Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Momen terlarang


__ADS_3

Hal yang dulu dijanjikan oleh Zafer pada Rayya adalah mencari kelemahan Tsamara dan digunakan untuk membuat wanita itu keluar dari rumah secara sukarela karena selama ini dilindungi oleh mertua.


Namun, semua harapan pupus meskipun sudah menyingkirkan orang tua Zafer, sehingga Rayya semakin merasa marah saat membayangkan hal itu.


Rayya yang kini mengingat tentang semua itu, mendadak buyar seketika begitu mendengar suara bariton dari sosok pria dengan paras rupawan di hadapannya yang terlihat sangat mengkhawatirkannya.


"Apa kamu sama sekali tidak ingat jika tadi pingsan di Mall setelah meninggalkanku? Bahkan menjadi kerumunan orang-orang yang tidak tahu harus melakukan apa untuk menolongmu."


"Nasib baik aku tadi mencarimu karena khawatir dan ternyata benar bahwa kamu tidak baik-baik saja dan kehilangan kesadaran."


Zafer saat ini meraih bubur yang ada di atas nakas dan sudah tidak panas seperti tadi. "Makan ini selagi hangat karena aku yang membuatnya sendiri tadi ketika kamu pingsan."


Rayya yang kini mengingat jika tadi setelah meninggalkan Raymond, hendak berbelanja, tetapi merasa perutnya diaduk-aduk dan seperti biasa, langsung memuntahkan di toilet dan setelah itu merasa sangat lemas.


Namun, tetap memaksakan diri untuk berbelanja dan alhasil berakhir pingsan seperti yang dikatakan oleh sahabatnya tersebut.


Melihat pria di hadapannya membawa mangkuk berisi bubur yang susah payah dibuat sendiri untuknya, ia seketika berkaca-kaca karena merasa sangat terharu.


"Kenapa kamu sangat baik padaku? Padahal aku sudah menyakitimu."


"Kamu sudah tahu jawabannya, jadi tidak perlu bertanya lagi." Raymond saat ini menyuapkan satu sendok bubur ke dalam mulut Rayya yang awalnya tidak mau membuka mulut, tapi karena mengarahkan tatapan tajam, wanita itu berubah pikiran.


"Hargai aku sedikit saja karena sudah bersusah payah membuatkan bubur untukmu. Jadi, hanya tinggal membuka mulut saja, apa susahnya?" Raymond yang saat ini berhasil menyuapi Rayya, tersenyum simpul karena senang melihat wanita itu mau makan.


Rayya saat ini mengunyah bubur di dalam mulutnya, merasa sangat terharu dengan apa yang dilakukan oleh Raymond.


"Ada banyak wanita yang bisa kamu nikahi, Raymond."

__ADS_1


"Aku sudah berjanji pada diriku sendiri semenjak dulu, bahwa hanya akan menikahi sahabat kecilku yang menyuruh untuk menjadi pangeran berkuda putih." Raymond ingin Rayya mengingat mengenai masa lalu yang sudah lama berlalu, tapi tidak pernah dilupakan.


Sementara itu, Rayya yang merasa bersalah pada Raymond, saat ini ingin menceritakan semua hal yang membuat ia melupakan janji di masa kecil.


"Mungkin jika hidupku tidak berantakan karena orang tua yang bercerai, pasti kita masih bisa menikah. Saat aku masih kecil ditinggalkan oleh ibuku yang memilih mementingkan karir daripada anak dan suami."


"Kemudian ayahku sibuk dengan dunia sendiri yang mendirikan bisnis club malam dan membuatku hanya bersama dengan pelayan mulai dari pagi hingga saat waktu tidur. Ayah terlalu sibuk dan seperti tidak ingat jika mempunyai seorang anak."


"Setelah aku dewasa, memilih melampiaskan semuanya dengan bersenang-senang untuk melupakan kesedihan karena kekurangan kasih sayang dari orang tua. Aku pikir, ayahku akan lebih perhatian padaku setelah melihatku sering keluar malam bersama dengan teman-teman, tapi ternyata tidak, karena semua sama saja."


