
Satu jam kemudian, Tsamara sudah berada di ruangan perawatan setelah tadi dilakukan tindakan pertama di ruangan gawat darurat.
Setelah mengurus semua pendaftaran dan memilih kamar yang terbaik, akhirnya kini sosok wanita yang masih belum sadarkan diri tersebut berada di tempat perawatan VVIP.
Sumi saat ini terlihat memangku balita yang sibuk menikmati permen coklat kesukaan di atas sofa dan melihat film kartun kesukaan. Semua furniture lengkap menghiasi ruangan perawatan tersebut.
Bahkan terlihat sangat mewah dan seperti rumah sendiri. Tidak sama dengan ruangan perawatan kelas bawah yang hanya ada kamar sempit dengan laci dan ranjang saja.
Bahkan bagi orang kalangan bawah, harus merelakan di dalam ruangan ada banyak orang karena hanya mampu membayar murah.
Tadi Keanu menangis tersedu-sedu selama hampir setengah jam saat melihat sang ibu dibawa di atas brankar dengan posisi mata terpejam.
Apalagi suara anak kecil laki-laki tersebut memecahkan keheningan lorong rumah sakit ketika melalui beberapa ruangan.
Saat memanggil sang ibu dan sama sekali tidak ada jawaban karena masih tetap memejamkan mata saat pingsan.
Jadi, merasa khawatir dan menangis sambil memanggil terus nama wanita yang sangat disayangi tersebut.
Sumi sedikit kerepotan untuk menenangkan bocah laki-laki yang terus saja menangis dan akhirnya mengajak untuk membeli beberapa makanan ringan kesukaan di kantin.
Itu karena tadi tidak sempat membawa makanan yang masih banyak berada di dalam kamar.
Saat terburu-buru dan juga panik, mereka sama sekali tidak memikirkan jika anak kecil itu membutuhkan hal-hal yang bisa membuat berhenti menangis.
Baru saja Sumi bangkit dari kursi untuk melihat majikan yang saat ini tengah memejamkan mata, menoleh ke arah pintu karena terbuka dan terlihat pasangan suami istri paruh baya berjalan cepat mendekat.
Refleks Sumi dan Paijo membungkuk hormat dan mengucapkan salam kepada majikan utama mereka.
"Bagaimana keadaan menantuku? Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana bisa pingsan di dalam kamar mandi?"
"Apa kamu tidak bersama menantuku?" tanya Erina yang terlihat sangat mengkhawatirkan keadaan menantu kesayangan dan langsung menghampiri wanita dengan mata tertutup tersebut.
Sementara Adam Dirgantara jauh lebih tenang dan mengusap punggung sang istri untuk menenangkan perasaan wanita yang sudah menganggap menantu sebagai putri kandung sendiri.
__ADS_1
"Tenanglah! Menantu sudah mendapatkan pertolongan dan dirawat di sini. Pasti perawat dan dokter sudah memberikan yang terbaik."
"Aku akan bertanya di kantor untuk menanyakan masalah Tsamara. Kamu tunggu sebentar di sini."
Erina yang saat ini sudah duduk di kursi yang berada di sebelah ranjang, sambil mengusap beberapa kali punggung tangan wanita dengan wajah pucat tersebut.
Dengan gerakan perlahan menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan.
Kemudian melihat pria yang sudah menemani selama lebih dari 30 tahun tersebut sudah berjalan keluar dari pintu.
Erina yang perlu mendapatkan jawaban dari pelayan, kini masih mengarahkan tatapan penuh pertanyaan.
"Sekarang, jelaskan padaku mengenai apa yang terjadi dan jangan ada yang terlewat. Apakah putraku menyakiti Tsamara sampai pingsan di kamar mandi?"
Erina sangat khawatir dengan kemungkinan buruk yang dipikirkan karena saat ini satu-satunya hal terlintas di kepala adalah Zafer menyakiti Tsamara.
Jika benar apa yang dipikirkan saat ini, berjanji akan memberikan hukuman pada pria yang tadi sudah diancam dengan nyawa.
