
Sementara itu di sisi lain, Zafer yang masih terdiam di sofa, belum beranjak dari sana. Bahkan saat ini menatap ke arah kamar di sebelah kanan dan kiri yang terhalang dua ruangan.
Di mana kamar sebelah kiri adalah ruangan favoritnya sekaligus tempat Tsamara—sang istri pertama tinggal.
Sementara di sisi kanan adalah Rayya—wanita yang dicintai dan tengah mengandung keturunannya dan harus lebih diperhatikan. Namun, sang ibu mengatakan agar menasihati Rayya karena sikap tidak sopan hari ini.
Zafer kali ini mengacak frustasi rambut karena benar-benar merasa pusing. "Ternyata seperti ini rasanya mempunyai dua istri? Bahkan aku yang sama sekali tidak menganggap Tsamara adalah istriku saja bisa membuatku pusing seperti ini. Lebih baik aku menenangkan diri sejenak di kamar kosong ."
Kemudian ia melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah ruangan kamar yang berada di tengah, tetapi saat hendak membuka pintu, melihat kepala pelayan bersama Sumi berjalan mendekat.
Awalnya berpikir ingin berbicara dengan orang tua, tetapi menyipitkan mata begitu melihat dua orang itu menuju ke arah kamar yang dihuni oleh Tsamara. Refleks Zafer mendekat.
"Ada apa kalian kemari?"
"Nyonya Tsamara meminta bantuan untuk turun dari ranjang karena ingin pergi ke kamar mandi, Tuan. Karena tadi mengatakan masih pusing dan tidak ingin terjatuh lagi, jadi menelpon saya," ucap wanita yang merupakan kepala pelayan.
Awalnya Zafer berniat untuk membiarkan dua wanita itu membantu Tsamara, tetapi tiba-tiba mengingat perkataan sang ayah tadi. Jika tidak bisa bersikap baik pada Tsamara, menyuruh untuk pergi dari rumah.
Tentu saja Zafer tidak mungkin mau meninggalkan semua kemewahan dan hidup tanpa orang tua, jadi mendapatkan sebuah ide di kepala. Kemudian ia mengibaskan tangan sebagai bentuk pengusiran.
"Kalian pergi saja!"
Refleks dua wanita itu saling bersitatap karena merasa bingung harus menuruti perintah dari majikan pria atau wanita. Apalagi mereka tahu jika pria di hadapan tersebut tidak berkuasa seperti sang majikan utama pria, tak lain adalah Adam Dirgantara.
Jadi, tidak langsung pergi dan masih ingin melaksanakan perintah dari sang nyonya yang sedang membutuhkan bantuan.
"Saya tidak tega membiarkan nyonya Tsamara, Tuan." Sumi memberanikan diri membuka suara dan sudah siap jika pria itu memecat jika sampai marah karena tidak patuh.
Mengerti tentang apa yang dipikirkan oleh pelayan wanita itu saat tidak mau pergi, Zafer memilih untuk langsung bertindak. "Aku yang akan menolong istriku. Jadi, kalian kembali saja ke bawah untuk melakukan pekerjaan lain."
__ADS_1
Setelah mengibaskan tangan untuk yang kedua kali, Zafer kini masuk ke dalam ruangan kamar tanpa menunggu atau pun memperdulikan dua pelayan itu.
Begitu berada di dalam ruangan kamar dan menutup pintu, Zafer bisa melihat sosok wanita yang masih terbaring telentang di atas ranjang, sedangkan Keanu terlihat tengah menonton film kartun sambil sesekali tertawa kecil.
Hingga mendengar suara Tsamara saat berjalan semakin mendekat. Namun, kali ini tidak langsung membantu wanita itu ke kursi roda karena ingin melihat apa yang akan dikatakan oleh Tsamara.
"Tuan Zafer?" Tsamara mengerjapkan kedua mata dan merasa sangat terkejut ketika melihat sosok pria pemilik kamar tersebut.
Tidak ingin salah berbicara dan akhirnya akan memancing amarah pria itu, ia memilih untuk diam. 'Kenapa pelayan tidak kunjung datang ke sini? Padahal tadi bilang akan segera naik ke lantai atas untuk membantuku.'
Saat Tsamara sibuk bergumam sendiri di dalam hati, kini indra pendengaran menangkap suara bariton pria yang dari tadi berdiri di sebelah ranjang.
Bahkan sudah menatap dengan intens sampai Tsamara merasa risi sendiri.
"Kenapa? Apa kau tidak suka melihatku berada di sini?" tanya Zafer yang kali ini menurunkan nada dengan berbicara tanpa berteriak atau pun amarah.
