Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Masalah baru


__ADS_3

“Kirimkan aku lokasimu saat ini, kita harus bertemu karena ini masalah yang sangat penting!” Rayya berbicara dengan nada memerintah.


Ia tidak ingin ditolak saat ini karena masalah mereka memang sangat serius.


“Baiklah." Zafer langsung menutup panggilan mereka dan mengirimkan pesan kepada Rayya akan lokasi tempatnya berada saat ini.


Ia meminta wanita itu cepat datang karena sangat penasaran ingin mendengar langsung yang dikatakan Rayya. Apakah sedang bercanda atau memang benar-benar hamil.


Zafer juga dengan cepat memesan salah satu kamar yang ada di Club malam ini untuk menjadi tempat bicara dengan sang kekasih karena mereka membutuhkan ruang privacy saat ini dan tidak ada yang boleh mendengar percakapan mereka nanti.


“Bagaimana ini? Bagaimana jika Rayya benar-benar hamil? Apa yang harus aku lakukan?”


Sejujurnya Zafer tidak tahu harus merasa bahagia atau merasa cemas saat ini. Di satu sisi, ia tidak bisa bohong jika saat ini memang benar-benar bahagia mendengar kabar tersebut.


Siapa juga yang tidak akan bahagia jika mendengar kabar bahwa kekasih yang sangat dicintainya ternyata hamil anaknya sendiri? Tentu saja seharusnya ia merasa bahagia.


Jika kabar itu memang benar, seharusnya sudah akan langsung menyiapkan pernikahan untuk mereka berdua sebagai bentuk tanggung jawabnya kepada sang kekasih.


Namun, sayangnya Zafer kembali dihantam oleh kenyataan dan fakta bahwa hubungan mereka tidak pernah direstui oleh kedua orang tuanya. Apalagi posisi saat ini sudah menikah dengan orang lain dan belum berhasil mengusir Tsamara dari rumahnya sendiri.


Jadi, tidak mungkin ia dengan gegabah langsung ingin menikahi Rayya, Zafer tidak boleh bersikap semaunya sendiri jika tidak ingin kehilangan semua harta yang ia miliki.


Zafer akhirnya hanya bisa menarik rambut frustasi akibat rasa pening yang tiba-tiba saja muncul di kepala.


Alkohol yang sudah masuk ke dalam tubuhnya telah membuat Zafer mabuk, sehingga ia pening, tapi sepertinya rasa itu langsung bertambah setelah mendengar kabar yang Rayya ucapkan beberapa menit lalu.


“Semesta memang tidak pernah membiarkanku untuk hidup tenang sebentar saja,” desis Zafer penuh rasa kesal. “Sebaiknya aku bicara lebih dulu dengan Rayya dan mencari jalan keluar untuk masalah kami.”


Dengan begitu, akhirnya benar-benar berdiri dari posisi duduknya, meninggalkan botol wine miliknya yang bahkan belum habis.

__ADS_1


Ia berjalan cepat menuju pada salah satu pegawai di dalam Club malam ini dan memesan satu kamar yang akan ia tempati.


Ketika orang itu tersebut menawarkan seorang wanita, Zafer langsung menolak dengan tegas dan mengatakan bahwa kekasihnya sebentar lagi akan datang.


Zafer juga berpesan untuk mengantar Rayya ke kamarnya ketika ia sudah tiba nanti. Setelah memberikan pesan tersebut, akhirnya Zafer diantar ke kamar yang sudah laki-laki itu pesan untuk malam ini.


***


Setelah beberapa waktu berlalu, akhirnya Rayya sudah sampai pada lokasi di mana sang kekasih berada saat ini. Wanita itu juga langsung diantar ke kamar, ketika mengatakan bahwa ia adalah kekasih dari Zafer.


Semudah itu untuk masuk ke tempat ini dan juga datang ke kamar yang cukup mewah karena Zafer memang sudah menjadi pelanggan tetap untuk Club malam tersebut, sehingga banyak dari karyawan yang bekerja di sini telah sangat mengenalinya.


“Sayang!” Zafer langsung berdiri dengan cepat dan memeluk Rayya ketika wanita itu baru saja masuk ke dalam pintu.


Sejak tadi ia mencoba menyibukkan dirinya dengan bermain handphone karena khawatir tertidur. Bahkan juga sudah minum banyak air putih untuk mengembalikan kesadaran yang sempat menghilang akibat alkohol.


