
Tsamara sudah berjam-jam menunggu sosok pria di atas ranjang yang masih betah memejamkan mata dan belum sadarkan diri. Bahkan tatapan Tsamara tidak pernah teralihkan dari pria yang dari tadi didoakan agar bebas dari masa kritis.
Bahkan tanpa kenal lelah, ia tidak pernah bosan untuk memohon pada sang pencipta agar segera memberikan keajaiban pada sosok pria yang dianggap sangat malang.
Itu karena memiliki seorang istri yang bahkan sama sekali tidak perduli dengan nasib dari sang suami yang sedang berjuang melawan maut.
Tadi Tsamara menyuruh kepala pelayan untuk pulang bersama putranya dan ingin menunggu di rumah sakit. Namun, beberapa saat kemudian ada satu orang yang ditugaskan khusus membantu jika membutuhkan sesuatu.
Karena ia yang tidak bisa leluasa bergerak seperti orang normal, sehingga tetap membutuhkan bantuan dari orang lain.
Jadi, kepala pelayan menyuruh salah satu pelayan tinggal di rumah sakit. Sementara ia sendiri mengurus rumah.
Entah sudah berapa jam ia duduk di sebelah ranjang perawatan sang suami. Bahkan sama sekali tidak pernah mengeluh dengan tubuhnya yang lelah karena dari tadi duduk di kursi roda.
Meskipun merasa seperti pinggang mau patah karena terlalu lama duduk, ia berjanji pada diri sendiri bahwa akan terus berada di sana untuk menunggu sang suami sampai sadar dan terbebas dari masa kritis.
Meskipun kemungkinan itu sangat kecil, tapi tidak pernah putus asa untuk memiliki harapan pada Tuhan agar pria tersebut segera membuka mata.
'Ya Tuhan, aku mohon berikan keajaibanmu pada suamiku. Aku akan melakukan apapun untuk-Mu, agar pria ini sadar dari masa kritis.'
Masih menggenggam erat telapak tangan dengan buku-buku kuat tersebut yang sangat dingin, Tsamara berusaha untuk memberikan sedikit kehangatan agar aura kehidupan masih terasa dari pria itu.
Hingga ia mendengar suara dari pelayan yang baru saja masuk ke dalam ruangan dan membuatnya menoleh ke arah pintu.
"Nyonya Tsamara, saya baru saja membeli makanan. Anda harus makan agar tidak sakit ketika menunggu tuan Zafer."
__ADS_1
Pelayan yang bertugas untuk menemani dan membantu majikan wanita tersebut, memberikan kantong plastik berisi makanan yang dibeli serta minuman sari kacang hijau yang diketahui merupakan kesukaan wanita dengan penampilan tertutup tersebut.
Tsamara yang sama sekali tidak berselera makan, seketika menggelengkan kepala. "Kamu saja yang makan. Aku baru bisa makan jika suamiku sadar dan melewati masa kritis. Bagaimana aku bisa menelan makanan saat melihat suamiku seperti ini."
Suara menyayat hati yang berhasil membuat merinding pelayan tersebut, tidak bisa berkomentar apapun setelah melihat kondisi majikan pria di atas ranjang dengan banyaknya alat penopang kehidupan dan terdengar suara-suara yang tentunya membuat siapapun bergidik ngeri.
Apalagi jika sampai suara yang berhubungan dengan detak jantung tersebut berbunyi nyaring, kemungkinan besar adalah sebuah hal buruk yang terjadi.
Hal yang paling ditakutkan oleh banyak orang ketika menunggu pasien di rumah sakit saat masa kritis adalah itu dan tentunya berharap kejadian tersebut tidak akan terjadi hari ini.
Karena bisa mengerti bagaimana perasaan majikan wanita tersebut, akhirnya pelayan memilih untuk tidak memaksa. "Saya tadi sudah makan di kantin, Nyonya. Ini saya taruh di laci dan anda bisa makan setelah tuan Zafer sadar."
