Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Demi kebaikan bersama


__ADS_3

Zafer terbangun dari alam bawah sadar begitu indra pendengaran mendengar suara ketukan pintu dan juga memanggil namanya. Saat perlahan membuka mata, ia masih terdiam di atas ranjang ketika mengumpulkan kesadaran dan tidak langsung bangun untuk bangkit berdiri membuka pintu.


Mengetahui bahwa ketika bangun tidur, tidak boleh langsung berdiri karena akan terjadi hal-hal buruk seperti tiba-tiba pandangan kabur dan pusing. Hingga semua yang dilihat terasa gelap dan terjatuh.


Itu semua pernah dialami ketika masih berusia muda dan tidak ingin mengulangi kesalahan, sehingga menjeda bangkit berdiri setelah bangun tidur untuk menyadarkan diri sendiri terlebih dahulu.


"Ada apa papa pagi-pagi sudah membuat keributan dengan membangunkanku? Apakah akan memarahiku karena tidur di sini?" Zafer bangkit dengan wajah masam saat menatap ke arah jam di dinding masih menuju kan pukul lima pagi.


"Astaga! Masih jam segini, papa membuat keributan!" Zafer yang merasa sudah cukup waktu untuk mengumpulkan kesadaran, bangkit dari ranjang dan berjalan untuk membuka pintu.


Begitu melihat sosok pria yang berdiri menjulang di hadapannya tersebut, hanya dihadapi dengan wajah datar. "Ada apa, Pa? Bahkan ini masih pagi malah sudah membangunkanku? Tidak biasanya melakukan itu."


Zafer kemudian berjalan ke dalam lagi setelah sang ayah memberikan sebuah kode akan berbicara dengan menutup pintu. Seolah pembicaraan mereka tidak ingin didengar oleh siapapun.


"Hari ini ada rekan bisnis yang akan datang ke perusahaan pagi-pagi sekali. Jadi, kamu tidak boleh datang terlambat. Klien itu sangat penting dan akan menguntungkan karena mempercayakan dan investor terbesar pada perusahaan kita."


"Memangnya pukul berapa klien itu datang ke kantor?" tanya Zafer yang saat ini tengah membuat gerakan menyisir rambut dengan jemari.


Adam saat ini berjalan mendekati putranya dan meraih ponsel yang berada di saku celana. "Kamu harus datang sebelum jam sembilan pagi. Makanya Papa sekarang membangunkanmu karena ingin membicarakan sesuatu yang penting."


Zafer tidak membuka mulut karena ingin mendengarkan semua yang diungkapkan oleh sang ayah karena merasa sangat penasaran.


"Jadi, klien bisnis itu mempercayakan tender besar kepada perusahaan kita. Hanya saja berada di luar kota. Karena Papa tidak mungkin pergi ke sana. Jadi, kamulah yang akan mengurus dan mengawasi semua agar berjalan dengan lancar." Adam berhenti sesaat untuk melihat respon dari putranya yang dari tadi mengunci rapat bibir.

__ADS_1


Kemudian melanjutkan perkataan untuk menyampaikan niat membangunkan putranya tersebut. "Jadi, kamu harus berada di sana sampai selesai. Mungkin sekitar satu bulan lamanya."


Jika biasanya Zafer merasa senang jika mendapatkan tugas ke luar kota karena sang ayah mempercayai kemampuan, tetapi kali ini sangat berbeda karena sangat kecewa. Entah mengapa merasakan hal itu, ia pun tidak tahu alasannya.


Hanya saja, saat ini seolah terasa berat meninggalkan rumah selama satu bulan ke depan. 'Kenapa rasanya seperti ini? Tidak biasanya aku malas mengurus pekerjaan di luar kota.'


'Padahal biasanya aku sangat senang karena akan bebas tanpa omelan orang tua yang sangat cerewet dan selalu saja menyusahkan.'


Saat ia masih sibuk dengan pikiran sendiri, lamunan sirna begitu disadarkan oleh suara bariton dari sang ayah.


"Kamu pergi saja bersama Rayya karena dia sedang hamil dan ingin mendapatkan perhatianmu. Lagipula tidak mungkin Rayya mengizinkanmu pergi tanpa ikut. Jadi, Papa sudah mempertimbangkan hal ini dan semua masalah akan beres jika istrimu bersamamu."


Adam merasa heran ketika putranya dari tadi mengunci rapat bibir dan tidak berkomentar apapun. Jadi, berpikir bahwa Zafer sedang memikirkan nasib para istri di rumah, sehingga langsung mengungkapkan ide agar putranya tersebut tidak lagi merasa kebingungan.


