Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Ungkapan perasaan


__ADS_3

Erina yang saat ini masih mendorong kursi roda, hanya diam dan tadi sempat memperhatikan penampilan menantu perempuan kesayangan tersebut.


'Tsamara bahkan sama sekali tidak memakai gaun yang dibelikan oleh putraku.'


'Apakah tidak memakainya karena membenci Zafer atau memang tidak suka? Aku ingin bertanya, tapi masih mempertimbangkan dan khawatir jika ia merasa tersinggung. Namun, tidak ingin tersisa dengan penasaran atas jawabannya, sehingga ingin bertanya ketika nanti berada di dalam mobil.'


Apalagi melihat sikap Tsamara yang terlihat seperti enggan berbicara saat berada bersama Zafer dan Rayya, sehingga Erina memilih untuk tidak membahas hal itu di depan mereka karena hanya akan memancing pertikaian.


Sementara itu, Zafer saat ini berjalan mengikuti di belakang sang ibu bersama Rayya yang masih bergelayut manja padanya. 'Mama bahkan sangat menyayangi Tsamara dan menganggap seperti putri kandung sendiri.'


'Namun, sikapnya berubah kepadaku. Bahkan aku selalu merasa seperti anak tiri ketika berada di dekat Tsamara,' gumam Zafer yang saat ini tengah memikirkan bahwa besok tidak akan bisa melihat Tsamara dan orang tuanya sementara waktu.


Ada perasaan tidak tenang yang dirasakan olehnya saat akan pergi meninggalkan rumah. Ini bilang bukan perjalanan pertama dalam bisnis, tapi sekarang merasa berbeda.


'Kenapa aku seperti sangat malas pergi? Apalagi belum menyelesaikan masalahku dengannya. Aku perlu berbicara dengan Tsamara untuk mengetahui bagaimana perasaannya padaku setelah kami menyatu sebagai suami istri yang sesungguhnya.'


Zafer yang sibuk bergumam sendiri di dalam hati ketika mempertimbangkan keputusan untuk bertanya pada Tsamara, kini memutuskan bahwa nanti malam akan menghampiri Tsamara di kamar setelah Rayya tertidur.


'Aku harus bicara dengan Tsamara untuk membahas masalah ini. Aku tidak bisa menahannya dan tidak akan bisa tenang bekerja di luar kota sebelum mengetahui perasaan Tsamara padaku,' gumam Zafer saat memutuskan untuk membahas masalah hal yang mengganggu pikiran.


Sementara itu, Rayya menatap ke arah Zafer dan berbisik di dekat daun telinga sang suami. "Tsamara tiba-tiba berubah menjadi bisu karena dari tadi tidak berbicara."


Zafer hanya diam dan mengarahkan jari telunjuk pada bibir agar Rayya tidak berkomentar apapun lagi di depan orang tua. Kemudian melakukan hal yang sama dengan mendekatkan wajah untuk berbisik.


"Ini adalah hari paling membahagiakan untuk orang tuaku. Jadi, jangan merusak dengan berbicara hal-hal yang menyinggung perasaan mereka. Apalagi Tsamara adalah menantu kesayangan di rumah ini."

__ADS_1


Tentu saja Rayya yang berniat untuk membuat Zafer kesal dan ilfil pada Tsamara, tetapi gagal dan malah mendapatkan jawaban yang membuatnya sadar akan posisi di rumah itu.


Namun, mencoba untuk bersabar dan tidak marah karena berpikir bahwa hari ini semua akan berubah. Apalagi kekuasaan akan jatuh di tangannya setelah berhasil menyingkirkan orang tua Zafer.


'Sabar, Rayya. Jangan terlalu berambisi dan malah akan membuat rencanamu gagal. Sebentar lagi, aku hanya perlu menunggu hari ini dan esok hari rumah ini menjadi milikku. Aku juga akan menyingkirkan Tsamara agar menyusul mertuaku yang sangat jahat itu.'


Kemudian ia langsung menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan tanpa nada protes sedikitpun. Seolah tengah berakting menjadi seorang wanita yang patuh pada apapun yang dikatakan oleh sang suami.


"Baiklah," lirih Rayya yang saat ini tersenyum simpul pada sang suami..


Beberapa saat kemudian, mereka masuk ke mobil masing-masing. Kini, dua mobil yang melaju meninggalkan istana keluarga Dirgantara sudah menuju ke area restoran dan seperti yang tadi dipikirkan oleh Erina bahwa ingin mengungkapkan pertanyaan yang menggangu dari tadi.


Sebelum berbicara, Erina saat ini tengah menatap ke arah sang suami yang memangku Keanu dan bercanda. Jadi, berpikir tidak akan menggangu.


