
Setelah beberapa menit berlalu, kini wanita yang sudah menyelesaikan memasak, mulai menghidangkan spaghetti bolognese kepada istri kedua tersebut.
"Silakan, Nyonya."
Sementara itu, Rayya yang dari tadi mendengarkan penjelasan dari wanita paruh baya tersebut mengenai kebiasaan sehari-hari anggota keluarga di rumah, tetapi sama sekali tidak menemukan celah untuk berbuat jahat.
Kini, menatap ke arah spaghetti yang sudah disajikan dengan sangat menarik dan menggugah selera tersebut. Kemudian meraih garpu dan langsung menyantapnya.
Begitu satu suapan berada di mulut dan mengunyah perlahan, ia merasa sangat cocok dengan rasa masakan wanita itu. "Kau pintar memasak ternyata. Rasanya tidak mengecewakan karena aku suka."
"Terima kasih, Nyonya." Sambil membersihkan sisa memasak dan mencuci alat-alat yang digunakan untuk membuat spaghetti.
Rayya masih menikmati makanan dan juga ingin mencari tahu hal lain mengenai orang tua Zafer Dengan menatap siluet belakang wanita yang berada di depan wastafel, Rayya kini mengungkapkan pertanyaan yang mewakili rasa penasaran.
"Apakah papa dan mama memiliki hari istimewa? Aku ingin mengetahui dan memberikan hadiah sebagai kejutan."
Sementara itu, pelayan tersebut tidak langsung menjawab karena sedang mencoba untuk mengingat sesuatu dan tiba-tiba langsung berbalik badan. Menatap ke arah menantu perempuan tersebut yang tengah menikmati spaghetti.
"Kebetulan sekali, Nyonya."
Rayya menyipitkan mata dan merasa ada sesuatu menarik yang akan diketahui sebentar lagi. "Apa yang kebetulan sekali? Jelaskan padaku!"
Tidak membuang waktu karena baru saja mengingat hal penting, pelayan tersebut kini berjalan mendekat. "Sementara lagi adalah anniversary pernikahan tuan dan nyonya. Biasanya tuan Adam dan nyonya memilih untuk merayakan hari ulang tahun pernikahan di sini."
__ADS_1
"Namun, setelah itu pergi ke Villa keluarga yang ada di daerah pegunungan. Mereka memilih untuk menghabiskan waktu berdua di tempat yang nyaman dan jauh dari hiruk pikuk kota. Bahkan setiap tahun selalu melakukannya dan masih terlihat sangat romantis meskipun sudah tidak lagi muda."
Rayya kini seketika tersenyum simpul karena mendapatkan sebuah celah yang dicari dari tadi. Dengan masih berakting seperti merasa sangat bahagia mendengar cerita tersebut, kini Rayya terlihat antusias dan memilih untuk bertanya hal yang lebih spesifik.
"Wah ... ternyata papa dan mama masih sangat romantis meskipun sudah berusia paruh baya. Aku sangat iri dan berharap suamiku bisa seperti papa. Aku jadi ingin pergi ke villa itu saat ulang tahun pernikahanku, tapi sayangnya masih lama."
"Memangnya di mana Villa keluarga Dirgantara berada? Suamiku tidak pernah menceritakan hal itu padaku dan memangnya kapan hari ulang tahun pernikahan mereka?"
Kemudian ia kembali menyuapkan satu suapan ke dalam mulut dan mengunyah makanan sambil menunggu jawaban dari pelayan yang berdiri di hadapan tersebut.
"Saya sangat hafal dengan hari-hari penting di keluarga ini. Hari ulang tahun pernikahan tuan dan nyonya adalah satu minggu lagi. Sepertinya tahun ini tidak akan dirayakan di rumah ini karena biasanya satu minggu sebelumnya sudah menyuruh untuk menyiapkan menu makanan apa saja untuk acara."
Wanita itu kini mengingat dua tahun yang lalu acara anniversary diadakan dengan makan malam di hotel bintang lima. "Mungkin tuan Adam dan nyonya akan mengajak seluruh keluarga untuk makan malam di restoran mewah. Sementara untuk Villa, ada di dekat perkebunan teh dan dibutuhkan waktu dua jam untuk tiba di sana."
