
Rayya hanya menelan saliva dengan kasar ketika mendapatkan sindiran pedas dari Zafer ketika membahas mengenai teman masa kecil yang dulu memang diminta untuk berjanji menikahinya.
Bahkan ia masih bisa mengingat janji teman masa kecil itu yang menyetujui permintaannya. Namun, karena selama ini tidak ada kabar selama bertahun-tahun dari Raymond, sehingga ia memilih untuk melupakan janji masa kecil yang dianggap tidak penting.
Karena berpikir bahwa sahabat kecilnya melupakan janji dan tidak akan pernah kembali. Namun, seperti dipermainkan oleh takdir karena pria yang dulu sangat diharapkan akan menjadi pangeran berkuda putih untuknya datang melamar, ternyata memenuhi janji saat semuanya sudah terlambat.
Mungkin jika Raymond datang sebelum hamil dengan Zafer, akan langsung menyetujui lamaran teman masa kecilnya tersebut tanpa mempertimbangkan apapun.
Namun, setelah hamil benih Zafer dan sangat mencintai pria itu, mendapatkan kabar mengejutkan yang bahkan tidak bisa membuatnya melakukan apapun.
Tadi, ia sengaja berbohong bahwa akan tetap selalu bersama dengan Zafer saat diusir oleh orang tua tanpa memikirkan harta, karena merasa harus menjaga harga diri agar tidak terlihat buruk di mata ibu mertua dan pria yang sudah berstatus sebagai suami dan calon ayah dari janin yang dikandung.
"Zafer, kenapa kamu membahas masalah yang sama sekali tidak penting karena aku sudah menjadi istrimu yang sah dan hamil anakmu. Mau ayahku berbicara apapun seperti membanggakan Raymond, tidak akan bisa merubah apapun, bukan?"
"Aku dan Raymond tidak mempunyai hubungan apapun dan kamu tidak perlu merasa tersaingi, sehingga mengorbankanku dengan tidak memperdulikan istri sendiri. Seharusnya kamu tidak bersikap seperti anak kecil karena sebentar lagi akan memiliki dua anak."
Rayya meraih telapak tangan dengan buku-buku kuat Zafer dan mengarahkan pada perutnya agar mengusap di sana. Berharap pria itu tidak lagi marah hanya karena masalah Raymond.
"Bukankah kamu harus menjadi suami dan juga ayah yang baik untuk kami? Jadi, Jangan menganggap kehadiran Raymond akan memisahkan kita karena aku akan selalu bersamamu. Inilah yang namanya cinta sejati."
Rayya kemudian bergelayut pada lengan kekar Zafer. Berharap pria yang ingin segera ditaklukan tersebut akan luluh dan melupakan keinginan untuk tidur di ruangan itu bersama Tsamara.
Hingga sudut bibir Rayya melengkung ke atas yang menandakan bahwa ekspresi wajah Zafer yang tidak sedatar beberapa saat lalu karena sudah menunjukkan seperti tidak lagi marah padanya.
Cinta sejati, kalimat itu seolah menjadi beban pikiran Zafer karena mengingat tentang perasaan pada Rayya. Bahwa dari dulu sangat mencintai wanita yang masih bergelayut manja tersebut.
__ADS_1
Namun, karena pertengkaran yang menghiasi rumah tangga mereka yang masih seumur jagung, sekolah tidak bisa membuktikan kekuatan cinta di antara mereka berdua karena sikap Zafer yang beralih memikirkan Tsamara.
Zafer belum berbicara apapun untuk menanggapi perkataan Rayya, kini melirik ke arah wanita di atas ranjang yang dari tadi hanya diam menyimak.
'Jika aku masih terus bersikap datar pada Rayya dan menghindar, sepertinya Tsamara akan menjadi korban. Sepertinya aku tidak bisa membiarkan itu terjadi. Apalagi saat ini wanita itu sedang sakit,' gumam Zafer yang tersadar dari lamunan begitu mendengar suara sang ibu.
"Cepat bawa istrimu ke kamar karena Tsamara harus beristirahat." Erina yang dari tadi hanya diam menyaksikan drama rumah tangga dari Rayya, sebenarnya sangat tidak percaya dengan kata-kata manis wanita itu.