"Meskipun nanti sudah tidak lezat karena dingin." Berjalan pergi meletakkan makanan yang dibeli dan duduk di atas sofa.
Tsamara yang sudah tidak lagi berbicara apapun karena memang apa yang baru saja dikatakan oleh pelayan wanita tersebut benar. Namun, berjanji jika sang suami sadar, akan langsung makan tanpa memperdulikan jika sudah dingin dan tidak lezat.
Tsamara memang sengaja melakukan itu agar mengetahui jika ada sebuah pergerakan, jadi akan langsung menyadari.
Refleks wajah Tsamara terlihat sangat terkejut sekaligus berbinar begitu merasakan pergerakan, meskipun hanya kecil dan langsung menoleh ke arah pelayan yang sedang bermain ponsel.
"Suamiku baru saja bergerak. Tolong panggil perawat atau dokter untuk memeriksa!"
"Baik, Nyonya," sahut pelayan wanita yang langsung bangkit berdiri dari sofa dan terlihat berbinar begitu mendengar kabar baik tersebut.
Kemudian berjalan keluar dengan terburu-buru untuk memanggil perawat agar segera memeriksa kondisi majikan laki-laki yang selama ini sangat dihormati.
__ADS_1
Sementara itu, Tsamara saat ini sudah beberapa kali mengusap punggung tangan dengan buku-buku kuat itu. "Tuan Zafer, syukurlah Anda bisa bergerak. Semoga lolos dari masa kritis dan bisa kembali sehat seperti sedia kala."
Tsamara yang masih terus menatap ke arah Zafer, menunggu perawat datang untuk memeriksa agar bisa memastikan bahwa pria itu sudah tidak mengalami masa kritis.
Hingga beberapa saat kemudian, ada perawat serta dokter yang berjalan masuk dengan langkah kaki yang cepat. Seolah ingin segera mengetahui kondisi pasien yang mengalami perkembangan cukup signifikan setelah mendengar ada pergerakan.
"Biar saya periksa dulu," ucap pria paruh baya berseragam putih tersebut yang langsung memeriksa tanda-tanda vital dari pasien.
Sementara perawat membantu seperti yang diperintahkan oleh dokter dan mencatat beberapa poin yang disebutkan.
Tsamara masih belum beranjak dari tempat duduk karena tidak ingin melepaskan genggaman tangan. Seolah ingin memberikan semangat pada Zafer agar segera sadar.
"Tadi saya benar-benar merasakan pergerakan dari tangan yang dari tadi dalam genggaman." Tsamara masih berusaha untuk membenarkan jika beberapa saat lalu memang ada pergerakan.
Setelah sang dokter mengecek semua, kini menatap ke arah wanita yang terlihat sangat pucat tersebut. "Setelah saya mengecek semua tanda-tanda vital dari tuan Zafer, syukurlah sudah melewati masa kritis meskipun belum sadar sepenuhnya."
"Akan dibutuhkan waktu untuk sadar dari pengaruh obat bius saat operasi. Semua terlihat baik dan tidak mengalami sesuatu yang buruk dari hasil operasi. Jadi, kita akan melihat perkembangan setelah sadar nanti."
Sang dokter bisa melihat genggaman erat dari seorang istri ketika setia menunggu suami yang tengah kritis.
Bahkan juga melihat ada tasbih emas di tangan kanan dan merasa yakin jika doa tulus dari seorang istri yang berhasil menyelamatkan suami dari kematian.
"Anda sangat luar biasa, Nyonya karena setia memberikan doa pada tuan Zafer." Kemudian berjalan menuju ke arah pintu keluar setelah menyunggingkan senyuman.
Tsamara bahkan saat ini tidak bisa menahan lelehan air mata yang sudah lolos tanpa seizinnya membasahi pipinya yang putih. Ia merasa sangat lega sekaligus bahagia melihat pria yang saat ini sangat dikhawatirkan sudah lolos dari masa kritis.
__ADS_1
To be continued...