
Zafer mengerjapkan mata begitu mendengar apa yang baru saja diungkapkan oleh Tsamara dan tentu saja didengar oleh semua orang yang berada di dekatnya. Bahkan saat ini bisa melihat tatapan dari beberapa orang yang mendengar Tsamara berbicara saat video call.
"Astaga! Apa kamu tidak merasa malu membahas masalah ranjang saat aku sedang berada di tempat umum? Kenapa tidak membicarakan hal itu di dalam kamar saja? Semua orang di sini langsung menatapku dengan aneh. Pasti mereka berpikir bahwa aku mempunyai seorang istri tidak tahu malu pandai berbicara vulgar."
Berpikir jika tidak ada yang mengenal di gerai ponsel ketika menatap pria itu, Tsamara saat ini kembali membahas dengan sesuatu yang dianggap benar.
"Jika pasangan yang belum menikah merasa santai ketika membahas masalah hubungan di atas ranjang, apakah pasangan suami istri harus merasa jika itu tidak boleh dibahas di tempat umum? Jika pikiran semua orang seperti itu, maka dunia ini sebentar lagi akan kiamat!"
Berpikir bahwa halal dan haram seolah sekarang disalahgunakan oleh banyak orang tidak bertanggungjawab, Tsamara merasa sangat kesal saat memikirkan hal itu.
Apalagi diketahui bahwa Zafer berbicara santai ketika membahas masalah *** bersama dengan Rayya saat belum menikah. Namun, ketika statusnya merupakan istri sah membahas masalah itu, langsung diejek dan memantik amarah Tsamara.
Tanpa berniat untuk melanjutkan pembicaraan yang dianggap hanya membuatnya emosi, akhirnya memilih untuk mematikan sambungan telpon secara sepihak.
"Rasanya aku ingin memblokir nomor ini agar tidak mengganggu dengan menelponku lagi. Apakah sekarang hobinya adalah mengganggu ketenanganku baik di rumah maupun di luar?"
Tsamara berniat untuk memasukkan ponsel ke dalam saku gaun berwarna hitam yang dipakai, tetapi kembali mendengar dari ponsel dan pastinya dari pria yang berstatus sebagai suaminya tersebut.
Awalnya Tsamara tidak berniat untuk menjawab dan membiarkan saja ponsel terus berdering, tapi lama kelamaan merasa sangat bising dan menyakiti indra pendengaran. Akhirnya memilih untuk segera menggeser tombol hijau ke atas.
"Sebenarnya apa yang Anda inginkan, Tuan Zafer? Anda harus memegang prinsip hidup karena kalau tidak, itu sama saja seperti menjilat ludah sendiri."
"Tuan Zafer?"
Tsamara yang tadinya merasa sangat emosi dan memilih meledakkan semua amarah pada pria di seberang telpon karena berpikir yang menghubungi adalah Zafer. Namun, membulatkan mata karena ternyata bukan suami yang menelpon saat ini.
Tsamara refleks langsung melihat nomor dalam ponsel tersebut dan ternyata berbeda dengan milik pria yang berstatus sebagai suami.
"Kau?"
"Apakah kamu masih hafal dengan suaraku, Sayang?"
Tsamara refleks mematikan sambungan telepon secara sepihak. Bahkan langsung menonaktifkan ponsel karena tidak ingin dihubungi oleh pria yang tadi dikhawatirkan mengetahui nomornya dan ternyata ketakutannya benar.
"Rey? Kenapa pria itu kembali membuat hidupku tidak tenang seperti ini?" Tsamara bahkan memegang dada yang berdetak sangat kencang melebihi batas normal.
__ADS_1
Apalagi bulu kuduknya seketika meremang mendengar Rey memanggil sayang seperti beberapa tahun silam saat masih tergila-gila pada pria itu.
'Pria berengsek itu benar-benar gila karena berpikir aku akan kembali setelah memanggilku sayang,' lirih Tsamara yang merasa sangat renyah ketika menyebut kalimat sayang.
Dulu Rey selalu memanggilnya seperti itu dan begitupun sebaliknya. Bahkan saat itu merasa dunia seperti hanya milik mereka karena berpikir saling mencintai. Namun, Ternyata semua hanyalah kepalsuan yang diciptakan oleh Rey.
Hingga semua berakhir dan menyisakan luka teramat dalam di dalam hati. Kini, kembali merasakan luka tak berdarah karena pria yang telah membuat luka itu kembali lagi.
Hingga beberapa saat kemudian, Tsamara seketika berjenggit kaget begitu mendengar suara ketukan pintu dan melihat seseorang baru masuk ke dalam ruangan kamar.
"Tsamara? Ada kabar buruk!" ucap sosok pria paruh baya yang saat ini tengah menggendong Keanu dan berjalan masuk ke dalam ruangan kamar.
Kemudian disusul oleh sosok wanita yang tak lain ibu mertua juga sudah berjalan mendekat dengan wajah penuh kekhawatiran.
***
Beberapa saat lalu, Erina berjalan keluar dari ruangan kamar setelah memberikan kesempatan pada putranya agar berbicara berdua dengan Tsamara.
Sambil tidak berhenti tersenyum karena membayangkan jika hubungan antara putranya dengan istri pertama akan berkembang dengan baik mulai hari ini karena Zafer sudah mau menelpon Tsamara.
'Semoga hubungan mereka akan seperti selayaknya pasangan suami istri normal. Aku sangat ingin Tsamara hamil benih Zafer. Pasti akan melahirkan keturunan yang luar biasa baik sepertinya.'
