
Jika beberapa saat lalu Zafer merasa menang karena telah berhasil membuat Tsamara tidak berkutik, kini sangat marah atas jawaban yang seolah menampar harga diri.
'Sialan! Wanita ini ternyata pintar juga bersilat lidah. Sepertinya aku harus memberinya pelajaran!' sarkas Zafer yang masih tidak bisa menahan diri atas kalimat bernada pedas dari Tsamara.
Zafer kini memilih bertepuk tangan dan tertawa terbahak-bahak. Seolah tengah menyembunyikan rasa malu karena dikalahkan oleh seseorang yang bahkan hanyalah wanita cacat.
Sambil menormalkan deru napas memburu saat ingin sekali menghajar habis-habisan wanita itu di atas closet dan mendengar suara ******* yang lolos dari bibir Tsamara. Namun, harga diri terlalu tinggi, sehingga tidak bisa melakukan itu.
Hingga tanpa membuang waktu, Zafer mengungkapkan jawaban dengan sangat santai. "Kamu benar. Sepertinya aku tidak perlu mengingatkanmu agar sadar diri. Bahwa selama ini jijik pada wanita yang hanya menyusahkan saja."
"Hanya saja, seperti yang kamu katakan tadi, aku membutuhkan sesuatu sebagai sebuah sarana untuk memancing senjataku bangun. Karena di sini hanya ada kamu, sepertinya harus dimanfaatkan!"
Tsamara yang dari tadi menyembunyikan perasaan sebenarnya saat berhadapan dengan pria tanpa sehelai benang pun, kini membuka suara karena butuh penjelasan.
"Apaaa?"
Namun, Tsamara seketika membulatkan mata atas perbuatan Zafer. Bahkan jantung serasa hampir meledak saat itu juga atas hal yang biasa dilakukan oleh suami istri tersebut.
Merasa sangat marah, geram sekaligus kesal pada wanita yang sangat pintar berbicara, Zafer memberikan sebuah hukuman pada wanita dengan mulut terbuka beberapa saat lalu hendak bertanya.
Tentu saja tanpa berniat untuk menjawab, ia memilih langsung memberitahu dengan perbuatan.
Hingga saat berhasil membuat Tsamara diam, Zafer tersenyum smirk. "Seharusnya kamu tahu jika ini harus dipancing dulu. Aku memang jijik padamu, tapi jika ada sesuatu yang bisa dimanfaatkan, tidak boleh disia-siakan."
"Lagipula aku hanyalah pria bodoh jika bersusah payah sendiri saat ada sesuatu yang bisa dimanfaatkan. Kamu harus sadar, bahwa aku saat ini hanya menganggapmu sebuah alat untuk bisa menyalurkan rasa stres di kepalaku!"
Kemudian Zafer tidak tinggal diam karena sudah mulai beraksi untuk membalas dendam pada wanita yang tadi seolah mengejek. Bahkan dengan sangat kuat mencengkram kepala Tsamara, agar tidak menghindar.
Sementara Tsamara yang saat ini tidak bisa berbicara apapun karena telah dibungkam, sama sekali tidak pernah menyangka jika akan mengalami kejadian seperti ini.
Tadi berpikir jika Zafer akan segera pergi setelah diejek dengan kalimat sinis dan terdengar kasar. Namun, seolah menggali kuburan sendiri karena serangan itu berbalik menyerangnya seperti ini.
Bahkan saat ini tidak bisa menghindar atau pun menolak karena pria itu bahkan sudah bergerak untuk mencari kepuasan.
Hal yang paling tidak disukai, tetapi terpaksa harus melakukan itu dan membuat Tsamara beberapa kali seperti mau muntah ketika Zafer semakin berbuat gila.
'Seharusnya aku tadi hanya diam dan tidak perlu menanggapi perkataan pria arogan dan kasar ini. Akhirnya aku terkena dampak negatif dari ulah sendiri.'
Tentu saja Tsamara hanya bisa mengungkapkan keluhan di dalam hati karena saat ini tidak bisa berbicara.
__ADS_1
Bahkan saat ini hanya bisa mendengar suara lenguhan dari pria yang masih terus menyiksa selama beberapa menit. Tsamara berharap semuanya segera selesai karena sangat tersiksa harus menahan kencing dari tadi.
Ruangan kamar mandi yang awalnya hening itu kini diwarnai dengan suara Zafer. Tentu saja ia merasa sangat senang karena tanpa perlu mengajari.
Entah sudah berapa menit berlalu, Zafer yang saat ini sudah berada di puncak kenikmatan. Tanpa berniat untuk menarik diri, ia memang sengaja melakukan itu.
Menganggap jika itu adalah sebuah hukuman yang pantas untuk wanita yang dari tadi berhasil mengirimkan denyut kenikmatan.
Tsamara yang mengetahui jika Zafer akan meledak, berniat untuk menarik diri, tetapi tidak bisa melakukan itu karena tangan kuat pria itu masih mencengkram.
Hingga apa yang ditakutkan terjadi dan merasakan bukti kenikmatan pria yang baru saja mengeluarkan kalimat bernada tegas dan memerintah.
Zafer masih tidak berniat untuk menarik diri karena ingin menyelesaikan secara tuntas hukuman untuk wanita yang tidak bisa berkutik tersebut.
Bahkan saat ini Zafer tengah tersenyum smirk karena melihat wajah memerah Tsamara.
Tsamara yang sama sekali tidak pernah melakukan itu seketika muntah-muntah.
begitu Zafer menarik diri dan tanpa bicara apapun dan berjalan ke arah ruangan di sebelah kanan khusus untuk mandi di bawah guyuran air shower.
Ada pembatas kaca yang menjadi jarak di antara mereka saat ini. Sementara Tsamara saat ini masih muntah-muntah dan beberapa saat kemudian berkumur-kumur.
