
Akhirnya Tsamara memutuskan untuk segera mengajak Zafer masuk ke dalam restoran. "Bukan Rey, tapi mama. Lebih baik cepat masuk ke dalam karena pasti semua orang sudah lapar."
Di saat bersamaan, suara cacing-cacing di perut Zafer berbunyi dan seolah meminta untuk segera diberikan jatah. Apalagi tadi pagi tidak berselera makan karena banyak pikiran.
Pikiran yang beberapa hari ini tidak tenang karena menghindari pertemuan dengan Tsamara dan begitu hari ini kembali melihat istri sahnya tersebut, ia tidak bisa menahan diri lagi.
"Karena aku sudah memastikan jawabanmu dan tahu apa yang harus kulakukan, sekarang tidak akan lagi mengusikmu. Kamu bisa melakukan apapun sesuka hati dan begitupun sebaliknya."
Zafer berbicara tidak sesuai dengan apa yang diinginkan, tapi merasa harga dirinya jauh lebih tinggi dari apapun, sehingga saat ini memilih untuk tidak lagi terlihat bodoh di mata seorang Tsamara.
Tanpa membuang waktu, kini Zafer sudah mendorong kursi roda menuju ke arah pintu masuk restoran.
"Aku lupa," sahut Tsamara yang meninggalkan hadiah untuk mertua di dalam kamar.
"Apa?" Zafer mendadak berhenti dan ingin mengetahui jawaban Tsamara.
"Hadiah untuk papa dan mama ada di dalam laci dan tadi lupa aku bawa. Bagaimana ini?" Tsamara benar-benar sangat menyesal karena mengetahui bahwa mertuanya akan langsung berangkat ke Villa setelah pulang dari restoran.
"Kamu berikan saja nanti saat papa dan mama pulang dari Villa. Mungkin satu minggu lagi. Oh ya, besok kamu akan menjadi Nyonya rumah utama di istana keluarga Dirgantara karena aku dan Rayya akan pergi ke luar kota, sedangkan orang tuaku langsung ke Villa."
"Bukankah kamu akan bebas berbuat apapun di rumah?" Zafer kembali mendorong kursi roda untuk masuk ke dalam setoran.
Sementara itu, Tsamara ingin hari ini memberikan pada mertua. Entah mengapa ia merasa bahwa lebih baik menelpon pelayan atau mengantarkan ke restoran.
"Aku tidak bisa menunggu karena ingin memberikannya hari ini. Biar kutelpon Paijo dulu agar mengambil di dalam kamar." Tanpa menunggu jawaban dari sang suami, Tsamara sudah mengambil ponsel di dalam tas dan menghubungi pelayan untuk mengambil hadiah yang semalam diletakkan di dalam laci.
Hadiah itu hanyalah sebuah kotak kecil yang pastinya bukanlah merupakan hadiah mahal karena hanyalah seorang wanita biasa. Bahkan ia membeli sendiri tanpa sepengetahuan Zafer melalui pemesan khusus
__ADS_1
Ia membelikan sepasang tasbih yang terbuat dari emas dan berharap pasangan suami istri yang sudah dianggap sebagai orang tuanya sendiri tersebut selalu membawa itu ke mana-mana sambil bertasbih.
Entah apa yang membuat Tsamara memutuskan untuk memberikan hadiah tasbih pada mertua di hari anniversary pernikahan, tapi merasa yakin jika pasangan suami istri tersebut akan sangat menyukai hadiah darinya
Bukan karena nilai harga, tapi ketulusan yang ditunjukkan dan berupa kebaikan untuk hidup mertua.
Namun, Zafer tidak menyetujui apa yang akan dilakukan oleh Tsamara. "Sudahlah! Jangan mencoba untuk merayu orang tuaku dengan hadiahmu. Kamu seperti sedang berusaha untuk cari muka."
Zafer sudah berjalan sambil mendorong kursi roda Tsamara tanpa memperdulikan bagaimana perasaan wanita itu yang langsung memasukkan ponsel ke dalam tas.
Tsamara memilih untuk menyingkirkan apa yang ada di pikirannya, yaitu kekhawatiran berlebihan karena berpikir ingin sekali memberikan sekarang. Namun, karena tidak ingin dianggap seperti seorang penjilat, sehingga memilih untuk patuh pada perintah Zafer.
