
Zafer saat ini masih mengerjapkan kedua mata karena merasa heran ketika melihat sikap Tsamara yang sangat berani dan sudah menghilang di balik pintu.
Hal yang baru saja dialami hari ini benar-benar sangat mengganggu pikiran Zafer kali ini. Bahkan masih pada posisi berdiri di tengah ruangan kamar.
Saat ini, Zafer mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk menyisir semua furniture mewah menghiasi ruangan pribadi dengan nuansa gelap dan khas seorang pria. Bahkan kembali tertawa seperti orang gila karena pertama kali melihat sikap Tsamara yang identik lemah itu berubah menjadi rubah liar.
"Wanita itu bagaikan rubah yang mulai menampakkan diri. Sangat berani sekaligus licik. Apa yang akan terjadi jika orang tuaku melihat sikapnya hari ini? Mereka pasti akan shock dan dan tidak percaya."
Merasa kakinya seperti hampir patah karena lama berdiri, Zafer mengempaskan tubuh ke atas ranjang dan melepaskan satu persatu kancing kemeja yang terasa menyesakkan.
"Hari yang benar-benar sangat melelahkan."
Zafer melemparkan kemeja setelah lolos dari tubuh dan membiarkan dada bidang terekspos jelas, menampilkan cetakan otot-otot yang kencang.
"Otak dan tenagaku seolah diforsir karena ulah papa, Rayya dan sekarang Tsamara. Astaga! Kenapa ada banyak masalah yang mengelilingi hidupku? Bahkan mungkin sehari pun, aku tidak bisa tidur nyenyak mulai sekarang."
"Perintah papa bahkan tidak ada habisnya."
"Kehamilan Rayya yang akan menguras perhatianku."
"Tsamara yang sekarang berani melawanku. Padahal jauh lebih baik saat patuh dan menjadi wanita lemah. Aku masih penasaran dengan alasan apa yang membuat Tsamara berubah berani seperti ini?"
Zafer kini menatap ke arah pintu dan mempertimbangkan untuk keluar menemui Tsamara atau tetap diam di dalam kamar.
"Mungkin sudah tidur," ujar Zafer yang kini memilih untuk mengempaskan tubuh di atas ranjang dan menatap langit-langit kamar.
"Aku harus tidur karena besok akan menikahi wanita yang kucintai. Sayang, akhirnya keinginan kita terwujud. Takdir memang mempermainkan hidup kita, tapi keturunanku yang menyatukan kembali."
"Apakah nanti mereka laki-laki dan perempuan? Atau laki-laki semua? Mungkin perempuan. Apa seperti ini rasanya akan memiliki seorang anak? Sangat membahagiakan dan membuatku bersemangat."
Zafer tidak berhenti mengulas senyuman saat membayangkan memiliki anak-anak yang lucu dan menggemaskan. Baru saja menutup mulut, suara cacing-cacing di perut mengganggu konsentrasi Zafer.
"Aku sampai lupa jika dari tadi belum makan. Bahkan cacing-cacing di perut ini sudah meminta jatah. Apakah masih ada makanan di meja makan?"
__ADS_1
Tidak membuang waktu, kini Zafer berjalan keluar dari ruangan kamar dan begitu membuka pintu, langsung menuju ke arah ruang makan.
Namun, sebelum itu, mengingat sesuatu dan memilih untuk berjalan menuju ke ruang tamu. Di mana tadi sudah membanting ponsel milik Tsamara hingga hancur.
Zafer menyipitkan mata saat sudah tidak ada bekas apapun di lantai. "Apa Sumi yang membersihkan?"
Merasa penasaran, Zafer memeriksa tong sampah, tetapi sama sekali tidak menemukan apapun. "Dibuang ke mana ponsel milik Tsamara."
Tidak ingin mengambil pusing, kini ia sudah berjalan menuju ke arah ruang makan dan berbinar ketika melihat makanan masih ada di atas meja.
Tanpa membuang waktu, Zafer sudah mengambil piring dan nasi, lalu sayuran serta lauk. Saat sudah menikmati makanan di piring dan hampir habis, mendengar suara dari pelayan yang menunjukkan keterkejutan.
"Tuan Zafer? Maaf mengganggu waktu makan Anda. Saya akan kembali setelah Anda selesai." Sumi yang tadi ingin memasukkan sisa makanan di atas meja ke dalam kulkas, tidak pernah menyangka jika majikan tengah lahap makan.
