
Sebenarnya Tsamara sudah berkonsultasi dengan dokter mengenai sikap Zafer. Ia mengetahui dari penjelasan sang dokter bahwa saat ini Zafer tengah berada dalam fase shock berkepanjangan karena efek mengalami banyak kejadian buruk dan langsung menyerang mental.
Hal yang dibutuhkan pada pasien yang hampir pada fase mengalami guncangan psikologis adalah dukungan dari orang-orang terdekat. Tidak boleh dijauhi dan selalu memberikan dukungan, meskipun ditolak ataupun mendapatkan kemurkaan.
Tetap tidak boleh membiarkan sendirian karena hanya akan terus menyalahkan diri sendiri. Namun, jika terus didampingi dan tidak menyerah memberikan semangat, akan mengobati luka yang tertanam di hati.
Apalagi ia juga mendapatkan penjelasan dari dokter bahwa kemurkaan Zafer hanyalah sebuah bentuk untuk melepaskan segala kesedihan yang dirasakan. Itu malah akan membuat sang suami sedikit lebih baik.
Meluapkan semua yang dirasakan akan jauh lebih baik dibandingkan diam dan memendam masalah, jadi Tsamara berjanji bahwa apapun yang dilakukan oleh Zafer, akan tetap selalu bersama pria itu.
'Aku tahu jika kamu marah, itu hanyalah sebuah bentuk penyesalanmu. Semoga seiring berjalannya waktu, luka di hatimu akan sembuh,' gumam Tsamara yang saat ini melihat pergerakan Zafer dan masih seperti biasa, yaitu mengarahkan tatapan tajam.
"Omong kosong! Kau memang sangat pandai bersilat lidah dan bersikap seperti bunglon yang berubah-ubah." Zafer ingin kembali marah, tapi benar apa yang dikatakan oleh Tsamara, bahwa saat ini seperti percuma jika membuang-buang energi untuk mengusir wanita di hadapannya tersebut.
Akhirnya Zafer membiarkan Tsamara berbuat sesuka hati tanpa memperdulikan ada wanita itu di sampingnya.
Sebenarnya ada banyak pertanyaan yang ingin diajukan Zafer pada Tsamara, tapi merasa gengsi jika berbuat baik pada wanita itu.
Namun, karena selama satu minggu lebih tidak kunjung melihat Rayya satu kali pun datang, sehingga ingin menanyakan tentang hal di pikirannya.
"Apa wanita itu sama sekali tidak datang ketika aku tidak sadarkan diri?"
Saat tidak lagi melihat kemurkaan Zafer, Tsamara merasa sangat lega dan langsung menceritakan kejadian ketika Rayya datang sebentar dan tidak lagi menampakkan diri.
__ADS_1
"Sepertinya Rayya tidak berani datang lagi karena takut atau mungkin malu karena semua telah mengetahui perselingkuhan yang dilakukan. Bahkan mungkin merasa sangat takut jika kau murka padanya."
Sementara itu, Zafer saat ini hanya terbahak-bahak menanggapi karena berpikir jika itu sangatlah konyol.
"Tidak! Aku yakin jika bukan karena itu penyebabnya. Pasti wanita murahan itu hanya memikirkan bagaimana menjadi seorang istri yang hina. Bahkan perbuatannya jauh lebih buruk dari seorang pelacur! Semoga wanita itu membusuk di neraka!"
Tsamara yang tadinya berada agak jauh dari ranjang, kini mendekatkan diri dengan mengarahkan kursi roda ke sebelah kiri ranjang perawatan.
"Biar bagaimanapun, Rayya merupakan calon ibu dari keturunan Anda. Semoga Rayya bisa berubah menjadi seorang pria yang lebih baik dan menyadari dosa yang telah diperbuat."
Sebenarnya Tsamara sama sekali tidak menyalahkan Rayya karena sadar diri jika dulu juga melakukan perselingkuhan dengan Rey. Jadi, merasa tidak pantas untuk menghujat Rayya dan hanya berdoa agar wanita itu segera menyadari kesalahan.