Kata kunci yang dicari oleh Rayya telah didapatkan dan merasa sangat lega sekaligus senang. Mendadak rasa lapar yang tadi dirasakan sudah berubah kenyang meskipun belum menghabiskan spaghetti di atas piring.
"Aku sudah sangat kenyang dan terima kasih telah membuatkan aku makanan paling enak. Sepertinya mulai sekarang harus memikirkan hadiah untuk mereka." Kemudian ia berbalik badan dan berjalan menuju ke arah pintu keluar dapur.
Selama melangkahkan kaki jenjang menuju anak tangga, ia tidak berhenti tersenyum karena merasa sangat senang hari ini. Seolah melupakan perbuatan Zafer yang tadi memantik amarah.
'Setelah aku berhasil menyingkirkan orang tua Zafer, giliran kedua adalah wanita cacat dan anak laki-laki tidak berguna untuk,' gumam Rayya yang saat ini tersenyum smirk dan begitu tiba di anak tangga terakhir, melangkah ke arah ruangan kamar.
Namun, sebelumnya menatap pintu keemasan yang menjadi tempat Zafer tidur malam ini. 'Hanya malam ini kamu berada di satu ruangan bersama suamiku, wanita cacat.'
__ADS_1
'Setelah hari ini, aku tidak akan pernah membiarkanmu merebut apa yang menjadi milikku.' Rayya saat ini masih terdiam di depan ruangan kamar Zafer dan merasa rasa pusing mulai menyerang saat berdiri terlalu lama, akhirnya memilih untuk berjalan masuk ke ruangan kamar.
Kemudian langsung merebahkan tubuh dengan meluruskan otot-otot yang kaku di atas ranjang empuk yang dianggap tidak nyaman sama sekali.
Itu semua karena tidak ada pelukan sang suami dan membuatnya merasa menyesal karena mengandalkan emosi dan mengusir Zafer, sehingga sekarang kesepian.
"Aku memang sangat bodoh karena membiarkan wanita itu satu ruangan dengan Zafer." Rayya beberapa kali menepuk kepala untuk menutupi kebodohan dan menyesali perbuatan hari ini.
"Jangan kamu ulangi kesalahanmu lagi karena itu akan membuatmu kehilangan Zafer. Jika wanita cacat itu memanfaatkan kesempatan, akulah yang susah."
Bahkan saat ini Rayya berkali-kali mengempaskan tangan pada ranjang untuk melampiaskan kekesalan atas kebodohan sendiri.
"Bodoh! Inilah hasil yang harus kamu terima saat melakukan kesalahan karena mengandalkan emosi!" sarkas Rayya yang hanya bisa menyesali nasib harus tidur sendirian malam ini.
"Besok pagi, aku harus bersikap baik pada Zafer dan melupakan semua kejadian yang kemarin. Itu jauh lebih baik dari pada harus setiap hari tidur sendirian seperti ini." Rayya yang masih meluapkan kekesalan dengan meninju ranjang, lama-kelamaan kelelahan dan beberapa kali menguap.
Menandakan rasa kantuk melanda dan tidak bisa ditahan lagi, sehingga lama-kelamaan matanya tertutup dan suara napas teratur memenuhi ruangan kamar yang hening dan sunyi itu.
Rayya kini telah larut dalam alam bawah sadar dan terbuai dengan bunga tidur.
Bahkan saat ini, seluruh penghuni rumah keluarga Dirgantara tersebut telah larut dalam alam bawah sadar setelah berkutat dengan banyak aktivitas hari ini.
Sementara itu di ruangan kamar lain, terlihat pergerakan sosok pria yang tidur di sofa dan tak lain adalah Zafer.
__ADS_1
Pukul tiga pagi, ia merasakan tidak nyaman dan pegal-pegal pada tubuh, sehingga kini sudah bangkit dari posisi yang tadinya tidur telentang dengan kaki menggantung.
To be continued...