
Tsamara merasa sangat lega begitu melihat Zafer sudah keluar dari ruangan dan berhasil mengusir pria itu agar tidak lagi mengganggu maupun berbicara vulgar mengenai hubungan intim yang biasa dilakukan oleh pasangan suami istri.
"Paling tidak, aku sudah selamat dan tidak akan dituntut oleh pria itu untuk melayani kebutuhan biologis seorang suami. Nasib baik aku tadi mengingat mengenai masalah kesehatan ketika hamil Keanu."
"Kalau kata orang tua zaman dulu, sebenarnya itu bukan penyakit kelamin, tetapi bawaan bayi. Dulu sama sekali tidak percaya dengan adanya mitos mengenai hal-hal seperti itu yang jika dipikirkan memang tidak masuk akal. Namun, aku baru percaya setelah mengalami sendiri."
Tsamara saat ini menoleh ke arah putranya yang masih tertidur sangat nyenyak dengan memeluk guling kecil. "Gatal-gatal itu muncul setelah aku hamil beberapa bulan dan meskipun diobati, selalu muncul lagi. Namun, ternyata perlahan hilang total begitu Keanu lahir."
Kemudian Tsamara perlahan menggeser tubuh untuk mendekati putranya karena ingin mencium kening anak laki-laki yang sangat disayangi dan merupakan pusat dunianya.
"Terima kasih karena telah hadir dalam kehidupan Mama. Meskipun Mama mengalami banyak penderitaan, tetapi menganggapmu adalah sebuah karunia luar biasa yang dipercayakan oleh Tuhan."
"Mungkin jika tidak ada kamu, Mama tidak akan bisa berdiri tegak untuk menghadapi berbagai macam rintangan dan cobaan yang menimpa. Kamu adalah penyemangat Mama Sayang."
Tsamara dari tadi tidak melepaskan dekapan untuk memeluk Keanu dan perlahan merubah posisi yang awalnya duduk, kini sudah membaringkan tubuh dengan telentang di sebelah anak laki-laki tersebut.
Saat memejamkan mata, ia mendengar suara ketukan pintu. "Masuk!"
Sosok wanita paruh baya yang tak lain merupakan kepala pelayan baru saja membuka pintu dan melangkah masuk untuk mendekati majikan perempuan yang berada di atas ranjang.
"Saya ingin mengambil nampan, Nyonya Tsamara. Tadi melihat tuan Zafer sudah turun, jadi berpikir bahwa Anda telah selesai makan."
Pelayan wanita itu tadi mendengar bahwa majikan utama laki-laki menyuruh putra untuk menyuapi istri.
Jadi, begitu melihat pria muda yang masuk ke dalam kamar tamu, memilih untuk langsung mengambil bekas makanan dan juga menanyakan apakah majikan perempuan tersebut membutuhkan sesuatu sebelum tidur.
__ADS_1
Ayu melirik ke arah nampan yang tadi berisi makanan dan sudah dihabiskan oleh Zafer.. "Ambil saja. Aku sudah selesai dari tadi dan tidak membutuhkan apa-apa. Jadi, kau bisa langsung beristirahat, agar bisa kembali bekerja besok pagi."
"Baik, Nyonya." Meraih nampan dan berniat untuk berjalan keluar dari ruangan kamar, tetapi tidak jadi melakukan begitu mendengar suara dari majikan tersebut.
Tsamara merasa penasaran dengan poin yang baru saja dikatakan oleh pelayan yang paling lama bekerja di keluarga ini. "Apa suamiku saat ini berada di bawah? Aku pikir sudah tidur di kamar istri kedua."
Merasa bahwa sikap santai dari majikan perempuannya tersebut ketika menyebutkan istri kedua, malah membuatnya merasa tidak enak untuk berbicara. Namun, harus mengatakan apa yang barusan dilihat.
"Itu, Nyonya. Saya melihat tuhan Zafer masuk ke kamar tamu di lantai satu dan sepertinya ingin tidur di sana."
"Benarkah?" Tsamara yang tidak pernah menyangka jika ternyata Zafer memilih untuk tidur tanpa istri setelah tadi mengatakan mengenai penyakit yang sempat diderita.
