
Kepala Zafer rasanya seperti ingin pecah karena telah dihantam oleh ribuan masalah yang tak kunjung habis. Pria itu tidak mengerti kenapa semesta seolah sangat memusuhinya, sehingga membuatnya serasa tidak bisa bernapas tenang walau sebentar saja.
Tidak ada rencana yang selesai sesuai keinginannya dan alih-alih menyelesaikan itu, justru mendapatkan banyak masalah baru yang tidak pernah diduga sebelumnya.
Selama ini, Zafer dan Rayya selalu menikmati waktu mereka bersama-sama. Keduanya tidak akan berbohong karena sama-sama menikmati itu semua.
Zafer juga sudah pernah membawa pembicaraan tentang pernikahan dengan wanita itu, tapi bukan dalam konteks yang serius.
Zafer mengatakannya masih setengah bercanda untuk membuat perasaan sang kekasih jadi lebih baik.
Namun, untuk urusan masalah anak, sejujurnya belum pernah membahas itu sekalipun. Mereka terlalu sibuk mengejar surga dunia yang tidak pernah mereka berdua tinggalkan.
Tak sekalipun pernah terucap dari bibir keduanya untuk urusan memiliki seorang anak.
Mungkin saja hal tersebut tidak menjadi masalah bagi keduanya karena mereka berdua memang sama-sama mencintai. Jadi, tak perlu memikirkannya karena Zafer bisa saja berpikir bahwa ia bisa langsung menikahi Rayya jika memang wanita itu sampai hamil.
Mereka memang sering bercinta, tapi hanya terhitung beberapa kali saja keduanya tidak memakai pengaman.
Seringnya, mereka memakai pengaman.
Akan tetapi, siapa sangka bahwa janin itu akan tumbuh secepat ini dalam rahim Rayya.
Hal yang membuat Zafer semakin pusing adalah ia juga tidak pernah menyangka bahwa akan ada wanita lain yang masuk ke dalam hidupnya.
Zafer benar-benar tidak pernah memperkirakan bahwa ia akan menabrak seorang wanita dan pada akhirnya harus menikah dan menjadi istrinya. Skenario itu tidak pernah dipikirkan di dalam kepalanya.
Namun, semua telah terjadi.
Zafer bahkan sudah tidak bisa mengelak lagi karena semuanya memang sudah benar-benar terjadi.
Ia masih memiliki status sebagai suami orang yang juga takut bahwa harta warisannya akan dialihkan kepada sang istri, tapi di saat yang bersamaan, kekasihnya justru baru saja memberikan kabar telah mengandung anaknya.
Bagaimana bisa ia tidak pusing untuk semua kejadian tersebut?
Jika saja tidak ada kehadiran Tsamara dalam hubungan mereka berdua. Pasti sekarang sudah bisa merasa begitu senang tanpa perlu takut memikirkan apa pun.
Ia bisa membawa Rayya untuk menghadap kedua orang tuanya dan berkata dengan tegas bahwa akan menikah dengan wanita itu karena memang harus bertanggung jawab atas janin yang tengah Rayya kandung saat ini.
Zafer tahu kedua orang tuanya pasti tidak akan bisa menolak karena sudah membawakan buktinya secara langsung.
Orang tuanya tidak pernah mengajarkannya untuk menjadi seorang pria yang tidak bertanggung jawab, sehingga yakin sekali bahwa mereka berdua pasti akan bisa merestui hubungan mereka, walaupun harus dengan perasaan terpaksa.
Setidaknya, itu lebih baik daripada Zafer tidak bisa memiliki Rayya seutuhnya.
“Sayang. Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan sekarang dengan bayi ini? Kau yang sudah menghamiliku. Jadi kau pasti akan bertanggung jawab kan?"
"Aku tahu kamu tidak akan mungkin meninggalkanku begitu saja hanya karena kehamilan ini. Kamu bukan orang yang seperti itu. Aku tahu bahwa kamu pasti akan bertanggung jawab, kan? Jawab aku, Zafer!”
Rayya kembali berbicara seraya menggerakkan lengan Zafer yang sejak tadi hanya diam saja setelah melihat bukti testpack yang sudah dibawa.
Rayya menunggu respon dari kekasihnya tersebut. Tentu saja ia merasa harap-harap cemas karena jujur saja ada ketakutan dalam dirinya yang mengatakan bahwa Zafer bisa saja memilih untuk pergi meninggalkannya dari pada bertanggungjawab untuk anak yang berada di dalam kandungan saat ini.
Melihat Zafer yang hanya diam saja selama beberapa menit dengan pandangan kosong, membuat Rayya lantas merasa khawatir dengan berlebihan.
