
Beberapa saat lalu, Rayya turun ke lantai dasar karena ingin sarapan. Selama beberapa hari ini selalu bangun kesiangan, sehingga terlambat untuk makan.
Saat menyuruh pelayan untuk menyiapkan makanan di meja makan, kini tengah menunggu dan begitu tersaji di meja makan, ia bertanya apakah sang suami sudah sarapan atau belum.
Semenjak kematian mertua, ia memang tidak berani mendekati Zafer karena khawatir dituduh macam-macam seperti contohnya kenapa terlihat paling tenang dan tidak menangis.
Namun, nafsu makannya seketika sirna begitu mendengar jawaban dari pelayan yang mengatakan jika Tsamara membawakan sarapan untuk Zafer ke kamar dengan membuka pintu menggunakan kunci cadangan.
Rayya seketika bangkit dari tempat duduk dan berjalan menuju ke arah kamar tamu karena hanya ingin memberikan pelajaran pada Tsamara yang dianggap sangat lancang karena berani mendekati Zafer saat ia memberikan ketenangan hingga sang suami merasa lebih baik.
Kini, ia sudah berdiri di depan pintu dan ingin membuka, lalu masuk. Namun, ketika mendengar suara dari dalam, tiba-tiba Rayya berubah pikiran karena ingin tahu apa saja yang dibicarakan Tsamara dengan Zafer.
Hingga selama beberapa saat menunggu dengan memasang telinga pada daun pintu, kini merasa bahwa Tsamara hanyalah seorang wanita munafik yang berpura-pura menjadi seorang wanita baik untuk mendapatkan hati Zafer.
"Wanita cacat itu sengaja menggunakan nama orang tua Zafer untuk mencari simpati. Namun, Aku tidak akan membiarkan dan bisa tertipu dengan sikap munafik yang pasti tengah berusaha keras untuk membuat Zafer tidak mengusir dari rumah ini."
Rayya yang tadi berniat untuk masuk dan langsung memberikan pelajaran pada Tsamara, berubah pikiran karena tidak ingin Zafer yang masih dirundung duka, melihat perdebatan di antara ia dan Tsamara.
Jadi, memilih untuk memberikan pelajaran ketika wanita cacat itu keluar dari kamar tamu yang beberapa hari ini ditempati oleh sang suami.
Akhirnya ia memilih untuk mengisi tenaga dengan makan yang disiapkan oleh pelayan sambil menunggu Tsamara keluar dan akan langsung memberikan pelajaran hari ini karena kesabarannya telah habis.
Berpikir jika makanannya akan dingin, sehingga sekarang menghabiskan dan berharap setelah mengisi tenaga, wanita yang sangat dibenci keluar dari ruangan kamar yang ditempati Zafer.
'Lihat saja, aku akan mengusirnya hari ini karena berani menggoda Zafer!' Rayya makan sambil mengumpat di dalam hati untuk melampiaskan kekesalan yang dirasakan.
__ADS_1
Bahkan beberapa menit kemudian, ia masih setia menunggu Tsamara keluar dari kamar dan sudah tidak sabar untuk memberikan pelajaran.
Merasa sangat tidak sabar menunggu di meja makan karena telah selesai menikmati sarapan, ia bangkit dari kursi dan berniat untuk melihat.
Hingga kebetulan wanita di kursi roda tersebut baru saja keluar dari kamar dan membuat ia menunggu tanpa menghampiri.
Begitu Tsamara mengarahkan kursi roda menuju ke arahnya karena sepertinya ingin sarapan, Rayya saat ini mengarahkan tatapan tajam mengintimidasi untuk membuat wanita itu sadar akan posisi saat ini.
"Hei, wanita cacat!" sarkas Rayya yang saat ini sudah tidak bisa mengendalikan diri pada wanita di hadapannya tersebut karena selalu memantik amarah atas semua perbuatan ketika menggoda Zafer.
Tsamara yang merasa sangat lapar karena memang dari tadi belum sarapan dan mendahulukan Zafer agar mau makan dengan mengantarkan sandwich dan susu coklat kesukaan.
Namun, jalannya terhalang oleh Rayya yang berdiri di dekat arah yang menuju ke ruang makan. "Apa yang kamu inginkan? Aku ingin sarapan karena dari tadi belum makan."
