
Sosok wanita yang saat ini tengah berbaring di atas ranjang dengan posisi meringkuk sambil memeluk guling, beberapa kali mengepalkan tangan karena merasa sangat marah sekaligus kesal pada sang suami saat pergi begitu saja begitu ada pelayan yang datang dan membahas mengenai Tsamara.
'Sial! Harusnya kau merayuku agar aku tidak marah, bukan malah pergi meninggalkanku sendiri dengan perasaan membuncah dan dikuasai oleh amarah.'
'Apa yang ingin dikatakan oleh pelayan? Apalagi Zafer langsung mengajak pergi pelayan itu dan sepertinya tidak ingin aku mendengar pembicaraan mereka. Sepertinya aku harus segera menyingkirkan para penghalang itu,' gumam Rayya yang saat ini memilih untuk meraih ponsel di atas nakas dan menghubungi seseorang.
Setelah menemukan daftar kontak yang dicari, ia langsung memencet tombol panggil dan menunggu hingga ada jawaban dari seberang telpon.
Tidak perlu menunggu lama karena suara bariton dari seberang telpon terdengar.
"Halo, Sayang. Ada apa kamu menelpon setelah menghilang selama satu tahun?"
"Bagaimana kabarmu, Harry?" Rayya memilih untuk berbasa-basi terlebih dahulu sebelum mengungkapkan keinginan pada sosok pria yang merupakan mantan kekasih dan sudah diputuskan satu tahun yang lalu.
"Aku sedang tidak baik-baik saja karena selama satu tahun belakangan ini sering melamunkan dirimu dan patah hati karena kamu putuskan," sahut Harry yang saat ini tersenyum menyeringai di seberang telpon dan berpikir bahwa mantan kekasih sedang merindukan dan ingin kembali.
Sementara itu, Rayya yang merasa sangat mual dengan rayuan dari Harry karena sudah sangat hafal dengan kelakuan dari pria itu.
Pria yang selama ini memiliki banyak wanita karena merupakan seorang casanova. Hal itulah yang membuatnya dulu memutuskan hubungan karena melihat Harry bersama wanita lain masuk ke dalam hotel saat dulu pergi makan malam bersama sang ayah.
"Kamu tidak perlu buang-buang waktu dan juga energimu untuk merayu karena aku sudah menikah. Apalagi aku mengetahui bahwa kamu belum berubah karena suka berganti-ganti pasangan di atas ranjang."
__ADS_1
"Aku sudah berubah, Sayang. Padahal aku ingin menikah denganmu, tetapi kamu memilih pria lain sebagai suami. Aku sama sekali tidak pernah menduga jika wanita seperti dirimu memutuskan untuk melepaskan masa lajang." Harry masih merasa terkejut atas apa yang didengar hari ini.
Apalagi selama ini mengerti bahwa Rayya bukan seorang wanita yang memiliki impian untuk segera menikah. Dulu mereka sempat dekat dan tentu saja mengetahui seperti apa wanita itu yang tidak ingin menjalin hubungan yang terikat atas nama pernikahan karena tidak ingin bernasib sama seperti orang tuanya.
"Aku tidak ingin bertele-tele dan membutuhkan bantuanmu. Karena itulah saat ini menghubungimu. Apa kamu mau membantuku? Aku tidak tahu siapa yang bisa menolong saat aku dilanda masalah. Kita putus secara baik-baik dan tidak ada permusuhan, bukan?"
Rayya masih mencoba untuk mencari simpati dari pria yang saat ini masih terdiam di seberang telpon. Seolah sedang mencoba untuk memikirkan jawaban atas pertanyaan yang diajukan.
"Kita memang tidak ada permusuhan saat berpisah, tetapi rasanya sangat aneh jika berhubungan lagi dengan mantan kekasih. Apalagi kamu saat ini sudah menikah Memangnya suamimu tidak merasa cemburu jika kamu berhubungan denganku? Lalu bantuan apa yang kamu butuhkan dariku?"
Rayya saat ini hanya bisa mengembuskan napas kasar saat mantan kekasih menyebutkan sang suami merasa cemburu atau tidak jika berdekatan dengan pria lain.