Merasa khawatir jika terjadi sesuatu yang buruk pada Rayya, Erina saat ini berjalan buru-buru untuk mengetuk pintu dan ingin melihat apa yang sebenarnya dilakukan di dalam kamar.
"Rayya! Apa yang kamu lakukan di dalam? Mama masuk sekarang!" Membuka kenop pintu, tetapi gagal karena ternyata dikunci dari dalam, sehingga semakin khawatir jika menantunya tersebut kembali berbuat nekat dengan menyakiti diri sendiri dan janin yang berada di dalam kandungan.
"Rayya, buka pintunya!" teriak Erina yang saat ini sudah menggedor pintu selama beberapa kali dan menunggu menantunya membuka.
Sebenarnya tadi berniat untuk menunggu sang suami di taman depan, tapi tidak jadi melakukannya karena merasa khawatir jika terjadi sesuatu pada Rayya yang terdengar berteriak di dalam kamar.
Sementara itu di dalam ruangan kamar, Rayya beberapa saat lalu menghubungi Zafer karena berniat untuk menceritakan kejadian hari ini dan juga memberitahukan telah merekam Tsamara yang tadi berteriak dan berbicara kasar.
Namun, nada sibuk dari nomor sang suami, membuatnya merasa sangat kesal karena dari semalam tidak berbicara dengan Tsamara.
Padahal ingin sekali tidur di pelukan sang suami, tetapi harus menahan diri karena semalam sangat marah melihat Zafer hanya memakai handuk sebatas pinggang ketika menggendong Tsamara.
__ADS_1
Jadi, saat ingin menelpon, tetapi nomor yang dituju sibuk, tentu saja sangat kesal dan memilih untuk mengempaskan beberapa alat make up yang ada di meja rias.
"Zafer, kenapa kau sama sekali tidak menemuiku tadi pagi? Bahkan tidak menelpon atau mengirim pesan saat sudah bekerja? Berengsek!" teriak Rayya dengan wajah memerah dan degup jantung berdetak semakin kencang saat dikuasai oleh angkara murka.
"Siapa yang kamu telepon saat ini? Apakah wanita cacat itu? Aku tidak akan pernah tinggal diam!" Kembali membuang bantal guling yang ada di atas ranjang dan juga selimut sudah berubah berantakan karena menjadi sasaran kemurkaannya saat ini.
Hingga saat amarah masih menguasai, mendengar pintu yang digedor dari luar dan suara mertua.
Namun, sama sekali tidak berniat untuk membuka pintu karena jika sampai melakukan itu, akan melampiaskan amarah pada wanita tersebut dan hubungan di antara menantu dan ibu mertua akan semakin memburuk.
'Aku tidak ingin membuat masalah menjadi semakin bertambah besar dengan cara melampiaskan kekesalan pada wanita tua itu yang suka ikut campur masalah rumah tangga kami.'
Rayya memilih untuk berteriak, agar mertuanya tidak merasa khawatir dan segera pergi dari depan ruangan kamar.
"Aku tidak apa-apa, Ma. Tolong biarkan aku sendiri untuk menenangkan diri karena marah pada Zafer yang dari semalam tidak memperdulikan aku. Bahkan saat aku memilih mengalah dengan menelpon terlebih dahulu, tapi nomornya sibuk. Aku harap Mama mengerti kenapa aku bisa berteriak untuk melampiaskan amarah!"
Rayya bahkan berbicara dengan suara nyaring, agar mertuanya segera pergi dan membiarkannya tenang di dalam kamar karena hanya itu yang diinginkan saat ini.
Jika keluar menemui Tsamara dan melihat benar-benar sedang berbicara di telpon dengan Zafer, pasti akan merasa sangat marah. Bahkan mungkin bisa berakhir menghabisi nyawa wanita itu dengan cara mencekik hingga tidak bisa bernapas.
Tidak ingin berakhir di penjara karena tuduhan melenyapkan nyawa seseorang, Rayya memilih untuk mengendalikan diri dan menahan semua yang dirasakan, sampai datang orang suruhan Harry.
'Aku semalam mengandalkan emosi dan berakhir seperti ini. Jadi, harus mengambil pelajaran atas apa yang terjadi. Memang hal yang didasari oleh emosi tidak akan berakhir baik,' gumam Rayya yang saat ini memilih untuk membanting tubuh di atas ranjang dan meringkuk di sana.
Hingga terdengar suara dari luar yang mengatakan tidak boleh melakukan sesuatu yang buruk.
Begitu tidak terdengar suara mertua, Rayya saat ini beberapa kali meninju ranjang empuk yang menjadi tempatnya menikmati istirahat.
'Aku harus bermain cantik dan tidak diketahui oleh siapapun saat menghabisi orang tua Zafer dan juga wanita cacat itu. Sementara Keanu nanti bisa ikut Rey.'
'Seharusnya Rey mau bekerja sama denganku karena itu akan menguntungkan dan bisa merebut Keanu tanpa mengkhawatirkan wanita cacat tersebut.'
'Sial! Sebenarnya Zafer saat ini sedang berbicara dengan siapa, sehingga tidak memperdulikan telponku. Apa sampai sekarang masih marah padaku karena kejadian semalam? Bukankah seharusnya aku yang marah karena dikhianati?'
Merasa sangat pusing dengan berbagai masalah yang terjadi, Rayya saat ini sudah mengacak rambut hingga terlihat sangat berantakan dan kusut sambil mengumpat.
__ADS_1
"Berengsek!" sarkas Rayya yang sudah terlihat seperti cacing kepanasan karena bergerak ke kanan dan ke kiri di atas ranjang untuk meluapkan segala amarah yang membuncah di dalam hati ketika mengingat masalah yang terjadi.
To be continued...