"Apakah aku boleh bertanya sesuatu?"


Tsamara yang tadinya fokus menatap ke arah depan, di mana putranya tengah bercanda bersama ayah mertua. Bahkan pemandangan itu sempat membuatnya tersenyum dan merasa bahagia bisa bertemu dengan keluarga yang sangat baik.


Meskipun dulu sering mendapatkan penghinaan dan sikap kasar dari Zafer, tapi sekarang karena sudah ada perkembangan dari pria itu, jadi sudah merasa tenang tanpa harus tersiksa ataupun bersedih melihat pria yang berstatus sebagai suaminya tersebut selalu membencinya.


Tsamara refleks langsung menoleh ke arah sebelah kanan, di mana ibu mertua terlihat seperti sangat serius ingin membicarakan sesuatu dan membuatnya juga penasaran.


"Tentu saja boleh, Ma. Memangnya apa yang ingin Mama tanyakan?" tanya Tsamara yang saat ini masih menatap intens sosok wanita paruh baya di sebelahnya.


"Bagaimana hubunganmu dengan putraku? Apakah kamu masih merasa yakin akan pergi meninggalkan kami dan bercerai dengan Zafer setelah bisa berjalan lagi? Apalagi mulai besok jadwal terapi sudah aktif dan akan diantarkan oleh sopir karena sepertinya hubunganmu dengan Zafer sedang tidak baik."

__ADS_1


Erina menghentikan perkataan sejenak sambil menatap gaun yang dikenakan oleh Tsamara. Meskipun semua pakaian Tsamara berwarna hitam, tetapi bisa membedakan bahwa hari ini menantunya tersebut berusaha tampil lebih dari biasanya.


"Bukankah Zafer sudah membelikan banyak pakaian untukmu? Kenapa kamu tidak mau memakainya? Apakah itu karena kebencianmu pada putraku yang selalu membuatmu hidup menderita, sehingga tidak mau memakainya?"


Tsamara kini mengerti bahwa hal yang ingin dihindari malah membuat beberapa orang salah paham. Jika selama ini hanya fokus untuk memikirkan perasaan Rayya, tetapi tidak mengkhawatirkan pemikiran mertua, khususnya wanita di sebelahnya tersebut.


'Aku sama sekali tidak menyangka jika mama berpikir seperti itu,' gumam Tsamara yang saat ini tidak ingin membiarkan kesalahpahaman terjadi dan menjelaskan bahwa semuanya demi Rayya.


"Mengenai hubungan dengan tuan Zafer, aku akan menyerahkan pada takdir, Ma. Ada hati seorang wanita yang berstatus sebagai istri yang harus kujaga," ucap Tsamara yang kini menyentuh punggung tangan wanita paruh baya di sebelahnya tersebut.


"Doakan saja yang terbaik untuk kami. Meskipun dalam status hukum, aku lebih kuat posisi dibandingkan Rayya, tapi tidak ingin menyakiti hati seorang wanita yang sedang hamil. Jika aku memang jodoh tuan Zafer, Tuhan akan menyatukan kami meskipun dengan cara yang tidak bisa dipikirkan secara nalar oleh manusia."


Tsamara bahkan tidak pernah memikirkan jika Zafer adalah jodohnya saat sudah ada Rayya di antara mereka. Jika tidak ada wanita itu, mungkin berpikir masih ada harapan.


Jadi, sekarang berpikir tidak ada harapan meskipun ia mengalami perkembangan dalam hubungan bersama Zafer karena sudah menjadi pasangan suami istri yang sah.


Saat Erina tengah menyesal karena berpikiran negatif pada Tsamara dan merasa sangat bersalah, hendak meminta maaf, tapi suara Tsamara membuatnya tidak jadi membuka mulut.


"Jangan merasa bersalah, apalagi meminta maaf padaku, Ma. Aku sangat paham apa yang dirasakan Mama. Jadi, tidak perlu menjelaskan apapun. Aku sangat berharap kita akan selalu seperti ini karena sama-sama saling memahami. Aku sangat menyayangi kalian karena sudah kuanggap sebagai orang tua sendiri."


Tsamara sudah berkaca-kaca karena selalu saja bersedih ketika membahas perihal orang tua. Apalagi sudah tidak ada orang tua yang menghiburnya, tetapi berharap selamanya akan menjadi putri dari wanita paruh baya tersebut.


"Aku ingin Mama tetap menganggapku sebagai putri kandung sendiri meskipun sudah tidak menjadi menantu di keluarga Dirgantara. Semoga setelah anak kembar yang dikandung Rayya lahir, Keanu tetap menjadi cucu sulung di keluarga ini."


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2