Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Mengecek keadaan Rayya


__ADS_3

"Sepertinya semua yang kamu katakan memang benar. Hanya saja, Mama masih merasa sangat kesal pada Rayya dan tidak bisa berakting dengan bersikap baik seperti orang yang munafik." Erina masih tidak belum bisa menyembuhkan luka di dalam hati yang tersinggung karena Rayya.


Kalimat terakhir yang didengar oleh Tsamara, mengingatkan kejadian semalam ketika Rayya murka dan menyebutnya wanita munafik.


"Aku jadi teringat seseorang yang menyebutku wanita munafik," lirih Tsamara sambil meraih mangkuk berisi bubur di atas meja.


"Siapa? Apa wanita itu adalah malaikat, sehingga menyebutmu wanita munafik?" Mendadak Erina merasa sangat penasaran dengan siapa yang dimaksud oleh menantunya.


"Mama tidak mengenalnya." Tsamara berniat untuk menyuapkan ke dalam mulut, mendengar suara bariton sang suami yang diketahui sangat khawatir jika melaporkan kejadian semalam pada mertua tersebut.


"Siapa yang menyebutmu wanita munafik? Aku juga ingin tahu?" Zafer yang dari tadi mendengarkan pembicaraan dua wanita tersebut di ruang ganti, merasa ada warning dan buru-buru keluar untuk menghentikan Tsamara mengatakan kejadian semalam pada sang ibu.


Bahkan saat ini Zafer memilih untuk berdiri menjulang di sebelah kursi roda dan mendapatkan tepukan pada lengan saat sang ibu berbicara.


"Apa kau dari tadi menguping pembicaraan para wanita?" Menatap ke arah putranya yang terlihat sudah rapi dengan mengenakan setelan tiga potong yaitu jas berwarna biru.


Refleks Zafer mendaratkan tubuh di dekat wanita paruh baya yang sangat disayangi tersebut dan meraih satu potong roti selai di atas meja. Saat menggigit dan mengunyah makanan di dalam mulut, kembali mendapatkan hukuman saat wanita paruh baya tersebut menjewer telinga.


"Itu untuk Keanu! Kamu bukan anak kecil yang harus dibawakan sarapan ke kamar. Atau sedang sakit seperti Tsamara. Makanan untuk sarapan pagi ini sudah siap di meja makan dan kamu bisa mengajak Rayya turun sekarang!"


Erina melepaskan jari yang berada di daun telinga Zafer saat meringis menahan rasa nyeri akibat hukuman yang baru saja dilakukan.


Zafer saat ini sibuk mengusap daun telinga yang terasa panas dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanan memegang roti yang sudah digigit dan masuk ke dalam mulut.

__ADS_1


"Jangan selalu menjewer telingaku seperti anak kecil, Ma. Aku pikir Mama perhatian padaku dengan membawakan sarapan. Jadi, tidak tahu kalau ini bukan untukku. Salah Mama karena tidak menjelaskan dari awal."


Zafer kemudian beralih menatap ke arah Tsamara, seolah ingin memberikan kode pada wanita yang tengah menikmati bubur, agar tidak menyebut nama Rayya. Karena jika sampai itu terjadi dan sampai ke telinga sang ayah, sudah bisa dipastikan bahwa hari ini akan diusir dari rumah tanpa membawa apapun.


Zafer belum siap hidup tanpa harta orang tua dan merasa tidak yakin jika Rayya tetap mau bersama jika tidak mempunyai apapun. Apalagi perkataan dari sang ayah menegaskan bahwa Rayya tidak akan mau hidup susah, jadi merasa khawatir jika wanita yang sedang mengandung benihnya tersebut akan pergi.


Jika itu terjadi, tidak akan tersisa apapun bagi Zafer. Bukan itu yang diinginkan, sehingga saat ini memilih untuk mengancam Tsamara dengan tatapan tajam. Berharap wanita tersebut mengerti dan selamanya tutup mulut.


Tsamara memang tidak pernah berpikir untuk mengadu domba siapapun, termasuk pria di hadapannya tersebut dan juga Rayya. Jadi, hanya diam sambil menikmati bubur yang terasa sangat hambar di mulut.


Apalagi tenggorokan sangat pahit saat makan apapun. Ditambah lagi harus minum obat, sehingga menambah tidak masuk makan karena lidah terasa hambar.


