
Saat melihat Rayya hanya diam mengunci rapat bibir, Zafer saat ini mengetahui jika perasaan wanita itu sedang tidak baik-baik saja, jadi memilih untuk merayu dengan perbuatan. Ya, tentu saja ia tahu bahwa kelemahan Rayya adalah sentuhan dan cumbuan.
Jadi, berpikir jika saat ini menuruti keinginan sang istri untuk menyalurkan gairah akan berhasil mengobati kekesalan wanita itu. Kini, Zafer memilih untuk naik di atas ranjang dan bersiap untuk menelusuri setiap sudut kulit wanita yang masih diam membisu di atas ranjang.
Namun, saat hendak mencium bibir Rayya mendapat penolakan.
Rayya yang merasa mood untuk bercinta seketika hilang, refleks langsung menahan bibir tebal pria yang selalu berhasil memantik amarah tersebut dengan jemari.
"Stop! Aku sekarang tiba-tiba sudah kehilangan gairah begitu mendengar kabar buruk ini. Mungkin bagimu, ini adalah hal yang sepele, tapi tidak untukku. Aku sebenarnya ingin berpura-pura tidak mempermasalahkan hal itu, tapi ternyata tidak bisa."
Rayya kemudian menurunkan telapak tangan yang dari tadi berada di bibir tebal Zafer. "Aku hanya manusia biasa yang mempunyai rasa cemburu saat suami sekaligus ayah dari anak-anakku memberikan kamar utama pada wanita yang juga berstatus sebagai istri itu."
Tidak ingin semakin membuat perasaan Rayya buruk, Zafer merengkuh tubuh itu dan memeluk dengan sangat erat. Jujur saja merasa sangat bersalah dan tidak tega pada Rayya, tapi juga tidak bisa berbuat apa-apa.
Zafer pun merasa jika orang tua akan memerintahkan untuk Tsamara tinggal di kamar utama karena merasa iba pada wanita cacat yang juga sedang sakit itu.
Meskipun sebenarnya itu pun hanya alasan semata karena Zafer merasa sangat aneh karena sekarang merasa tidak tega jika menyakiti Tsamara.
Perasaan aneh itu ingin dipastikan oleh Zafer dengan berbicara secara empat mata pada Tsamara saat nanti pulang dari rumah sakit.
"Sayang, maafkan aku. Tentu saja aku mengetahui kamu saat ini merasa kesal dan marah, tapi memang harus seperti ini. Anggap saja kamu sedikit memberikan toleransi pada Tsamara karena wanita itu sedang sakit."
"Lagipula kamu sudah mendapatkan apapun yang diinginkan, bukan? Menikah dan sekarang anak-anak kita sudah tidak akan dihina tanpa ayah atau pun kamu hamil diluar nikah. Hanya dibutuhkan sedikit lagi kesabaran sampai aku bisa menyelesaikan masalah ini."
Zafer berbicara sambil sibuk mengusap lembut punggung wanita yang dari tadi hanya diam saja tersebut. Berharap Rayya tidak akan marah atau pun mempermasalahkan tentang hal yang berhubungan dengan ruangan kamar.
__ADS_1
Sementara itu, Rayya yang kini masih berusaha sekuat tenaga untuk menormalkan amarah yang membuncah dan seolah mengalir di setiap urat syaraf, berusaha untuk mengambil napas teratur.
Tentu saja Rayya berpikir jika saat ini sikap Zafer sudah berubah lemah pada Tsamara dan sangat kecewa. Apalagi belum menemukan apa yang membuat pria yang masih memeluk erat tersebut tidak lagi membenci Tsamara seperti dulu.
Jika dulu berpikir setelah berhasil menikah dengan Zafer, semua selesai dan kemenangan berada di tangan, tapi ternyata semua tidak terjadi dan malah muncul masalah baru yang lebih pelik, sehingga saat ini Rayya benar-benar sangat murka.
Namun, harus berpura-pura tidak mempermasalahkan perubahan sikap Zafer agar tidak ilfil jika nanti marah.
"Apakah kamu tidak bisa menunda memberitahuku sampai wanita cacat itu keluar dari rumah sakit? Bukankan kamu bisa mengatakan jika kamar utama akan menjadi tempat Tsamara setelah kita selesai bercinta atau ketika wanita itu pulang?"
