Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Bisa makan sendiri


__ADS_3

Selama satu tahun, Tsamara bertahan dalam rumah tangga yang hampir dipenuhi oleh ancaman setiap hari, agar Rey tidak pergi. Tidak ada lagi kebahagiaan seperti ketika menjalin kasih.


"Memang menjalin kasih selalu sangat indah, berbeda setelah menikah karena sudah mengetahui semua hal dan mengalami banyak badai kehidupan dalam membangun biduk rumah tangga."


Ia mengeluh saat berniat untuk bangkit duduk dan bersandar di punggung ranjang. Kepala yang pusing menjadi penyebab kesusahan ketika hendak mengangkat tubuh.


Hingga beberapa saat kemudian, melihat pelayan datang membawa nampan dan kantong plastik berisi obat.


Paijo pikir, di dalam kamar masih ada sang majikan pria, jadi dengan percaya diri masuk ke dalam kamar. Ingin kembali, tetapi sudah terlanjur dan berpikir akan segera keluar setelah memberikan bubur.


"Maaf, Nyonya karena lama. Tadi istri saya sudah menyiapkan bubur untuk sarapan dan saya sudah menghangatkan. Jadi, saya ambilkan sekalian, agar bisa minum obat. Kalau menunggu Sumi, nanti Anda lapar."


"Terima kasih. Taruh saja di sini!" Tsamara menepuk ranjang sebelah kiri dan berpikir akan makan dengan posisi berbaring karena tidak bisa bangkit sendiri untuk duduk.


Paijo mengangguk perlahan dan melaksanakan perintah dari sang majikan. Setelah menaruh nampan di dekat pembaringan, berpamitan karena merasa tidak pantas berada di kamar majikan wanita.


Meskipun usia majikan seumuran dengan putri sendiri. Bahkan menganggap jika wanita itu bagaikan putri kandung dan tidak merasakan apapun. Namun, terkadang pikiran orang lain berbeda dan tidak semuanya positif thinking.


Paijo yang baru melangkah pintu, menoleh ke belakang dan melihat majikan makan dengan posisi masih tidur telentang, merasa sangat iba.


'Ya Tuhan, kasihan sekali nyonya Tsamara karena tidak ada yang menyuapi saat sakit. Harus makan sendiri dalam posisi seperti itu, pasti sangat tidak nyaman. Sikap tuan Zafer sangat berbeda saat nyonya pingsan dan sadar.'


Merasa iba dan ingin membantu, Paijo berharap jika sang istri segera pulang dan gantian menyuapi majikan. "Jika aku perempuan, sudah menyuapi tanpa pikir panjang. Kenapa tuan Zafer tidak sekalian melakukan itu karena memang nyonya Tsamara masih sakit."


Saat Paijo berdiri di teras depan menunggu sang istri yang tak kunjung kembali, hal berbeda kini terlihat di ruangan pribadi Zafer.

__ADS_1


Pria yang saat ini baru saja selesai mandi dan masih berdiri di depan cermin kamar mandi, mengamati wajah sendiri. Setelah mendengar perkataan Tsamara yang terlihat sangat santai, merasa seperti menjadi seorang pria tidak menarik.


Beberapa kali ia mengarahkan tangan yang berada di antara dagu sendiri tersebut ke kiri dan ke kanan.


"Kenapa ia seperti tidak pernah merasa tertarik dengan ketampananku? Padahal di luar sana banyak wanita cantik, seksi, normal karena tidak cacat, tapi merasakan ketertarikan padaku saat pertama kali melihat. Sementara Tsamara tadi dengan sangat tenang dan percaya diri mengucapkan selamat saat aku mau menikah."


Zafer kini tertawa terbahak-bahak saat mengingat ekspresi Tsamara yang dianggap sangat menyebalkan.


Merasa sangat kesal ketika mengingat hal itu, refleks ia mengempaskan semua peralatan di kamar mandi hingga jatuh berserakan di lantai basah itu. Kemudian sekali lagi melihat penampilan yang hanya memakai handuk sebatas pinggang menampilkan data bidang dan otot-otot kencang.


"Rasanya harga diriku terluka karena Tsamara! Aku harus mengatakan kejadian semalam bahwa meminumkan obat dengan menggunakan mulutku. Aku ingin tahu seperti apa ekspresi wajah wanita yang seperti tidak punya perasaan itu."


Tanpa memperdulikan penampilan yang masih hanya memakai handuk karena memang sengaja ingin menunjukkan pada Tsamara, bahwa merupakan seorang pria menarik yang memiliki banyak kelebihan dan selama ini digilai banyak wanita.


