
Beberapa saat lalu, Tsamara yang sedang menemani putranya bermain dengan putranya di halaman depan rumah, bisa melihat saat Rayya pergi tanpa sopir dengan keadaan marah.
"Apakah Rayya marah karena Zafer tidak mau menuruti perintahnya untuk mengusirku? Kapan Rayya akan berubah menjadi seorang wanita yang baik sebagai istrinya juga calon ibu?"
Tsamara saat ini hanya melihat kepergian Rayya dan membuatnya merasa sedikit bersalah karena menjadi penyebab pertengkaran antara suami istri tersebut.
Meskipun statusnya juga merupakan istri sah Zafer, tetapi tidak menganggap bahwa hubungan rumah tangga mereka sehat seperti layaknya pasangan normal.
Meskipun ia memutuskan untuk tetap di sisi Zafer, tapi sama sekali tidak berniat untuk merebut dari Rayya. Tsamara berpikir hanya ingin memenuhi amanat dari mertuanya sudah dianggap sebagai orang tua kandung.
Hal itu karena ingin membalas semua perbuatan baik dari Adam Dirgantara dan Erina yang menyayanginya seperti putri kandung sendiri.
Tsamara tidak ingin mengganggu Zafer dengan bertanya mengenai pertengkaran dengan Rayya. Apalagi mengetahui bahwa saat ini perasaan Zafer sedang tidak baik-baik saja setelah terlihat murka di depan Rayya tadi ketika membela.
'Tuan Zafer pasti tadi merasa di ketika memutuskan untuk tidak memenuhi keinginan Rayya yang ingin aku pergi dari rumah ini. Apalagi Rayya mungkin berpikir bahwa Zafer akan langsung menceraikan aku setelah mertua meninggal karena tidak ada lagi yang melarang ataupun memarahi.'
'Namun, begitu mengetahui bahwa suami lebih membela istri sah, pasti merasa sangat marah dan memilih untuk mendinginkan kepala dengan pergi dari rumah.'
Tsamara saat ini telah memikirkan perkataan dari ibu mertua yang dulu selalu membahas masalah viral suka pergi ke klab dan sekarang sangat khawatir jika melakukan itu.
"Semoga Rayya tidak melampiaskan amarah dengan cara minum-minuman beralkohol karena akan berdampak buruk pada janin yang dikandung."
Ia memilih untuk tidak memikirkan rela karena hanya membuatnya bertambah semakin pusing dan fokus pada putranya yang tengah sibuk bermain mobil mini di halaman rumah sambil tertawa riang.
Melihat senyuman putranya, Tsamara merasa bahagia tidak terperi dan berharap bisa selalu seperti itu.
__ADS_1
'Semoga Keanu bahagia selamanya dan tertawa seperti itu.'
Tsamara saat ini menunduk ke arah kedua kaki yang harusnya sudah melakukan terapi satu minggu lalu, tetapi selalu gagal karena berbagai macam masalah yang menimpa.
Jika jadwal pertama dulu gagal karena keadaannya yang tidak fit untuk melakukan terapi, sedangkan yang kedua juga sama karena kematian dari mertua dan membuatnya belum bersemangat untuk melakukan terapi.
'Kenapa selalu saja ada masalah yang menimpa keluarga kami? Aku tahu bahwa di dunia ini tidak ada orang pembawa sial dan perkataan dari tuan Zafer hanyalah sebuah pelampiasan semata, tapi kenapa setelah memikirkan semua hal yang terjadi selama beberapa bulan terakhir ini, seperti nyata.'
'Bahwa semenjak aku masuk ke dalam keluarga ini, berbagai macam masalah datang dan puncak dari semuanya adalah papa dan mama meninggal dalam kecelakaan. Apakah aku benar-benar adalah wanita pembawa sial?'
Tsamara merutuki kebodohan karena memikirkan hal itu dan tidak ingin semakin tersiksa dengan menyalahkan diri sendiri atas semua hal yang terjadi, memilih untuk masuk ke dalam rumah setelah berpesan pada pelayan agar menemani putranya bermain.
Berniat untuk beristirahat di dalam kamar karena tubuhnya sangat lelah setelah diporsi selama satu minggu untuk mengurus berbagai macam keperluan acara selama tujuh hari meninggalnya mertua.
