
Satu jam setelah Zafer berangkat dari rumah, Tsamara baru saja keluar dari kamar mandi dengan dibantu oleh Sumi. Pagi ini tidak mandi karena hanya mencuci muka dan menggosok gigi saja saat kondisi belum sembuh.
Meskipun sudah tidak menggigil kedinginan, tapi masih lemas dan suhu tubuh belum turun sepenuhnya.
"Apa Anda mau ganti pakaian, Nyonya?" tanya Sumi yang kini baru saja mendorong kursi roda menuju ke arah dekat ranjang.
Putri yang saat ini melepaskan penutup kepala, meraih sisir dan merapikan rambut yang terasa sangat kusut. "Nanti saja. Kamu temani saja dulu Keanu yang sedang nonton tv itu. Aku ingin memeriksa sesuatu."
"Baik, Nyonya."
Sumi kini berjalan menjauh dari sang majikan dan memilih untuk duduk bersama anak laki-laki di depan televisi yang asyik makan keripik kentang dan remahan sudah menghiasi tempat duduk.
Sambil membersihkan bekas makanan keripik kentang yang mengotori sofa, Sumi menepuk jidat karena lupa menceritakan perihal satu kantung plastik itu dibelikan oleh seorang pria.
Dengan melihat majikan yang membungkuk saat membuka laci, Sumi kini memilih untuk menunda menceritakan itu dan hanya memperhatikan wanita di kursi roda yang pada posisi membelakangi.
Sementara itu, Tsamara yang baru saja memeriksa laci untuk memastikan sesuatu, yaitu amplop coklat berisi tentang foto-foto kebersamaan dengan mantan suami pertama dah kedua.
'Masih ada? Aku pikir tadi tuan Zafer membawa ini. Memangnya tadi kenapa bertanya padaku? Apakah sedang mengetesku? Apakah membuang atau menyimpan bukti mengenai masa lalu kelamku?'
Tsamara yang dulu hanya melihat sekilas jika ada foto pernikahan bersama dua mantan suami, merasa shock dan tidak melanjutkan untuk membuka. Jadi, langsung memasukkan ke dalam laci tanpa mau melihat lagi.
Berbeda dengan hari ini, ingin melihat semuanya. 'Kira-kira, apa saja yang ada di sini?'
Tanpa membuang waktu, Tsamara kini membuka amplop coklat tersebut dan memeriksa apa saja yang ada di dalam. Bahkan ia sudah mengeluarkan semua ke atas pangkuan.
'Bahkan tuan Zafer berjuang sangat keras untuk bisa mendapatkan ini demi bisa menyingkirkanku dari rumah ini dan juga sisi pria itu.'
Tsamara dari tadi hanya bisa mengungkapkan semua keluh kesah di dalam hati dan melihat jika di tangannya saat ini ada foto saat melahirkan putra pertama yang merupakan benih cinta mereka dan juga surat perceraian.
'Semoga kalian bahagia bersama dan menemukan wanita baik yang mau menyayangi putra sulungku.'
Bahkan ada surat pernikahan di sana. Hal yang paling menyesakkan saat ini adalah ada foto mantan suami kedua yang sedang bergandengan tangan dengan seorang wanita. Tentu saja tahu siapa wanita itu karena melihat sendiri perselingkuhan mereka. Bahwa selingkuhan mantan suami adalah sekretaris sendiri.
Bahkan wanita itu tidak bisa membuat Rey berhenti dari perbuatan buruk yang suka bermain wanita. Namun, malah semakin menjadi. Terakhir ia mendengar kabar jika pria itu sudah menikah dengan seorang wanita yang berprofesi sebagai perawat.
'Apakah saat ini Rey hidup bahagia bersama perawat? Apa wanita idamannya adalah perawat?' gumam Tsamara yang tidak ingin semakin dibebani perasaan terluka saat memikirkan masa lalunya.
__ADS_1
Tsamara memilih untuk memasukkan semua kertas dan foto-foto itu ke dalam amplop coklat dan berniat untuk kembali menaruh di dalam laci seperti semula.
Namun, karena kecerobohan, ada satu foto yang jatuh di lantai. 'Kenapa harus terjatuh foto Rey?'
Saat berniat untuk membungkuk dan mengambil foto itu, tidak jadi melakukannya karena merasa trauma jika sampai terjatuh lagi seperti semalam dan berakhir badan sakit semua dan dahi sampai ada benjolan.
'Apa tidak apa-apa aku menyuruh Sumi mengambil itu.' Tsamara masih menimbang-nimbang sesuatu yang diputuskan.
Tidak ingin foto Rey tetap berada di lantai, kini menoleh ke belakang. "Tolong ambilkan ini! Aku tidak bisa karena takut jatuh seperti semalam."
Sumi yang baru selesai membersihkan remahan makanan di sofa karena anak laki-laki itu kini sudah menghabiskan satu bungkus keripik kentang dan susu, jadi sekarang kekenyangan dan menonton film kartun sambil tiduran.
Buru-buru Sumi bangkit dari posisi duduk dan berjalan mendekati sosok wanita yang meminta bantuan. "Mengambil apa, Nyonya?"
Baru saja Sumi menutup mulut dan melihat ke bawah, yaitu di atas lantai ada foto seorang pria yang masih belum terlalu jelas karena pandangan tidak normal dan refleks membungkuk untuk mengambil.
"Pria ini?" Sumi kini menatap aneh pada majikan perempuan itu.
Tsamara menyipitkan mata karena tatapan Sumi pernah bertemu dengan pria di foto yang tak lain adalah Rey. "Kenapa? Ekspresimu seperti pernah bertemu pria ini saja."