Sementara itu, pelayan bertubuh sedikit gemuk tersebut menganggukkan kepala sebagai persetujuan.
"Baiklah. Beristirahatlah dan selamat malam." Tsamara menyunggingkan senyuman begitu pelayan wanita tersebut melangkah pergi keluar dari ruangan kamar.
Sementara di luar ruangan, pelayan wanita tersebut sudah berjalan menuju ke arah anak tangga. Namun, sekilas melihat pintu kamar dari ruangan yang selama ini ditempati oleh istri kedua terbuka.
Niatnya adalah ingin segera menuruni anak tangga dan menghindar dari wanita yang diketahui memiliki sikap arogan dan sangat kasar sebagai seorang wanita.
Namun, gagal melakukannya begitu indra pendengaran menangkap suara wanita itu yang memanggil.
"Tunggu!" Rayya dari tadi kebingungan di dalam kamar saat tidak sabar menunggu Zafer kembali, berniat untuk pergi melihat sang suami agar segera ke karena karena berharap ingin tidur diperlukan pria yang sangat dicintainya tersebut.
Hingga kebetulan saat membuka pintu bertemu dengan kepala pelayan dan langsung bertanya. "Apa yang dilakukan suamiku di dalam kamar wanita cacat itu?"
__ADS_1
"Kau baru saja mengambil nampan dari kamarnya, bukan?"Rayya mengarahkan tatapan mengintimidasi dan saat ini masih memendam amarah yang memuncak di dalam hati ketika mengingat semua yang dikatakan oleh Zafer ketika mengeluarkan kalimat bernada ancaman.
"Tuan Zafer saat ini tidur kamar tamu yang ada di lantai satu, Nyonya. Tadi saya melihatnya masuk ke dalam kamar." Masih berdiri di anak tangga sambil menunggu apakah akan mendapatkan pertanyaan lagi.
Rayya yang merasa sangat heran, terlihat menyipitkan mata dan karena ingin segera bertemu dengan sang suami, tidak bertanya banyak pada pelayan.
"Antarkan aku ke sana sekarang!" Tanpa menunggu wanita itu berjalan terlebih dahulu, Ia sudah melangkah turun di depan dan ingin tahu di kamar tamu yang mana sang suami berada.
Rayya sempat melihat ada dua kamar untuk tamu dan tidak ingin menebak sendiri, sehingga ingin ditunjukkan oleh pelayan tersebut.
Beberapa saat kemudian, pelayan wanita itu menunjuk ke arah ruangan kamar dengan pintu berwarna coklat tua yang berada di sudut sebelah kiri.
"Tuan Zafer ada di kamar ini, Nyonya."
Kemudian Rayya langsung mengibaskan tangan dan berjalan mendekati pintu. Saat membuka knop pintu, tetapi tidak terbuka karena terkunci dari dalam.
Tanpa membuang waktu, Rayya sudah mengetuk pintu di hadapannya. "Sayang! Buka pintunya!"
Sementara itu, kepala pelayan kini berjalan menuju ke arah dapur dan membiarkan wanita yang diketahui tengah hamil tersebut membuat bising di malam hari dengan suara teriakan ketika mengetuk pintu.
'Jika tuan dan nyonya besar terbangun karena suara teriakan menantu, pasti malam ini, semua orang tidak akan tidur dengan nyenyak,' gumam wanita yang kini mulai mencuci nampan dan mangkuk.
Saat ini, Rayya sudah beberapa kali mengetuk pintu, tetapi tidak juga mendapatkan jawaban dan membuatnya merasa sangat kesal sekaligus geram pada sang suami.
'Kenapa Zafer memilih untuk tidak tidur di kamar ini? Apa yang terjadi sebenarnya? Sepertinya ini semua berkaitan dengan Tsamara,' gumam Rayya yang saat ini masih berusaha untuk mengetuk pintu agar sang suami segera keluar dan menjelaskan kenapa tidak pergi ke kamarnya.
__ADS_1
Namun, yang terjadi saat ini adalah pintu tetap tertutup rapat dan sama sekali tidak ada suara apapun dari dalam. Seolah sang suami tidak mendengar suara teriakannya.
To be continued...