Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Menjadi mata-mata


__ADS_3

Zafer yang tadi berpura-pura untuk pergi ke toilet, kini berjalan keluar dan memastikan jika Rayya tidak ada di loby rumah sakit.


'Syukurlah ia percaya dan patuh padaku untuk menunggu di tempat parkir.'


Puas berbicara di dalam hati, kini Zafer melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah ruang informasi dan menanyakan mengenai wanita paruh baya yang tak lain adalah ibu dari mantan suami Tsamara.


"Carikan aku informasi mengenai pasien yang dirawat di sebelah ruangan wanita yang datang bersama keluargaku tadi. Cepat! Karena aku tidak punya banyak waktu untuk menunggu."


Saat pegawai wanita yang berada di di depan layar komputer, seketika bangkit berdiri dan membungkuk hormat melihat anak dari sang pemilik rumah sakit tempat bekerja.


"Baik, Tuan Zafer. Saya akan mengecek sekarang juga," jawab wanita berseragam abu-abu tersebut dan kembali mendaratkan tubuh pada kursi, lalu membuka komputer untuk melihat informasi mengenai data pasien yang disebutkan oleh pria dengan paras rupawan tersebut.


Meskipun di dalam hati merasa berdebar-debar karena dari tadi pria yang merupakan anak dari sang pemilik rumah sakit tersebut tidak berkedip ketika menatap ketika sedang memeriksa layar komputer.


'Ternyata dilihat dari jarak dekat seperti ini, tuan Zafer sangatlah tampan dan memesona. Apa kabar jantungku yang ingin meledak dan melompat dari sini saat ditatap oleh pria setampan tuan Zafer,' gumam sosok wanita yang tengah membaca informasi mengenai pasien yang ditanyakan oleh pria dengan paras rupawan tersebut.


Zafer yang dari tadi dengan sabar menunggu, masih tidak mengalihkan perhatian dari wanita berseragam di hadapan tersebut.


"Bagaimana, apa kamu sudah menemukan informasi yang kucari?"


Refleks wanita tersebut menoleh dan seketika bersitatap dengan iris berkilat pria dengan wajah tampan tepat di hadapan. "Iya, Tuan. Saya sudah menemukan informasi yang Anda cari."


"Cepat katakan sekarang karena aku harus segera pergi," seru Zafer yang saat ini mengalihkan tatapan pada wanita tersebut karena tidak ingin membuat Rayya merasa curiga karena terlalu lama berada di toilet yang hanya alasan semata.

__ADS_1


"Jadi, wanita yang merupakan istri dari pengusaha perusahaan Bagaskara sudah dirawat di sini selama tiga hari karena penyakit jantung dan paru-paru. Wanita itu memang sering keluar masuk di rumah sakit ini, Tuan."


Wanita dengan name tage Rini tersebut masih berusaha untuk menormalkan degup jantung yang berdebar hebat ketika berada di hadapan seorang putra pemilik Rumah Sakit dan juga terkenal dengan ketampanan yang bisa meluluhlantakkan hati para perempuan.


'Jantungku, apa kau masih baik-baik saja di sana? Tuan Zafer sangat tampan dan aku sama sekali tidak pernah menyangka bisa berhadapan dengan pria hebat ini,' gumam Rini yang sebenarnya ingin sekali memegangi dada untuk memastikan debaran jantung masih normal atau tidak.


Sementara itu, Zafer menyadari bahwa apa yang tadi dituduhkan pada Rey ternyata hanyalah fitnah. 'Jadi, wanita itu sudah berada di sini beberapa hari yang lalu dan tidak disengaja? Itu berarti semua yang dikatakan oleh Rey mengenai kebetulan, memang adalah fakta.'


Meskipun sudah mengetahui kebenaran dari tuduhan yang dilayangkan pada mantan suami Tsamara, tetapi tidak dipungkiri jika perasaan Zafer saat ini masih belum merasa yakin jika pria itu benar-benar tidak mengetahui bahwa mantan istri saat ini menjadi bagian dari keluarga Dirgantara.


