
“Tidak berpengaruh sama sekali untuk Papa?" Apa maksud Papa?" Zafer bertanya dengan wajah yang kentara sekali terlihat marah.
Ia benar-benar tidak mengerti dengan yang sudah terjadi kepada ayahnya tersebut.
“Bagaimana bisa informasi itu tidak membuat Papa terpengaruh? Padahal kenyataannya, aku mengungkapkan semua kebusukan yang dimiliki oleh Tsamara."
"Seharusnya Papa berterima kasih kepadaku karena telah menyelamatkan keluarga ini dari jebakan wanita licik itu.”
“Zafer, jaga bicaramu! Papa tidak suka kau menjelek-jelekkan Tsamara seperti itu!” kata Adam tegas sembari menatap kedua mata putranya dengan tajam.
Jika boleh jujur, sebenarnya sejak tadi Adam sudah mencoba untuk menahan diri agar tidak mendekati Zafer dan langsung menampar wajahnya dengan keras, akibat semua perkataannya yang menurut Adam sudah sangat keterlaluan.
Zafer bahkan tidak menyaring kalimatnya sama sekali. Ia mengatakan semua hal jahat yang ada di dalam kepalanya dan semua itu hampir membuat Adam jadi murka.
Ia tidak tahu jika putranya akan benar-benar tumbuh menjadi seseorang yang sangat tidak berperasaan.
‘Padahal tragedi kecelakaan itu memang sepenuhnya salahnya. Aku bahkan sudah melihat rekaman CCTV yang ada dan bisa melihat dengan jelas kalau Tsamara sudah berjalan dengan hati-hati.'
'Memang Zafer saja yang membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi dan ugal-ugalan. Bahkan yang lebih memalukan adalah fakta bahwa ia langsung pergi setelah menabrak wanita itu dan tidak turun. Bahkan hanya untuk sekadar mengecek keadaannya saja, tidak!’ ungkap Adam di dalam hatinya.
Sengaja tidak ia katakan dengan keras karena tahu kalimat itu hanya akan memancing keributan di antara dirinya dengan sang putra kesayangan.
Adam sudah berjanji kepada Erina untuk tidak terlalu keras dengan Zafer dan ia harus menepati hal itu. Ia tidak boleh membuat istrinya khawatir.
Meskipun Adam sendiri tahu bahwa pembicaraan ini pasti akan menjadi sesuatu hal yang panjang dan ia pasti harus menahan emosinya dengan sangat baik agar tidak meledak, tapi Adam akan mencoba untuk bicara dengan Zafer sebisanya.
“Zafer, apa kau pikir sebelum pernikahanmu terjadi, Papa tidak mengecek dulu tentang latar belakang Tsamara dan semua hal yang ada dalam dirinya? Apa kau pikir Papa adalah orang yang tidak memperhatikan detail kecil seperti itu?”
Adam mulai bertanya dengan suara tenang. Kedua mata elangnya mengawasi Zafer dan juga ekspresinya.
__ADS_1
Zafer terdiam lama. Kemudian berjalan menuju sofa dan duduk di sana selagi berpikir.
Benar juga, pikir Zafer Tidak mungkin sang ayah melewatkan detail seperti itu karena adalah orang yang sangat teliti dan sangat tahu hal itu.
Zafer lupa dan tidak berpikiran sampai ke sana. Akan tetapi, masih ada sesuatu yang membuat Zafer bingung.
“Jika Papa memang sudah mengecek tentang latar belakang Tsamara dan mengetahui semuanya lebih dulu daripada aku, mengapa tetap meneruskan pernikahan? Bahkan setelah tahu siapa wanita cacat itu sebenarnya?"
"Mengapa Papa tetap menikahkan kami berdua?” tanya Zafer dengan penuh emosi.
Pria itu masih belum bisa mengontrol emosinya, sehingga semua kalimat yang keluar akan dikatakan dengan nada yang cukup tinggi.
“Alasannya sederhana,” seru Adam singkat, “Papa tetap menikahkanmu dengan Tsamara karena percaya dengan wanita itu. Papa percaya bahwa ia bisa menjadi istri yang baik untukmu dan bisa membuatmu berubah menjadi lebih baik juga."
"Feeling Papa tidak pernah salah dan memiliki perasaan yang kuat tentang wanita itu. Makanya Papa tetap menikahkan kalian berdua.”
“Alasan konyol dan tidak masuk akal!” sanggah Zafer emosi.