"Seperti yang pernah kamu katakan dulu. Bahwa karma tidak akan pernah salah sasaran dan Rayya akan jauh lebih hancur dari yang kau alami," sahut Zafer yang tadi sama sekali tidak mengaminkan harapan dari Tsamara.
Namun, belum sempat membuka mulut, mendengar ketukan pintu dan seorang pelayan datang dengan membawa kotak makanan.
"Ini makanan pesanan Anda, Nyonya." Pelayan wanita tersebut menyerahkan kotak makanan setelah sebelumnya membungkuk hormat pada para majikan.
Tsamara kini tersenyum dan langsung membuka kotak makanan itu. "Terima kasih. Kamu sangat tepat waktu." Kemudian beralih menatap ke arah sang suami. "Anda pasti tidak berselera makan makanan dari rumah sakit, bukan?"
"Jadi, aku menyuruh pelayan memasak menu kesukaan Anda. Sekarang akan kusuapi, jadi Anda tinggal membuka mulut dan mengunyah saja."
Zafer yang awalnya menatap ke arah dua pelayan keluar dari ruangan dan membiarkan ia hanya bersama dengan Zafer, kini melihat wanita itu sudah menyendok makanan. Hingga ketika ia hendak marah dan menolak, kembali tertampar oleh kalimat wanita di hadapannya tersebut.
__ADS_1
"Anggap saja aku adalah mama Anda atau Rayya yang dulu pertama kali Anda bawa ke rumah ketika hari pernikahan kita. Jadi, jangan mencoba untuk menolak dan lebih baik segera makan agar bisa segera sembuh dan keluar dari rumah sakit."
Kemudian mengarahkan sendok berisi makanan tersebut ke mulut Zafer dan berharap tidak lagi menolak atau marah setelah disindir mengenai kejadian di hari pernikahan.
Zafer seketika merasa seperti tidak punya muka begitu Tsamara membalikkan fakta dan menamparnya dengan perbuatan buruk di masa lalu, sehingga tidak lagi membuka suara.
Akhirnya karena merasa malu pada Tsamara, memilih untuk membuka mulut dan menikmati makanan kesukaan dengan disuapi Tsamara.
Meskipun merasa aneh, tapi karena kesal dengan apa yang dikatakan wanita itu benar, bahwa harus segera sembuh dan memimpin perusahaan keluarga, tidak bisa berbuat apa-apa selain mengunyah makanan di mulutnya.
'Ya Allah, ampuni aku karena pernah berbuat jahat pada wanita sebaik Tsamara. Mungkin aku tidak akan bisa bertahan tanpa ada seorang istri seperti malaikat yang tetap berada di sampingku saat hancur.'
'Aku ingin menebus segala dosa-dosaku pada waktu tak ingin dan izinkan aku untuk berubah menjadi seorang manusia yang lebih baik dan berharga di hadapan-Mu. Aku akan melakukan apapun untuk membuat wanita ini bahagia dengan menyembuhkan kakinya yang cacat karena perbuatanku.'
Zafer kali ini benar-benar sangat menyesali semua perbuatan di masa lalu yang juga menjadi penyebab penderitaan wanita yang masih serius menyuapinya dan tanpa kenal lelah mau merawatnya meskipun ia berbuat sangat kasar pada Tsamara.
'Aku yang menjadi penyebab kedua kaki cacat dan aku juga yang akan membuatmu bisa berjalan lagi itu adalah janjiku padamu atas nama papa dan mama,' gumam Zafer yang kini sangat lahap menikmati makanan kesukaan.
Apalagi ia disuapi oleh wanita yang berstatus sebagai istrinya. Meskipun dari dulu selalu menyia-nyiakan istri sahnya, tapi sekarang berharap semuanya perlahan membaik dan bisa menjalani kehidupan rumah tangga yang normal bersama wanita malaikat itu.
'Apa Tsamara akan memaafkan semua kesalahanku padanya? Aku telah berbuat jahat pada wanita tidak berdosa sepertinya hanya demi seorang wanita seperti iblis yang tak lain adalah Rayya yang telah mengandung benihku.'
'Aku akan membuat hak asuh jatuh ke tanganku setelah anak-anakku lahir ke dunia.'
__ADS_1
To be continued...