
Merasa jika usaha untuk menyadarkan putranya dengan cara memukul sama sekali tidak berhasil, akhirnya Erina menjelaskan perlahan dengan perasaan berkecamuk dan berusaha untuk bersabar menghadapi putranya yang seperti anak kecil.
"Mama benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiranmu, Zafer. Kenapa berubah menjadi pria bodoh hanya karena cerita Tsamara?"
Kemudian mengarahkan cubitan cukup kuat pada paha putranya untuk melampiaskan kekesalan.
"Mama!" sarkas Zafer dengan menggeliatkan tubuh karena kembali merasakan nyeri pada bagian tubuh saat dihukum untuk kesekian kali atas kesalahan yang bahkan menurutnya hanyalah sebuah rasa ingin tahu dan haus akan jawaban.
"Aku bukan pria bodoh, Ma. Aku hanyalah seorang anak yang meragukan kasih sayang orang tua setelah Tsamara berbicara jujur padaku. Apakah aku salah jika ingin mendapatkan penjelasan dari kalian. Jika tidak dijelaskan, bagaimana aku bisa tahu?"
Zafer berbicara sambil meringis mengusap paha yang mendapatkan cubitan dan pastinya sudah membiru di sana. Hal yang tidak pernah didapatkan dari kecil karena sang ibu sangat menyayanginya, tetapi karena pertanyaan hari ini, sudah beberapa kali mendapatkan hukuman mulai dari pukulan hingga cubitan dan mungkin sudah meninggalkan kebiruan di sana.
"Dengarkan Mama baik-baik dan rekam di otakmu karena jika sampai mengulangi bertanya mengenai hal ini lagi, lebih baik kamu pergi bersama Rayya yang lebih kamu percayai karena sangat mencintaimu melebihi apapun di dunia ini."
Erina sengaja menyindir habis-habisan putranya karena merasa terluka sebagai seorang ibu ketika diragukan kasih sayang, tetapi seolah 100 persen percaya pada wanita yang baru saja dikenal.
Hingga Zafer saat ini menelan ludah dan merasa kebingungan dengan apa yang baru saja diungkapkan oleh sang ibu ketika menyebut Rayya. Ya, memang hal itu menjadi faktanya karena tadi sangat percaya ketika Rayya mengatakan akan tetap bersamanya meskipun tidak menjadi bagian dari keluarga Dirgantara lagi.
"Mama kenapa berbicara seperti itu? Aku benar-benar tidak bermaksud untuk lebih mempercayai Rayya daripada orang tua sendiri. Namun, faktanya seolah membuktikan hal itu. Jadi, akhirnya aku berpikiran buruk. Bahkan menduga mungkin aku hanyalah anak adopsi atau tertukar di rumah sakit."
Zafer hendak bersiap untuk menerima pukulan lagi dari sang ibu ketika meluapkan amarah, tetapi ternyata tidak mendapatkan karena wanita paruh baya tersebut memilih untuk menatap mengarahkan tatapan tajam padanya dan bagaikan berhasil menusuk jantung.
"Kamu akan merasa menyesal telah berkata seperti itu hari ini pada Mama. Ketika Mama sudah tidak ada di dunia ini, kamu akan menyadarinya. Bahwa tidak ada orang yang paling baik di dunia ini selain orang tua sendiri. Ingat itu baik-baik!"
Erina tidak berbicara jujur mengenai kebohongan Tsamara, tetapi hatinya terluka atas perkataan dari putranya dan memilih untuk segera bangkit dari ranjang.
Saat berniat untuk meninggalkan ruangan kamar tamu tersebut dan membiarkan putranya beristirahat tanpa merasa terganggu dengan kehadirannya yang diragukan kasih sayang, merasakan pelukan dari putranya.
Zafer seketika merasa berdosa dan sekaligus bersalah, sehingga melihat wajah sang ibu sangat terluka. Refleks ia beranjak turun dari ranjang dan melingkarkan tangan pada tubuh sang ibu dengan cara memeluk dari belakang.
"Maafkan aku, Ma. Aku tidak bermaksud membuatmu bersedih. Aku sangat menyayangi Mama dan tidak ada di dunia ini yang bisa menggantikannya." Zafer bahkan berbicara dengan sangat serak ketika luapan perasaan seolah tertahan dan tidak bisa dikeluarkan.
__ADS_1
Mungkin jika menjadi seorang wanita, sudah menangis ketika mengatakan hal itu pada sang ibu yang masih dipeluk erat dari belakang seperti ingin mencari sebuah kedamaian hati yang telah lama.
"Sudah lama aku tidak memelukmu seperti ini, Ma. Rasanya tidak ada yang menandingi hangatnya tubuh Mama." Bahkan ia saat ini sudah berkaca-kaca dan juga merasa sesak di dada saat tidak bisa meluapkan rasa yang membuncah dan menguasai diri.
Jika beberapa saat yang lalu, Erina merasa sangat marah pada putranya karena meragukan kasih sayang sebagai seorang ibu yang selama ini mencurahkan sepenuh hati dan tidak pernah mengharapkan pamrih walau hanya sekecil apapun.
Namun, semuanya seolah sirna begitu mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh putranya.
Putra satu-satunya yang sangat disayangi, kini memeluk dengan sangat erat dan membuatnya tidak bisa berkutik karena merasa sangat terharu.
Bahkan ia saat ini tidak bisa menahan bulir air mata yang sudah menganak sungai menuruni pipi putihnya. Hingga beberapa saat kemudian, suara menyayat hati terdengar memenuhi ruangan kamar yang penuh keheningan tersebut.