"Jadi, tunggu surat gugatan cerai di kontrakanmu yang jelek itu. Lebih baik kau segera kemasi semua barang-barangmu dan pergi dari sini bersama putramu," sarkas Rayya yang saat ini sudah tidak sabar melihat wanita di hadapannya tersebut pergi.
Berharap setelah mendapatkan ancaman darinya, wanita di hadapannya tersebut merasa tidak pantas untuk tinggal di rumah keluarga Dirgantara dan langsung pergi tanpa berpamitan pada Zafer.
Sementara itu, Tsamara yang saat ini masih bersikap tenang dan tidak terpancing emosi, hanya menatap sosok wanita yang diketahui tengah hamil anak kembar dan khawatir jika sikap Rayya akan menurun pada anak yang dikandung.
"Aku tidak akan pernah pergi dari rumah ini. Sebelum pengadilan memutuskan aku sudah tidak menjadi istri tuan Zafer lagi, tidak akan pernah pergi ke mana-mana," sahut Tsamara bertindak tegas untuk membuat Rayya tidak mengancamnya lagi.
Karena Tsamara sama sekali tidak takut pada siapapun. Meskipun sudah tidak ada lagi yang melindungi karena mertua yang selama ini membela dan menyayanginya sebagai menantu perempuan sudah tiada.
Apalagi sudah berjanji pada diri sendiri bahwa sebelum melihat Zafer berubah menjadi seorang pria yang seperti diinginkan oleh orang tua, tidak akan pergi dari rumah keluarga Dirgantara.
__ADS_1
Jadi, saat ini sama sekali tidak takut pada Rayya yang mengarahkan tatapan tajam dan terlihat memerah wajah karena dikuasai oleh amarah begitu mendengar jawabannya.
Rayya sama sekali tidak pernah menyangka jika melihat sikap Tsamara yang sangat berani dan menolak untuk pergi. Kemudian bertepuk tangan begitu mengetahui sifat asli dari wanita di atas kursi roda tersebut.
"Wah ... sepertinya sekarang kau sudah berpikir akan menguasai harta keluarga Dirgantara. Jadi, seperti ini wajah aslimu? Aku benar-benar salut padamu, Tsamara karena bisa menjadi orang lain begitu orang tua Zafer meninggal."
Saat merasa percuma berdebat dengan wanita yang dikuasai oleh amarah dan memang faktanya tidak pernah menyukainya, Tsamara memilih untuk mengarahkan kursi roda melewati sebelah kiri wanita itu karena malas untuk bertengkar atau membela diri.
Apalagi perutnya sudah sangat lapar dan ingin segera menikmati sarapan. Namun, jalannya dihalangi oleh Rayya yang menyentuh kursi rodanya dengan kaki.
"Stop! Aku belum selesai bicara denganmu, wanita cacat!" sarkas Rayya yang saat ini menaikkan nada suara karena benar-benar dikuasai oleh amarah ketika menatap Tsamara yang terlihat sangat tenang dan sama sekali tidak takut padanya.
"Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku, Rayya? Aku bahkan tidak pernah membuat masalah, tapi kenapa selalu saja memusuhiku?'
'Aku bahkan tidak pernah marah ketika kau bersama tuan Zafer, lalu apa yang kau harapkan dariku?" Tsamara benar-benar pusing menanggapi sikap Rayya yang selalu berbuat sesuka hati.
Sikap yang membuat mertuanya tidak pernah menyukai wanita itu, tetapi tidak mau mengakui jika alasannya adalah karena perbuatan sendiri.
Rayya masih menahan kursi roda Tsamara agar tidak pergi sebelum ia selesai berbicara. Bahkan masih mengarahkan tatapan tajam.
"Kau benar-benar wanita tidak tahu diri. Zafer bahkan tidak pernah mencintaimu ataupun menyuruhmu tinggal di sini, tapi tetap tidak pergi setelah papa dan mama meninggal. Sepertinya benar apa yang selama ini kupikirkan."
"Bahwa kau masuk dalam keluarga ini hanya berniat untuk mengincar harta. Jadi, membuang rasa malu dengan tetap tinggal di sini meskipun tidak diinginkan oleh Zafer."
To be continued...
__ADS_1