Saat berbalik badan dan berniat pergi, suara bariton majikan telah menghentikan Sumi.
"Tunggu!"
"Apakah kau yang membersihkan ponsel yang hancur di ruang tamu?"
"Tidak, Tuan. Saya belum keluar semenjak Anda dan nyonya tadi ...." Sumi tidak melanjutkan perkataan karena merasa tidak enak.
Zafer kini mengerti siapa yang membersihkan dan memilih untuk mengibaskan tangan pada wanita paruh baya tersebut.
'Sepertinya Tsamara yang tadi membersihkan ponsel. Bukankah itu sudah hancur? Kenapa tidak ada di tempat sampah? Apa ia berencana untuk memperbaiki?'
Berbagai macam pertanyaan kini menari di otak Zafer saat ini. Namun, tidak menemukan jawaban karena hanya Tsamara yang bisa menjelaskan.
"Lebih baik besok saja aku bertanya. Sekalian bertanya mengenai apa yang membuat Tsamara berubah berani seperti rubah liar." Setelah menghabiskan makanan tanpa tersisa, ia bangkit berdiri dan kembali ke kamar.
Niatnya adalah ingin tidur, tetapi saat tangan hendak membuka pintu, mendengar suara tangisan Keanu dari kamar yang menjadi ruangan Tsamara.
"Astaga! Kenapa malam-malam begini menangis? Merepotkan saja!" Zafer memilih tidak memperdulikan itu dan masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Namun, tiba-tiba menyadari apa yang baru saja dikeluhkan tadi akan dialami saat anak-anak di kandungan Tsamara lahir ke dunia. Mengingat sang kekasih, apakah baik-baik saja saat tinggal bersama sang ayah, kini Zafer memilih untuk menghubungi Rayya.
Namun, menyipitkan mata begitu operator yang menjawab. "Ada apa dengan ponsel Rayya? Kenapa tidak aktif? Sepertinya kehabisan baterai."
Saat Zafer berniat untuk menghubungi sang ibu, ternyata ada panggilan masuk dari nomor tidak terdaftar di ponsel dan langsung menggeser tombol hijau ke atas.
"Tolong aku ...."
Suara dari seberang telpon membuat Zafer mengerutkan kening karena mengetahui siapa yang menghubungi.
"Tsamara?"
"Iya, aku jatuh dari kursi roda dan tidak bisa bangun."
Refleks Zafer mengerti jika Tsamara memakai nomor lain dan baru menyadari jika memiliki dua ponsel karena tadi sudah menghancurkan satu.
Kini, Zafer langsung melempar ponsel ke ranjang dan berlari keluar dari ruangan kamar karena ingin menolong Tsamara yang jatuh. Begitu berada di depan kamar wanita yang jatuh tersebut, langsung membuka pintu.
"Sial! Pintu dikunci. Kenapa juga ia mengunci pintu!" Zafer kini memilih untuk mencari kunci cadangan di laci yang ada di ruang santai.
Beberapa menit kemudian, menemukan beberapa kunci dan membawa semuanya. Tanpa membuang waktu, ia sudah memasukkan kunci yang dibawa tersebut untuk membuka pintu. Namun, tidak ada yang cocok dan merasa heran.
"Aneh. Kenapa semua kunci ini tidak ada satu pun yang cocok?" Merasa penasaran, Zafer menggedor pintu. "Tsamara, kenapa kau mengunci pintu? Tidak ada satu pun kunci cadangan di laci yang cocok."
"Di mana kunci cadangan pintu kamarmu?" Zafer mendekatkan telinga ke daun pintu karena ingin mendengar jawaban Tsamara. Apalagi saat ini juga ada suara tangisan Keanu yang semakin bertambah kencang.
Pelayan wanita dan laki-laki pun sudah berlarian menuju ke arah ruangan kamar majikan karena mendengar suara tangisan bocah laki-laki yang mengubah keheningan malam menjadi bising.
"Ada apa, Tuan? Apa yang terjadi? Kenapa tuan Keanu menangis dari tadi tanpa berhenti?" tanya Sumi yang saat ini merasa khawatir jika terjadi sesuatu pada majikan perempuan.
Biasanya Keanu menangis sebentar dan kembali tidur lagi karena pastinya sang majikan sudah menenangkan. Namun, berbeda dengan hari ini, suara tangisan Keanu semakin kencang dan membuat Sumi khawatir.
To be continued...
__ADS_1