
"Kenapa tidak dibuka juga? Apakah saat ini sedang berpura-pura tertidur? Padahal suaraku cukup kencang untuk membangunkan tidur Zafer." Rayya baru saja menutup mulut dan mendengar wanita yang tak lain adalah ibu mertua berteriak dari atas anak tangga karena memang ruangan bersebelahan.
"Rayya! Kenapa kamu ribut malam-malam begini? Ini adalah waktunya beristirahat dan kamu malah berteriak dari tadi." Erina kebetulan belum tidur dan berniat untuk mengecek apakah Tsamara sudah baikan setelah makan dan minum obat.
Namun, di saat bersamaan, mendengar suara teriakan Rayya di malam yang penuh dengan keheningan karena semua sudah beristirahat.
Rayya mendongak ke arah anak tangga dan melihat mertuanya berdiri di sana dengan mengarahkan tatapan penuh ketidaksukaan.
"Aku tidak bisa tidur tanpa dipeluk suami, Ma. Namun, hari ini putra Mama ternyata berada di ruangan ini tanpa mengatakan apapun padaku. Padahal hubungan kami baik-baik saja dan tadi tidak bertengkar karena aku membiarkan menyuapi Tsamara sesuai perintah papa, bukan?"
Merasa ada sesuatu yang terjadi karena tidak biasanya Zafer memilih untuk tidur sendiri, Erina saat ini langsung berjalan menuruni anak tangga untuk menghampiri menantu perempuan yang terlihat seperti sangat gelisah.
Kemudian mengarahkan tangan untuk mengetuk pintu. "Zafer! Bangun! Cepat buka pintunya! Mama ingin bicara."
Sementara itu, di dalam ruangan kamar, Zafer yang awalnya sudah terlelap dalam alam mimpi selama beberapa menit, terkejut mendengar suara ketukan pintu dari luar.
Saat mencoba untuk mengumpulkan nyawa saat baru membuka mata, ia mengedarkan pandangan ke sekeliling dan menyadari saat ini tidur di kamar tamu. Hingga suara Rayya kembali terdengar dan membuatnya merasa sangat kesal.
'Apa aku tidak boleh beristirahat dengan tenang selama satu hari saja? Astaga! Bahkan aku benar-benar pusing hari ini dan ingin mengistirahatkan otakku yang terlalu banyak diforsir. Namun, sepertinya Rayya tidak akan membiarkanku tenang dan akan selalu mengganggu waktu nyamanku.'
Meskipun sudah berkali-kali Rayya memanggil dari luar ruangan kamar, tetapi Zafer sama sekali tidak beranjak dari ranjang karena memang malas untuk membuka pintu.
Berharap jika membiarkan dan berpura-pura tertidur, berharap jika wanita di luar sana segera pergi dan tidak mengganggu lagi karena benar-benar pusing saat ini.
Zafer bahkan kembali membaringkan tubuh dan memejamkan mata sambil memakai selimut tebal untuk menutupi seluruh tubuh hingga kepala. Berharap tidak mendengar dengan jelas suara wanita yang tak lain adalah calon dari ibu anak-anaknya.
Hingga beberapa saat kemudian mendengar suara sang ibu dan embusan napas kasar terdengar sangat jelas mewakili perasaan Zafer yang frustasi karena waktu istirahat terganggu saat dua wanita bersatu untuk menyuruhnya segera keluar begitu membuka pintu.
__ADS_1
'Astaga! Kenapa mama ikut-ikutan berbuat berisik? Aku saat ini benar-benar sangat malas untuk menanggapi mereka karena hanya ingin beristirahat tanpa terganggu.'
'Apa aku biarkan saja? Ataukah nanti malah mendapatkan kemurkaan dari mama?' gumam Zafer yang memilih untuk diam di bawah selimut dan sama sekali tidak berniat untuk beranjak dari atas ranjang.
Ia sebenarnya masih betah meringkuk di atas ranjang dengan berselimut, terapi mendengar suara kunci yang diputar dari luar dan merutuki kebodohan karena tidak menyadari bahwa ada kunci cadangan yang tersimpan di laci.
Hingga beberapa saat kemudian mendengar suara dua wanita yang semakin mendekat. Namun, Zafer masih berpura-pura untuk tidur karena tidak ingin mendapatkan omelan dari sang ibu.
Sementara itu, Erina dan Rayya menatap tajam Zafer yang berada di bawah selimut dan sama sekali tidak terlihat wajah. Seolah sengaja melakukan itu.
Tadi Erina yang merasa sangat geram karena pintu tidak kunjung dibuka oleh putranya, memilih untuk menyuruh kepala pelayan mengambilkan kunci cadangan kamar tamu tersebut agar bisa segera masuk tanpa membuat kebisingan dengan cara sibuk mengetuk pintu dan berteriak.