'Kenapa aku masih merasa yakin bahwa Rey selama ini mengetahui bahwa Tsamara adalah istriku dan menantu di keluarga Dirgantara? Sepertinya aku tidak boleh menyerah sampai di sini dan mencari tahu mengenai kebenaran yang terjadi,' gumam Zafer yang saat ini beralih menatap ke arah wanita yang bekerja di bagian informasi tersebut.


"Baiklah. Terima kasih karena sudah mau mencari informasi yang aku butuhkan. Kembalilah bekerja!"


Tentu saja sangat berharap jika putra dari pemilik rumah sakit jatuh cinta pada pandangan pertama padanya. Meskipun itu hanyalah angan semu karena mengetahui bahwa Zafer sudah memiliki seorang wanita, tetapi tidak menyurutkan keinginan dari Rini.


Zafer hanya menganggukkan kepala dan memilih untuk segera meninggalkan tempat tersebut dan berjalan ke arah parkiran.


Sementara itu, Rayya yang dari tadi bersandar di dekat mobil milik sang suami dan menunggu kedatangan pria yang dianggap sangat mencurigakan gerak-gerik hari ini, memilih untuk berjongkok karena merasa kepala pusing saat harus berdiri terlalu lama.


Rayya bahkan saat ini memegang pelipis dan sesekali memijit agar bisa mengurangi rasa pusing yang dirasakan.


"Sepertinya benar apa yang dikatakan oleh dokter, bahwa aku harus banyak beristirahat dan tidak bisa terlalu lelah. Bahkan hanya berdiri sebentar saja, rasanya kepalaku berkunang-kunang dan ingin muntah."

__ADS_1


"Kenapa Zafer lama sekali dan membuatku berpanas-panasan di parkiran seperti ini? Awas saja nanti. Rasanya aku ingin memukul pria itu agar sadar dari kesalahan karena membuat seorang istri menunggu terlalu lama dalam keadaan hamil."


Saat baru saja menutup mulut, mendengar suara bariton dari pria yang dari tadi ditunggu. Kemudian mencari keberadaan Zafer dan ternyata sudah berjalan semakin mendekat.


"Sayang, apa yang terjadi padamu? Kenapa berjongkok seperti itu?" Zafer yang sangat mengkhawatirkan keadaan Rayya ketika bersandar di dekat mobil sambil berjongkok, mempercepat langkah kaki untuk segera menghampiri wanita itu.


"Kenapa lama sekali? Apa kamu sakit perut tadi?" Rayya sengaja berakting dan tidak jadi marah karena ingin membuat Zafer tidak merasa curiga jika saat ini sedang marah.


"Aku memang sakit perut dan maafkan aku karena terlalu lama membiarkanmu di sini. Ayo, sekarang masuk ke mobil dan kita pulang. Kamu memang harus banyak beristirahat karena hormon kehamilan membuatmu merasa lemas, Seperti penjelasan dari dokter."


Zafer saat ini membantu Rayya untuk bangkit berdiri dan masuk ke dalam mobil. Kemudian berjalan memutar untuk duduk di balik kemudi dan mengemudikan kendaraan meninggalkan rumah sakit.


Rayya saat ini hanya mengamati gerak-gerik dari pria yang baru saja masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin, lalu meninggalkan area rumah sakit.


'Sebenarnya apa yang tadi dilakukan oleh Zafer? Aku tidak mungkin bertanya dan harus mencari tahu sendiri,' gumam Rayya yang saat ini memilih untuk bersandar pada jok mobil dan memejamkan mata.


Berbagai macam pertanyaan kini menari di kepala dan ingin segera mencari tahu apa yang sebenarnya tadi dilakukan oleh Zafer.


'Aku harus mencari seorang detektif untuk mencari tahu mengenai semua hal yang berhubungan dengan suamiku dan juga wanita cacat itu yang ingin sekali kusingkirkan dari sisi Zafer.'


Rayya saat ini tengah berpikir untuk mencari detektif terbaik di kota untuk membantu menyelesaikan masalah yang saat ini dihadapi.


'Sepertinya aku harus memastikan bahwa detektif yang kusewa tidak berhubungan dengan Zafer, agar tidak melaporkan dan berbalik menyerangku,' gumam Rayya yang saat ini memutar otak untuk mencari seseorang yang akan membantu untuk menjadi mata-mata pria yang masih fokus mengemudikan mobil tersebut.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2