
"Ada hal penting yang ingin kusampaikan, tetapi melihat kamu makan seperti anak kecil, membuatku geram. Cepat makan yang banyak, agar segera sembuh dan tidak menyusahkanku. Semalam dokter menyuruhku memberikan obat untukmu, agar tidak semakin parah. Namun, kamu tidak bisa menelan dan keluar terus obatnya."
Zafer yang menyuapi Tsamara karena merasa kasihan saat melihat seperti tidak bertenaga sama sekali ketika memegang sendok. Kemudian memulai rencana untuk bisa melihat ekspresi Tsamara.
Tsamara sekali tidak membuka suara karena menunggu pria tersebut menyelesaikan cerita. 'Apa tuan Zafer akan mengatakan jika semalaman menjagaku? Aku harus menanggapi seperti apa?'
"Jadi, semalam aku memutar otak untuk bisa memberikan obat. Menemukan ide brilian dan akhirnya berhasil membuatmu minum obat saat tidak sadarkan diri. Ternyata saat pingsan pun, kamu sangat liar." Zafer tersenyum smirk dan melihat Tsamara kini berani menatap karena penasaran.
"Apa maksud Anda? Bahkan saat aku pingsan, sangat liar? Memangnya aku berbuat apa?" Mendadak Tsamara berpikiran buruk, jika telah melakukan hal tidak pantas.
Namun, begitu mendengar suara bariton Zafer yang mengatakan ide brilian tersebut, seketika membuatnya tersedak makanan yang ada di mulut.
"Aku masukkan ke dalam mulutmu dengan bibirku, baru kamu bisa menelan. Bukankah kamu menginginkan aku mengunakan cara itu?" Zafer tersenyum smirk saat merasa puas bisa melihat sikap Tsamara yang terlihat seperti salah tingkah dan memerah karena tersedak.
Tanpa berniat untuk memberikan air minum karena ingin sekalian mengungkapkan jika semalam tidur dengan posisi memeluk karena ingin memberikan kehangatan.
Namun, gagal melakukan itu saat ketukan pintu terdengar dan Zafer pun menoleh.
"Tuan Zafer supir datang untuk menjemput." Paijo datang dan melaporkan tentang apa yang dikatakan supir dari rumah utama. "Semua orang sudah datang dan sudah menunggu Anda."
Zafer yang saat ini menoleh pada jam dinding, mengerutkan kening karena acara masih dua jam lagi. "Kenapa mereka sangat berlebihan sekali? Bahkan waktunya masih lama. Aku sangat malas menunggu dan membuang-buang waktu berhargaku!"
Zafer kini meletakkan mangkuk ke pangkuan Tsamara. "Makan sendiri dan habiskan! Aku tidak ingin kamu pingsan lagi dan membuatku begadang!" Bangkit berdiri dan berjalan untuk menemui supir.
Tsamara yang masih merasa sangat bingung dengan apa yang ditunjukkan oleh Zafer barusan. "Apa maksud tuan Zafer sebenarnya."
"Bukankah di sini sudah jelas membuang waktu berharga? Justru di acara pernikahan akan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dengan keluarga?"
Tsamara kini mengingat tentang perkataan dari Zafer dan menyentuh bibirnya.
"Terkadang aku heran dengan semua yang ditunjukkan oleh pria itu. Tuan Zafer seperti seorang pria yang belum bisa menemukan jati diri. Mungkin akan mengetahui setelah mendapatkan masalah seperti yang kualami."
__ADS_1
Sementara itu, Zafer yang tadi sangat bersemangat untuk ketika berhasil mengerjai Tsamara begitu melihat tersedak dan wajah memerah, seperti merasa malu. Seolah menganggap jika kini tengah memiliki mainan baru.
Namun, kesenangan harus terganggu dengan kedatangan pelayan yang mengatakan menjemput. "Apa mereka semua berpikir aku adalah anak kecil yang harus dijemput?"
Zafer yang masih dengan percaya diri memakai handuk sebatas pinggang, menemui sang supir yang menunggu di teras depan dan terlihat langsung bangkit berdiri dan membungkuk hormat.
"Selamat pagi, Tuan. Tuan Adam menyuruh saya menjemput Anda." Sang supir merasa heran saat melihat sosok pria yang merupakan mempelai pengantin tersebut sama sekali belum siap.
