
Zafer saat ini masih belum bergerak untuk memakai pakaian kerja yang berderet rapi di hadapan. Pikirannya saat ini masih mengingat kejadian di kamar mandi hari ini.
Sebenarnya tadi Tsamara meminta untuk segera membantu keluar kamar mandi setelah selesai mencuci muka dan menggosok gigi. Namun, ia tidak menanggapi karena sekalian mandi.
Zafer berpikir tidak ingin bolak-balik ke kamar mandi, jadi membiarkan Tsamara menunggu hingga selesai mandi dan melihat tubuh telanjangnya yang seolah sengaja ditampakkan.
Entah mengapa ia merasa jika itu adalah sebuah permainan yang sangat menarik. Zafer ingin melihat bagaimana sikap Tsamara saat berada di kamar mandi dengan posisi telanjang.
Begitu melihat ekspresi wajah Tsamara yang seperti biasa dan tidak malu-malu, seolah merasa gagal membuat wanita itu salah tingkah ketika menatap tubuh yang tidak memakai sehelai benang pun.
'Tadi Tsamara terlihat sangat tenang dan tidak salah tingkah saat menatapku tanpa busana. Mungkin jika wanita lain, sudah langsung menyerang dan memintaku untuk menelusuri kulit mereka.'
'Namun, itu tidak berlaku pada Tsamara karena seolah sama sekali tidak tertarik padaku. Padahal selama ini banyak wanita yang mengidam-idamkan bisa menjadi teman tidur di atas ranjang. Namun, sepertinya Tsamara sadar diri karena merasa tidak pantas.'
Zafer berusaha berpikir positif untuk tidak mengatakan bahwa Tsamara sama sekali tidak tertarik pada pria tampan sepertinya.
'Apakah Tsamara masih belum bisa move on dari mantan suami yang merupakan bajingan itu?' Zafer bergumam sendiri di ruangan ganti, sambil memilih pakaian kerja yang cocok hari ini.
Sementara itu di tempat yang berbeda, yaitu Tsamara masih duduk di atas kursi roda dan menatap mertua yang diketahui telah salah paham. Ingin sekali mengatakan bahwa di antara mereka tidak ada apapun karena hari ini memilih untuk berdamai dan tidak bermusuhan karena akan pergi setelah bisa kembali berjalan.
Namun, Tsamara merasa tidak tega untuk menghancurkan kebahagiaan wanita paruh baya tersebut yang saat ini menghampiri.
"Mama hari ini menyiapkan sarapan untukmu dan Keanu. Jadi, kalian tidak perlu ikut makan di meja makan jika masih kurang enak badan." Erina saat ini mendorong kursi roda menantunya tersebut. "Semoga ada kabar baik sebentar lagi."
Sementara itu, Tsamara sama sekali tidak menanggapi harapan yang dianggap penuh kepalsuan tersebut karena memang sejatinya tidak akan pernah terjadi apapun di antara Zafer dan dirinya.
__ADS_1
Akhirnya Tsamara memilih untuk mengalihkan pembicaraan saat menatap ke arah menu sarapan di atas meja. "Seharusnya Mama tidak perlu repot-repot mengambilkan sarapan karena aku bisa menelpon pelayan jika merasa lapar."
"Sebenarnya tadi berencana untuk melihat pekerjaan para pelayan yang menyiapkan sarapan, tapi ternyata kepalaku masih pusing." Memijat pelipis yang tadi semakin terasa pusing kala menunduk.
Hingga tangan dengan jemari lentik ibu mertua tersebut telah mendarat di pelipisnya untuk memijat di sana.
"Mama tidak perlu melakukan ini." Tsamara berusaha untuk menghentikan perbuatan dari wanita paruh baya tersebut yang terlihat sangat perhatian dan juga baik hati.
"Tidak apa-apa," ucap Rayya yang saat ini mengingat tentang perbuatan semalam pada Rayya dan mendapat kalimat sindiran ketika menasehati.
Erina akhirnya memilih untuk menceritakan semua kejadian antara dirinya dan menantu kedua tersebut yang dinasehati, tetapi malah menyindir habis-habisan.
"Jadi, menurutmu bagaimana sikap wanita kasar itu?" Erina ingin meminta pendapat dari Tsamara karena mengetahui bahwa wanita itu sangat bijak dalam berucap.