Beberapa saat kemudian merasa lega setelah membersihkan diri. 'Bahkan aku tadi hanya ingin kencing saja, tapi harus melewati banyak drama seperti ini,' gumam Tsamara yang saat ini kembali menurunkan gaun.
Menunggu adalah sesuatu hal yang paling dibenci oleh semua orang. Termasuk Tsamara yang saat ini harus merelakan diam di kamar mandi karena tidak bisa keluar tanpa digendong oleh pria yang baru saja menyalurkan gairah.
'Pria itu benar-benar sangat arogan dan berbuat sesuka hati tanpa memikirkan perasaanku. Meskipun aku pernah menikah dua kali, tapi tidak pernah menelan bukti kenikmatan suami."
'Ini adalah hal pertama paling gila yang kulakukan dan semua itu karena ulah pria itu,' gumam Tsamara yang kini melirik sekilas ke arah kaca penghalang di antara mereka.
Bahkan berkali-kali ia bergidik ngeri ketika mengingat hal gila yang tadi.
'Semoga ini adalah hal pertama dan terakhir. Aku sangat takut jika tuan Zafer kembali memaksaku melakukan itu. Bukankah tadi mengatakan dengan sangat bangga dan percaya diri, bahwa tidak pernah sekali pun memaksa seorang wanita untuk melayani?'
'Lalu yang tadi apa jika bukan memaksa? Apakah perlu aku mengklarifikasi apa yang tadi dikatakannya?' gumam Tsamara yang saat ini tengah menimbang-nimbang keputusan.
Apakah harus bertanya atau tidak. Berpikir jika melakukan satu kesalahan lagi, mungkin akan kembali mendapatkan hukuman gila seperti itu.
Namun, juga merasa sangat marah sekaligus kesal karena perkataan pria itu tidak sesuai dengan kenyataan.
__ADS_1
Akhirnya ia tidak bisa menahan diri untuk bersikap seolah di antara mereka tidak terjadi apa-apa, sehingga memilih untuk mengungkapkan ketika Zafer selesai mandi.
'Aku ingin tahu apa jawaban pria itu saat mengingatkan pada perkataan yang tadi sangat membanggakan diri.'
Selama beberapa menit menunggu dengan perasaan berkecamuk dan tidak sabar ingin segera mengungkapkan apa yang ada di pikiran, kini Tsamara mendengar suara shower yang sudah dimatikan.
Menandakan jika pria itu telah selesai mandi dan benar saja, beberapa saat kemudian terlihat berjalan keluar dengan tubuh masih dipenuhi oleh bulir air.
Sebenarnya ia tidak ingin melihat pemandangan itu, tapi karena hati sangat dongkol, sehingga sama sekali tidak memperdulikan apapun.
"Bukankah Anda tadi mengatakan dengan sangat percaya diri bahwa tidak pernah sekali pun memaksa seorang wanita untuk menyalurkan gairah? Lalu apa yang barusan terjadi? Bukankah itu adalah sebuah pemaksaan namanya?"
Suara Tsamara menggema di ruangan kamar mandi dan sama sekali tidak diperdulikan oleh Zafer saat berjalan menuju ke sudut ruangan dan membuka laci kaca yang berisi tumpukan handuk.
Entah apa yang membuat Zafer sangat percaya diri di depan Tsamara karena terlihat sangat santai berjalan tanpa memakai apapun dan membersihkan bulir air yang menghiasi tubuh.
Kemudian memakai handuk untuk dililitkan di bagian bawah tubuh. Kini, Zafer menatap tajam ke arah sosok wanita yang telah berubah karena tidak malu lagi menatap tubuh sixpack yang terpampang jelas tersebut.
"Apa kamu tuli? Bukankah tadi aku mengatakan hanya menganggapmu sebagai alat? Bagiku, kamu bukanlah seorang wanita."
Tsamara saat ini habis bisa meremas kedua sisi pakaian sambil menelan kasar saliva. Tentu saja merasa sangat kesal dengan jawaban Zafer. Padahal jelas-jelas adalah seorang wanita dan berpikir jika pria itu hanya beralasan tidak masuk akal.
"Konyol sekali! Anda seperti bukan seorang manusia," sarkas Tsamara yang saat ini hanya bisa menampilkan wajah masam.
"Jika kamu tidak terima aku menganggapmu hanyalah sebuah alat, laporkan saja pada papa agar mengusirku dari rumah ini. Bukankah itu yang kamu inginkan?" Zafer kini memilih untuk berjalan mendekati Tsamara yang masih duduk di atas closet.
Kemudian membungkuk dan mengarahkan tatapan menyeringai. "Jika aku menganggapmu wanita, tidak akan mengunakan menggunakan ini sampai akhir." Mendekatkan wajah pada bibir Ayu.
"Aku akan mengunakan bagian lain dan jika melakukan itu padamu, itu berarti sudah menganggapmu adalah seorang wanita." Kemudian semakin membungkuk dan meraup tubuh wanita yang langsung berpindah ke atas lengan kekarnya.
Saat berjalan keluar dari kamar mandi, mendekatkan wajah pada daun telinga Tsamara. "Apa kamu sudah kencing?"
Saat Tsamara tidak bisa melawan atas apapun yang dilakukan oleh Zafer, akhirnya membuka suara. "Aku ...."
Namun, tidak sempat melanjutkan begitu mendengar suara teriakan setelah pintu terbuka.
"Zafer, apa yang sedang kau lakukan bersama wanita cacat itu?" teriak Rayya yang membulatkan mata begitu melihat pemandangan menyayat hati dan berhasil membuat kemurkaan menyeruak di dalam hati.
To be continued...
__ADS_1