Saat kaki panjangnya baru melangkah pintu, melihat Tsamara tengah mengulurkan tangan dengan posisi masih telentang untuk menggapai gelas yang berisi air putih. Bahkan dilihat dari jauh pun, sudah bisa menebak jika gelas itu pasti akan jatuh.


"Dasar wanita yang menyusahkan!" sarkas Zafer ketika sudah berada tepat di sebelah ranjang dan menatap Tsamara yang masih terbaring di ranjang dan ada nampan bubur yang hanya dimakan sedikit.


"Kenapa tidak berteriak pada pelayan untuk membantu? Inilah akibat dari perbuatanmu. Gelas jadi pecah dan lantai basah penuh dengan pecahan kaca. Bagaimana jika melukai kakiku?" Zafer tadi berniat menolong, tetapi terlambat, jadi meluapkan emosi pada wanita yang saat ini tengah memalingkan wajah.


Seolah tidak ingin menatap dan tentu saja mengetahui penyebab hal itu. Bahwa Tsamara merasa gugup melihat tubuh seksi yang sangat dibanggakan.


'Aku yakin pikirannya saat ini sangat kotor ketika melihatku setengah telanjang seperti ini,' gumam Zafer yang kini semakin menikmati permainan ketika mengerjai Tsamara.


Sementara itu, Tsamara yang tadi merasa tidak nyaman pada tenggorokan setelah makan tiga sendok, berniat untuk minum, tetapi gagal mengambil dan malah mendapatkan kemurkaan pria yang tiba-tiba masuk dengan tubuh setengah telanjang.

__ADS_1


Merasa ternodai mata sekaligus terkejut, Tsamara memilih untuk meraih sendok dan menatap ke arah makanan. "Aku tidak ingin menyusahkan pelayan yang sedang sibuk."


"Apalagi aku tahu jika tadi Paijo mengatakan bahwa istrinya tengah menyuapi Keanu di taman." Kembali menyuapkan sendok berisi bubur ke dalam mulut.


Zafer yang langsung berjongkok untuk membersihkan pecahan gelas karena berpikir akan sangat berbahaya jika sampai menancap pada kaki Tsamara yang sudah cacat.


"Sepertinya aku harus menambah satu orang untuk merawat Keanu, agar kau tidak menyusahkan seperti ini." Zafer menaruh pecahan gelas di dalam plastik yang tadi di dalamnya ada obat. Tentu saja setelah menaruh obat di atas nakas.


Kemudian ia yang kini bangkit berdiri, mendapatkan sebuah pertanyaan yang mengingatkan tujuan datang ke sana.


"Kenapa Anda ke sini? Apa ada yang dibutuhkan?" tanya Tsamara yang kini masih tidak berani menatap Zafer di sebelah kiri.


Namun, tidak bisa menghindar lagi begitu pria yang dianggap suka mengumbar tubuh itu malah mendaratkan tubuh di dekat ranjang dan tepat di sebelah nampan, sehingga jika menatap ke sana, jelas terlihat lutut dan perut dari pria dengan handuk tersebut.


Dengan sangat santai, Zafer berada di hadapan Tsamara. "Kenapa kamu tidak makan dengan duduk? Itu, juga kenapa makan hanya setengah sendok? Kapan habisnya jika caramu sangat lambat seperti siput?"


Kemudian Zafer bangkit berdiri dan mengangkat tubuh Tsamara, agar duduk dengan bersandar di punggung ranjang.


Tsamara menjerit kecil karena sangat shock dengan ulah tiba-tiba dari Zafer. Apalagi bola mata yang akhirnya fokus pada satu titik, yaitu dada bidang yang ditumbuhi bulu-bulu halus.


'Apa mau pria ini sebenarnya? Kenapa datang ke kamarku dengan penampilan seperti ini?' lirih Tsamara yang makin dikejutkan dengan apa yang dilakukan oleh Zafer karena sudah mengangkat mangkuk berisi bubur dan menyuapkan satu sendok.


"Apa yang Anda lakukan sebenarnya? Aku bisa makan sendiri, tidak perlu disuapi. Tadi memang susah untuk duduk sendiri karena kepalaku pusing. Terima kasih karena sudah membantuku duduk. Ini sudah jam berapa? Cepat bersiap karena bisa terlambat ke ....."


Tsamara tidak bisa melanjutkan perkataan karena mulut penuh dengan bubur yang disuapkan oleh Zafer.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2