Erina kini berkacak pinggang begitu melihat putranya yang tak kunjung bergerak juga. "Zafer, cepat bangun? Mama tahu kalau kau saat ini sedang tidak tidur."
Sementara itu, Rayya tidak ingin membuang waktu untuk bertanya karena langsung berjalan mendekat dan menarik selimut berwarna putih yang menutupi seluruh tubuh hingga kepala sang suami.
"Sayang, jangan berpura-pura lagi tidur karena aku tahu saat ini kamu sedang berpura-pura." Mengguncang lengan kekar sang suami yang tak kunjung membuka mata dan membuat Rayya geram.
"Berisik sekali! Ada apa sebenarnya?" sarkas Zafer yang saat ini sudah kehilangan kesabaran dan membuka mata untuk menatap tajam wanita yang berdiri di sebelah ranjang.
"Aku sangat lelah dan ingin tidur dengan nyenyak. Apa kamu tidak bisa membiarkanku sehari saja tidur dengan tenang? Aku hari ini sangat pusing dan ingin tidur sendiri. Jadi, jangan menggangguku dan pergi dari sini!"
Kemudian Zafer mengibaskan tangan untuk mengusir Rayya tanpa memperdulikan ada sang ibu yang berdiri tak jauh dari pintu.
Tentu saja Zafer mengetahui bahwa sang ibu lebih menyukai ketika bersikap sinis pada Rayya. 'Mama lebih menyukai aku bersikap manis pada Tsamara daripada Rayya. Jadi, tidak akan marah saat aku mengatakan pada Rayya untuk segera pergi dari sini.'
"Sayang, ada apa? Kenapa sikapmu berubah seperti ini begitu keluar dari ruangan Tsamara? Apa yang dikatakan oleh wanita itu? Hingga membuatmu seperti ini padaku?" Rayya kembali terbakar emosi karena sama sekali tidak melakukan kesalahan, tetapi malah mendapatkan kemurkaan.
__ADS_1
"Astaga! Bukankah aku sudah mengatakan hanya ingin beristirahat dengan tenang di sini karena sangat lelah tenaga dan pikiran. Jadi, pergilah dan jangan membuatku marah." Zafer kini kembali merebahkan tubuh dan menutupi dengan selimut.
Tidak berniat untuk menanggapi lagi Rayya yang masih enggan untuk beranjak dari tempat berdiri saat ini.
Sementara Erina saat ini merasa bahwa ada sesuatu yang mengganggu pikiran putranya dan merasa sangat penasaran, sehingga berbicara pada Rayya dengan menggandeng pergelangan tangan wanita itu keluar dari ruangan kamar terlebih dahulu.
"Ikut Mama!"
Rayya sebenarnya tidak ingin ikut wanita paruh baya tersebut yang tiba-tiba menarik tangannya, tetapi karena tidak tahu harus bagaimana, menanggapi sang suami yang terlihat sangat kesal.
"Ada apa, Ma? Aku ingin membujuk suamiku yang sepertinya merasa kesal karena Tsamara. Pasti terjadi sesuatu pada mereka."
"Mama tahu dan akan bertanya. Lebih baik kamu saat ini beristirahat dengan kembali ke kamarmu. Zafer dari kecil memang seperti itu saat sedang kesal dan memilih menyendiri," ucap Erina yang saat ini tengah berbohong pada Rayya agar mau menuruti perintah.
Sementara itu, Rayya yang saat ini terdiam karena tengah mempertimbangkan keputusan yang akan diambil setelah mendengar apa yang dikatakan oleh mertua perempuan tersebut.
Hingga akhirnya memutuskan jawaban yang sudah dipikirkan secara matang. "Baiklah, Ma. Setelah mengetahui apa penyebab Zafer ingin menyendiri di kamar tamu, tolong ceritakan padaku karena aku tidak ingin tersiksa dengan rasa penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Tsamara."
Erina refleks langsung menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan. Meskipun sebenarnya tidak yakin apakah harus menceritakan pada Rayya atau tidak setelah mengetahui penyebab dari kekesalan putranya.
Tentu saja harus dengan banyak pertimbangan karena akan membuat rumah tangga dari putranya menjadi berantakan jika sampai ada kesalahpahaman.
"Baiklah. Kamu istirahat saja dan jangan terlalu lelah ataupun berpikir berat karena akan berdampak buruk pada janin di rahimmu." Mengusap lembut lengan menantunya dan tersenyum simpul.
Kemudian meninggalkan Rayya untuk pergi menuju ke arah ruangan kamar yang ditempati putranya.
Begitu perlahan menutup pintu, ia langsung berjalan mendekati ranjang dan duduk di sana. Belum sempat membuka mulut, suara putranya berhasil membuat Erina menurunkan tangan yang hendak menyentuh punggung putranya.
__ADS_1
"Apa Mama ingin mengetahui apa yang terjadi antara aku dan Tsamara hari ini?"
To be continued...