"Suamiku tidak akan pernah tahu karena ini hanya akan diam-diam tanpa sepengetahuan siapapun kecuali kita. Bukankah kamu memiliki hubungan luas dengan semua orang di bidang apapun? Aku ingin menyingkirkan beberapa orang yang menyusahkan jalanku. Jadi, bisakah kamu mencarikan pembunuh yang bisa melakukan tugas secara bersih dan tidak akan dicurigai oleh siapapun, termasuk polisi?"
Selama ini, ia hanya mengetahui bahwa wanita itu sangat suka berkeliaran di club malam dan mencari para pasangan untuk teman bercinta. Namun, hari ini seolah melihat fakta baru dari mantan kekasih yang sudah satu tahun tidak dijumpai, lalu tiba-tiba menghubungi dan membawa kabar sangat mengejutkan.
"Memangnya siapa yang ingin kamu singkirkan dan apa penyebab kamu nekat melakukan hal seperti ini? Aku benar-benar sangat terkejut mendengar apa yang saat ini kamu katakan," jawab Harry yang saat ini merasa sangat penasaran dengan siapa yang ingin dibunuh oleh mantan kekasih.
Kemudian Rayya memilih untuk mengatakan hal yang sebenarnya karena tidak ingin ditutupi dan berharap mendapatkan dukungan dari mantan kekasih yang saat ini sangat diharapkan agar membantu untuk membunuh mertua dan juga wanita yang menghalangi jalan untuk bersama dengan Zafer.
Rayya ingin memiliki sang suami sepenuhnya tanpa ada wanita lain yang mengganggu dan membuatnya tidak tenang. Apalagi saat ini mengetahui bahwa pikiran Zafer seolah terganggu dengan kehadiran wanita yang menjadi istri pertama tersebut.
__ADS_1
Apalagi saat ini mencium bau-bau perselingkuhan jika sampai sang suami merasa tertarik pada wanita yang bahkan tidak bisa berjalan tersebut.
"Jika kamu berada di posisiku, mungkin akan melakukan hal yang sama. Bukankah begitu, Harry?"
Sementara itu, Harry kini mengerti dengan penyebab dari perbuatan nekat seorang Rayya. "Aku tidak tahu karena belum mengalami hal seperti itu. Hanya saja, kamu benar-benar membuatku sangat terkejut, Rayya. Memangnya dengan cara apa kamu menginginkan mereka mati?"
"Tidak perlu merasa terkejut karena ini merupakan sebuah hal yang wajar ketika ingin melindungi diri. Bahkan binatang pun yang tidak ingin kehilangan, bisa membunuh lawan yang mengancam. Apalagi aku yang tidak ingin kehilangan suami."
Rayya masih berusaha untuk membuat mantan kekasih mau membantu dengan mengatakan semua hal yang dirasakan. Ingin mencari simpati dari Harry dan akhirnya setuju untuk mencarikan seseorang yang terbiasa untuk melenyapkan nyawa.
"Aku tidak tahu lagi harus menghubungi siapa karena berpikir bahwa kamulah satu-satunya harapanku. Kita dulu berteman baik dan akhirnya memutuskan untuk menjalin hubungan dan putus secara baik-baik karena aku tidak menuntut apapun darimu ataupun marah. Jadi, kali ini tolong bantu aku untuk menyelesaikan masalah yang kuhadapi."
Harry sebenarnya merasa iba pada nasib Rayya, tapi ini adalah pertama kalinya menghadapi masalah yang akan melenyapkan nyawa seseorang.
"Jika aku membantumu, lalu apa yang kudapatkan? Apakah kamu akan memberikan tubuhmu untuk memuaskanku?"
Rayya saat ini menepuk jidat ketika mendengar keinginan dari mantan kekasih yang hanya berpikiran mengenai masalah ***.
"Aku tidak bisa melakukan itu karena sedang hamil. Jadi, aku akan menggantinya dengan memberimu banyak uang yang bisa kamu manfaatkan untuk membayar wanita yang bisa memuaskan nafsumu. Bagaimana?"
Masih menunggu jawaban dari seberang telpon karena tidak langsung menanggapi, seolah seperti sedang memikirkan. Rayya kini menambahkan satu poin penting yang akan memberikan keuntungan bagi Harry.
__ADS_1
To be continued...