__ADS_1
‘Bagaimana jika seandainya Zafer benar-benar tidak akan bertanggungjawab? Bagaimana jika Zafer memilih kabur setelah berhasil menghamiliku karena lebih memilih harta warisannya dari pada harus mengurusi wanita sepertiku?'
'Aku tidak bisa memikirkan apapun tentang Zafer karena terkadang pemikiran pria ini tidak bisa ditebak. Dia bisa saja menjadi berbeda jika memang ingin dan aku sangat takut jika sifatnya tiba-tiba saja berubah kepadaku.’
Rayya mengungkapkan semua rasa takutnya di dalam hati dengan khawatir. Wanita itu tidak bisa berbicara secara langsung karena takut perkataannya malah akan mengganggu pria itu.
Sejujurnya ia ragu bicara dan benar-benar takut untuk membuat pria yang sangat dicintainya itu semakin marah kepadanya.
"Sayang, kita butuh bicara. Aku harus mengatakan hal yang penting padamu.” Setelah beberapa menit hanya diam saja, akhirnya Zafer buka suara.
Pria dengan wajah muram itu sampai berbalik untuk menghadap ke arah sang wanita sepenuhnya.
Akan tetapi, Rayya sudah lebih dulu dikuasai oleh ketakutan, sehingga tidak bisa mengontrol emosinya sendiri.
“Apa? Kau mau mengatakan tidak bisa bertanggung jawab untuk anak ini? Kau mau mengatakan akan meninggalkanku, kan? Kau pasti lebih memilih harta warisan sialan itu daripada menikahiku!” sarkas Rayya penuh kekesalan.
Ia menatap marah ke arah Zafer yang sekarang malah sedang mengusap wajahnya dengan sangat kasar.
“Bukan itu yang ingin aku katakan! Jangan langsung menyimpulkan suatu hal yang belum pasti. Kau membuatku marah,” geram Zafer tak kalah kesal.
Apalagi saat ini isi kepala pria itu sekarang sudah sangat penuh. Ia berusaha sabar dan mencoba untuk tetap berpikir positif untuk bisa berbicara dengan Rayya sekarang.
Namun, jika sang kekasih memancing emosinya yang sudah berada di ubun-ubun, bisa saja langsung marah kepadanya.
Sementara itu, Rayya sendiri sungguh sangat terkejut mendengar Zafer yang membentaknya. Ia tidak pernah menyangka jika Zafer akan melakukan itu karena selama ini pria itu selalu lembut kepadanya.
Jika sedang bertengkar, akan selalu Zafer yang minta maaf lebih dulu karena paling tidak bisa terlalu lama bertengkar.
Akan tetapi, pria itu baru saja membentak dengan penuh emosi. Hingga membuat Rayya sangat kesal.
Wanita itu juga merasa kesal, tapi lebih merasa takut ditinggalkan oleh laki-laki yang ia cintai ini.
Zafer yang menyadari bahwa Rayya ingin menangis, langsung mengacak rambut dengan kasar.
Ia menghela napas dengan begitu berat untuk menghilangkan setidaknya sedikit saja amarah dalam dirinya.
Zafer harus bisa menahan diri untuk bisa berbicara dengan lembut pada wanita itu.
“Maafkan aku. Aku benar-benar tidak bermaksud untuk melakukan itu.”
Zafer akhirnya memeluk kekasihnya tersebut untuk mencoba menenangkan perasaan wanita yang sudah bersimbah air mata tersebut.
Rayya yang mendapatkan pelukan itu, sontak saja langsung mengeluarkan air mata. Ia sungguh tidak bisa menahan lagi setelah mendapatkan pelukan dari sang kekasih.
Ia kini meluapkan semua ketakutannya dalam tangisan tersebut, membiarkan Zafer memeluknya.
Sementara itu, Zafer saat ini merasa bersalah karena telah membuat wanita yang ia cintai jadi menangis seperti itu.
“Maafkan aku. Aku benar-benar menyesal, Sayang,” ujar Zafer tulus.
Kini, ia mengusap lembut rambut panjang tergerai di bawah bahu tersebut. Membiarkan wanita itu menangis sepuasnya dan barulah setelah itu mereka akan bicara.
Setelah sepuluh menit berlalu, akhirnya berhasil menghentikan tangisannya. Ia juga sudah mengatur napasnya kembali untuk menjadi lebih normal dan sudah terlihat cukup baik-baik saja sekarang.
__ADS_1
Wanita itu merasa cukup lega setelah menangis. Rasanya seperti sebagian dari beban yang ada dalam hati telah terangkat sebagian.
Saat ini, mereka masih berada di kamar yang sama, dengan keduanya yang masih duduk di tepi ranjang king size.