Tsamara refleks langsung menggelengkan kepala untuk tidak membenarkan. Meskipun merasa sangat aneh melihat pria itu berbicara tidak seperti biasa karena terdengar lebih sopan dan lembut, ia berusaha untuk mengikuti alur.
Kemudian Tsamara berniat untuk menelpon mertua yang tadi berperan bisa menghubungi jika membutuhkan sesuatu. "Aku akan menghubungi mama saja."
Mengerti apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Tsamara, tetapi berakting tidak mengetahui apapun, Zafer kini memilih untuk merebut ponsel dari jemari lentik itu.
"Kebetulan sekali aku mau mandi." Kemudian Zafer memilih untuk membungkukkan badan dan langsung meraup tubuh Tsamara dan beberapa saat kemudian sudah menggendong ala bridal style.
Tentu saja Zafer saat ini tengah berjalan menuju ke arah kamar mandi seperti keinginan Tsamara. Ide inilah yang tadi dipikirkan dan berusaha untuk berdamai tanpa mengatakan terlebih dahulu karena ego dan gengsi jauh lebih tinggi.
Sementara itu, Tsamara yang merasa sangat terkejut atas perbuatan tiba-tiba dari Zafer ketika menggendong dengan membawa ke kamar mandi, mengerjapkan mata beberapa kali sekaligus menelan saliva dengan kasar.
Ingin sekali menolak bantuan dari pria yang sudah menggendong ala bridal style, tapi khawatir jika kembali marah seperti tadi dan berakibat pertengkaran antara ayah dan anak.
__ADS_1
'Sebenarnya apa yang dilakukan oleh tuan Zafer? Tadi mengatakan akan mandi dan langsung menggendongku. Apa ingin mandi di depan mataku?" gumam Tsamara yang masih merasa sangat kebingungan mengartikan perkataan pria dengan dada bidang penuh cetakan otot perut tersebut.
Akhirnya Tsamara memilih hanya pasrah atas perbuatan Zafer dan berharap tidak akan memantik amarah pria yang kini sudah menurunkan di atas closet.
"Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Zafer yang saat ini masih berdiri di hadapan Tsamara
"Aku ...." Merasa bingung harus menjawab apa, Tsamara kini balik bertanya. "Bukankah Anda tadi bilang ingin mandi? Beri aku waktu lima menit. Aku hanya ingin kencing saja."
Refleks Zafer sedikit membungkuk dan berbicara. "Biarkan aku membantumu!"
Zafer kini mencoba untuk memegang bagian bawah gaun panjang lebar yang dikenakan Tsamara agar bisa segera kencing, tapi tidak bisa melakukan karena wanita itu seolah enggan untuk disentuh.
"Aku bisa sendiri!" Tsamara menjawab cepat karena tidak ingin Zafer mengetahui jika selama ini tidak pernah memakai ****** *****.
Tentu saja bukan karena tidak ingin disentuh oleh pria yang berstatus sebagai suami, tetapi merasa malu jika rahasia yang hanya diketahui olehnya diketahui orang lain.
"Apa kamu jijik padaku? Hingga tidak ingin kusentuh?" Zafer berbicara dengan rahang mengeras karena kesal, tetapi masih mencoba untuk bersikap tenang, tidak berteriak seperti biasa.
Kembali didera kebingungan, kini Tsamara merasa sangat bingung untuk menjelaskan. Namun, pria dengan rahang tegas tersebut kini mengunci tatapan dengan iris tajam, sehingga tidak bisa menghindar dari pertanyaan yang bersifat menuduh itu.
'Apa yang harus kukatakan? Apa aku jujur saja? Atau berbohong pada tuan Zafer,' gumam Tsamara yang saat ini tengah berpikir untuk menjelaskan semua demi kebaikan.
"Aku tahu status kita di atas kertas adalah suami istri, tapi juga mengetahui bahwa itu tidak seperti yang dialami oleh semua orang. Jadi, aku merasa sangat aneh jika Anda melihatku tanpa pakaian."
"Aku tidak pernah memakai ****** ***** semenjak cacat, jadi tadi menolakmu membantu karena itu. Bukankah rasanya akan sangat aneh?" Tsamara kini merasa lega saat sudah berbicara jujur dan sama sekali tidak melihat Zafer kembali marah.
Namun, sangat terkejut dengan tanggapan Zafer yang seolah tidak memperdulikan yang tadi dikatakan.
"Aku suamimu dan kamu istriku secara sah di mata hukum dan agama. Bahkan saat ini, aku telanjang di depanmu pun bukanlah sebuah dosa, bukan?" Zafer kini kembali berdiri tegak dan mengangkat kedua tangan untuk melepaskan kaos casual di tubuh.
__ADS_1
Hingga kini bertelanjang dada menampilkan otot-otot perut kencang yang jelas membuktikan hasil dari gym setiap hari.
To be continued...