Kemudian memasukkan ke dalam amplop coklat itu dan berdetak kencang degup jantung begitu mendengar jawaban wanita paruh baya itu.
Bahkan hal yang paling diingat dari pria muda nan tampan itu adalah nama yang tadi sempat ditanyakan. "Nama pria di foto itu Tuan Rey kan, Nyonya?"
Tsamara seketika merasa lemas begitu mengetahui jika ternyata mantan suami kedua diam-diam mencari keberadaan mereka. Refleks Tsamara menoleh pada Keanu dan khawatir jika akan direbut atau diculik pria yang ingin dilupakan karena hanya menorehkan luka di dalam hati.
Semenjak terluka, perasaan Tsamara terhadap pria seolah mati. Hal itulah yang membuatnya bertahan hidup menjanda selama enam tahun. Bahkan memang berencana menjadi single parent untuk Keanu.
Namun, rencana tidak akan pernah menjadi kenyataan jika semesta tidak mengizinkan dan di sinilah berakhir saat ini, yaitu rumah keluarga Dirgantara untuk peleburan dosa.
'Rey, apa yang diinginkan pria itu? Apa berniat jahat pada Keanu? Tidak, aku harus waspada. Sepertinya rumah ini tidak aman. Aku harus pergi dari sini sebelum Rey merebut putraku.'
Perasaan Putri kini tengah berkecamuk dan merasa sangat khawatir jika kehilangan satu-satunya harta berharga yang dimiliki. Ingin menenangkan perasaan tidak menentu, Tsamara memilih untuk meluapkan di kamar mandi.
"Aku sakit perut. Apa kamu bisa membantuku?" Berpura-pura mengusap beberapa kali bagian perut dan juga berakting meringis seperti tidak sedang berakting.
"Baik, Nyonya." Sumi yang merasa khawatir pada majikan, kini menuruti perintah dan mendorong kursi roda masuk ke dalam.
__ADS_1
Tidak hanya itu saja, bahkan Sumi membantu sampai di sana. "Nanti kalau sudah selesai, panggil saja. Nyonya. Sekarang saya tunggu di luar." Kemudian berbalik badan dan berjalan menuju ke arah pintu.
Begitu sudah melihat pelayan keluar, Tsamara yang saat ini dengan perasaan tak menentu, diliputi kekhawatiran luar biasa karena takut jika kehilangan Keanu. Apalagi saat ini tidak mempunyai apapun.
Sementara Rey memiliki kekuasaan dan pastinya akan sengaja mudah menyewa pengacara hebat untuk bisa mendapatkan hak asuh untuk Keanu.
Beberapa kali menggelengkan kepala karena merasa sangat takut. Sampai rasa pusing semakin melanda kepala.
Tsamara memijat pelipis dan berharap rasa pusing di kepala berkurang. "Ada apa denganku? Kenapa kepalaku sangat pusing. Apa karena aku terlalu memikirkan Rey?"
"Reyhan, kenapa kamu tiba-tiba muncul setelah enam tahun kita berpisah? Apa yang kamu inginkan sebenarnya? Aku tidak akan pernah membiarkanmu merebut putraku. Keanu hanya milikku dan tidak akan kubiarkan siapapun merebut karena nyawaku yang menjadi taruhan jika sampai ada yang merebut dari tanganku."
Masih berbicara sangat lirih, saat ini tidak bisa lagi berpikir jernih untuk mencari cara pergi dari rumah ini. Sampai saat rasa pusing semakin menguat di kepala.
Tidak tahu kenapa tiba-tiba kepalanya seperti mau pecah, merasa jika pandangan kabur dan lama-kelamaan tidak bisa menopang beban berat tubuh ketika pingsan dengan tubuh jatuh ke lantai.
Tsamara kini tengah tergolek lemah di lantai dengan posisi tengkurap untuk kedua kali.
Sepuluh menit kemudian, Sumi yang menunggu majikan, tidak kunjung memanggil, kini memilih untuk memeriksa dan mengetuk pintu kamar mandi.
"Nyonya, apa sudah selesai? Atau belum?"
'Kenapa diam saja? Apa terjadi sesuatu pada nyonya?' gumam Sumi yang kembali mengetuk pintu dan sama seperti tadi, tidak ada jawaban dari dalam.
Akhirnya Sumi memberanikan diri untuk berjalan masuk ke dalam kamar mandi dan begitu melihat pemandangan mengenaskan di lantai, refleks langsung berteriak dan menghambur pada tubuh lemah tidak berdaya itu.
"Nyonya! Anda tidak apa-apa, kan?" Sumi yang merasa sangat penasaran, kini membantu tubuh majikan agar tidak tergolek di lantai.
Sumi yang merasa sangat bodoh karena tadi tidak meminta bantuan sang suami, agar mengangkat tubuh majikan dan berbaring di ranjang. "Semoga suamiku segera ke sini karena aku butuh bantuan." Kembali menatap pada sosok wanita yang ada di hadapan tersebut.
Beberapa saat kemudian, Sumi merasa bahagia karena sang suami akhirnya datang.
Padahal tadi Paijo berpikir untuk meminta makan pada sang istri yang sudah tidak romantis seperti dulu.
Apa yang terjadi pada nyonya?" tanya Paijo yang kini tengah menghambur masuk ke dalam kamar mandi.
"Lebih baik telpon saja ambulans. Aku khawatir jika nanti terlambat dan terjadi sesuatu hal buruk pada nyonya. Sekalian kabarkan pada tuan Adam dah istrinya."
__ADS_1
Kemudian Paijo tidak melakukan semua yang diperintahkan. " Kamu saja karena aku tidak berani berbicara dengan bos.
To be continued...