"Tidak apa-apa, Ma. Nanti biar pelayan mengambilkan sarapan untuk Keanu Karena sekarang masih tidur." Tsamara menoleh ke arah putranya yang berada di atas ranjang dan terlihat meringkuk memeluk guling.


Karena kami selalu pergi ke tempat ibadah di pagi hari. Namun, semuanya berubah menjadi kebiasaan setelah tidak pernah pergi beribadah setiap pagi.


"Sepertinya kamu ingin menyalahkanku atas perubahan kebiasaanmu?" Zafer akhirnya melanjutkan mengunyah roti selai strawberry dan meraih susu coklat di atas meja.


Namun, sebelum itu, mengarahkan gelas pada sang ibu. "Tsamara sudah memberikan izin, Ma. Jadi, jangan kembali menjewer telingaku. Masalah sepele jangan dibesar-besarkan karena ada banyak pelayan yang bisa mengambil makanan untuk Keanu."


Tanpa menanggapi perkataan dari putranya, Erina saat ini masih merasa penasaran dengan siapa yang menyebut Tsamara munafik dan ingin memastikan.


"Apakah kamu masih mengingat semua penghinaan Zafer?" Mengarahkan jari telunjuk pada putranya yang sedang mengunyah makanan. "Sepertinya Zafer yang menjadi tersangka."

__ADS_1


Refleks Tsamara langsung menggelengkan kepala karena memang bukan pria itu yang baru saja dimaksud.


"Bukan, Ma. Memang tuan Zafer dulu selalu menghina apapun yang kulakukan. Namun, bukan putra Mama yang kumaksud tadi. Ada seseorang yang jauh di sana." Tsamara akhirnya berbohong untuk menguraikan kesalahpahaman di antara ibu dan anak laki-laki tersebut.


Berharap tidak akan memperburuk hubungan mereka yang sudah kembali baik. Ia bahkan sangat ingin Zafer selamanya bersikap baik pada orang tua dengan tidak berbicara kasar dan marah karena mengetahui bahwa surga ada di telapak kaki ibu.


Jika durhaka kepada seorang ibu karena berani melawan, sudah bisa dipastikan akan mendapatkan sebuah balasan buruk. Tanpa perlu menunggu di akhirat nanti karena hukum alam akan bekerja di dunia dan tidak akan pernah salah sasaran.


Seperti apa yang saat ini dialaminya, mengalami cacat karena dulu pernah menyia-nyiakan suami pertama dan anak yang masih kecil hanya demi Rey yang dianggap jauh lebih tampan dan memiliki kekayaan.


Ia menyadari bahwa di masa lalu jatuh pada lembah kenistaan karena berselingkuh ketika suami dianggap tidak bisa memenuhi apapun yang diinginkan.


Namun, yang didapatkan hanyalah seorang pria yang suka berganti-ganti pasangan dan tidak berhenti setelah menikah dengannya. Hingga susah payah ia berusaha untuk melupakan pria yang sangat dicintai tersebut, tetapi takdir seolah tidak berpihak karena kembali bertemu setelah bisa melupakan Rey dan menata kehidupan bersama Keanu.


"Sepertinya yang menyebut wanita munafik adalah orang-orang yang berhubungan dengan masa lalumu." Erina saat ini mengusap lembut punggung menantu perempuan, seolah ingin memberikan dukungan, agar tidak patah semangat menghadapi mantan suami yang ingin merebut hak asuh.


"Hari ini, papa akan menghubungi pengacara untuk membahas mengenai hal yang berhubungan dengan mantan suamimu. Kamu tenang saja karena tidak akan ada kekalahan jika sudah berhubungan dengan keluarga Dirgantara." Tersenyum simpul dan bangkit dari posisi.


"Mama harus menyiapkan pakaian untuk papa dulu. Nanti jika Keanu sudah bangun, telepon saja pelayan, agar mengantarkan sarapan."


Tsamara yang tidak bisa berkomentar apapun ketika memikirkan tentang masalah Rey yang dikhawatirkan akan merebut Keanu. Jadi, hanya menganggukkan kepala dan akan menyerahkan semua hal pada mertua.


Erina yang akan berjalan ke arah pintu keluar, melirik sekilas sekilas putranya yang masih duduk di sebelah Tsamara. "Apa kamu tidak ingin mengecek Rayya? Apakah sudah bangun atau masih tidur?"

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2