"Sebenarnya tidak ada yang salah di antara Mama maupun Rayya."
"Tidak ada yang salah bagaimana? Jelas-jelas wanita itu sengaja menyindirku. Apa kamu tidak bisa membaca pikiran buruk Rayya?" Erina yang masih merasa sangat dongkol dengan ulah menantu kedua tersebut, memilih untuk tidak sependapat dengan Tsamara yang terkesan membela Rayya.
Refleks Tsamara menghentikan pijatan lembut dari mertuanya. Bukan karena tidak ingin merasakan kenyamanan dari jemari lentik itu, tetapi hendak mengatakan sesuatu yang saat ini ada di pikirannya.
Tsamara mengarahkan sang ibu untuk duduk di sofa. "Sebenarnya niat Mama sudah sangat baik dan ingin hal terbaik untuk Rayya, jadi memberitahukan apapun yang tidak boleh dan boleh dilakukan oleh seorang wanita hamil demi kebaikan janin yang sedang dikandung."
"Kamu benar sekali. Memang itu yang kumaksud dan berniat tidak ingin membedakan kalian agar tidak dianggap pilih kasih pada menantu yang ada di rumah ini," sahut wanita paruh baya yang terlihat sangat kesal ketika membayangkan wajah Rayya kemarin malam.
Ingin meredam kekesalan yang dirasakan oleh mertuanya, Tsamara kini kembali menjelaskan. "Namun, apa yang sebenarnya dikatakan oleh Rayya juga benar, Ma. Ibu hamil memang tidak boleh banyak pikiran karena stres."
__ADS_1
"Sepertinya Rayya ingin Mama tidak membuatnya stres dengan banyak menasihati. Seperti yang kuketahui dari kalian semua, bahwa wanita itu selama ini tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ibu. Jadi, sepertinya tidak tahu cara mengungkapkan kasih sayang pada orang tua."
Tsamara sebenarnya merasa kasihan pada Rayya karena semua penyebab sikap arogan selama ini adalah dibesarkan oleh ayah yang kasar dan sama sekali tidak bisa mengetahui seperti apa disayangi oleh wanita yang melahirkannya.
"Rayya seperti anak kecil yang butuh kasih sayang dari seorang ibu. Jadi, anggap menantu Mama adalah bayi yang suka menangis dan rewel. Bukankah seorang ibu akan selalu bersabar pada anak yang masih kecil?"
"Jika Mama menganggap Rayya seperti anak kecil, mungkin bisa memahami dan kalian akan menjadi menantu dan ibu mertua yang saling mencintai."
Erina dari tadi hanya diam mendengarkan apa yang diungkapkan oleh Tsamara. Dalam hati kecil membenarkan semua itu karena memang sejatinya seorang anak membutuhkan kasih sayang orang tua yang lengkap, baik itu dari ayah maupun ibu.
Namun, mengetahui bahwa Rayya selama ini hanya tinggal bersama sang ayah yang sangat kasar, sehingga sifat buruk tersebut menurun pada menantunya.
Sementara di sisi lain, yaitu di dekat pintu ruangan ganti, Zafer dari tadi hanya diam di sana sambil mendengarkan pembicaraan antara sang ibu dan juga Tsamara.
Baru kali ini mendengar Tsamara berbincang dengan sang ibu. Dari dulu, Zafer selalu berpikir bahwa Tsamara menjelek-jelekkan Rayya dan mencuci otak wanita yang melahirkannya tersebut.
Namun, ternyata semua tidak seperti yang dipikirkan. Bahkan suara Tsamara terdengar sangat tulus dan jujur ketika menasehati sang ibu.
Awalnya tadi ia berpikir bahwa Tsamara akan mempengaruhi saat mamanya mengeluhkan perbuatan Rayya semalam. Namun, semua tidak seperti yang dipikirkan.
'Tsamara malah menasehati mama untuk memaklumi sikap Rayya. Apa yang sebenarnya ada di otak wanita itu? Apakah memang benar bahwa ia sama sekali tidak berniat untuk berbuat jahat di keluarga ini?'
'Apakah benar Tsamara akan pergi setelah bisa kembali berjalan? Melupakan semua keluargaku dan juga hal yang berhubungan dengan pernikahan terpaksa ini?'
To be continued...
__ADS_1