Bahkan berjenggit kaget ketika mendapatkan kemurkaan dari pria baru saja mengeluarkan suara bariton.
"Lebih baik kau pergi dari sini sebelum aku menendangmu! Kau merubah mood-ku yang tadi baik menjadi buruk. Katakan saja pada papaku jika aku akan datang dengan mengendarai mobil sendiri." Zafer terakhir bergerak untuk mengibaskan tangan dan berbalik badan.
Namun, saat baru melangkah, mendengar suara tawa dari anak kecil dan akhirnya menoleh ke belakang.
Terlihat pelayan yang membawa kantong plastik berukuran besar, sedangkan anak kecil itu tidak berhenti tertawa. Seolah menjelaskan bahwa hari ini sangat bahagia dan pastinya membuat Zafer terdiam karena merasa heran.
"Dari mana saja kamu membawa anak ini? Kenapa jam segini baru pulang?" Zafer menatap dengan menyelidik karena merasa aneh. "Itu dari mana uangnya untuk membeli aneka macam Snack?"
Wanita paruh baya tersebut kini merasa sangat khawatir jika majikan marah. Kemudian memilih untuk menjelaskan kejadian di taman tadi.
"Saya pun membelikan dah tuan Keanu malah mengambil banyak Snack saat tidak membawa uang cukup. Saya merayu agar membeli satu atau dua saja, tetapi menangis dan mungkin karena merasa iba, ada seseorang yang membelikan ini semua."
Selama bekerja di rumah itu, inilah pertama kali berbicara dengan majikan panjang lebar seperti itu. Biasanya tidak pernah karena memang jarang berinteraksi karena kesibukan.
Meskipun sedikit heran karena ada perubahan signifikan yang ditunjukkan oleh pria itu. Namun, berpikir jika itu adalah sebuah hal baik.
Penjelasan panjang lebar dari pelayan tersebut tidak membuat Zafer merasa bosan, tetapi semakin penasaran. "Laki-laki atau perempuan?"
"Iya, Tuan? Maksudnya yang membayar ini?" Sumi takut salah jawab, jadi balik bertanya.
"Iya," sahut Zafer singkat.
__ADS_1
"Laki-laki, Tuan."
"Tua atau muda?" Mendadak Zafer merasa semakin ingin tahu.
"Muda."
"Pakaian kantor atau biasa?"
"Kantor." Sumi semakin bertambah heran karena hal yang dianggap tidak penting, seolah sangat penting bagi majikan.
'Sebenarnya apa yang dipikirkan oleh tuan Zafer? Kenapa hal seperti ini saja harus ditanyakan.'
Saat berpikir jika tidak ada lagi pertanyaan yang dijawab, Sumi berpamitan karena ingin melihat majikan perempuan. Apakah masih sakit atau sudah lebih baik.
Namun, langkah kaki terhenti ketika mendengar suara bariton yang kembali bertanya.
"Apakah kamu tadi menanyakan tentang nama pria itu setelah mengucapkan terima kasih?"
"Iya, Tuan."
"Siapa namanya?" Zafer semakin ingin tahu, meskipun tidak tahu kenapa merasa penasaran.
Sampai Zafer pun mengerti apa alasan di balik penyebab rasa penasaran yang mengganggu.
"Rey. Nama pria itu adalah tuan Rey dan terlihat berusia lebih muda dari Anda, Tuan Zafer. Apakah saya boleh memeriksa nyonya Tsamara dulu?" Sumi merasa jika sikap sang majikan sangat aneh hari ini, tapi memilih untuk menjawab dengan jujur.
Sementara itu, Zafer refleks mengibaskan tangan dan masih berdiri di tempat karena tengah memikirkan sesuatu yang sangat menggangu.
"Apakah ini seperti yang kupikirkan?" Zafer kini memilih untuk melangkahkan kaki menuju ke ruangan kamar dan ingin memeriksa sesuatu.
"Rasanya nama itu sangat tidak asing dan aku harus membuktikan kebenaran dari pemikiranku ini." Zafer terus mencari dan berpikir jika yang saat ini terjadi adalah sebuah hal yang sama sekali tidak kebetulan.
__ADS_1
Beberapa laci telah dibuka dan tidak menemukan amplop coklat yang dulu diberikan oleh detektif. "Di mana aku menaruh itu?"
To be continued...