Tsamara sudah mengarahkan kursi roda memasuki pintu utama dan ketika hendak menuju ke arah lift, melewati ruangan kamar Zafer dan berniat untuk memeriksa. Apakah pria itu baik-baik saja?
"Kamu ada di sini? Lebih baik kamu istirahat, aku akan keluar." Tsamara yang tidak ingin mengganggu Zafer ketika terlihat berdiri memunggungi dengan menatap ke arah foto keluarga yang berada di dinding, sehingga memilih untuk pergi agar pria itu lebih tenang.
"Aku butuh teman untuk berbagi keluh kesah," ucap Zafer yang saat ini berbicara tanpa menoleh ke arah Tsamara.
Sementara itu, Tsamara yang saat ini tidak jadi keluar, akhirnya mengarahkan kursi roda untuk memasuki kamar dan sedikit merasa lega karena mendengar Zafer mulai membuka diri untuk berbagi beban masalah yang dirasakan.
"Aku pikir kamu tidak suka jika ada yang mengganggumu ketika ingin berada dalam keheningan saat mengenang momen-momen kebersamaan dengan orang tua."
Zafer yang dari tadi tidak berkedip menatap foto keluarga yang diambil sebelum menikah, kini mengungkapkan apa yang saat ini dirasakan.
__ADS_1
"Aku baru saja pergi ke ruangan orang tuaku dan baru menyadari bahwa kepergian mereka benar-benar membuatku seperti kehilangan segalanya. Dulu, aku berpikir bahwa harta adalah segalanya, tapi begitu mereka meninggalkanku, rasanya semua kemewahan ini tidak berarti."
Bahkan Zafer berbicara dengan nada serak karena menahan perasaan mengguncang di dalam hati ketika memikirkan orang tua yang telah meninggal dan belum pernah membuat mereka bangga.
"Jika aku tahu secepat ini mereka akan pergi meninggalkanku, akan membuat mereka bangga dan menjadi putra yang seperti diinginkan." Kemudian Zafer berbalik badan dan menatap ke arah sosok wanita di atas kursi roda.
Tsamara yang merasa trenyuh ketika mendengar kalimat menyayat hati dari Zafer, tidak bisa menahan bulir kesedihan yang sudah memenuhi bola matanya.
Hingga sekarang dipenuhi oleh air mata yang mengandung sungai di wajah, meski tidak mengeluarkan suara karena menahan sekuat tenaga agar tidak semakin membuat Zafer terbawa suasana kesedihan saat mengingat orang tua.
"Tidak ada yang mengetahui takdir mengenai ajal menjemput, Tuan Zafer. Mungkin semua orang tidak akan melakukan kesalahan jika mengetahui nasib seseorang.
"Aku bisa memahami apa yang saat ini tuan rasakan. Bahwa kehilangan orang tua benar-benar sangat menyakitkan."
Zafer saat ini mendaratkan tubuh di ranjang karena merasa tidak kuat berdiri terlalu lama.
Merasa sekarang sangat lemah semenjak kepergian orang tua, ia berharap saat esok hari bekerja, akan lebih kuat dan tidak ingin mengecewakan orang tua yang sudah meninggal.
"Kamu sudah merasakan ketika masih belia dan pastinya itu sangat berat bagimu. Sementara aku, meskipun sudah tua, tetapi rasanya benar-benar seperti seorang anak kecil yang kehilangan orang tua."
Tsamara benar-benar melihat kehancuran seorang Zafer Dirgantara ketika ditinggalkan orang tua. Bahkan merasa khawatir jika dibiarkan berlarut-larut, akan membuat pria itu berakhir sakit, sehingga berusaha untuk sekuat tenaga menghibur dan memberikan semangat.
"Bersabar dan selalu mendoakan papa dan mama karena itu yang sekarang mereka butuhkan."
"Mereka tidak mengharapkan Anda menangis ataupun larut dalam kesedihan selama berhari-hari, tapi seperti yang pernah mama sampaikan padaku, bahwa ingin putranya mendoakan ketika sudah tidak ada di dunia lagi."
__ADS_1
To be continued...