Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Menunggu


__ADS_3

Rayya seketika membulatkan mata begitu mendengar apa yang baru saja dikatakan Zafer. Bahkan seketika tubuhnya terasa sangat lemah sekarang.


“Apa kau bilang? Bukankah kau sendiri sudah sangat yakin dengan rencana yang kau buat? Kau juga sudah mengatakan kepadaku bahwa bukti itu sangat kuat dan akan membuat papamu percaya bahwa Tsamara bukanlah wanita yang baik."


"Kau sudah bilang bahwa akan segera bercerai dan kita akan segera kembali bersama, tapi jika seperti ini, apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan terhadap anak dalam kandunganku ini? Jawab aku, Zafer!”


Rayya menjadi semakin marah begitu mendengar pengakuan Zafer barusan. Kepalanya mendadak jadi semakin pening karena tidak bisa lagi berpikir secara positif.


Rayya yang baru mengetahui bahwa kehamilan mengubahnya menjadi lebih sensitif. Apalagi jika menyangkut tentang Zafer.


Ia tidak bisa melihat masa depannya bersama dengan pria yang duduk di hadapannya itu jika Zafer tidak segera menyelesaikan permasalahannya dengan Tsamara.


Jika saja wanita itu masih berada di antara mereka, yang ada nanti Rayya tidak akan pernah bisa menikah dengan Zafer.


“Zafer, aku ingin menanyakan satu hal padamu. Aku ingin kau menjawabnya dengan jujur,” kata Rayya dengan tatapan tajam.


Ia kali ini tidak lagi berteriak, tapi suaranya terdengar sangat serius, sehingga membuat Zafer mendengarkan dengan seksama.


Pria itu juga sekarang sedang pusing. Zafer bahkan sedikit bingung bagaimana caranya untuk bisa menjelaskan kepada Rayya tentang apa yang terjadi beberapa menit lalu.


Zafer tidak berniat menceritakan tentang pembicaraannya dengan sang ayah yang sempat membawa nama wanita itu karena tahu bahwa sang kekasih akan menjadi lebih sensitif lagi jika masih mengetahui dirinya tidak disukai oleh sang ayah.


“Kau ingin bertanya apa?”


Rayya kini bersedekap dada sembari menatap kekasihnya itu dengan sorot yang sangat serius.


“Jika kau diberikan pilihan untuk memilihku atau harta warisan, asalkan kau tidak menceraikan Tsamara, yang mana yang akan kau pilih? Apakah kau mau hidup bersamaku tanpa harta warisan? Atau kau lebih memilih untuk meninggalkanku, yang penting bisa mendapatkan semua harta tersebut?”


Tentu saja itu merupakan pilihan yang sangat sulit.


Akan tetapi, Zafer tidak perlu berpikir lebih dulu untuk menjawabnya. “Tentu saja aku memilihmu dan juga harta warisan. Keduanya tidak akan bisa aku pisahkan karena memang hal itu yang aku butuhkan dalam hidupku."


"Sementara untuk urusan Tsamara, aku bisa mencoba cara lain untuk menyingkirkannya. Jangan kau pikir aku sudah menyerah dan membiarkan wanita itu menguasaiku. Aku tidak akan pernah membiarkan hal itu sampai terjadi.”


“Aku tidak memberikan pilihan bagimu untuk memilih keduanya. Aku hanya menyuruhmu untuk memilih salah satu di antaranya,” protes Rayya kesal.


Padahal ia ingin mendengar jawaban Zafer dan bersiap untuk marah jika seandainya memang memilih harta warisan tersebut dari pada dirinya.


Namun, jawaban pria yang sangat dicintainya itu justru diluar dugaan.


“Jika aku bisa memilih keduanya, kenapa harus memilih salah satu di antaranya? Kau jangan khawatir. Aku masih memiliki seribu cara untuk bisa menyingkirkan Tsamara dari hidupku."


"Aku tidak akan membiarkan wanita itu sampai menikmati semua kekayaan yang dia dapatkan setelah menikah denganku.


“Aku akan mendapatkan harta warisan yang sudah papa janjikan kepadaku. Aku tidak akan membiarkan keduanya hilang."


"Bagaimanapun caranya, aku harus bisa mendapatkan kedua hal tersebut. Jadi, jangan pernah meragukanku dan berpikir bahwa aku akan meninggalkanmu."


"Kau sendiri tahu kalau aku sangat mencintaimu. Aku tidak akan mungkin meninggalkanmu semudah itu,” Zafer masih berusaha untuk meyakinkan kekasihnya, berusaha untuk mendapatkan kepercayaannya kembali agar Rayya tidak lagi marah kepadanya.

__ADS_1


Sangat sulit karena Zafer adalah orang yang sangat keras kepala, tapi bukan berarti tidak bisa meluluhkan hatinya.


