
Zafer sudah berjalan dengan langkah kaki panjang dan saat ini melihat pria yang berada di hadapan ayah mertuanya tersebut menoleh ke belakang dan seketika bersitatap dengannya.
Seorang pria muda dengan rahang tegas dan memiliki paras tampan itu berekspresi sama sepertinya.
Tentu saja sama-sama merasa penasaran karena tidak saling mengenal, tetapi pria paruh baya tersebut mengatakan mereka harus bertemu.
"Siapa, Paman?" tanya Raymond Abrisam yang saat ini mengalihkan pandangan pada pria paruh baya di hadapannya dengan raut wajah penasaran.
Di saat bersamaan, mendengar suara bariton dari pria yang baru saja tiba di dekat meja mereka.
"Ternyata Papa di sini? Aku sama sekali tidak melihat tadi karena berbicara dengan waiters restoran saat bertanya mengenai rekan bisnisku karena ada janji hari ini dan sudah memesan tempat."
Zafer yang berakting tersenyum simpul pada pria paruh baya dengan senyuman menyeringai tersebut, seolah mengerti ada sebuah konspirasi yang direncanakan untuknya.
"Aku pun sama sekali tidak menyangka bisa bertemu denganmu di sini. Sepertinya kita memang sangat berjodoh. Ini adalah pria yang kuceritakan saat di apartemen dan membuatmu meninju wajahku."
Sementara itu, Leon memberikan kode pada Raymond agar menyambut menantu laki-lakinya tersebut, meskipun di saat bersamaan melihat ekspresi wajah terkejut.
"Apa? Pria ini meninju wajah Paman? Apakah bajingan ini tidak pernah diajarkan untuk bersikap sopan santun pada orang yang lebih tua?" Raymond saat ini merasa sangat heran dengan hubungan antara dua pria tersebut yang jelas sekali ada aura ketegangan, tetapi masih bisa menahan diri dengan tersenyum.
Meskipun mengetahui bahwa sedang menahan diri agar tidak saling adu otot di tempat umum. Kini, Raymond merasa ikut emosi melihat pria yang baru saja datang tersebut, sehingga berbicara tanpa memfilter perkataan.
Sementara di sisi lain, Zafer yang merasa sangat malas menghadapi ayah mertua yang hendak membuat masalah tersebut, apalagi tanggapan dari pria yang sama sekali tidak disukai itu baru saja menghinanya.
"Hei, anak muda! Saat kau sama sekali tidak tahu duduk permasalahan, lebih baik diam daripada mulutmu menjadi korban."
"Apa kau bilang? Kau ingin merobek mulutku karena tidak terima dengan perkataanku barusan?" sarkas Raymond yang saat ini merasa sangat murka dengan tanggapan sangat santai dari pria yang dianggap tidak punya etika kesopanan tersebut
__ADS_1
Namun, masih berbicara tanpa berteriak karena hanya menegaskan dengan suara mengintimidasi.
Dengan sangat santai, Zafer memilih untuk mendaratkan tubuh di dekat kursi ayah mertua, lalu menanggapi dengan menggelengkan kepala.
"Aku tidak akan merobek mulutmu karena bukan psikopat. Jadi, tenang saja dan tidak perlu takut padaku. Hanya saja, ingin mengingatkan kau bahwa pepatah 'lidah lebih tajam dari pada pedang' itu memang benar."
"Aku sekarang mengetahui pria yang akan dijodohkan dengan wanita yang telah hamil benihku. Aku ingin mendengar pendapatmu mengenai rencana dari ayah mertuaku ini. Apakah kau masih mau menerima Rayya setelah mendengar kabar ini?"
Raymond merasa sangat terkejut dengan apa yang baru saja disampaikan oleh pria di hadapannya.
Apalagi tadi tidak mengetahui tujuan dari pria yang selalu disebutnya paman tersebut saat mengajak bertemu dan memang belum sempat mengungkapkan apapun.
Hingga kedatangan pria yang dianggap sebagai pengganggu tersebut dan berhasil membuatnya membulatkan mata karena sama sekali tidak pernah menyangka jika Rayya saat ini sudah hamil.
Raymond saat ini langsung beralih menatap ke arah pria paruh baya yang sudah dianggap seperti ayah sendiri tersebut. "Apakah perkataan pria brengsek ini benar, Paman?"