Hingga beberapa saat kemudian melihat ibu mertua yang sudah menyuapi Keanu. Merasa merepotkan wanita paruh baya tersebut yang harusnya berbuat romantis dengan sang suami, langsung mengungkapkan apa yang dirasakan.
"Maafkan kami karena terlalu lama, Ma. Biarkan aku saja yang menyuapi Keanu. Mama dan Papa sekarang nikmati momen ini."
Sementara itu, Zafer saat ini mendaratkan tubuh di dekat kursi Rayya yang dari tadi hanya diam dan menampilkan wajah. Tentu saja Zafer mengetahui hal yang menyebabkan sang istri kesal.
Namun, Zafer sama sekali tidak bertanya karena ingin fokus pada orang tua. Melihat dua orang yang paling disayangi tersebut terlihat bahagia saat meniup lilin, ingin seperti itu bersama Rayya dan menghilangkan Tsamara dari pikiran.
Berpikir bahwa sama sekali tidak menginginkannya, jadi ia berpikir bahwa Tsamara tidak mau hidup bersamanya sampai menua.
Bahkan Zafer berpikir akan selamanya bersama Rayya dan Tsamara tanpa masalah, tapi menyadari bahwa itu hanyalah sebuah hal yang tidak mungkin terjadi.
'Aku benar-benar sudah gila karena berpikir akan bisa hidup bersama Tsamara dan Rayya. Belum apa-apa saja sudah selalu mendapatkan tatapan membunuh dan dicemburui oleh Rayya. Rasanya itu terasa mencekikku karena sangat berlebihan.'
"Happy anniversary, Ma, Pa. Semoga kalian akan terus seperti ini." Zafer kemudian melanjutkan perkataan di dalam hati.
__ADS_1
'Semoga papa dan mama selalu bahagia sampai ajal menjemput.' Zafer bangkit berdiri dari posisi, lalu memeluk dan mencium orang tuanya.
Bahkan mereka menunda ritual makan. Padahal sudah sangat lapar karena sibuk mengucapkan selamat dan menanggapi.
"Terima kasih, Putraku. Kamu harus menjadi seorang suami dan ayah yang baik," ucap Erina yang saat ini sudah berkaca-kaca karena merasa haru dengan ucapan selamat dan pelukan hangat.
Sementara itu, Tsamara saat ini hanya diam dan melihat interaksi dari ibu dan anak tersebut. Tsamara benar-benar terharu melihatnya. 'Seandainya orang tuaku masih hidup sampai sekarang, aku pasti tidak akan kesepian.'
Kemudian Adam Dirgantara juga merasakan pelukan putranya dan menepuk bahu kokoh itu. "Terima kasih, Zafer. Ingat pesan Papa, jangan kecewakan kepercayaan kami."
"Satu hal paling penting adalah jangan menyakiti perasaan seorang wanita. Jika suatu saat kami sudah tidak ada di dunia, kamu pasti akan menyadari bahwa semua yang dilakukan orang tua adalah demi kebaikan putranya sendiri."
Zafer awalnya menganggukkan kepala dan berniat untuk menjadi seorang pria bertanggung jawab pada keluarga maupun perusahaan, tapi sangat tidak menyukai apa yang baru saja dikatakan oleh sang ayah.
"Jangan berbicara hal buruk saat hari bahagia seperti ini, Pa. Apalagi sampai mengatakan tentang kematian. Aku benar-benar tidak suka dengan hal itu."
"Semua manusia akan kembali pada sang pencipta, Zafer. Kita hanyalah pemain yang mengikuti jalan Tuhan dan tidak bisa lari dari apapun ketika ajal menjemput. Jadi, selama masih berada di dunia, perbanyaklah berbuat baik dan jauhi hal-hal yang buruk."
Tidak ingin sang ayah melanjutkan kalimat buruk, Zafer kini mengalihkan perhatian dengan memberikan dua tiket yang disimpan di dalam saku celana.
"Ini tiket pianis terkenal yang menjadi idola kalian. Kebetulan acaranya tepat setelah kalian kembali dari Villa."
Wajah berbinar kini ditunjukkan oleh Erina dan Adam Dirgantara. Mereka kembali mengucapkan terima kasih.
Sementara itu, Rayya dari tadi seperti sedang melihat orang-orang yang menyadari kematian akan datang sebentar lagi.
'Sepertinya mereka mempunyai filing akan kukirim ke neraka,' gumam Rayya yang saat ini masih mengamati interaksi antara orang tua dan anak tersebut.
__ADS_1
To be continued...