
Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam lebih, mobil yang dikemudikan oleh Zafer telah tiba di rumah sakit.
Kemudian Zafer melangkah dengan kaki panjang memasuki lobby rumah sakit. Semua staf rumah sakit tentu saja langsung menghentikan semua aktivitas mereka dan membungkuk hormat, serta menyapa. Semua itu karena ia adalah putra dari pemilik rumah sakit.
"Selamat datang, Tuan muda Zafer."
"Biar kami bawakan ranjang dorong atau kursi roda," ucap salah satu perawat yang saat ini buru-buru membungkuk hormat untuk menyapa.
"Tidak perlu. Kalian kembali saja bekerja karena aku akan langsung pergi unit gawat darurat."
"Baik, Tuan muda," jawab wanita berseragam putih yang saat ini mewakili rekannya yang lain.
Kini, Zafer sudah menghilang di balik lift, ia pun membuka suara, "Tekan tombol lima! Tanganku tidak bisa meraih tombolnya."
"Sudah kubilang turunkan saja aku. Seharusnya tidak perlu berlebihan begini. Aku tidak apa-apa. Jadi, tidak perlu pergi periksa karena aku tidak sakit. Ini hanya hamil, Zafer."
"Kamu sudah memberikanku keturunan. Jadi, sudah sebaiknya diperiksa dan aku ingin memberikan semua yang terbaik untuk anakku." Masih tidak berniat untuk menuruti keinginan dari Rayya, Zafer bahkan mengarahkan tatapan tajam, agar wanita itu patuh padanya.
Rayya selalu merasa seperti seorang ratu karena Zafer memperlakukan dengan baik. Hanya saja, status sang kekasih akan menjadi penyebab masalah yang dikatakan oleh ayahnya.
"Aku sangat bahagia mempunyai calon suami yang baik. Baiklah, apapun perintah dari calon suami memang harus dituruti. Jadi, kita periksa ke dokter spesialis Obgyn terlebih dahulu untuk memastikan semuanya"
"Sekarang turunkan aku karena sudah tidak merasa pusing lagi."
"Aku tidak akan menurunkanmu karena akan menjagamu dengan lebih baik saat mengandung benihku."
Bunyi denting lift menandakan pintu terbuka, Zafer mulai melangkah keluar dan mengedarkan pandangannya ke arah ruangan Obgyn
"Selamat datang, Tuan Zafer. Bisa kami bantu?"
Beberapa perawat yang melihat kedatangan putra dari pemilik rumah sakit tersebut langsung membungkuk hormat dan datang menyambut.
"Apa dokter di dalam tengah sibuk?"
"Tidak, Tuan Zafer. Dokter baru saja selesai memeriksa pasien dan masih menuliskan resep. Mari saya antarkan Anda masuk ke dalam!"
Wanita berseragam putih yang terlihat mengulas senyuman tipis tersebut berjalan masuk untuk membukakan pintu pada pria yang bukan merupakan orang sembarangan tersebut.
Zafer pun kini langsung mengikuti sang perawat yang sudah berjalan di depannya, sedangkan Rayya yang merasa malu karena masih dalam posisi berada di lengan kokoh sang kekasih tersebut.
__ADS_1
Ia hanya bisa diam tak berkutik karena Zafer tetap tidak mau menurunkannya.
"Selamat datang, Tuan Zafer. Sudah lama sekali saya tidak melihat Anda dan ternyata datang ke sini. Sepertinya Anda membawa kabar baik dan bahagia. Silakan Anda turunkan nona ke atas ranjang karena akan langsung memeriksanya."
"Baiklah, Dokter. Semoga saja benar ini adalah sebuah kabar baik karena masih menerka-nerka dan belum memastikan. Tadi ia sampai pingsan di toilet."
Zafer kini perlahan menurunkan tubuh Rayya di atas ranjang dan mendaratkan tubuh di sisi kanan ranjang.
Sementara sang dokter wanita tersebut langsung menyuruh perawat untuk membantunya mengoleskan gel ke atas perut rata sang wanita dan mengarahkan alat transduser ke perut dengan menunjukkan ke arah layar monitor.
"Sekarang Tuan dan Nona memperhatikan layar monitor ini!"
Zafer dan Rayya hanya saling bersitatap dengan, lalu menatap ke arah layar.
"Sepertinya ini bukan kehamilan tunggal," ucap sang dokter yang kini mencoba untuk memastikan prediksi dengan masih mengarahkan alat pada perut datar pasien yang diketahui hamil tersebut.
"Maksudnya apa, Dokter?" Rayya mulai mengeluarkan suara karena sudah merasa sangat penasaran dengan penjelasan dari sang dokter.
Dokter itu kini tersenyum tipis. Ia pun mengarahkan tangan ke arah pria yang saat ini menatap dengan serius dan mengatakan kabar baik tersebut.
