Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Stres


__ADS_3

"Syukurlah." Erina masih terus memijat dengan lembut sambil berbicara banyak hal karena ingin mengetahui lebih banyak mengenai menantu perempuan yang menjadi istri kedua putranya tersebut.


Sementara itu, Rayya menjawab seadanya dan beberapa kali berbohong karena tidak mungkin berbicara jujur saat wanita paruh baya tersebut bertanya mengenai hal yang paling dibenci, yaitu keluarga.


'Sebenarnya apa yang sedang direncanakan oleh wanita tua ini? Kenapa tiba-tiba bersikap baik padaku? Aku sangat yakin jika ada sesuatu yang diinginkan dariku,' gumam Rayya yang saat ini masih membiarkan wanita itu berbicara panjang lebar mengenai nasihat saat hamil.


Meskipun sebenarnya merasa sangat pusing dan menganggap jika mertuanya sangat cerewet karena ada banyak larangan yang baru saja diungkapkan.


'Bukan hilang rasa pusing yang kurasakan, tetapi malah bertambah karena nasihat panjang lebar dari wanita ini.'


"Pasti dokter sudah mengatakan bahwa ada banyak hal yang harus diperhatikan ketika sedang hamil di trimester pertama. Jadi, kamu harus menghindari melakukan Diet, aktivitas yang terlalu berat. Itulah kenapa aku datang karena ingin melihat apa yang kau lakukan."


Erina kini masih terus memijat dengan sangat lembut dan berusaha untuk menganggap Rayya seperti putri sendiri. Ada beberapa hal yang mengganggu pikirannya saat ini, yaitu mengenai kebiasaan buruk dari wanita itu dan ingin sekali menasehati, agar tidak membahayakan nyawa dari janin yang merupakan calon cucu.


"Aku tahu jika kamu suka pergi ke klab malam bersama Zafer. Pastinya sudah tidak asing dengan minuman beralkohol dan mungkin saja merokok, padahal biasa untukmu. Bukankah begitu?" Masih menatap intens ekspresi wajah pucat Rayya yang terlihat jelas seperti wanita hamil pada umumnya.


Sementara itu, Rayya saat ini hanya bisa menelan saliva dengan kasar karena berpikir bahwa mertua perempuan tersebut terlalu banyak berbicara. Bahkan ingin sekali mengumpat dan mengusir wanita itu.


'Padahal suasana hatiku tadi sudah lebih baik setelah berbicara dengan temanku, tetapi kembali berubah buruh gara-gara wanita tua ini yang sangat cerewet. Apa berpikir bahwa aku adalah wanita bodoh karena masih melakukan hal yang dilarang oleh dokter?'


'Aku tidak mungkin melakukan itu jika Zafer bersamaku terus. Jika suasana hatiku sedang buruk, akhirnya memilih jalan itu, yaitu mengkonsumsi minuman beralkohol.'


Saat sama sekali tidak mendapatkan respon dari apa yang baru saja dikatakan, kini Erina memilih untuk menghentikan pijatan dan beralih mengusap lembut punggung tangan Rayya.

__ADS_1


"Jadilah calon ibu yang baik untuk janin yang ada dalam kandunganmu ini. Tuhan telah memberikan kepercayaan padamu dan jaga dengan baik anugerah ini. Jangan menkonsumsi Nanas dan Durian karena itu akan membahayakan kandungan.


"Makan makanan mentah seperti sushi juga tidak disarankan. Untuk masalah merokok dan minum minuman beralkohol juga tidak boleh disentuh mulai hari ini. Apakah kamu mengerti?"


Saat Rayya mengingat satu hal yang terlewatkan dan tidak dikatakan oleh ibu dari Zafer, langsung mengungkapkan sesuai dengan penjelasan dari dokter kemarin.


"Iya, Ma. Aku akan mengingat pesan Mama, tapi sepertinya ada satu hal yang terlewatkan."


"Benarkah? Mungkin Mama lupa karena sudah tua. Memangnya apa satu hal yang kamu maksud?" tanya Erina yang kini masih berusaha untuk mengingat hal yang dilupakan, tetapi tidak menemukan dan memilih untuk menunggu jawaban dari menantunya tersebut.


