikasi seharian ini. Seolah cinta yang biasanya berapi-api pada Rayya perlahan berkurang hanya karena sikap wanita itu yang dianggap selalu berlebihan.


Apalagi merasa ilfil ketika selalu dituduh oleh Rayya dan membuatnya malah dekat dengan Tsamara.


Malas berbicara dengan Rayya malah membuat Zafer mencari ketenangan dengan suka menggoda Tsamara dengan berakting marah. Padahal ingin sekali berbicara secara baik-baik dan mengetahui seperti apa wanita yang berstatus sebagai istrinya tersebut.


Hingga Tsamara mengatakan ingin berteman dan ditolaknya karena berpikir sangat konyol. Bahkan berpikir jika sewaktu-waktu membutuhkan Tsamara untuk menyalurkan gairah, tidak perlu mengingkari janji jika menyetujui berteman.


Begitu mobil masuk ke dalam area halaman rumah dan memarkirkan di garasi, ia sudah turun dari mobil dan segera berjalan masuk rumah melalui pintu samping yang terhubung dengan area ruang santai.


Sementara itu, di dalam kamar, Rayya yang dari tadi menunggu kedatangan Zafer karena tidak mau mengangkat telpon darinya dan seharian marah-marah dengan memporak-porandakan ruangan.


Kemudian menyuruh pelayan untuk merapikan, agar Zafer tidak melihat perbuatannya. Begitu mendengar suara klakson, ia berlarian menuruni anak tangga karena ingin segera menemui sang suami dan memilih untuk menyembunyikan rasa kesal dan amarah yang dirasakan.


Saat menapaki anak tangga terakhir, ia melihat Zafer yang berjalan mendekat dan menampilkan senyuman termanis untuk menyambut sang suami."


"Sayang." Bergelayut manja di lengan kekar pria yang terlihat menampilkan wajah datar. "Sepertinya kamu masih marah padaku. Apa yang harus kulakukan, agar kamu tidak masam seperti itu?"


Saat melihat Rayya, Zafer refleks teringat dengan pertemuan tadi dengan ayah mertua dan kembali tersulut emosi. Kemudian melepaskan tangan Rayya dari lengannya.

__ADS_1


"Aku sangat lelah dan pusing hari ini. Jadi, ingin langsung beristirahat." Kemudian Zafer berjalan meninggalkan Rayya dengan menaiki anak tangga.


Rayya yang sudah merendahkan harga diri untuk mencari perhatian Zafer dan sudah meminta maaf, tetapi diabaikan, serasa ingin membakar rumah keluarga Dirgantara.


Saat ini, Rayya mengepalkan tangan dan tidak lagi bisa berpikir jernih karena tidak terima dengan sikap egois pria yang sudah semakin menjauh itu. Tidak bisa tinggal diam atas sikap dingin sang suami, Rayya berjalan dengan cepat untuk mengejar pria yang berhasil membuatnya merasa sangat emosi.


"Zafer, tunggu!" teriak Rayya dengan suara sangat kencang dan seketika menggema di rumah mewah itu.


Hingga begitu melihat Zafer sudah berhenti, Rayya kini langsung meluapkan amarah yang dari tadi ditahan. "Apa maumu sebenarnya? Aku bahkan sudah mencoba untuk bersikap baik, tapi kau menanggapi seperti ini."


"Aku bahkan terlihat seperti seorang pengemis sekarang. Apa karena wanita cacat itu sudah memberikanmu kepuasan, sehingga kamu berubah seperti ini padaku?"


Terlihat Zafer memijat pelipis dan rasa pusing yang dari tadi dirasakan seolah menjadi bertambah sekarang.


"Astaga, Rayya! Apakah kamu akan terus menuduhku seperti ini? Bukankah aku tadi sudah bilang sangat lelah dan ingin beristirahat?"


"Kamu hanya berbohong, Zafer. Jika benar kamu lelah dan ingin beristirahat, sekarang aku tanya padamu. Apa kamu akan tidur di kamar wanita cacat itu lagi?" Hal yang paling ditakutkan oleh Rayya hanyalah itu.


Jadi, memilih untuk menegaskan dengan mencari jawaban. Berharap hal yang ditakutkan tidak benar dengan Zafer menggelengkan kepala dan membantah.


Namun, Rayya membulatkan mata begitu mendengar jawaban dari Zafer saat bersiap datar dan menyebutkan sesuatu yang tidak pernah diduga sama sekali.


"Jika benar, apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu akan kembali mengamuk?" sarkas Zafer yang saat ini sangat malas untuk membantah sebagai pembenaran diri.


Zafer benar-benar sangat malas dan kesal jika harus bertengkar dengan Rayya dan berharap bisa menghindar dari sosok wanita yang terlihat sangat murka sepertinya.


To be continued..

__ADS_1


__ADS_2