Ia butuh sadar untuk melakukan pembicaraan serius bersama kekasihnya.


Tadinya Rayya masih bersikap biasa saja dan merasa bahwa semua ini bukan masalah baginya. Mengingat bahwa saat ini ia masih berstatus sebagai kekasih Zafer dan laki-laki itu sangat mencintainya.


Akan tetapi, ketika sudah bertemu secara langsung dengan Zafer, perasaan Rayya jadi meluap dan merasa begitu emosional sampai ingin menangis.


Zafer mengusap lembut rambut wanita itu dengan rasa sayang. “Kita duduk dulu,” pintanya yang langsung menuntun Zafer untuk duduk di atas ranjang yang ada di kamar tersebut.


Rayya menurut saja dan membiarkan Zafer membawanya menuju ranjang king size si sudut kiri ruangan berukuran luas tersebut.


Kini, mereka harus berbicara dengan keadaan hati yang sama-sama tenang dan sekarang Rayya memang membutuhkan ketenangan tersebut.


Zafer membutuhkan waktu beberapa menit untuk menunggu sang kekasih tenang lebih dulu karena tadi napasnya sempat memburu.

__ADS_1


Wanita itu tidak menangis karena ia menahannya, tapi jujur saja masih merasa sangat emosional karena banyak sekali alasan.


Setelah bertemu dengan sang kekasih, Rayya jadi kembali mengingat tentang kedua orang tua laki-laki itu dan mendadak merasa takut bahwa keberadaannya dan juga anaknya ini tidak akan diterima di dalam keluarga Dirgantara.


Bagaimana jika seandainya nanti Zafer benar-benar meninggalkannya karena lebih memilih harta dan juga orang tuanya? Begitulah yang tengah dipikirkan saat ini.


“Apa kamu sudah lebih tenang sekarang? Apa kamu bisa menceritakan kepadaku tentang apa yang terjadi?” tanya Zafer lembut.


Zafer berusaha untuk bicara setenang mungkin karena ia tidak tega jika melihat kekasih yang sangat dicintai itu menangis.


Alih-alih menjawab pertanyaan itu, Rayya justru mengeluarkan sebuah testpack dari dalam tasnya yang memang sengaja ia bawa sebagai bukti yang akan diberikan kepada Zafer.


Testpack itu ia berikan kepada kekasihnya. Ia ingin melihat ekspresi wajah Zafer begitu melihat dua garis merah di sana.


“Hari ini aku merasa ada yang salah dengan diriku dan baru menyadarinya malam tadi kalau rasanya ada yang aneh. Aku juga sudah telat datang bulan hampir dua minggu."


"Aku mencoba untuk mengetes secara langsung. Awalnya aku takut. Aku takut jika memang benar-benar hamil, tapi harus membuktikannya sendiri, sehingga mencoba ini, tapi ternyata benar-benar ada dua garis di sana.”


Zafer tidak percaya bahwa ia melihat dua garis merah dalam testpack yang ada di tangannya saat ini.


Bahwa Rayya tidak bercanda dan benar-benar hamil. Sekarang, mendadak Zafer yang tidak tahu harus melakukan apa karena isi kepalanya dihantam oleh banyak sekali masalah yang sedang terjadi dalam hidupnya saat ini.


Padahal niat awal Zafer datang ke Club malam adalah karena ia ingin menenangkan isi kepalanya dan membuat dirinya jadi tenang kembali setelah bertengkar dengan sang ayah.


Zafer juga ingin memikirkan bagaimana caranya untuk bisa menjebak Tsamara dengan cepat agar wanita itu bisa segera keluar dari rumah yang ia tempati saat ini.


Namun, sekarang, bukannya mendapatkan cara untuk menyelesaikan satu permasalahannya, tapi justru mendapatkan sebuah masalah baru akan kehamilan Zafer yang terjadi secara tiba-tiba.


Jujur saja, Zafer benar-benar tidak tahu apakah ia harus merasa senang atau khawatir karena saat ini kedua perasaan itu bercampur menjadi satu di dalam hatinya dan tidak bisa mengelak hal itu.

__ADS_1


Lalu apa yang harus ia lakukan sekarang? Apa pilihan paling tepat yang bisa Zafer ambil?


To be continued...


__ADS_2