
"Tunggu, Ma. Sebenarnya apa yang terjadi?" Rayya merasa sangat penasaran dengan apa yang dimaksud oleh wanita paruh baya yang tiba-tiba berubah pucat tersebut dan penuh kekhawatiran.
Jadi, memilih untuk menghadang di depan ketika mertua berlari. Bahkan juga merentangkan kedua tangan, agar tidak ditinggalkan. "Katakan dulu apa yang terjadi, Ma. Jadi, saat Zafer bertanya nanti, aku bisa menjawab."
Masih tidak menyerah karena jujur saja saat ini di kepala Rayya tengah membayangkan sesuatu dan ingin memastikan kebenaran itu.
Erina yang berniat untuk menemui sang suami jadi tertunda dan membuang-buang waktu. Tidak ingin terlalu lama di rumah karena harus segera pergi, akhirnya membuka suara untuk mengatakan jika baru saja pelayan mengatakan jika Tsamara pingsan di kamar mandi.
"Sekarang Tsamara sudah dalam perjalanan menuju ke rumah sakit karena tadi Sumi mengatakan langsung menelpon ambulans karena takut terjadi sesuatu hal yang buruk. Sekarang aku harus pergi."
Erina kini menepuk pundak Rayya dan berjalan menyamping sambil memanggil sang suami.
Sementara itu, mengetahui jika yang pingsan adalah Tsamara, ada sesuatu yang mengganjal di pikiran. 'Kenapa wanita cacat itu sering pingsan? Kenapa tidak mati saja sekalian daripada menyusahkan orang lain.'
'Wanita itu tidak sedang bercanda, kan? Apa tengah berpura-pura pingsan, agar Zafer mau membantu lagi? Tidak! Aku tidak akan pernah membiarkan itu. Lebih baik tidak perlu mengatakan ini pada Zafer karena tidak penting.'
Saat sibuk berbicara sendiri di dalam hati, Rayya melihat jika pasangan paruh baya tersebut kini tengah berjalan menuju ke arah mobil dan begitu masuk, sang supir mulai mengemudikan meninggalkan area rumah mewah tersebut.
'Semoga mati saja,' lirih Rayya yang kini berniat untuk berbalik badan, tetapi yang terjadi adalah pria paruh baya membawa piring berisi makanan sudah berada di sebelah.
"Ada apa? Memangnya mereka mau ke mana? Seperti terburu-buru. Memangnya ada orang mati?" Leon Pratama berbicara sambil menikmati makanan yang tadi diambil.
"Mereka tidak sopan sekali karena langsung pergi tanpa berpamitan padaku. Apa mereka tidak punya sopan santun?" Leon kembali berbicara sarkas karena sekarang rumah tidak seramai tadi. Jadi, merasa bebas mau berbuat apapun di sana.
"Semoga saja benar-benar mati." Rayya kini merasa perut melilit karena memang dari tadi belum makan. Itu karena Zafer dari semalam memantik amarah dan berhasil membuat mood seketika berubah buruk.
Pernikahan yang awalnya dipikir akan mengharu biru penuh dengan kebahagiaan, ternyata tidak seperti persepsi. Jadi, merasa seperti pernikahan yang dilakukan sama sekali tidak berkesan.
__ADS_1
"Semoga saja ada kabar baik. Bahwa mertuaku mengabarkan ada yang meninggal. Lebih baik makan di dalam saja, Ayah. Aku pun juga ingin. Sepertinya makanannya lezat."
Rayya menatap satu persatu makanan dengan konsep prasmanan, di mana semua orang bisa memilih sesuka hati menu yang diinginkan.
Berbagai jenis makanan kini membuat Rayya menelan ludah, tapi kebiasaan diet selama ini menjadikan ragu-ragu saat melakukan itu. Akhirnya hanya mengambil makan sedikit dan lebih memperbanyak sayuran dan lauk satu potong saja.
Merasa sangat lucu ketika Rayya masih memikirkan masalah mengontrol asupan makanan yang masuk, kini Leon merebut piring yang ada di tengah putri satu-satunya tersebut.
"Makan yang banyak karena katanya kamu sedang hamil bayi kembar, bukan? Jadi, asupan gizi harus cukup, agar mereka tidak kelaparan? Bukankah kamu ingin dua anakmu sehat? Jadi, jangan diet sampai nanti melahirkan." Arya sudah menambahkan beberapa menu di piring.
Kemudian menyerahkan pada Rayya yang bahkan dari tadi berdiri tanpa suara. Aneh sekali melakukan sesuatu hal yang seperti sangat konyol karena selama ini menyerahkan urusan merawat pada pelayan.
Namun, mendaratkan tubuh di dekat Rayya dan mengungkapkan hal yang sangat penting. "Makanlah yang banyak, agar bayimu lahir dengan selamat. Oh ya, mengenai kata-kataku kemarin mengenai pertemuan dengan keluarga Raymond yang mengundang kita untuk makan malam, biar aku yang datang sendiri."