Zafer yang tersadar dari lamunan, seketika mengungkapkan alasan demi membohongi sang ayah. "Aku hanya merasa terlalu cepat, Pa. Lagipula bukankah beberapa hari lagi adalah anniversary kalian?"


"Jadi, aku ingin mengucapkan selamat pada kalian dan juga memberikan hadiah. Namun, jika berada di luar kota, tidak bisa melakukan itu, bukan?"


Sebenarnya bukan hal itu yang mengganjal pikiran Zafer, tetapi saat ini memikirkan sosok wanita yang ingin dibalas karena telah membohonginya. Namun, berpikir bahwa rencana akan gagal jika harus tinggal di luar kota selama satu bulan yang dianggap sangat lama.


'Kenapa harus sekarang? Rasanya aku benar-benar sangat malas karena tidak ingin pergi, tapi siapa lagi kalau bukan aku yang mengurus. Apalagi papa sudah cukup tua untuk melakukan perjalanan jauh,' gumam Zafer yang merasa mendapatkan angin segar begitu mendengar suara bariton pria paruh baya yang duduk di hadapan.


"Kamu akan pergi setelah hari ulang tahun pernikahan kami. Jadi, tidak perlu cemas dan masih ada waktu untuk bersiap. Makanya Papa mengatakan dari sekarang, agar kamu melakukan persiapan dan tidak mengatakan bahwa aku terlalu cepat mengabarimu."

__ADS_1


Kemudian Adam Dirgantara bangkit berdiri dari sofa yang ada di dalam ruangan kamar tamu tersebut. "Kamu perlu mengatakan ini pada Rayya juga. Aku sangat yakin bahwa Rayya pasti akan senang karena tidak akan lagi merasa terganggu dengan Tsamara."


Saat sang ayah menyebut nama Tsamara, Zafer kembali tersulut kemurkaan ketika mengingat kebohongan wanita itu yang jelas-jelas menunjukkan bahwa tidak ingin disentuh olehnya.


'Aku sepertinya bisa memanfaatkan waktu satu minggu ini untuk memberikan pelajaran, tapi kira-kira apa dan bagaimana? Aku harus mencari ide untuk membuat wanita itu sadar karena tidak berhak menolak seorang Zafer Dirgantara. Saat aku menginginkan apapun, harus bisa kudapatkan.'


Zafer saat ini ikut bangkit berdiri karena berniat untuk pergi mandi. Tentu saja karena akan berangkat awal ke kantor agar tidak terjebak macet di jalanan. Itu karena waktu pagi hari semua orang berangkat bekerja dan pastinya jalanan akan dipenuhi dengan lalu lalang kendaraan.


Saat Zafer membuka pintu kamar mandi, kembali mendengar suara bariton dari sang ayah yang mengungkapkan sesuatu.


"Zafer!" panggil Adam Dirgantara sebelum membuka pintu ruangan kamar untuk keluar karena ada sesuatu yang terlupakan.


Zafer seketika berbalik badan dan ingin melihat apa yang disampaikan oleh pria paruh baya di dekat pintu tersebut. "Iya, Pa."


"Mengenai Tsamara, sepertinya sebentar lagi kamu harus bersiap untuk menceraikannya. Keinginanmu akan terwujud karena setelah Tsamara bisa berjalan, harus membebaskannya. Tsamara mengatakan padaku bahwa ingin keluar dari rumah ini dan membiarkanmu dan Rayya hidup bahagia."


"Jadi, itulah sebabnya Tsamara mengarang sebuah cerita mengenai penyakit yang diderita dan sepertinya kamu harus sadar apa maksudnya melakukan hal itu. Jangan mencoba untuk mendekati Tsamara karena ia tidak menginginkanmu. Apalagi jika sampai kamu memaksanya untuk melayanimu di atas ranjang, Papa akan memberikanmu pelajaran."


Adam Dirgantara saat ini melihat respon dari putranya yang membulatkan mata dan sudah bisa ditebak isi otak Zafer. Hal yang menjadi alasan Tsamara mengarang sebuah hubungan adalah berhubungan dengan kegiatan intim yang biasa dilakukan oleh sepasang suami istri.


Jadi, tidak ingin jika Tsamara merasa terpukul dengan paksaan dari Zafer karena merasa dendam setelah dibohongi. Tentu saja Adam sangat mengetahui seperti apa sifat putranya tersebut yang suka dendam pada orang lain.


Jadi, sebelum terjadi hal buruk, mengatakan hal itu demi kebaikan bersama. Kemudian mendengar suara tawa lebar dari Zafer yang seolah tengah membantah apa yang baru saja dikatakan.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2