"Selamat, Tuan Zafer karena nona saat ini tengah mengandung bayi kembar."
Kemudian menatap ke arah sang dokter yang baru saja memberi sebuah kabar yang membuatnya merasa sangat dan sangat bahagia."
Sang dokter tersenyum dan menganggukkan kepala. "Iya, Tuan. Selamat, Anda sebentar lagi akan menjadi seorang Ayah."
"Terima kasih." Zafer kini terlihat sangat bahagia mendengar kabar baik tersebut.
"Kamu dengar itu? Kita akan mempunyai anak kembar. Bukankah ini adalah kabar yang sangat luar biasa? Orang tuaku pasti sangat bahagia begitu mendengar kabar baik ini."
Sementara itu, Rayya yang masih merasa tidak percaya bahwa di dalam rahim kini telah ada dua janin benih dari pria yang dicintai, masih bingung dengan perasaannya.
Bahkan tidak konsentrasi mendengar penjelasan panjang lebar dari dokter mengenai bayi kembar. Hingga suara dari Zafer membuat Rayya membulatkan mata.
Zafer langsung menatap ke arah wanita yang saat ini terlihat seperti sangat shock tersebut. "Mulai besok, kamu tidak boleh masuk kerja lagi karena harus banyak beristirahat. Apa kamu mengerti?"
Rayya menggelengkan kepala. "Aku masih ...."
Belum selesai mengeluarkan penolakan, tetapi suara Zafer sangat tegas dan tidak bisa melanjutkan perkataan.
__ADS_1
"Tidak ada kata tapi-tapi, Sayang. Aku sangat tidak suka jika kamu bersikap egois dan mengorbankan anak kita. Jangan sampai terjadi sesuatu padamu dan calon anak kita. Jadi, kamu harus menuruti semua perintahku"
"Aku akan menuruti perintah darimu, asalkan selalu bersamaku."
"Jadi kamu masih meragukanku? Apa sikapku padamu belum bisa membuatmu percaya sepenuhnya padaku? Bahwa aku sangat mencintaimu?" Zafer mencoba untuk membuat Rayya mengerti demi kebaikan calon anak-anaknya.
"Aku bisa tenang dan selalu memikirkan wanita ular itu karena yang namanya perusuh itu harus diempaskan sejauh-jauhnya."
Sang dokter hanya diam saat melihat pertengkaran dari pasangan pengantin yang membuatnya merasa aneh sekaligus penasaran.
"Saya akan meresepkan vitamin dan juga obat penguat kandungan, serta obat yang mengurangi mual dan muntah yang mungkin akan dialami oleh nona."
Baru saja Zafer menganggukkan kepala, suara dering ponsel berbunyi dan langsung mengambil dari saku celana.
Melihat kontak sang ayah, rasanya sangat malas, tapi tidak bisa membiarkan karena khawatir akan berubah pikiran untuk merestui hubungan dengan Rayya.
"Papa," ucap Zafer yang memberikan kode pada Rayya untuk berbicara di luar karena tidak ingin dokter mendengar pembicaraan antara ayah dan anak.
Kemudian ia berjalan keluar begitu melihat sang kekasih menganggukkan kepala. Begitu berada di luar ruangan dokter, langsung menggeser tombol hijau ke atas.
"Iya, Pa? Ada apa?" Zafer seketika menjauhkan ponsel dari daun telinga karena mendengar suara teriakan dari seberang telpon.
"Cepat pulang! Apa kau gila karena sudah membawa wanita itu ke Rumah Sakit dan diketahui oleh banyak orang? Apa kau ingin mencemarkan nama baik keluarga Dirgantara?"
Zafer memijat pelipis karena tadi tidak berpikir sampai di situ. Apalagi satu-satunya hal yang ada di otak hanyalah ingin memeriksakan kandungan Rayya.
"Aku lupa, Pa."
"Apa kau ingin Papa mencabut persetujuan untuk memberikan izin kalian menikah? Cepat kembali ke rumah sekarang!"
Belum sempat Zafer membuka suara, merasa sangat kesal karena sambungan telpon sudah terputus dan wajah masam kini tercetak jelas di wajah.
"Sial! Selalu saja papa mengatakan hal yang membuatku emosi." Ia kini mengacak frustasi rambut dengan tangan kanan, sedangkan yang kiri masih memegang ponsel.
"Tadi papa belum mengatakan menyuruhku pulang ke mana. Apakah ke rumah utama atau tempat wanita cacat itu?"
Tidak ingin membuang waktu, ia mengirimkan pesan pada sang ayah untuk bertanya. Beberapa detik kemudian langsung dijawab dan kembali kesal.
"Kenapa harus pulang ke rumah yang ada wanita cacat itu? Rayya pasti akan sangat marah. Apa yang harus kukatakan?" Zafer kini memilih untuk pasrah dan akan menyampaikan pada Rayya tentang perintah dari sang ayah.
__ADS_1
To be continued...