
"Terima kasih atas semuanya, Dokter," ucap Tsamara yang sudah sibuk mengucapkan syukur di dalam hati sebagai rasa Terima kasih atas keajaiban Tuhan.
'Terima kasih, ya Allah. Semoga ini akan menjadi awal yang baik untuk suamiku karena telah diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri,' gumam Tsamara yang saat ini tidak berkedip menatap intens wajah sang suami yang masih menutup rapat kedua mata itu.
"Anda sudah berjanji untuk makan jika tuan Zafer terbebas dari masa kritis, Nyonya Tsamara. Jadi, Anda harus makan sekarang untuk menepati janji yang telah dibuat. Lagipula akan dibutuhkan banyak tenaga dan Anda tidak boleh sakit, jadi harus makan."
Sementara itu, sosok wanita yang saat ini langsung mengambil makanan di atas laci, berjalan mendekat dan langsung menyerahkan kantong plastik tersebut ke atas pangkuan.
"Silakan dimakan dulu, Nyonya."
Tsamara yang sebenarnya tidak nafsu makan dan masih belum bisa melihat jika sang suami membuka mata, tetapi tidak ingin mengingkari janji, sehingga kini langsung membuka kantong plastik berisi makanan tersebut.
Namun, ia seperti enggan untuk melepaskan genggaman tangan kiri, sehingga meminta tolong agar dibantu karena tidak bisa melakukannya hanya dengan satu tangan.
Tanpa membuang waktu, pelayan wanita tersebut langsung membuka makanan dan merasa lega saat istri dari tuannya tersebut sudah mulai menyendok makanan dan mengarahkan ke mulut.
Tsamara bahkan makan dengan pandangan masih fokus pada sosok pria yang sangat dikhawatirkannya tersebut. Meski tidak bisa makan banyak, tapi paling tidak perutnya sudah tidak kosong dan terisi.
Mungkin hanya beberapa suapan yang masuk ke dalam mulut dan menyuruh pelayan untuk membantu membuang sisa makanan karena tidak habis.
Sebenarnya ia bukanlah tipe orang yang suka membuang-buang makanan, tapi hari ini melakukannya karena memang suasana hati sedang tidak baik karena hanya dipenuhi oleh kekhawatiran pada Zafer.
"Anda harus beristirahat dan jangan terlalu memforsir diri, Nyonya. Maafkan saya karena sangat cerewet dan selalu menasehati Anda. Saya benar-benar tidak ingin Anda sakit agar bisa terus menjaga tuan Zafer karena sepertinya akan lama berada di sini sampai pulih." Membereskan makanan yang masih banyak dan membuang ke tempat sampah.
__ADS_1
Sementara itu, Tsamara yang masih tidak berkedip ketika menatap Zafer, memang saat ini merasakan tubuhnya sangat letih, tapi tidak tahu apakah bisa tidur jika memejamkan mata.
Tadi tidak berkomentar ketika mendapatkan nasehat dari pelayan, tapi sekarang berbicara untuk menanggapi.
"Aku benar-benar berterima kasih karena kamu sudah sangat perhatian padaku. Apalagi semua yang kamu katakan itu memang benar dan harus beristirahat agar ketika besok suamiku sadar, tidak melihat wajahku yang dipenuhi lingkaran hitam."
"Apakah Anda akan tidur di ranjang sebelah tuan Zafer?" tanya wanita yang saat ini bersiap untuk membantu.
Namun, Tsamara hanya menggeleng perlahan karena ingin tidur dengan posisi menggenggam erat telapak tangan Zafer, yaitu dengan cara tidur pada posisi duduk dengan sedikit membungkuk pada ranjang dan menunjukkan pada pelayan.
"Tidak perlu. Aku akan tidur seperti ini." Kemudian ia membungkuk untuk bisa menaruh wajahnya di sebelah tubuh sang suami.
"Anda akan lebih jika terus seperti itu. Lebih baik tidur di atas ranjang kosong itu, Nyonya. Apalagi memang ruangan VVIP ini ada fasilitas untuk penunggu, jadi akan terasa nyaman jika tidur di ranjang tersebut."