“Aku mencintaimu, Rayya. Sangat dan sangat mencintaimu. Jangan pernah meragukan perasaanku yang telah aku rasakan selama ini untukmu. Kau pasti bisa melihat perasaanku dengan sangat jelas setelah menghabiskan waktu bersamaku selama ini, bukan?"


"Tidak bisakah kau melihat itu semua dan melihat betapa seriusnya aku kepadamu?” Zafer bertanya dengan nada lembut yang terdengar sangat bersungguh-sungguh.


Ia bahkan tidak pernah melepaskan pandangannya dari Rayya, menatap kedua mata itu dengan perasaan tulusnya, mengharapkan agar bisa membaca isi hatinya dengan baik.


Sementara itu, Rayya mengalihkan pandangannya dan terdiam. Ia tidak bisa melihat wajah Zafer karena tahu hatinya akan segera luluh jika melihat bagaimana cara laki-laki itu memandangnya.


Namun, ia tiba-tiba jadi teringat dengan hari-hari yang selalu mereka lalui bersama. Bagaimana Zafer yang selalu memperhatikannya dan tidak pernah meninggalkannya.


Pria itu yang selalu memberikannya hadiah secara tiba-tiba dan membuat perasaan Rayya jadi menghangat.


Jangan lupa bahwa Zafer juga masih mau menjalankan hubungan ini bersamanya di saat kedua orang tua pria itu justru menentang keras akan hubungan mereka berdua.


Zafer memang telah banyak menghabiskan waktu bersamanya, menjadikan Rayya sebagai satu-satunya wanita yang dicintai dan tidak pernah membuatnya merasa kurang.


Seluruh kekayaan dan juga kasih sayang yang selalu Zafer berikan kepadanya seolah tidak pernah habis dan ia sangat menyadari semua fakta itu.


Ia tidak bisa berbohong dengan mengatakan bahwa selama ini Zafer kurang baik kepadanya karena kenyataannya justru berkata sebaliknya.


Pria itu baik kepadanya. Bahkan sangat amat baik, sampai berhasil membuat Rayya jatuh cinta juga dengannya.


Tentu saja diluar semua hubungan intim yang pernah mereka lakukan selama ini. Rayya benar-benar mencintai Zafer dan itu adalah fakta yang tidak bisa wanita itu tampik.


Perasaan hangat menguar dalam hati Rayya ketika ia mengingat semua masa lalu yang pernah keduanya lakukan bersama-sama.


Namun, Rayya tahu bahwa saat ini tidak bisa melakukan itu. Ia tidak bisa berharap terlalu tinggi jika tidak ingin jatuh terlalu dalam jika ekspektasinya tidak sesuai dengan kenyataan.


Dihelanya napas panjang itu sekali lagi sebelum akhirnya mengangkat wajahnya untuk menatap Zafer di sampingnya.


“Maafkan aku,” kata wanita itu dengan suara pelan.


Ia merasa bersalah karena sudah menyalahkan Zafer terus-menerus. Padahal mereka berdua bisa berbicara dengan kepala dingin sesuai dengan apa yang mereka rencanakan tadi.


Mereka berdua sudah sama-sama lelah bertengkar. Jadi biarkan keduanya bernapas dengan normal lebih dulu dan berbicara dengan keadaan yang lebih baik, tanpa adanya teriakan atau kalimat-kalimat untuk saling menyindir.


Zafer lantas menggenggam kedua tangan Rayya yang bebas setelah mendengar permintaan maafnya, mengusap punggung tangan itu dengan penuh kasih sayang.


“Tidak apa-apa, jangan meminta maaf karena sangat wajar jika kau marah seperti itu kepadaku. Aku yang seharusnya meminta maaf karena telah membuatmu berada dalam situasi yang sulit seperti ini.


Seharusnya aku menjadi lebih peka dan bertanggung jawab atas apa yang sudah aku lakukan.


“Maaf, Sayang. Aku berjanji akan segera menyelesaikan semua ini dan membuat hidupmu jadi lebih nyaman bersamaku tanpa gangguan orang lain lagi."


"Aku berjanji untuk hal itu, tunggulah sebentar lagi. Biarkan aku memikirkan cara yang tepat untuk bisa menyingkirkan wanita cacat itu."


"Selagi mengurus semuanya, aku harap kau mau beristirahat saja dan jangan memikirkan apapun. Jangan sampai stress karena kau sedang hamil. Kau pasti tidak ingin, kan ada sesuatu yang terjadi kepada bayimu?”

__ADS_1


Rayya menggeleng kecil sebagai jawaban dari pertanyaan yang Zafer lontarkan.


“Kalau begitu, kau bersenang-senang saja. Aku akan mengirimkan uang kepadamu nanti untuk bisa kau pakai bersenang-senang. Makanlah makanan yang enak dengan teman-temanmu selagi aku mengurus semua hal yang perlu disingkirkan."


"Apa kau mengerti, Sayang?" Zafer masih mengusap lembut punggung tangan Rayya untuk membuat wanita itu semakin tenang di dekatnya.


