Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Dunianya yang hancur


__ADS_3

Rayya kembali menelan pil pahit kekecewaan karena seperti yang sebelumnya bahwa nomor yang dihubungi tidak aktif dan hanya mendapatkan jawaban dari operator telpon.


Mendadak perasaan Rayya dipenuhi oleh firasat buruk dan saat ini menatap ke arah wanita yang masih belum beranjak pergi dari sana.


"Apa yang sebenarnya terjadi pada saya? Lalu, apakah saat operasi tadi, dua janin yang ada dalam rahimku bisa diselamatkan?"


Rayya ingin sekali wanita itu langsung mengiyakan pertanyaannya untuk membenarkan, tapi ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan dan membuatnya sangat khawatir.


"Saya hanyalah seorang perawat yang mengecek kondisi Anda, Nyonya. Mengenai penjelasan mengenai hasil operasi, dokter yang akan menjelaskan. Saya akan memanggil dokter untuk memeriksa Anda."


Sang perawat yang baru saja mencatat beberapa poin yang merupakan tugas utamanya, kini tersenyum dan berbalik badan untuk meninggalkan pasien wanita yang sangat malang karena sama sekali tidak ditemani oleh siapapun.


Rayya hanya menatap kosong pada siluet wanita yang sudah menghilang di balik pintu. Kini, cukup jantungnya tidak beraturan karena dikuasai oleh berbagai macam firasat buruk mengenai dirinya.


"Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Kenapa aku bisa tiba-tiba sakit perut dan sampai berakhir dioperasi di rumah sakit?" Rayya berusaha untuk menghibur diri sendiri agar tidak berpikiran buruk.


Sebenarnya saat ini ia ingin berteriak meledakkan amarah yang membuncah di dada karena sendirian di dalam ruangan rumah sakit tanpa ada satupun orang yang menemaninya hingga tersadar.


Namun, tubuhnya benar-benar sangat lemah serta lidahnya seolah keluh untuk sekedar berbicara, apalagi untuk berteriak.

__ADS_1


"Raymond, kamu tidak meninggalkanku, bukan? Bukankah kamu sudah berjanji akan selalu mencintaiku dan kita akan hidup bahagia selamanya?"


Rayya bahkan saat ini berurai air mata ketika pikirannya dipenuhi oleh kekhawatiran jika sampai pria yang telah berjanji untuk menikahinya, ternyata pergi meninggalkannya.


Rayya bahkan kini menggelengkan kepala berkali-kali untuk tidak membenarkan pemikiran buruk yang sempat terlintas.


Hingga ia seketika mengusap kulit air mata di wajahnya dengan kasar begitu melihat seorang pria paruh baya dengan jas putih serta wanita yang tadi berbicara dengannya.


"Selamat malam, Nyonya. Syukurlah Anda sudah sadar dan selamat dari masa kritis. Apa yang saat ini Anda rasakan?" tanya dokter yang mendekat serta memeriksa keadaan pasien dengan stetoskop.


Karena pikirannya sudah dipenuhi oleh beragam pertanyaan yang membutuhkan jawaban, Rayya tidak ingin berbasa-basi karena hanya ingin mengetahui apa yang terjadi dengannya.


Sang dokter saat ini tidak langsung menjawab karena tengah mempertimbangkan jawaban dari pertanyaan wanita yang masih terlihat sangat pucat itu.


Ia khawatir jika keadaan pasien akan semakin drop setelah mengetahui kabar buruk yang menimpa. Hingga ia mendengar suara dari pasien yang histeris.


"Cepat katakan padaku atau aku akan menuntut rumah sakit ini, Dokter!" Rayya benar-benar tidak sabar untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi padanya, sehingga Raymond yang tadi menunggunya sudah pergi tanpa pesan serta menonaktifkan ponsel.


Mengerti dengan apa yang dirasakan oleh pasien dan tidak ingin membuat masalah begitu melihat kemurkaan dari wanita itu, kini sang dokter perlahan menjelaskan dengan sangat hati-hati agar tidak sampai membuat pasien shock.

__ADS_1


"Anda mengalami pendarahan dan terpaksa dua janin yang ada di rahim Anda harus diangkat karena sudah tidak bisa lagi diselamatkan. Juga, karena pendarahan yang sangat banyak serta terjadi masalah pada rahim Anda."


"Semua itu untuk menyelamatkan nyawa, jadi harus mengangkat rahim Anda demi kebaikan." Sang dokter seketika langsung menyuruh perawat untuk memberikan suntikan penenang begitu melihat pasien memukul ranjang berkali-kali.


"Tidak! Itu tidak mungkin! Aku masih bisa hamil dan punya anak dengan Raymond!" Rayya benar-benar merasa sangat shock mengetahui bahwa sesuatu yang ingin diketahui ternyata menghancurkan hatinya.


Ia bahkan kini mulai mengerti kenapa tiba-tiba Raymond tidak terlihat lagi dan menonaktifkan ponsel. "Raymond, kamu tidak pergi setelah mengetahui aku tidak bisa mempunyai keturunan, bukan?"


Karena ingin memastikan sesuatu yang ada di pikirannya, seketika ia menatap ke arah sang dokter saat pandangannya hampir gelap.


"Apa teman saya mengetahuinya, Dokter?" Rayya seketika merasa lemas begitu melihat sang dokter menganggukkan kepala untuk membenarkan pertanyaannya.


"Iya, Nyonya karena tadi hanya ada teman Anda di depan ruang operasi."


"Tidak mungkin!" teriak Rayya yang merasa seketika dunianya hancur setelah mengetahui penyebab Raymond tiba-tiba menghilang.


Hingga lama-kelamaan pandangannya semakin gelap dan kehilangan kesadaran.


Sementara itu, dokter dan perawat yang saat ini saling bersitatap, seolah mengerti apa yang sedang dirasakan oleh wanita tersebut saat merasa hancur ketika mengetahui rahimnya diangkat dan tidak akan pernah bisa punya keturunan.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2