Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Wanita perebut suami orang


__ADS_3

Zafer yang masih berdiri membisu sambil menatap siluet Rayya yang seperti enggan berbalik badan karena pada posisi memunggungi di atas ranjang. Saat ini ia bisa merasakan bahwa Rayya sangat marah dan tidak ingin mendengarkan penjelasan apapun.


Namun, berpikir bahwa ketika wanita itu diam di atas ranjang, akan mendengarkan semua yang dijelaskan.


Sebenarnya tadi ingin langsung keluar dari ruangan kamar dan memberikan waktu untuk wanita itu menenangkan pikiran dan juga emosi, tetapi berubah pikiran karena mengetahui bahwa wanita yang saat ini tengah mengandung tersebut dikuasai oleh pengaruh hormon kehamilan.


Jadi, berpikir tidak akan bisa tenang meskipun memberikan waktu. Hal itulah yang membuat Zafer akhirnya memutuskan untuk menjelaskan semua yang terjadi, meskipun tidak sepenuhnya jujur.


"Sebenarnya tadi papa mengancamku agar bersikap baik dan tidak berbicara kasar pada Tsamara karena sedang sakit. Jika aku tidak mematuhi apa yang dikatakan, disuruh pergi hari ini juga bersamamu. Jadi, aku berpikir untuk menuruti perintah dengan bersikap baik pada Tsamara."


"Tadi, Tsamara mengatakan ingin ke kamar mandi. Kemudian aku langsung membantu dan karena merasa gerah, mandi sekalian. Itu semua karena sangat kesal ketika mama pun tadi mengomel karena kamu menyindir. Padahal mama sudah berusaha untuk berbuat baik padamu dengan menasehati hal-hal yang dilarang oleh wanita hamil."


Zafer saat ini menghentikan penjelasan karena berharap jika Rayya mau membuka suara untuk berkomentar. Namun, tidak seperti yang diharapkan karena wanita itu seolah menunjukkan sangat marah dan tidak ingin mengeluarkan sepatah kata pun.


Rayya saat ini memang mendengarkan rangkaian kalimat yang dianggap hanyalah sebuah alasan untuk berdalih. Bahkan saat ini berpikir bahwa Zafer tengah berbohong demi menutupi hal yang sebenarnya terjadi di antara mereka.


'Dasar penipu! Aku tidak akan pernah mempercayaimu lagi, Zafer. Kamu telah mengkhianatiku dengan wanita cacat itu dan harus membayar mahal perbuatanmu. Aku akan menyingkirkan semua orang yang menghalangi jalanku untuk bisa hidup tenang dan bahagia menghabiskan semua harta keluarga Brawijaya.'


Rayya hanya bisa mengumpat di dalam hati karena berpikir bahwa saat ini Zafer hanya berusaha untuk membela diri dengan cara berbohong dan menganggap istri yang bodoh seperti kebanyakan para wanita saat terlihat lemah setelah dirayu oleh suami.


'Aku tidak sama dengan para istri bodoh. Bisa memaafkan perbuatan suami yang menipu. Bahkan setelah hari ini, akan lebih berhati-hati pada wanita cacat itu yang selama ini kuanggap remeh.'


Saat Rayya larut dalam pikiran sendiri, kembali mendengar penjelasan tidak masuk akal dan terkesan menyalahkan, sehingga terlihat mengepalkan kedua tangan yang berada di atas ranjang.

__ADS_1


"Aku bahkan sudah bertanggung jawab untuk menikahimu dan orang tuaku pun setuju menerimamu sebagai menantu. Jadi, semua masalah sudah selesai dan jangan membuat pernikahan kita menjadi berantakan karena seringnya terjadi pertengkaran."


Zafer tidak bisa lagi bersabar pada Rayya yang masih marah dan tidak mau berbicara. Merasa usaha sia-sia, akhirnya memilih untuk mengakhiri penjelasan dengan satu kalimat.


"Aku sangat mencintaimu, Rayya."


Kemudian Zafer berbalik badan dan melangkahkan kaki keluar dari ruangan kamar untuk memberikan waktu pada sang istri siri agar bisa menenangkan emosi. Berharap esok hari akan tenang dan bisa bersikap seperti biasa.