“Aku penasaran akan sesuatu,” kata Rayya dengan ragu. “Namun, aku tidak tahu apakah kau mau memberitahunya atau tidak.”


“Apa itu? Katakan saja. Aku akan memberitahumu semuanya,” jawab Zafer cepat. Ia memang tidak akan menutupi apapun dari kekasihnya.


“Apakah kau sudah benar-benar menemukan cara untuk menyingkirkan wanita cacat itu? Zafer ... aku harus bilang bahwa tidak bisa menunggu terlalu lama karena hanya akan khawatir berlebihan jika kau tidak menyelesaikannya dengan cepat."


"Aku berharap kau bisa menepati perkataanmu kali ini. Tolong jangan membuatku kecewa lagi untuk yang kesekian kalinya. Aku percaya padamu dan percaya bahwa kau bisa membuatnya pergi. Jadi, jangan menghilangkan rasa percayaku terhadapmu.”


Rayya mengingatkan, ia merasa harus mengatakan ini, agar Zafer benar-benar serius untuk mengusir Tsamara dalam hidupnya.


Jika Rayya terlalu lemah terhadap laki-laki itu dan membiarkan Zafer melakukan apapun sesukanya, yang ada, masalah ini tidak akan pernah selesai.


Zafer langsung mengangguk dengan gerakan cepat, mengiyakan permintaan wanita itu dan akan melakukan yang terbaik sebisanya.


“Aku tidak bisa berjanji karena takut akan mengingkarinya lagi, tapi akan berusaha untuk membuat semuanya selesai dengan cepat. Jadi, kau tidak perlu begitu mengkhawatirkannya.”


“Terima kasih, tapi bisakah kau memberitahuku apa yang ingin kau lakukan untuk selanjutnya? Kupikir aku perlu tahu karena mungkin saja bisa membantumu.”


Zafer terlihat tampak berpikir sejenak, menimbang keputusannya. Apakah ia harus memberitahukan tentang rencananya kepada sang kekasih atau tidak.


Namun, mengingat bahwa wanita itu juga pasti setuju dengan semua yang direncanakan, maka ia pun berakhir memilih untuk memberitahunya.


“Aku ingin menjebak wanita cacat itu bersama dengan pria lain, Sayang. Kau harus tahu kalau di masa lalu, pada pernikahan pertamanya dulu, wanita itu sangat menjijikkan. Tidak kusangka bahwa wanita yang terlihat suci sepertinya, ternyata memiliki masa lalu yang begitu buruk."


“Aku benar-benar terkejut ketika melihat semua bukti itu untuk pertama kalinya dan sangat percaya diri. Aku berpikir kedua orang tuaku juga akan marah, tapi ternyata tidak sama sekali dan tidak memperbolehkanku untuk bercerai, dengan alasan bahwa orang lain bisa berubah."


"Papa percaya bahwa Tsamara sekarang adalah wanita baik-baik yang tidak akan berani untuk berselingkuh lagi. Padahal aku sendiri saja sudah sangat jijik dengannya.


“Aku benar-benar tidak mengerti bagaimana cara papa berpikir dan sangat yakin bahwa wanita cacat itu yang sebenarnya sudah mempengaruhi orang tuaku, sehingga mereka sangat mendukungnya dan menutup mata untuk semua kesalahan wanita itu di masa lalu."


“Setelah tahu tentang masa lalunya, aku jadi semakin membencinya. Aku tidak ingin dia tinggal di rumahku lagi dan rasanya aku jadi ingin cepat-cepat mengusirnya pergi dari rumah."


"Semua bukti yang kuberikan sama sekali tidak berhasil membuat papaku berubah pikiran. Aku harus memberikan bukti secara langsung jika Tsamara berselingkuh dariku."


"Jika aku bisa menjebaknya, papa pasti tidak akan bisa lagi menolak keinginanku untuk bisa bercerai dari wanita itu. Itulah yang aku pikirkan untuk rencana ini.”


Kini, Rayya terlihat mengangguk kecil. Pertanda bahwa ia mengerti dengan rencana yang sudah Zafer jabarkan barusan.


“Aku setuju dengan rencanamu. Sepertinya jika kau benar-benar berhasil, maka orang tuamu akan segera memintamu untuk menceraikan wanita itu. Entah mengapa aku yakin sekali untuk rencana yang satu ini. Jadi, lanjutkan saja. Buat wanita itu pergi dari hidupmu.”


“Akan aku lakukan!” sahut Zafer cepat. Ia bahagia karena Rayya menyetujui rencananya. “Kalau begitu, apakah kau mau menungguku sebentar lagi? Tunggu aku sampai semua ini benar-benar selesai.”


Akhirnya Rayya mengulas senyuman dan kemudian mengangguk. “Aku akan menunggumu, karena hanya mencintaimu dan ingin menikah denganmu."

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2