Namun, Tsamara kembali menggeleng perlahan karena tidak setuju dengan apa yang baru saja dikatakan oleh pelayan. "Tidak, aku ingin tidur seperti ini karena berharap nanti saat suamiku bangun, langsung merasakan pergerakan."
"Kamu juga boleh beristirahat sekarang. Nanti aku akan memanggilmu ketika membutuhkan bantuan." Tsamara yang sudah membungkuk dengan menaruh kepala pada tangan dengan buku-buku kuat sang suami, kini memejamkan mata.
Tsamara berharap saat esok membuka, juga melihat sang suami sadar. Bahkan ia tidak berhenti merapal doa agar sang suami saat sadar nanti tidak bersedih karena ulah istri yang berselingkuh dengan pria lain kala keadaannya tengah hamil.
'Cepatlah bangun, tuan Zafer karena ada banyak orang yang mengkhawatirkan keadaan Anda. Kecuali Rayya,' gumam Tsamara yang kini teringat pada respon dari Rayya yang langsung berlari meninggalkan rumah sakit begitu mengetahui penyebab kecelakaan.
'Apakah Rayya ingin memastikan mengenai penyebab tuan Zafer marah dan pergi menuju tempat tinggal pria selingkuhan itu? Namun, kenapa Rayya sama sekali tidak kembali?'
__ADS_1
'Sebenarnya di mana hati nurani wanita itu yang dulu sangat memuja tuan Zafer? Apakah sekarang Rayya sudah tidak lagi mencintai suami dan lebih memilih pria selingkuhan? Lalu, bagaimana dengan anak kembar yang saat ini dikandung?'
Berbagai macam pertanyaan yang saat ini sedang menari-nari di otak Tsamara sama sekali tidak mendapatkan jawaban. Ia benar-benar merasa sangat iba pada nasib pria yang masih belum membuka mata itu.
Namun, mengetahui bahwa hidup di dunia ini adalah sebab dan akibat dari perbuatan yang dilakukan, sehingga berpikir bahwa pria yang berstatus sebagai suaminya itu bisa segera sadar dan tidak patah semangat setelah mendapatkan banyak musibah akhir-akhir ini.
Meskipun ia tahu bahwa sangat berat menghadapi itu, berharap bisa memberikan sebuah dukungan penuh pada sang suami yang butuh perhatian darinya.
"Aku harus kuat untuk menjalani semua cobaan ini bersama dengan suamiku. Mungkin pada awalnya memang terasa sakit dan susah untuk melupakan, tapi waktu yang akan menyembuhkan luka di hati."
Tsamara menggentana saat telapak tangan dengan kuku-buku kuat itu. Ia akan mengajaknya lembut untuk memberikan sebuah suntikan semangat agar sang suami segera sadar setelah sempat mengalami masa kritis setelah dioperasi.
Tsamara memang sedang sibuk memikirkan mengenai nasib rumah tangga Zafer dan Rayya, tapi saat ini tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya dan memilih untuk menyerahkan pada takdir karena sudah pasrah begitu melihat sikap wanita yang dianggapnya sedang berada di jalan yang salah.
Namun, tetap saja berdoa untuk kebaikan antara keduanya. Hingga beberapa saat kemudian, karena sangat lelah, suara napas teratur Tsamara terdengar memenuhi ruangan perawatan tersebut.
Menandakan jika wanita yang tidak ingin tidur pada posisi berbaring itu sudah larut dalam alam bawah sadar.
Sementara pelayan wanita yang memilih untuk merebahkan tubuh di atas sofa, tidak mengalihkan pandangan dari majikan.
'Kasihan sekali nasib tuan Zafer dan nyonya Tsamara. Semoga suatu saat nanti, mereka akan mendapatkan kebahagiaan dan hidup sebagai pasangan suami istri yang normal dengan mendapatkan keturunan yang baik dan sesuai dengan harapan tuan dan nyonya besar yang sudah berada di surga nanti.'
To be continued...
__ADS_1