"Aku juga baru mengetahuinya dan sangat terkejut ketika putriku mengatakan hamil benih pria ini. Saat berniat untuk menyampaikan niat baik keluargamu pada putriku, ternyata sudah terlambat. Jadi, memang tujuanku jam bertemu adalah karena ingin meminta maaf."
Kemudian menoleh ke arah sebelah kiri, di mana menantunya tersebut terlihat sangat santai sambil tersenyum menyeringai, seolah ingin mengibarkan bendera perang di antara mereka.
"Aku sebenarnya menyuruh Rayya dan pria ini berbicara langsung denganmu. Apalagi kalian sudah lama tidak bertemu, bukan? Terakhir saat masih kecil dan kau dibawa ke luar negeri oleh orang tuamu."
"Sekarang semuanya sudah jelas, bukan? Aku sudah mengatakan pada calon menantu kesayangan ini. Kebetulan sekali, rekan bisnisku telah datang. Aku bener-bener sangat sibuk hari ini dan tidak bisa menemani kalian mengobrol."
Zafer bangkit berdiri dan melambaikan tangan saat berjalan meninggalkan meja tersebut untuk menemui seorang pria yang baru saja melangkah masuk restoran.
Tentu saja Leon yang berniat untuk membuat Zafer merasa tidak percaya diri ketika berhadapan dengan Raymond yang lebih muda dan tampan, tapi sepertinya gagal melakukannya karena tanggapan menantunya tersebut sangat datar.
__ADS_1
Sementara itu, Raymond merasa sangat kesal dengan sikap sombong dan arogan dari pria yang menghamili Rayya. Padahal dari dulu sampai sekarang sangat menyukai gadis itu, sehingga berpikir akan melamar suatu saat nanti setelah sukses.
Selama ini, ia disibukkan dengan sekolah dan juga ketika lulus, langsung membantu bisnis sang ayah untuk mencari pengetahuan sekaligus pengalaman.
Hingga menginginkan bisa memiliki bisnis sendiri dan mengungkapkan pada orang tuanya, lalu mendapatkan dukungan. Akhirnya sekarang memiliki bisnis yang memiliki keuntungan fantastis dalam satu tahun ini.
Itu semua berkat kerja kerasnya yang tidak pernah menyerah ketika membangun usaha dari nol. Bahkan tidak melibatkan orang tua ketika mencari investor dan klien.
Begitu bisnisnya berjalan pesat, ia kembali ke tanah air setelah mengungkapkan rencana pada orang tuanya untuk melamar Rayya yang langsung mendapatkan sambutan hangat dan persetujuan.
Namun, sama sekali tidak pernah terpikirkan akan kecewa karena Rayya telah bersama pria lain dan sama sekali tidak mengingat janji mereka.
"Ternyata cuma aku yang selama ini masih menepati janji." Raymond mengambil gelas berisi espresso dan meneguknya dengan perlahan.
Berharap rasa nikmat dari minuman berwarna coklat tersebut bisa menenangkan tenggorokan sekaligus perasaan yang kacau balau setelah mengetahui hal yang sebenarnya mengenai sosok wanita yang diinginkan untuk menjadi istrinya.
Hingga mendengar suara dari pria paruh baya tersebut yang seperti sangat menyesal.
"Maafkan putriku. Padahal sebenarnya aku lebih menyukaimu daripada pria arogan itu." Kemudian menunjuk ke arah bagian sudut bibir dan juga tulang pipi yang membiru.
"Kamu lihat? Ini adalah hasil karya dari bajingan itu. Bahkan saat melihat dengan mata kepala sendiri ketika ayahnya dipukul oleh kekasih, putriku malah membela si berengsek itu."
Leon saat ini berbicara sambil menatap ke arah Zafer yang baru saja mendaratkan tubuh di kursi, tak jauh dari tempat mereka bersama dengan seorang pria yang sudah diduga merupakan rekan bisnis.
Jika tadi Raymond merasa sangat kecewa dengan kabar hari ini mengenai sosok wanita yang dicintai ternyata telah hamil benih pria lain, menatap ke arah pria paruh baya tersebut yang terlihat sangat mengenaskan.
To be continued...
__ADS_1