Zafer yang dari tadi masih memakai handuk sebatas pinggang, sambil sesekali mengusap lengan karena dinginnya AC di ruangan kamar seolah menembus tulang melalui pori-pori kulit telanjang.


'Bahkan aku menahan rasa dingin yang membuat tubuhku menggigil, tapi Rayya sama sekali tidak berubah pikiran setelah aku menjelaskan. Memangnya harus dengan cara apa membuatnya mau memaafkanku?' gumam Zafer yang saat ini merasa bersalah karena memang tadi melampiaskan amarah pada Tsamara di kamar mandi.


'Aku tidak mengkhianati Rayya atas perbuatanku yang memaksa Tsamara tadi, kan?' gumamnya yang saat ini merasa ragu dan bingung dengan apa yang baru saja terpikirkan.


"Astaga! Dingin sekali!" ucap Zafer yang saat ini buru-buru masuk ke dalam ruangan kamar karena ingin segera memakai baju.


Begitu berada di dalam ruangan kamar, Zafer saat ini bisa melihat ibu dan anak tengah berpelukan di atas ranjang dan terlihat seperti sudah larut dalam alam mimpi.


Tidak ingin semakin menggigil kedinginan ketika kembali merasakan dinginnya AC, Kenzo langsung berjalan ke ruangan ganti dan memilih piyama karena juga ingin tidur.


Beberapa saat kemudian, berjalan menuju ke arah sofa dan mendaratkan tubuh di sana sambil menatap ke arah ibu dan anak di atas ranjang.


'Ranjang nyamanku,' lirih Zafer yang saat ini membayangkan bisa beristirahat di ranjang nyaman itu.

__ADS_1


Namun, berpikir tidak akan mungkin berada satu ranjang dengan wanita yang bahkan sama sekali tidak dicintai.


'Sial! Di kamar sebelah, Rayya mengusirku dan di sini tidak bisa tidur di atas ranjang empuk yang selama ini memanjakanku untuk pergi ke alam mimpi.'


Zafer saat ini memilih untuk merebahkan tubuh di atas sofa.


Tentu saja saat ini terlihat kaki menggantung karena ukuran sofa tidak sanggup menopang panjang tubuhnya.


Tanpa memperdulikan hal itu, ia saat ini memilih untuk memejamkan mata dan berharap dari segera pagi.


Jadi, besok akan kembali beraktivitas seperti semula dan juga berharap sikap Rayya tidak seperti tadi karena dikuasai oleh rasa cemburu dan juga amarah.


Sementara itu, Tsamara yang sebenarnya dari tadi belum tidur, mengetahui bahwa Zafer masuk ke dalam kamar. Berbagai macam pertanyaan saat ini memenuhi kepala, tetapi tidak mungkin ingin bertanya pada pria itu.


'Aku pikir tuan Zafer masih sibuk merayu Rayya dan menjelaskan agar wanita itu tidak marah lagi atas kejadian hari ini. Ternyata kembali ke sini. Apakah Rayya sangat marah dan tidak mau mendengarkan penjelasan dari tuan Zafer? Lalu mengusir dari kamar karena tidak ingin melihat pria yang dianggap telah berselingkuh.'


Tsamara sebenarnya merasa sangat konyol ketika memikirkan mengenai wanita yang telah menjadi orang ketiga di rumah tangganya. Apalagi tadi dituduh sebagai wanita munafik yang merebut suami sendiri dari Rayya.


'Rayya, apa kamu tidak sadar bahwa selama ini posisiku sama persis denganmu? Merasa dikhianati oleh suami sah tepat di depan mata, tetapi aku sama sekali tidak pernah marah padamu, ataupun menamparmu. Kenapa sekarang aku yang terlihat seperti seorang wanita perebut suami orang?'


Tsamara hanya bisa mengembuskan napas kasar ketika merasa miris dengan nasib rumah tangga yang bahkan tidak pernah dianggap nyata karena hanyalah sebuah barter semata. Menganggap jika hubungannya dengan Zafer sama dengan simbiosis mutualisme.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2