Rayya mengakhiri cerita dengan tersenyum miris meratapi nasib buruk yang selama ini dialami. Bahkan saat ini kalimat sang ayah yang terngiang di telinga.


Kau boleh berbuat apapun sesuka hati, asal jangan bodoh hingga berakhir hamil tanpa suami.


Kalimat ancaman dan sama sekali tidak mengandung sebuah perhatian dari seorang ayah dan semakin melukai hati Rayya. Hingga semenjak mendengar perkataan itu, mulai merusak diri tanpa memikirkan apapun lagi saat berpikir bahwa tidak ada satupun orang yang peduli padanya.


"Aku tidak pantas untukmu dan kamu bisa mencari wanita yang lebih baik dariku, Raymond. Aku hanyalah seorang wanita yang tidak pantas untuk pria sebaik dirimu."


Raymond dari tadi fokus mendengarkan semua cerita Rayya, kini mulai mengerti sesuatu yang tidak pernah diketahui olehnya.


Karena merasa sangat iba pada nasib wanita di hadapannya, kini Raymond menaruh bubur ke atas nakas dan langsung memeluk erat tubuh lemah merah ke dalam pelukannya.


"Maafkan aku." Raymond saat ini mengusap lembut punggung Rayya, mencoba untuk menghibur perasaan wanita yang baru saja mengungkapkan semuanya.


Rayya yang tidak pernah menyangka dengan respon dari Raymond, saat ini sudah tidak kuasa membendung air mata yang memenuhi bola mata dan seketika menganak sungai di waja.


"Raymond, kenapa kamu bisa sebaik ini? Aku takut lemah berada di hadapanmu," lirih Rayya dengan tubuh bergetar ketika menangis.

__ADS_1


Bahkan berbicara dengan nada suara dan melihat Raymond menarik diri agar bisa melihat wajahnya.


Kini, posisi mereka hanya berjarak beberapa senti saja dan saling menatap satu sama lain.


Raymond saat ini mengusap air mata yang menghiasi wajah pucat Rayya. "Menangis memang adalah cara terbaik untuk melupakan masalah, tapi jangan melakukan di depanku karena aku tidak tega melihatmu bersedih."


Tentu saja mendengar kalimat penuh kelembutan dan perhatian dari sahabat kecilnya membuat Rayya benar-benar merasa sangat terharu dengan semua hal yang dilakukan oleh pria itu hari ini.


Tidak bisa menahan perasaannya, kini Rayya langsung mendekatkan wajah dan mencium bibir tebal Raymond.


Entah apa yang membuatnya berani melakukan itu, tapi sama sekali tidak ada keraguan ketika mencium pria yang bukan suaminya.


Apalagi selalu mengingat sikap Zafer dan berpikir bahwa apa yang saat ini dilakukan dengan Raymond adalah sesuatu yang pantas untuk membalas dendam.


'Dengan begini, kita impas Zafer,' gumam Rayya yang saat ini sudah menikmati balasan dari Raymond yang tidak tinggal diam dan sudah menelusuri semua sudut tubuhnya hingga terbakar hasrat membara.


Raymond awalnya merasa sangat terkejut dengan perbuatan Rayya, memilih untuk melanjutkan apa yang dimulai oleh wanita yang sudah menyerahkan diri padanya.


Hingga merasa sangat senang karena berhasil mendapatkan Rayya hari ini dan terbakar gairah begitu perbuatan mereka semakin memanas dan liar.


Raymond bahkan tidak pernah berpikir jika hari ini Rayya akan menyerahkan diri padanya. Hingga mengingat bahwa tadi mengambil foto penuh kepalsuan seolah-olah mereka bercinta, tapi ternyata melakukan hal itu setelah Rayya sadar.


Kini, ruangan yang tadinya dipenuhi keheningan tersebut, sudah berubah diiringi ******* dari Rayya dan juga lengan panjang Raymond ketika mencapai puncak kenikmatan.


Hingga ranjang yang tadinya rapi tersebut sudah berubah berantakan karena percintaan mereka yang panas dan liar. Hingga deru napas memburu terdengar sangat jelas setelah mereka baru saja menyelesaikan momen terlarang.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2