Tubuh Erina bergetar sangat hebat ketika menangis tersedu-sedu saat masih dipeluk erat oleh putranya yang seolah enggan untuk melepaskan. Sudah cukup lama tidak merasakan kedekatan secara emosional dengan putra yang dilahirkan tersebut.
Jadi, sekarang seolah ingin meledakkan semua yang dirasakan. Ia hanya menangis tanpa memikirkan apapun lagi karena berharap setelah melakukan itu, perasaan terluka karena diragukan akan membaik.
Zafer sangat tidak tega mendengar wanita yang sangat disayangi menangis tersedu-sedu, sehingga memilih untuk melepaskan dan berjalan ke hadapan sang ibu.
Berharap perasaan wanita yang sangat disayanginya tersebut menjadi lebih baik dan mereka bisa berbicara dari hati ke hati tanpa ada emosi ataupun tangisan seperti ini.
"Jangan membuatku merasa bersalah, Ma." Zafer saat ini langsung menghapus bulir air mata yang mana sungai di wajah sang ibu dengan ibu jari begitu duduk di atas sofa.
Sementara itu, Erina hanya diam membiarkan putranya menunjukkan kasih sayang sebagai seorang anak dan membuatnya merasa sangat terharu.
Hal yang sudah sangat lama tidak dilihat karena selama ini putranya lebih sibuk dengan bersenang-senang sendiri tanpa memikirkan bahwa ada seorang wanita lemah yang membutuhkan perhatian dan kasih sayang.
"Maafkan aku jika hari ini menyakiti perasaan Mama."
Beberapa saat kemudian, Erina yang sudah merasa lebih tenang setelah mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari putranya yang dianggap telah kembali seperti dulu.
"Mama selalu memaafkanmu sebelum kamu meminta maaf karena itu adalah tugas seorang ibu untuk menunjukkan bahwa kasih ibu tak terhingga sepanjang masa." Erina saat ini menepuk lembut lengan kekar putranya dan tentu saja sangat berbeda dengan beberapa saat lalu ketika memukul.
__ADS_1
"Mama juga minta maaf karena telah memukulmu saat marah."
Zafer hanya menggelengkan kepala karena tidak mempermasalahkan hal itu. Apalagi sudah terbiasa dengan pukulan dari, jadi seperti kebal dengan apapun.
"Aku juga sama, Ma. Sebelum orang tua meminta maaf, sudah terlebih dulu memaafkan." Zafer saat ini hanya diam ketika sang ibu beberapa kali mengusap lengannya.
Sebenarnya ingin sekali kembali membahas mengenai hal yang tadi ditanyakan, tetapi mengurungkan niat karena khawatir jika wanita yang sudah baik-baik saja tersebut akan merasa bersedih lagi ataupun marah, sehingga memilih untuk diam dan tidak lagi mempermasalahkan.
Namun, yang terjadi adalah justru sang ibu memulai pembicaraan mengenai Tsamara dan hanya didengarkan olehnya karena tidak ingin memotong pembicaraan wanita yang sangat disayanginya tersebut.
"Sebenarnya semua yang dikatakan oleh Tsamara benar, tapi tidak sepenuhnya karena yang terjadi adalah setelah Keanu lahir di dunia ini, penyakit yang diderita langsung hilang dan tidak pernah kembali. Mungkin dalam istilah kedokteran tidak ada penyakit bawaan bayi karena selalu mengatakan bahwa itu adalah jenis penyakit kelamin."
"Namun, faktanya, meskipun sudah diobati berkali-kali oleh Tsamara dulu, tetap selalu tumbuh lagi. Namun, setelah melahirkan, ia langsung sembuh tanpa memakai apapun. Padahal saat hamil, harus memakai obat luar dan dalam mulai dari sabun mandi khusus, salep, bedak dan sabun cuci khusus juga. Itu hanya sembuh sebentar saja dan kembali kambuh."
"Berbeda setelah Tsamara melahirkan, seolah penyakit itu terbang jauh dan enggan untuk kembali lagi. Mama menganggap itu bukan penyakit, tapi bawaan bayi, tapi memang dal istilah kedokteran terdengar sangat menakutkan." Erina saat ini melihat ekspresi dari wajah putranya.
Erina ingin mendengar bagaimana tanggapan dari putranya saat ini. "Begitu bayi keluar sudah langsung hilang dan kami memang sudah mengetahui hal itu, jadi tidak mempermasalahkan."
Tentu saja Zafer saat ini merasa kesal karena merasa seperti ditipu oleh Tsamara karena tidak menjelaskan bahwa sudah sembuh setelah melahirkan. Jika beberapa saat yang lalu, ia tertawa miris, tapi kali ini terbahak karena menyadari kebodohan.
Bahkan Zafer sudah bangkit dari posisi yang dari tadi duduk di sebelah sang ibu. Kini berdiri sambil menatap ke sembarang arah dengan tertawa terbahak-bahak.
"Wah ... luar biasa!"
Sementara itu, Erina hanya diam mengamati tingkah putranya yang sudah bisa diduga ekspresi setelah menjelaskan mengenai kebohongan sang menantu.
'Tsamara pasti akan merasa kesal padaku karena membuka rahasia. Mungkin ia berpikir bahwa Zafer tidak akan menceritakan hal ini padaku.'
'Menganggap semuanya akan aman dan tidak akan pernah disentuh oleh putraku,' gumam Erina yang saat ini malah merasa iba dengan putranya ketika tertawa terbahak-bahak seperti seorang pria yang tidak diinginkan karena Tsamara berbohong dengan berpikir tidak akan pernah disentuh.
To be continued...
__ADS_1