Apalagi sangat tidak menyukai sikap putranya yang sangat plin-plan dan mudah berubah seperti sekarang.
'Tadi terlihat sangat membenci Rayya, tapi sekarang seperti pria lemah yang gampang dibohongi dengan rayuan dari wanita licik itu. Aku sangat yakin jika apa yang dikatakan tidak benar. Mana mungkin Rayya mau hidup menderita saat putraku tidak punya apa-apa.'
Saat Erina sibuk mengumpat sendiri di dalam hati, merasakan sentuhan dari Tsamara pada punggung tangan.
Sebenarnya saat ini Tsamara merasa lega ketika berpikir bahwa Zafer tidak bisa melakukan hal yang tadi dikatakan pada pagi hari. Jadi, berterima kasih pada mertuanya tersebut ketika menyuruh pria itu segera membawa Rayya pergi dari ruangan kamar.
'Sekarang tuan Zafer akan melupakan perkataannya tadi pagi setelah bersama dengan Rayya. Aku tidak ingin dijadikan pelampiasan ketika bertengkar dengan wanita itu. Namun, juga tidak mungkin bisa menolak ketika seorang suami meminta haknya.'
'Karena itu akan semakin menambah dosaku yang akan dimurkai oleh Tuhan ketika menolak keinginan suami. Syukurlah semuanya selesai dan Rayya tidak berbuat buruk padaku. Mungkin jika mama tidak berada di kamar ini, Rayya sudah menampar ataupun menarik rambutku.'
Sementara itu, Zafer saat ini menatap Tsamara yang jelas terlihat seperti sangat lega dan berbeda dengan reaksinya yang sangat kecewa.
Zafer tadi berpikir bahwa Rayya akan terus marah. Jadi, berniat untuk tidur di kamar bersama Tsamara. Namun, setelah Rayya bersikap sangat manis dengan menyebut bahwa hubungan di antara mereka merupakan cinta sejati, mau tidak mau harus menurunkan ego dan tidak marah lagi pada sang istri.
Kini, Zafer memilih untuk menjawab perintah dari sang ibu yang terlihat sangat tidak suka. "Iya, Ma. Kami akan pergi sekarang."
__ADS_1
Kemudian beralih menatap ke arah sosok wanita yang masih menunjukkan kuasa karena dari tadi tidak melepaskan lengannya.
"Lebih baik kita ke kamar!"
"Baiklah," ucap Rayya yang merasa sangat lega karena berhasil merayu Tsamara.
'Akhirnya suamiku takluk juga hanya dengan kata cinta sejati. Pasti Zafer merasa sangat terharu atas perkataanku tadi,' gumam Rayya yang sudah berjalan mengikuti langkah kaki panjang sang suami tanpa memperdulikan dua wanita di dalam ruangan kamar tersebut.
Satu-satunya hal yang saat ini dipikirkan oleh Rayya adalah mengikat Zafer agar selalu bersamanya dan tidak menghabiskan waktu bersama Tsamara.
Karena sekali saja membiarkan Zafer bersama dengan Tsamara, berdampak buruk pada hubungan mereka.
Kini, Rayya dan Zafer sudah berada di dalam kamar.
"Aku mau mandi dulu," ucap Zafer yang saat ini menaruh tas kerja di atas meja dan berlalu pergi meninggalkan Rayya untuk masuk ke dalam kamar mandi.
Rayya yang tadi langsung mengangguk perlahan, menatap ke arah pintu kamar mandi yang sudah tertutup tersebut.
"Aku harus merayunya hari ini," ucap Rayya yang mulai melepaskan satu-persatu kancing piyama di tubuh.
Beberapa saat kemudian, tubuhnya sudah tidak mengenakan satu lembar pun dan tanpa membuang waktu, langsung berjalan menuju ke arah kamar mandi dan mengetuk pintu.
Beberapa saat kemudian, pintu terbuka dan menampilkan Zafer pun tidak mengenakan apapun dan Raut langsung menghambur masuk dan mencium bibir sang suami. Berharap malam ini bisa menghabiskan waktu dengan penuh gairah.
To be continued...
__ADS_1