Merasa perut sudah kenyang, Leon tidak menghabiskan makanan karena saat ini ingin tahu tanggapan dari putrinya begitu melihat kebaikan yang baru saja dilakukan.
Itu karena ada sesuatu yang ingin disampaikan, tetapi menunggu hingga Rayya menghabiskan makanan. 'Semoga bisa diandalkan.'
Dengan lahap Rayya menikmati makanan yang diambilkan oleh sang ayah. Ada hal yang dirasa aneh karena sikap pria itu tiba-tiba berubah perhatian dan terkesan mencurigakan.
Namun, sebelum bertanya untuk membahas hal itu, ingin menyelesaikan terlebih dahulu mengenai ritual makan. Sampai beberapa menit kemudian tersisa separuh dan tidak kuat untuk menghabiskan.
"Ayah mengambil makanan terlalu banyak. Aku tidak mungkin bisa menghabiskan ini." Mendorong piring agar menjauh dari hadapan. Kemudian beralih menatap ke arah pria paruh baya yang sudah bisa ditebak memiliki rencana.
"Sekarang katakan padaku!"
"Mengatakan apa?" Leon kini berakting seolah apa yang ada di otak putrinya salah.
__ADS_1
"Jangan berakting lagi, Ayah karena itu tidak akan menipuku. Tidak ada yang lebih mengenal Ayah selain aku, kecuali ibu, mungkin."
Kegetiran defensif yang baru saja menguar di udara karena perkataan Rayya yang tiba-tiba menyebutkan sang ibu, seolah menjelaskan bahwa wanita kuat dan tidak pernah menyerah itu tiba-tiba merindukan wanita yang telah pergi dan mementingkan karir.
"Mungkin kalimat terakhir tidak berlaku bagi Ayah karena tidak menjadi seorang yang penting lagi di mata wanita itu. Baiklah, karena kamu tidak ingin bertele-tele, akan mengatakan padamu."
Ada sesuatu hal negatif yang bisa dicium oleh Rayya dan saat ini lebih memilih untuk menyiapkan hati menghadapi sang ayah sebelum nanti akan melakukan hal sama pada Zafer.
'Nasib baik, suamiku tidak membawa ponsel karena rusak semalam. Sepertinya setelah aku marah-marah, langsung membanting benda pipih itu.' Rayya beralih menatap ke arah sosok pria paruh baya yang terlihat mulai membuka mulut.'
"Sebenarnya keadaan bisnis Ayah sedang tidak baik. Club terancam ditutup karena bangkrut. Itulah kenapa begitu orang tua Raymond mengajak kerja sama untuk memberikan modal, Ayah sangat tertarik. Sama sekali tidak pernah menyangka jika kamu akan menolak. Padahal dulu sempat berjanji akan menikah saat besar."
Leon kini memilih untuk mendekatkan bibir pada daun telinga Rayya. "Minta Zafer untuk menanamkan modal di Club Ayah. Jika sampai itu bangkrut, apa yang harus dilakukan oleh pengangguran?"
Embusan napas kasar kini terdengar sangat jelas, menunjukkan bahwa beban berat semakin bertambah. Belum selesai masalah mengenai sang suami, kini ditambah dengan masalah sang ayah.
Bahkan Rayya sama sekali tidak tahu, apakah bisa membantu sang ayah atau tidak. "Jika sang ayah minta motor, aku masih bisa membelikan. Namun, jika menanamkan modal di Club setelah menghajar Zafer, sepertinya sangat mustahil."
"Apalagi mertua sangat teliti tentang masalah hal-hal kecil dan sangat yakin tidak akan pernah tertarik untuk menanamkan modal di Club. Mungkin masih ada kemungkinan jika Ayah memiliki perusahaan, pasti mereka akan mempertimbangkan. Jadi, buang jauh-jauh mimpi untuk mendapatkan suntikan dana dari keluarga ini."
'Bahkan aku baru beberapa jam menjadi anggota keluarga ini, tapi ayah malah meminta macam-macam. Apa sudah gila?' sarkas Dewi di dalam hati dengan perasaan berkecamuk.
Merasa jika perjuangan dengan merayu hari ini sama sekali tidak berhasil, membuat Leon merasa kesal. "Punya anak satu saja sama sekali tidak bisa diandalkan. Percuma dulu mengurusmu setelah dibuang oleh ibumu."
Tidak ingin semakin dikuasi oleh amarah dan murka pada putrinya, Leon memilih untuk beranjak dari kursi dan pergi tanpa berpamitan.
Sementara itu, Rayya yang merasa perkataan sang ayah bagaikan mendapatkan belati tepat di jantung. Mencoba untuk tenang dan tidak bersedih, gagal dilakukan ketika bola mata berkaca-kaca dan kini kembali menganak sungai di wajah.
__ADS_1
'Apakah aku yang meminta dilahirkan dari perbuatan kalian. Aku pun menyesal karena memiliki orang tua yang hanya membiarkan aku kesepian dan menjalani kesedihan selama puluhan tahun.'
To be continued...