"Kenapa saat tidak ada orang tuamu pun, kamu bersikap seperti anak kecil patuh dan penurut? Ini bukan seperti dirimu, Zafer. Rasanya aku tidak bisa berpikir untuk mencari tahu apa alasan sikapmu tiba-tiba berubah."
Rayya saat ini seperti tidak bisa mentolerir lagi atas sikap Zafer dan memilih untuk menarik diri dan juga mendorong dada bidang itu.
"Pergilah! Aku ingin sendiri di sini. Aku tidak ingin marah padamu dan melampiaskan rasa cemburu dengan mengumpat. Berikan aku waktu untuk bisa berpikir jernih dan agar perasaanku lebih baik."
Sementara itu, Zafer hanya diam tak berkutik di tempat dan masih menatap ke arah sosok wanita yang saat ini diketahui tengah menahan marah.
Tidak ingin semakin membuat Rayya kesal, Zafer memilih untuk menuruti perintah dari sang istri dan beranjak dari atas ranjang.
"Baiklah. Aku berada di kamar sebelah. Jika membutuhkan sesuatu, telpon saja. Beristirahatlah dan tenangkan pikiran."
Kemudian Zafer kini beranjak turun dari ranjang dan setelah sekilas menatap wanita yang memunggungi tersebut, kini meraih selimut tebal berwarna abu-abu untuk menutupi tubuh Rayya.
Setelah menyelimuti sang istri, ia berbalik badan dan melangkahkan kaki menuju ke arah pintu keluar. Namun, saat tangan hendak membuka kenop pintu, suara ketikan pintu terdengar.
__ADS_1
Refleks Zafer membuka pintu dan melihat ada pelayan wanita paruh baya sudah berdiri di hadapan. "Ada apa?"
"Tuan Zafer, ada pesan dari tuan Adam mengenai nyonya Tsamara," ujar wanita paruh baya tersebut yang tadi baru saja mendapatkan telpon dari majikan utama.
Refleks Zafer menoleh ke arah belakang untuk memastikan Rayya tidak merasa terganggu dengan perkataan pelayan. Begitu merasa aman karena posisi wanita itu masih tidak bergerak karena memunggungi, akhirnya ia memilih untuk keluar dan menutup pintu.
Tentu saja tidak ingin suara pelayan wanita yang menjelaskan mengenai Tsamara terdengar oleh Rayya dan kembali membuat sang istri kedua marah.
Begitu berjalan menjauh dari kamar, kini Zafer menatap pelayan tersebut. "Sekarang katakan apa pesan dari papa?"
"Iya, Tuan. Barusan tuan Adam menelpon untuk mengatakan pada Anda bahwa nyonya Tsamara saat ini menginginkan pulang dan tidak mau dirawat di rumah sakit. Jadi, sebentar lagi pulang." Wanita paruh baya tersebut menunggu tanggapan dari sang majikan, tetapi malah mendapatkan sebuah pertanyaan.
"Lalu apa perintah papa?" Zafer sebenarnya sudah bisa menebak, tapi ingin memastikan.
"Mohon maaf, karena hanya menyampaikan pesan dari tuan Adam. Tadi tuan besar menyuruh saya untuk mengatakan bahwa nyonya Tsamara akan pulang ke rumah ini dan tinggal di kamar utama. Jadi, tuan Adam berpikir jika nyonya Rayya ada di ruangan Anda, jadi Anda disuruh untuk mengatakan agar pindah."
Wanita paruh baya tersebut sebenarnya tadi mengetuk ruangan kamar pria itu, tapi tidak mendapatkan jawaban dan akhirnya berpikir ada di kamar istri kedua. Tentu saja merasa lega, karena sang majikan tidak perlu susah payah menyuruh keluar wanita yang baru saja dinikahi tersebut.
Namun, tetap ingin mengatakan pada majikan karena merupakan tugas setelah mendapatkan perintah.
Entah mengapa Zafer merasa senang karena ternyata apa yang tadi dijadikan alasan pada Rayya menjadi kenyataan.
'Jika seperti ini, Rayya tidak akan marah lagi, bukan? Karena Tsamara benar-benar akan tinggal di kamarku atas perintah papa,' gumam Zafer yang saat ini mengibaskan tangan pada pelayan untuk pergi karena sudah mengerti.
Kemudian masuk ke dalam ruangan kamar yang selama ini menjadi tempat favorit dan akan ada seorang wanita berada di sana, tak lain adalah istri pertama.
__ADS_1
To be continued...