“Aku bisa mencari wanita yang akan dijadikan istri! Aku seharusnya menikah dengan wanita yang kucintai, bukan dengan wanita cacat yang telah Papa pilihkan. Lagipula, bagaimana caranya Tsamara bisa membuatku berubah menjadi lebih baik di saat dia saja tidak bisa melakukan apa-apa dan aku selalu benci ketika berada di dekatnya?”
Adam menghela napas panjang, berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri agar tidak ikut meledak dan emosi seperti Zafer.
Jika pembicaraan ini dilakukan oleh dua orang yang sama-sama sedang dalam emosi tinggi, yang ada, pembicaraannya tidak akan pernah selesai.
Sebagai orang yang lebih tua dan juga merupakan ayah dari Zafer, Adam mencoba untuk berbicara dengan lebih santai.
“Semua orang memiliki masa lalu, Zafer. Namun, semua orang juga bisa berubah, tergantung niat masing-masing. Dari apa yang Papa lihat, Tsamara telah benar-benar berubah dan sudah menyesali semua perbuatannya di masa lalu. Sekarang ia sudah menjadi wanita yang lebih baik.”
“Omong kosong!” umpat Zafer kesal dengan menggertakkan rahang, sehingga gigi saking berbenturan.
__ADS_1
“Sekali hina, tetap saja berdosa! Untukku, wanita itu tidak lebih dari seorang yang suka berkhianat. Ia sudah pernah berselingkuh. Demi Tuhan! Mengapa Papa masih saja membelanya!”
“Papa tahu bahwa Tsamara adalah orang yang baik. Papa bisa memaklumi masa lalunya dan tidak mempermasalahkan siapa ia di masa lalu. Karena yang Papa lihat adalah masa sekarang. Semua orang pasti memiliki banyak kesalahan dalam hidupnya.”
Zafer mengacak rambutnya lagi untuk kesekian kali. Ia merasa sangat marah dan juga kesal sekarang. Ingin sekali rasanya berteriak dengan begitu kuat, tapi tidak bisa melakukannya karena juga takut akan membuat sang ayah murka dan mengusir tanpa sepeser pun harta.
Namun, niat awal Zafer datang kemari adalah untuk mengungkapkan perbuatan Tsamara dan membuat wanita itu jadi dibenci oleh sang ayah, sehingga mereka bisa bercerai dengan cepat.
Namun, jika ayahnya bahkan tidak membenci sedikit pun, bukankah berarti rencana untuk bercerai akan batal? Bukankah berarti Zafer harus tetap menjalani pernikahan ini dengan wanita cacat itu?
‘Argh! Aku benci sekali dengan situasi ini dan semua jawaban yang sudah papa katakan.’
“Pa, jika bisa menerima Tsamara yang memiliki masa lalu kelam dan jelas-jelas telah terbukti kebenarannya, lalu mengapa tidak bisa menerima hubunganku dengan Rayya? Papa selalu berpikir bahwa Rayya adalah wanita yang tidak baik."
"Padahal menurutku, ia justru adalah wanita yang lebih baik dari Tsamara karena tidak pernah berselingkuh. Ia bahkan bisa lebih mengerti aku, yang bahkan tidak tahu apa-apa tentangku!”
“Mereka berdua berbeda,” suara Adam menjadi lebih dingin ketika menjawab.
Ia tidak pernah suka jika Zafer membawa-bawa nama wanita itu karena Adam benar-benar sangat membencinya.
“Sampai kapanpun juga, Papa tidak akan pernah merestui hubungan kalian berdua!”
“Papa benar-benar tidak adil!” bentak Zafer penuh kemurkaan.
Ia kini sudah berdiri dan mendekat lagi ke meja ayahnya, agar bisa melihat wajah pria paruh baya itu dengan lebih jelas.
“Ini sangat keterlaluan. Tidak seharusnya Papa mengatur kehidupan asmaraku seperti ini! Aku berhak memilih dengan siapa akan jatuh cinta! Aku juga bisa memilih wanita mana yang ingin aku jadikan istri!"
"Tidak seharusnya Papa mengatur hidupku seperti ini!”
__ADS_1
Zafer sudah berpikir bahwa ia akan berhasil kali ini. Bahkan sudah yakin seratus persen bahwa akan segera bercerai dengan Tsamara, tapi bagaimana mungkin bahwa perkiraannya justru meleset dan semua ini malah membuatnya jadi semakin murka.
To be continued...