Sementara itu, Sumi dan Paijo masih berdiri di hadapan sang majikan dan bersitatap untuk memutuskan siapa yang akan menjelaskan mengenai kejadian hari ini.
Bahkan termasuk perubahan wajah dari majikan ketika tadi Sumi membahas mengenai pria yang membelikan aneka snack di supermarket dekat rumah untuk Keanu.
Sementara itu, Erina yang saat ini mengerutkan kening dan merasa ada sesuatu yang tidak beres terjadi di keluarga menantu saat ini.
"Memangnya siapa nama pria itu?"
"Rey Bagaskara, Nyonya. Setelah saya menyebutkan nama itu, wajah nyonya Tsamara seketika seperti orang yang sangat terkejut dengan membulatkan mata."
"Saat mengatakan sakit perut dan ingin ke kamar mandi, saya tidak berpikir macam-macam ketika keluar setelah mengantarkan."
"Namun, karena tidak kunjung memanggil nama saya, jadi memastikan dan memeriksa."
"Ternyata nyonya Tsamara sudah jatuh di lantai dan sama sekali tidak sakit perut karena toilet masih tetap bersih. Saya hanya melihat wajah yang penuh dengan air mata saat terbaring tidak sadar di lantai kamar mandi."
__ADS_1
Sumi sengaja menjelaskan tentang hal yang membuat majikan sangat khawatir sekaligus seperti ketakutan. Berpikir jika ada sesuatu yang mungkin terjadi di antara majikan dan pria itu.
Bahkan saat ini, Sumi kembali menatap heran pada majikan yang berekspresi sama seperti Tsamara saat pertama kali mendengar nama Rey Bagaskara.
'Sebenarnya siapa pria itu? Apa hubungan dengan nyonya Tsamara? Bahkan nyonya Erina sekarang berekspresi sama karena sangat terkejut dengan membulatkan mata,' gumam Sumi hanya bisa berargumen sendiri di dalam hati untuk sekedar meluapkan keluh kesah mengenai rasa penasaran.
Sementara itu, Erina yang merasa sangat shock dengan cerita dari pelayan tersebut, seketika bangkit berdiri dari kursi karena ini melaporkan mengenai hal ini pada sang suami.
Bahkan mereka baru saja membahas mengenai mantan suami Tsamara dan khawatir jika merebut Keanu yang sedang asyik menikmati makanan ringan di atas sofa.
"Aku akan menemui suamiku sebentar di luar. Kalian jaga menantuku!"
"Baik, Nyonya Erina."
Sumi dan Paijo berbicara dengan kompak dan membungkuk hormat pada wanita yang sudah berjalan meninggalkan ruangan.
Sumi refleks mendekatkan wajah pada daun telinga sang suami dan berbisik di sana.
"Aku sangat yakin jika ada hubungan antara menyayangi dengan pria bernama Rey Bagaskara itu."
Kemudian dengan sangat santai dan tanpa berpikir, Paijo langsung berkomentar sesuai dengan apa yang dipikirkan. "Mungkin pria yang membelikan aneka makanan untuk tuan Keanu adalah ayah kandung."
Refleks Sumi beralih menatap ke arah anak kecil yang terlihat sangat menikmati makanan dan juga menonton film kartun tersebut.
"Benar juga. Sepertinya sekarang semua pertanyaanku sudah terjawab. Kamu memang sangat pintar."
"Suamimu ini memang sangat pintar dari dulu. Memangnya kamu melupakan hal penting itu?"
Paijo tersenyum untuk menggoda wanita yang sudah lebih dari 20 tahun menjadi istri setia, meskipun hidup mereka tidaklah mudah karena harus berjuang dengan bekerja keras demi memenuhi kebutuhan hidup.
Sumi hanya tersenyum simpul dan mengarahkan cubitan dan pada pinggang sang suami.
"Ya, kamu memang pintar merayu dan aku bisa jatuh cinta padamu dulu karena itu."
__ADS_1
Paijo hanya terkekeh geli saat diingatkan dengan sikap konyol dan lebay ketika pertama kali jatuh cinta pada sang istri dan selalu saja datang untuk merayu.
To be continued ...