Saling berhadapan memandang antara satu sama lain. Zafer yang memperhatikan kekasihnya dengan sorot merasa bersalah, tak pernah mengalihkan tatapannya dari Rayya sedikit pun karena takut wanita itu akan menghilang jika Zafer mengalihkan pandangan.
Sementara itu, Rayya sendiri saat ini sedang menunduk. Ia masih belum bisa memandang wajah Zafer yang berada di hadapannya.
Entah mengapa Rayya juga tidak bisa dan tidak ingin. Ia masih merasa kesal karena pria itu sudah berani berbicara dengan nada cukup tinggi kepadanya.
“Sayang,” panggil Zafer sekali, tapi tidak ada jawaban dari sang kekasih.
“Kita harus bicara. Tidak mungkin, kan jika kita harus diam-diam saja seperti ini? Kau pasti tahu kalau kita harus membahas masalah ini dan mencari jalan keluar paling tepat,” kata Zafer sekali lagi.
Zafer berusaha mengambil perhatian Rayya agar teralihkan kepadanya.
Benar saja, wanita itu akhirnya menatapnya. Namun, jawaban yang ia berikan ternyata tidak sesuai dengan apa yang Zafer harapkan.
“Satu-satunya penyelesaian yang aku tahu adalah kau harus bertanggung jawab dan menikah denganku. Hanya itu yang bisa kau lakukan. Memangnya ada lagi penyelesaian lain yang kau pikirkan saat ini?"
"Jika kau sampai berpikir untuk meninggalkanku, aku tidak akan segan-segan untuk melakukan sesuatu,” ancam Rayya penuh penekanan.
“Astaga! Aku bahkan tidak mengatakan itu sejak tadi. Itu hanya perkataan yang keluar dari ketakutanmu sendiri. Aku bahkan tidak berpikir untuk meninggalkanmu."
"Jadi, jangan berpikir seperti itu!” sanggah Zafer cepat. Ia sangat tidak suka dengan pemikiran Rayya yang seperti itu.
“Jika kau memang tidak akan meninggalkanku, lalu kenapa tidak langsung saja mengatakan untuk menikahiku? Bukankah hanya itu saja pilihan yang kita punya?”
Tentu saja Rayya masih merasa emosi karena efek perubahan hormon kehamilan.
Wanita itu juga sebenarnya tidak ingin marah-marah seperti ini, tapi ketika melihat Zafer, entah mengapa jadi merasa marah tanpa alasan yang jelas.
“Aku butuh waktu, Sayang. Tidak bisa semudah itu untuk aku menikahimu.”
“Bukankah kau bilang sebelumnya bahwa kau sudah pergi ke rumah orang tuamu untuk mengungkapkan rahasia besar wanita itu? Bukankah kau sudah bilang kepadaku bahwa semuanya akan selesai?"
"Alasan apa lagi yang ingin kau gunakan untuk menolak menikah denganku dan bertanggung jawab atas anak ini?”
Zafer mengembuskan napas kasar. Jika pembicaraan ini terus dilanjutkan, yang ada, dirinya hanya akan marah lagi kepada Rayya karena wanita itu sangat keras kepala dan tidak mau mendengarkannya.
Akan tetapi, Zafer juga tahu kalau pembicaraan ini tidak dilanjutkan, yang ada, permasalahan mereka tidak akan mendapatkan titik penyelesaian.
Sementara Zafer benci sekali hidup dalam masalah yang menggantung. Jadi, mereka harus berbicara, apapun yang terjadi.
“Rayya, bisakah kau memberikan kesempatan untukku berbicara? Tidak bisakah kau turunkan sedikit egomu itu dan diam saja untuk mendengarkanku? Kita tidak akan bisa selesai bicara jika kau terus seperti ini."
"Tolong dengarkan aku sebentar. Aku juga ingin mengatakan sesuatu.” Zafer berbicara dengan suara yang terdengar datar dan dingin.
Ia sengaja mengeluarkan sisi menyeramkan untuk membuat Rayya menurut karena hanya itu yang bisa dilakukan untuk membuat wanita itu menjadi diam.
Rayya benar-benar diam setelah itu. Ia juga takut sebetulnya, tapi rasa kesalnya lebih mendominasi, sehingga sejak tadi yang bisa dilakukan hanyalah marah-marah.
Setelah memastikan kekasihnya itu benar-benar diam sepenuhnya, akhirnya Zafer mengungkapkan apa yang terjadi.
__ADS_1
“Aku tidak berhasil menjalankan rencanaku. Papa tidak mengizinkan aku bercerai dengan Tsamara."
To be continued....