Namun, jawaban wanita muda yang mengandung cucunya tersebut membuatnya seperti tertampar. Seolah sang menantu tengah mencoba untuk menyindir.


"Stres, Ma. Pengaruh stres pada wanita hamil tidak hanya terjadi pada janin. Namun, dapat berlanjut dan memberikan dampak negatif dari fase bayi hingga usia sekolah. Bahkan aku mendengar jika suatu studi epidemiologis menunjukkan bahwa stres dalam kehamilan dapat meningkatkan tingkat aborsi spontan, malformasi janin, dan kelahiran prematur."


"Jadi, kata dokter kemarin pada Zafer, tidak boleh membuatku merasa stres. Karena sekarang aku tidak hanya tinggal dengan Zafer, sepertinya itu berlaku pada semua orang yang ada di rumah ini, bukan? Tolong nasehati semua orang agar tidak membuatku merasa stres."


"Terutama Tsamara karena jujur saja saat melihat menantu pertama Mama itu, aku selalu merasa kesal dan marah. Maaf, karena mungkin ini adalah pengaruh hormon kehamilan."


Saat usaha tulus untuk menasehati karena berpikir demi kebaikan dari menantu perempuan tersebut, tetapi malah mendapatkan respon negatif, Erina kini merasa membuang waktu dan berpikir percuma bersikap baik pada Rayya.


"Kamu memang benar. Stres memang sangat berbahaya bagi ibu hamil. Baiklah, sepertinya kamu harus banyak beristirahat, agar tidak mengalami apa yang kau rasakan. Aku pun akan melarang Tsamara agar tidak menunjukkan wajah di depanmu."


Erina kini bangkit dari ranjang dan melirik sekilas. "Sepertinya aku juga telah membuatmu stres. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada cucuku. Jadi, mulai sekarang akan berusaha untuk tidak mengatakan apapun lagi."

__ADS_1


Baru saja menutup mulut, hendak berjalan keluar dari ruangan kamar tersebut, tetapi melihat pintu terbuka dan menampilkan Zafer yang melangkah masuk. Tentu saja melihat putra kesayangan yang selalu saja membuat masalah, ia kini mengarahkan tatapan tajam menusuk.


"Zafer, ada sesuatu yang ingin Mama bicarakan denganmu. Keluarlah!" Berjalan keluar melewati Zafer dan mengarahkan kode dengan dagu, agar ikut.


Sementara itu, Rayya yang tadi merasa menang melawan mertua perempuan yang sangat cerewet, tidak sepenuhnya senang karena kedatangan Zafer dan langsung disuruh keluar dengan alasan ingin berbicara secara empat mata.


"Ada apa, Ma?" teriak Zafer saat sang ibu berjalan keluar, tapi tidak mendapatkan jawaban.


Kemudian menoleh ke arah Rayya untuk mencari tahu sesuatu yang membuat sang ibu seperti marah. "Ada apa? Apa kalian bertengkar?"


Refleks Rayya menggelengkan kepala karena berpikir tidak bertengkar, tetapi hanya menyindir secara tepat sasaran. "Lebih baik tanyakan saja pada mamamu karena nanti tidak sesuai."


"Maksudnya?" Zafer makin dibuat pusing karena sebenarnya tadi berniat untuk beristirahat di dalam kamar setelah melatih otot-otot di ruangan gym.


Meskipun tadi sambil mendengarkan omelan dan ancaman dari sang ayah karena sikap kasar pada Tsamara


Sementara itu, Rayya hanya diam karena berpikir tidak ingin menjawab apapun yang semakin memancing emosi, sehingga mengibaskan tangan sebagai tanda pengusiran.


"Pergilah dan turuti perintah mamamu yang baru saja membuatku stres."


Tidak ingin makin mendapatkan omelan dari Rayya yang terlihat sangat kesal dan marah, kini Zafer memilih untuk menghindar, dengan terpaksa keluar dari ruangan kamar wanita dengan wajah masam itu.


'Jika setiap hari seperti ini, kepalaku bisa pecah menghadapi tiga wanita dan satu pria itu,' sarkas Zafer yang kini sudah berjalan keluar dan melihat sang ibu bersedekap dada di dekat anak tangga sambil mengarahkan tatapan tajam menusuk.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2